Portugal vs Prancis: Jangan Kasih Ruang

Sumber Foto: @selecaoportugal

Kedua tim sama-sama pintar dalam memanfaatkan ruang lewat kecepatan individu pemain. Lalu, siapa tim yang akan memenangi duel di matchday ketiga Grup F Piala Eropa 2020 ini?

King Baoudouin Stadium di Brusel, Belgia, dipadati 48.000 penonton. Stadion tersebut menjadi arena pertemuan Prancis dan Portugal di semifinal Piala Eropa 2000.

Portugal datang ke semifinal dengan meyakinkan. Tim yang diarsiteki Humberto Coelho itu selalu menang di fase grup. Padahal, Portugal berada satu grup dengan juara bertahan Jerman dan semifinalis Piala Eropa sebelumnya, Inggris.

Lalu, di babak delapan besar, Luis Figo cs. menumbangkan Turki dengan skor 2-0. Hasil berbeda didapatkan oleh Prancis. Pada fase grup, Les Blues kalah dari Belanda di matchday terakhir. Selebihnya, Prancis selalu meraih kemenangan, termasuk saat bertemu Spanyol di babak perempat final.

Di babak semifinal ini, Portugal dan Prancis turun dengan kekuatan terbaik. Portugal yang performanya menakutkan mampu unggul saat laga belum genap 20 menit.

Kegagalan Didier Deschamps dalam menyapu bola membuat bola menjadi liar menuju Nuno Gomes. Penyerang Portugal itu melepaskan sepakan kaki kiri dari luar kotak penalti yang mencengangkan Fabian Barthez.

Prancis yang tertinggal mencoba untuk melancarkan tekanan. Pada menit ke-51, Thierry Henry berhasil membuat skor menjadi sama kuat. Usai mengelabui bek Portugal, Henry langsung melepaskan sepakan tanpa bisa dihalau Vitor Baia.

Skor imbang membuat pertandingan harus berlalu ke perpanjangan waktu. Di sini, keberuntungan berpihak kepada Prancis.

Kelakukan Abel Xavier usai menahan tendangan Sylvain Wiltord dengan tangan di menit ke-117 berbuah petaka. Wasit menunjuk penalti dan berhasil dituntaskan dengan baik oleh Zinedine Zidane. Prancis menang dan berhasil masuk ke final.

Kita semua tahu, ujungnya Prancis yang menjadi raja eropa pada edisi 2000. Pasukan Roger Lemerre menumpaskan Italia di laga final dengan skor 2-1 juga melalui perpanjangan waktu.

****

Enam belas tahun usai kejadian tersebut, Portugal dan Prancis kembali bertemu. Kali ini, pertemuan kedua tim terjadi di babak final Piala Eropa 2016.

Berbeda dengan tahun 2000, Prancis hadir dengan penuh digdaya pada 2016. Tak cuma dengan status tuan rumah, Prancis yang dilatih oleh Didier Deschamps itu juga melaju sampai babak final tanpa sekalipun tumbang.

Bahkan Prancis bisa mengalahkan Jerman--si jawara Piala Dunia dua tahun sebelumnya--pada babak semifinal dengan skor 2-0.

Cerita 180 derajat diukir Portugal untuk masuk ke final. Cristiano Ronaldo dan kolega saja melaju ke fase gugur lewat jalur posisi tiga terbaik. Portugal yang tergabung di F bersama Hongaria, Islandia, dan Austria cuma bisa mengumpulkan nilai tiga dari tiga laga yang dimainkan.

Tak cuma di fase grup, pada fase grup jalan Portugal juga tak mudah. Pada 16 besar, mereka menang atas Kroasia via perpanjangan waktu. Lalu, di babak perempat final Polandia yang ditekuk lewat adu penalti.

Portugal baru bisa meraih kemenangan selama 90 menit penuh di babak semifinal. Bertemu Wales, Portugal menang dengan skor 2-0.

Sepak bola memang bukan kegiatan yang mudah ditebak. Mereka yang kamu jagokan karena performa atau tren yang baik belum tentu akan menang dengan mudah.

Di final, Portugal malah keluar sebagai pemenang. Padahal, selain faktor tuan rumah dan tren baik, Prancis juga diuntungkan dengan cederanya Cristiano Ronaldo di pertengahan babak pertama.

Sekali lagi, sepak bola tak mudah untuk ditebak. Selecao das Aquinas memang dikurung oleh Prancis sepanjang pertandingan.

Attempts Prancis mencapai 18. Begitu juga penguasaan bola yang dimenangi Prancis dengan angka 53 berbanding 47 persen.

Namun, satu gol dari luar kotak penalti yang dibuat Eder pada menit ke-109 sudah cukup membawa Portugal juara. Ini gelar pertama bagi Portugal di ajang Piala Eropa.

****

Kamis (24/6) dini hari WIB, Prancis dan Portugal akan kembali bertemu di Piala Eropa. Kedua tim bukan bertemu di semifinal atau final, melainkan di matchday ketiga fase grup Piala Eropa 2020.

Prancis berada dalam keadaan yang sedikit lebih baik. Kylian Mbappe dan kolega sudah dipastikan lolos ke babak 16 besar. Kemenangan atas Jerman dan hasil imbang lawan Hongaria akan menjadi modal Prancis bertemu Portugal.

Sementara, Portugal membutuhkan minimal imbang untuk lolos ke 16 besar. Sebab, Bruno Fernandes dan kolega cuma bisa mengumpulkan 3 poin dari dua laga. Mereka memang menang atas Hongaria, tetapi kalah dari Jerman dengan skor 2-4.

Nah, di laga melawan Jerman terlihat sekali titik lemah di barisan pertahanan Portugal. Pepe dan Ruben Dias sering out of position karena gerakan tanpa bola yang dilakukan penyerang Jerman. Hal tersebut menimbulkan ruang-ruang yang bisa dieksploitasi pemain lawan.

Selain Pepe dan Dias, dua fullback Portugal sangat aktif. Nelson Semedo di sisi kanan khususnya lebih sering berada di garis tengah atau sepertiga akhir pertahanan Jerman.

Aktifnya Semedo ini menjadi bumerang. Robin Gosens yang berada di sisi kiri mampu memanfaatkan ruang-ruang itu. Buktinya, dua assist dan satu gol yang dibuat pemain Atalanta itu di laga tersebut.

Dari dua pertandingan, sisi kanan Portugal menjadi area yang digemari lawan untuk melakukan serangan. Sebanyak 37 persen serangan ke Portugal datang dari sisi tersebut.

Masalah lain Portugal ada di Bruno Fernandes yang belum memukau. Alih-alih menjadi kreator serangan Portugal di tengah, Fernandes malah keseringan melebar ke sisi kanan.

Fernades juga minim dalam memberikan passing yang lebih vertikal. Melawan Jerman, Fernandes cuma membuat 28 passing dan satu umpan kunci. Berbanding terbalik dengan jumlah umpan silangnya yang ada di angka tiga.

Kalau memang Fernandes diinstrusikan untuk bermain lebih melebar, Portugal bisa mengakali serangan dari tengah dengan memainkan Joao Moutinho atau Ruben Neves. Keduanya bisa tampil lebih menyerang ketimbang William Carvalho dan Danilo Perreira yang dimainkan dari awal di dua laga terakhir.

Kemampuan passing Moutinho dan Neves bisa menjadi variasi serangan Portugal dari lini kedua. Keduanya juga memiliki long range shot yang bisa menjadi pemecah kebuntuan.

Prancis sebagai lawan juga punya masalah jelang berhadapan dengan Portugal. Les Blues kerap kesulitan bila menemui lawan yang bermain rapat dan pertahanan rendah.

Hal itu terjadi saat Prancis bersua Hongaria di matchday kedua. Gelandang-gelandang Prancis hanya melakukan passing-passing secara horizontal di depan kotak penalti lawan.

Tak adanya keberanian melakukan tusukan ke kotak penalti menjadi salah satu faktor Prancis. Kombinasi mereka di dalam kotak penalti lawan juga kurang variatif.

Lini belakang Prancis juga kewalahan untuk mengantisipasi serangan balik. Laga melawan Hongaria menjadi bukti adanya celah yang bisa dimanfaatkan lawan.

Bisa jadi, Prancis akan tampil lebih menunggu saat melawan Portugal nanti. Faktor sudah lolos bisa membuat Prancis tak perlu menggebu-gebu menyerang pertahanan Portugal.

Oleh karena itu, Prancis siap untuk menjebak Portugal. Dengan barisan pertahanan dan dibantu dengan lini tengah yang kokoh, Prancis akan tampil menunggu. Mereka lalu akan mengandalkan serangan balik via kecepatan Kylian Mbappe dan kedua fullback untuk menghukum lawan. Belum lagi, Prancis punya Paul Pogba dan Antoine Griezmann yang sangat cermat dalam memberikan umpan.

***

Laga ini bisa juga ditentukan oleh aksi individu dari masing-masing pemain. Di Portugal, Ronaldo sudah membukukan tiga gol di dua laga awal Piala Eropa 2020.

Instingnya di depan gawang lawan masih sangat tajam. Belum lagi kecepatannya yang masih terjaga meski usia sudah senja.

Sementara, Prancis memiliki Kylian Mbappe. Belum ada gol yang dibuat pemain PSG itu di Euro kali ini. Akan tetapi, kehadirannya memberikan impresi yang menakutkan untuk lini depan Les Blues.

Nelson Semedo yang berada di sisi kanan kudu mewaspadai aksi Mbappe. Kalau sampe Semedo kelewat agresif, Mbappe akan memanfaatkan ruang kosong itu.

***

Portugal menjadi juara Piala Eropa 2016, sementara Prancis menjadi kampiun Piala Dunia dua tahun setelahnya. Saat juara, kedua tim punya kesamaan, yakni bermain dengan pragmatis tanpa perlu mendominasi pertandingan.

Gaya main itu yang juga mereka pertahankan pada turnamen kali ini. Dengan sama-sama mengusung permainan pragmatis, siapa yang akan menang?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.