PSG dan Empat Pemain Barunya

Foto: Instagram @PSG.

Tidak ada klub yang lebih konsumtif selain PSG saat ini. Mereka memasukkan semua belanjaannya ke dalam troli. Apa iya bisa membuahkan banyak trofi?

Tidak ada klub yang lebih konsumtif selain Paris Saint Germain (PSG) sekarang. Mereka memasukkan semua belanjaannya ke dalam troli. Dari yang gratis, berdiskon, sampai bernilai tinggi.

Sejauh ini ada 4 pemain yang sudah mereka gaet: Sergio Ramos, Gini Wijnaldum, Gianluigi Donnarumma, dan Achraf Hakimi. Tiga pemain pertama didapat dengan cuma-cuma, sementara Hakimi dibeli seharga 54 juta poundsterling dari Inter Milan.

Keempatnya tak sekadar bertudung nama besar. Mereka di antaranya pernah menjadi kampiun Piala Dunia, Piala Eropa, Liga Champions, Premier League, Serie A, dan La Liga.

Ada kesan, PSG enggan main-main menghadapi musim berikutnya. Seolah-olah mereka ingin berkata: Semua atau tidak sama sekali.


***

PSG tak pernah segagal pada musim 2020/21. Tidak dalam tujuh tahun terakhir. Mereka hampir selalu melahap semua titel domestik sejak diakuisisi Qatar Sports Investments.

Betul bahwa PSG pernah kecolongan titel Ligue 1 dari AS Monaco pada musim 2016/17. Namun, setidaknya kala itu mereka masih menggamit tiga gelar dari Coupe de France, Coupe de la Ligue, dan Trophee des Champions. Pada musim lalu, hanya dua di antaranya yang mampu diraih. Lagi-lagi tanpa gelar Ligue 1.

PSG kalah saing dengan Lille. Ironis, mengingat nilai skuad Les Dogues nyaris seperlima dari kepunyaan mereka. Lucunya lagi, keberhasilan Lille ini ditopang oleh Boubakary Soumare, Mike Maignan, dan Jonathan Ikone yang didatangkan dari akademi PSG.

Les Parisiens lupa kalau kontestan Ligue 1 juga berevolusi sedemikian baiknya. Mereka terlalu sibuk memandang kilau trofi Liga Champions sampai terguling di rumahnya sendiri.

Sebenarnya, bibit kegagalan PSG sudah tertuai sejak awal musim. Beberapa personel mereka positif COVID-19 setelah berlibur ke Ibiza. Neymar salah satu di antaranya.

Akibat Neymar, Kylian Mbappe, Keylor Navas, Angel Di Maria, dan Mauro Icardi absen, Thomas Tuchel sampai terpaksa menurunkan line-up yang tak biasa sewaktu melawan Lens pada pekan pertama. Ada Arnaud Kalimuendo dan Kays Ruiz-Atil, dua pemain yang belum pernah mentas di pertandingan profesional. Hasilnya ambyar, PSG keok 0-1.

Ini belum ditambah dengan gesekan antara manajemen klub dan pelatih. Tuchel saat itu bersitegang dengan Direktur Olahraga PSG, Leonardo, gara-gara kebijakan transfer. Kepergian pilar penting macam Edinson Cavani dan Thiago Silva yang menjadi dasarnya.

Terlepas dari siapa yang benar, PSG memang mengalami inkonsistensi sejak pembuka kompetisi. Sudah tiga kekalahan mereka telan hingga November. Jumlah itu setara dengan total aib Ander Herrera dkk. pada musim sebelumnya.

Kedatangan Mauricio Pochettino di awal tahun 2021 juga tak mengubah performa PSG secara signifikan. Mereka mengalami empat kekalahan di kandang dari para tim pesaing, Monaco dan Lille. Secara keseluruhan, persentase kemenangan PSG di Ligue 1 2020/21 cuma menyentuh 68,42%. Turun drastis ketimbang periode sebelumnya dengan 81,48%.

“Kami kehilangan poin yang seharusnya kami dapatkan, dan tidak hanya sejak Januari,” kata Pochettino setelah laga pemungkas Ligue 1 melawan Brest.

Kecolongan angka adalah petaka. Apalagi tak cuma sekali-dua kali. Problemnya bisa dari kualitas dan kedalaman skuad, bisa juga didasari juga faktor mental. Itulah mengapa Nasser Al-Khelaifi kemudian mendatangkan Ramos, Wijnaldum, Donnarumma, dan Hakimi. Keempatnya punya garansi kemampuan serta mental dalam satu paket.

Sebenarnya, apa yang dilakukan PSG sekarang ini sama rakusnya seperti selepas kegagalan mereka di periode 2016/17. Mereka menggaet bintang Monaco, Kylian Mbappe, melengkapi Neymar yang didatangkan dari Barcelona empat pekan sebelumnya. Oh, ya, Dani Alves bagian kloter transfer musim panas itu juga.

Hasilnya trofi Ligue 1 kembali PSG bekap. Moncaco mereka tinggalkan 7 angka di posisi kedua. PSG juga berhasil melibas tiga titel domestik lainnya, meski mereka lagi-lagi gagal di LIga Champions.

Pertanyannya, sejauh apa Ramos, Wijnaldum, Donnarumma, dan Hakimi bakal berguna buat PSG? 

Kita mulai dari Ramos. Ya, ia adalah salah satu pemain yang sudah merengkuh segalanya. Lima gelar La Liga dan empat trofi Liga Champions diraihnya bersama Real Madrid. Kemudian Piala Dunia dan sepasang mahkota Euro didapatkannya dengan Spanyol.

Untuk klub pengejar 'Si Kuping Besar' macam PSG, Ramos adalah pilihan tepat. Pengalaman plus jiwa kepemimpinannya bakal memberikan impak positif kepada Mbappe dkk. Pun dari kualitas permainan, mengingat Ramos cukup rajin mencetak gol untuk ukuran bek tengah.

Oke, PSG memang sudah punya Marquinhos dan Presnel Kimpembe sebagai bek sentral reguler. Masalahnya, cuma dua itu saja yang mumpuni. Thilo Kehrer dan Abdou Diallo masih jauh untuk itu. Menyitat WhoScored, kalkulasi rata-rata intersep keduanya hanya 0,9 per laga. Jauh di bawah Kimpembe yang mengemas rerata 1,5.

Ramos nantinya menambal problem itu. Lagipula, kedalaman skuad adalah salah satu syarat wajib bagi mereka yang menginginkan trofi Liga Champions.

Namun, ada sisi negatifnya. Ramos sudah 35 tahun yang berarti durasi mainnya kemungkinan hanya tinggal 2-3 tahun lagi. Ini belum ditambah dengan rentannya eks Sevilla tersebut terjangkit cedera. Transfermarkt mencatat Ramos telah melewatkan 201 hari dan 32 pertandingan bersama Madrid lantaran cedera.

Kemudian Wijnaldum. Well, usianya jelas tak muda, 30 tahun. Namun, bukan kemudian ia bakal sekadar menjadi pajangan di bangku cadangan nanti. Wijnaldum adalah gelandang yang komplet dalam membantu bertahan dan menyerang. Daya jelajahnya luas dan punya penguasaan bola dengan baik--setipe dengan Marco Verratti.

Nilai plusnya lagi adalah kecakapannya untuk memanfaatkan peluang dari lini kedua. Tiga golnya untuk Belanda di Euro lalu menjadi buktinya. Tak heran kalau Barcelona juga menginginkannya.

Kendati punya stok gelandang melimpah, tak ada di antara mereka yang benar-benar ampuh menjadi alternatif pencetak gol. Verratti adalah distributor sekaligus pendulang kans. Sementara Leandro Paredes, Ander Herrera, Idrissa Gueye, serta Danilo Pereira adalah gelandang berartribut defensif. Nah, aspek ofensif yang dimiliki Wijnaldum itu bakal mengisi kebutuhan lini tengah Pochettino.

Lalu, ada Donnarumma. Jika menimbang urgensi, sebenarnya PSG tak semendesak itu untuk mendatangkan penjaga gawang. Mereka masih punya 8 kiper. Keylor Navas, Alphonse Areola, dan Sergio Rico di antaranya. Namun, tetap saja, secara kualitas Donnarumma lebih baik ketimbang mereka. Ia masih muda dan begitu menjanjikan.

Lagi pula, kiper mana yang di usia 22 tahun sudah mengecap pengalaman di 215 laga dengan klub sekaliber AC Milan dan 33 caps bersama Italia? Ditambah lagi dengan titel juara Euro sekaligus pemain terbaik yang baru diraihnya.

Paling, sih, segi gaji dan kecerewetan Mino Raiola yang boleh jadi bakal bikin repot manajemen PSG. Namun, kalau melihat kekuatan finansial mereka, rasa-rasanya dua hal itu tak akan menjadi problem besar.


Last but not least, Hakimi. Ia merupakan pemain termahal PSG di bursa transfer musim panas ini. Banderol 54 juta poundsterling tersebut juga membuatnya menjadi yang termahal kelima dalam sejarah transfer klub.

Cukup logis kalau PSG berani menggelontorkan uang sebesar untuk buat merekrut Hakimi. Pertama, pemain Maroko itu merupakn salah satu bek sayap terbaik saat ini. Kedua, ya, karena PSG tak punya stok full-back kanan mumpuni. Ya, masa peminjaman Alessandro Florenzi sudah habis pada akhir Juni.

Betul masih ada Colin Dagba. Namun, pemain 22 tahun itu relatif minim dalam membantu serangan. Hanya 1 gol dan 1 assist yang ia buat dalam 33 pementasan di lintas kompetisi musim lalu. Pun dengan Kehrer yang nihil catatan gol serta assist. Masuk akal, sih, sebab eks Schalke 04 ini berposisi natural sebagai bek sentral.

Level Hakimi jauh berada di atas keduanya. Itu terjawab lewat torehan 7 golnya (terbanyak ketiga di Inter) dan 8 assist (kedua setelah Romelu Lukaku). Dengan CV mentereng itu, tak salah kalau PSG berharap Hakimi mampu mengatrol produktivitas PSG dari kanan belakang.

Eh, tapi jangan dulu berharap Hakimi bakal moncer dengan instan. Setidaknya, sampai pertengahan musim. Bukannya gimana-gimana, ia harus beradaptasi dengan pakem 4-2-3-1 yang diusung Pochettino. Sementara dalam dua musim ke belakang, sekaligus periode terbaiknya, Hakimi intens bermain sebagai wing-back dalam wadah tiga bek.

Musim 2018/19 adalah terakhir kali Hakimi memerankan full-back pada formasi dasar 4-2-3-1. Sebanyak 2 gol dan 4 assist diukirnya untuk Borussia Dortmund di Bundesliga periode itu. Torehan itu membengkak di angka 5 gol dan 10 assist saat Lucien Favre beralih ke pakem 3 bek. 

Artinya, di PSG nanti Hakimi akan memainkan peran dalam format yang berbeda semasa di Inter dan musim terakhirnya Dortmund. Kalau sudah begini, jangan kaget semisal Hakimi tak langsung nyetel dengan Les Parisiens di awal-awal.