Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

RB Leipzig: Biar Plastik yang Penting Menghibur

Foto: Twitter @RBLeipzig_EN

RB Leipzig mendapatkan olok-olok sebagai klub plastik di Jerman sana. Meski begitu, cara bermain mereka tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

Saling sindir antarklub sepak bola bukanlah perkara baru. Namun, ejekan yang dilemparkan oleh media sosial FC Augsburg kepada media sosial RB Leipzig beberapa waktu lalu menyiratkan satu hal: Ada sesuatu yang masih mengganjal.

Sebelum Leipzig bersua Augsburg dalam pekan keempat Bundesliga 2020/21, akun media sosial Leipzig, dalam hal ini di Twitter, bercuit soal motivasi Leipzig yang akan menundukkan Augsburg. Maklum, hingga pekan ketiga, Augsburg belum kalah.

“Benteng (kalian) kami runtuhkan,” begitu cuit akun medsos Leipzig. Die Roten Bullen menang 2-1 pada laga tersebut

Sontak, cuitan ini langsung dibalas oleh akun medsos Augsburg. Mereka menyindir Leipzig dengan status yang sudah tersemat tatkala Leipzig promosi ke Bundesliga pada musim 2016/17 silam. Apakah itu?

Yah, setidaknya itu (klub kami) bukan plastik,” balas akun medsos Augsburg.

Jadi, pada 2017, media asal Jerman, Kicker, pernah menyebut bahwa Leipzig adalah klub plastik. Sebutan ini dialamatkan kepada mereka ketika mereka akan bersua TSG 1899 Hoffenheim di Bundesliga. Lebih jelasnya, Kicker menyebut pertemuan Hoffenheim dan Leipzig ini sebagai duel El Plastico.

Mereka mendapatkan sebutan seperti itu karena kebangkitan mereka di kompetisi sepak bola Jerman ditopang oleh bantuan korporasi. Hoffenheim dibantu oleh SAP AG, perusahaan milik Dietmar Hopp yang bergerak di bidang penjualan piranti lunak, sedangkan Leipzig dibantu oleh perusahaan minuman energi asal Austria, Red Bull.

Tak disangka, pada 2020, masih ada pihak yang menyebut Leipzig dengan sindiran plastik. Hal itu seolah jadi terusan dari protes-protes yang didapatkan Leipzig pada musim 2016/17. Ketika itu, mereka pernah dilempari kepala banteng, dicaci dengan spanduk bernada hinaan, bahkan diboikot oleh suporter Dortmund.

Akan tetapi, terlepas dari sematan plastik yang menempel pada mereka, toh, Leipzig memberikan banyak dimensi baru bagi kompetisi sepak bola Jerman, khususnya Bundesliga. Lewat permainan yang mereka tampilkan, mereka mampu menggebrak tatanan sepak bola Jerman.

***

Menghibur. Itulah satu kata yang layak disematkan pada permainan Leipzig. Sebagai klub dengan usia yang masih muda—mereka merupakan hasil akuisisi dari klub SV Markraenstadt pada 2009--, Die Roten Bullen nyatanya mampu memeragakan permainan sepak bola yang enak untuk ditonton.

Ketika masa kepelatihan Ralf Rangnick dan Ralph Hasenhuettl, Leipzig identik bermain dengan skema dasar 4-2-2-2. Kala itu, mereka masih diperkuat sosok-sosok macam Timo Werner, Naby Keita, Davie Selke, serta Diego Demme, plus nama-nama macam Yussuf Poulsen, Emil Forsberg, maupun Marcel Halstenberg.

Permainan Leipzig begitu intens. Mereka kerap menekan dengan ketat saat bertahan, dan menyerang secara cepat. Ketika bertahan, mereka akan memaksa pemain lawan mengoper ke sayap dengan cara menumpuk pemain di tengah. Ketika bola ada di sayap, pemain lawan akan ditekan dengan ketat sehingga mereka kerap kehilangan bola.

Sedangkan ketika menyerang, mereka akan menusuk lini pertahanan lawan secara vertikal lewat tengah. Tusukan yang mereka lakukan ini begitu cepat. Tak jarang, mereka menerapkan permainan satu dua sentuhan saja.

Foto: Twitter @RBLeipzig_EN

Taktik ini dipakai Leipzig sampai 2018. Hingga akhirnya, seiring dengan kepergian beberapa pemain lama, plus direkrutnya Julian Nagelsmann selaku pelatih baru Leipzig, beberapa penyesuaian terjadi di dalam skuat, termasuk soal skema dasar dan taktik yang diterapkan.

Nagelsmann, pelatih muda yang diakui kemampuannya karena mampu membawa Hoffenheim lolos dari degradasi dan bercokol di papan atas Bundesliga, membawa ide segar ke dalam skuat Leipzig. Skema dasar tiga bek yang biasa ia terapkan di Hoffenheim, ia bawa juga ke Leipzig.

Selain skema tiga bek, lazimnya Leipzig juga memakai skema lima bek dan juga skema dasar 4-2-4. Namun, umumnya, Leipzig biasa memakai skema tiga bek, baik itu 3-4-3, maupun 3-4-1-2. Dengan skema tiga bek ini, ia memperkenalkan sesuatu yang baru di skuat Leipzig: Kehadiran wing-back.

Dengan adanya wing-back ini, Leipzig mulai memperhatikan okupansi di sisi sayap. Hal ini sekaligus melengkapi skema serangan vertikal yang lazimnya mereka terapkan. Kira-kira, di bawah asuhan Nagelsmann, permainan Leipzig menjadi seperti ini:

Fase Menyerang

Saat menyerang, build-up dari serangan sudah dilakukan Leipzig sedari lini belakang. Tiga bek mereka akan saling mengalirkan bola, dengan tujuan untuk menarik perhatian para penyerang lawan sekaligus membuat lawan menerapkan garis pertahanan tinggi.

Nah, saat lawan terpancing, maka bek Leipzig akan mengalirkan bola ke dua wing-back, entah itu kiri atau kanan, tergantung sisi sayap yang kosong. Terkadang, bek Leipzig juga kerap mengalirkan bola langsung ke area lini tengah, terutama kepada gelandang serang yang turun.

Hal ini lazim dilakukan Dayot Upamecano yang punya kemampuan distribusi bola apik. Alhasil, wajar saja catatan rataan umpan per laga Upamecano jadi yang tertinggi ke-10 di Bundesliga musim 2019/20, dengan jumlah 70,1, dengan persentase kesuksesan 89,1%.

Selain itu, peran para penyerang Leipzig pun menjadi kunci. Ketika masih ada Werner, duet antara dirinya dan Poulsen menjadi duet yang mematikan. Sama seperti masa kepelatihan Hasenhuettl dan Rangnick, mereka saling melengkapi. Poulsen sebagai target man dan penahan bola, Werner sebagai pengeksploitasi ruang kosong.

Sekarang, setelah Werner pergi, skema penyerangan Leipzig sedikit berubah. Poulsen masih kerap menjadi target man, pemantul, dan penahan bola. Namun, tugas eksploitasi ruang jadi diembang oleh para pemain di lini kedua. Di situ, ada Forsberg dan Dani Olmo yang kerap jadi pendobrak.

Alhasil, berkat adanya pembagian peran di depan, yang merupakan buah dari kepergian Werner, sejauh ini rataan gol Leipzig lebih merata. Khusus di ajang Bundesliga, Poulsen dan Forsberg sama-sama sudah mengoleksi dua gol. Sedangkan Olmo, ia jadi penoreh assist terbanyak dengan catatan tiga assist.

Yang membuat serangan Leipzig makin menakutkan adalah mereka melakukan progresi serangan dengan satu dua sentuhan, dibarengi kecepatan yang tinggi. Para pemain tidak akan lama-lama memegang bola. Mereka akan terus mengalirkan bola, hingga akhirnya lawan terpancing dan ruang tercipta untuk dieksploitasi.

Khusus untuk di area sayap, kehadiran Angelino membuat sayap Leipzig makin hidup. Termutakhir, Angelino bahkan mampu mencetak dua gol saat Leipzig menundukkan Istanbul Basaksehir di ajang Liga Champions. Kecepatan Angelino menjadikan dirinya begitu dinamis, baik itu saat bertahan maupun menyerang.

Fase Bertahan

Jika menilik skema pertahanan yang diterapkan Leipzig, sejatinya Nagelsmann hanya menyempurnakan apa yang sudah diterapkan Hasenhuettl dan Rangnick. Tekanan ketat nan intens masih jadi senjata mereka untuk merebut penguasaan dari lawan.

Saat kehilangan bola, transisi dari menyerang ke bertahan yang dilakukan Leipzig sangat cepat (hal itu juga berlaku sebaliknya, saat bertahan ke menyerang). Mereka akan langsung menekan pemain yang sedang menguasai bola.

Sekilas apa yang diterapkan Leipzig ini tak beda jauh dengan skema bertahan ala Pep Guardiola maupun Juergen Klopp. Ya, Nagelsmann memang mengidolakan Guardiola, sih. Namun, tak jarang juga saat bertahan, Leipzig akan memaksa lawan untuk memberikan bola ke area sayap.

Nah, di sini, Nagelsmann memeragakan skema yang mirip dengan Hasenhuettl dan Rangnick. Saat lawan menguasai bola, mereka akan memadatkan area tengah, sehingga pada akhirnya memaksa lawan mengoper bola ke sayap.

Ketika bola sudah ada di sayap, para pemain Leipzig akan langsung menekan lawan dengan ketat. Bahkan, mereka juga kerap menciptakan situasi overload (entah itu 2 lawan 1 atau 3 lawan 2), sehingga hal tersebut membuat lawan tidak nyaman dan kehilangan penguasaan bola.

Dari sini, jika bola sudah direbut, maka skema penyerangan cepat Leipzig akan menjadi momok bagi pertahanan lawan.

Kelemahan

Taktik dan skema yang diterapkan Leipzig ini memang membuat mereka jadi tim yang menghibur. Mereka bertahan dengan ketat, lalu menusuk lawan lewat sebuah skema yang cepat. Namun, bukan berarti taktik ini tidak memiliki kelemahan.

Selain soal fisik pemain yang akan terkuras karena penerapan intensitas permainan yang cepat, Leipzig akan sedikit kesulitan jika menghadapi lawan yang menunggu, termasuk lawan yang merapatkan jarak antar pemain. Hal inilah yang sukses dipraktikkan Bayer Leverkusen saat mereka menahan imbang Leipzig di Bundesliga.

Ketika itu, Leverkusen benar-benar memadatkan area pertahanan mereka, dengan tidak memberikan jarak antarlini. Hal itu menyulitkan para pemain depan Leipzig untuk berkreasi, terutama Olmo dan Forsberg.

Tidak cuma itu, sering majunya Upamecano hingga ke lini tengah untuk membantu distribusi bola, terutama saat menghadapi lawan yang menunggu, kerap menyisakan lubang di area pertahanan.

Hal inilah yang tampak saat mereka kebobolan oleh Hertha Berlin. Ketika itu, terlalu majunya Upamecano membuat ruang tercipta di pertahanan Leipzig. Ditambah oleh Angelino yang telat turun membantu pertahanan, Berlin leluasa menyerang balik Leipzig, hingga akhirnya serangan itu berbuah gol.

Kelemahan ini tentu perlu diwaspadai Leipzig, terutama jika mereka menghadapi lawan-lawan yang lihai menunggu dan melakukan serangan balik cepat.

***

Sejauh ini, dengan permainan cepat dan tekanan intens yang mereka terapkan, wajar jika Leipzig jadi tim yang menghibur. Tidak heran juga jika sejak musim 2016/17, mereka tidak pernah keluar dari peringkat 10 besar Bundesliga. Capaian yang apik untuk sebuah tim baru tentunya.

Namun, bukan berarti mereka tak ada hal yang perlu dibenahi. Terdekat, pada Kamis (29/10) dini hari WIB, mereka akan menghadapi Manchester United. Tim asal Inggris ini dikenal lihai bermain menunggu dan melakukan counter. Mereka pandai mengeksploitasi ruang kosong di lini pertahanan lawan.

Asal mampu menutupi kelemahan itu dan tetap menerapkan tekanan yang ketat plus serangan cepat, Leipzig sejatinya mampu menundukkan United. Toh, United juga bukan tim yang bagus-bagus amat saat menguasai bola. Ada ruang-ruang kosong, terutama di area sayap, yang bisa dicecar oleh para pemain Leipzig.

Lagian, United mungkin tidak akan memancarkan aura yang bisa bikin bulu kuduk Leipzig meremang, layaknya dulu kala.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now