Renaissance Matteo Darmian

Foto: @DarmianOfficial

Bersama Inter Milan, Darmian menggerus aib sebagai pemain buangan.

Ada suatu masa ketika peperangan menjadi hal yang lumrah. Kelaparan dan wabah penyakit, serta ketidaktahuan adalah sesuatu yang kaprah. Renaissance kemudian muncul sebagai amanah. Ialah gagasan untuk mengobati era kegelapan, melahirkan kembali budaya, artistik, politik, dan ekonomi.

Italia punya andil besar dalam membangkitkan Renaissance. Diawali dari Dinasti Medici yang kala itu berkuasa di Florence, kemudian menyebar ke Venezia, Milan, Bologna, Ferrara, dan Roma. Renaissance semakin masif selama abad ke-15 dan meluas dari Italia ke Prancis, lalu ke seluruh Eropa barat dan utara sebagai penawar kesuraman.

Setiap manusia sejatinya pernah mengalami periode gelap dalam hidupnya walau setitik. Masa pelik ketika kenyataan dan harapan sulit berkompromi, seperti yang pernah ditelan Matteo Darmian dari awal hingga pertengahan kariernya.

Disia-siakan AC Milan, bersinar bersama Torino kemudian meredup di naungan Manchester United. Sekarang, Darmian punya peluang besar untuk meraih titel liga pertamanya bersama Inter Milan.

***

Darmian lahir dari keluarga keturunan Armenia yang tinggal di Legnano, kota kecil yang berjarak 12 kilometer dari Milan. Tak banyak yang menarik di Legnano, kecuali labelnya sebagai kota kelahiran Dolce & Gabbana.

Ketika berusia 10 tahun, Darmian pernah ikut lomba tahunan perpustakaan di Milan. Mereka mengundang ratusan anak untuk mengeksplorasi minat mereka terhadap buku dan memberikan hadiah bagi siapa saja yang menyelesaikan setidaknya empat buku.

Tebak berapa yang buku yang dilahap Darmian? 12. Tak ayal dia mendapatkan titel “Super Reader” dari perpustakaan tersebut. Salah satu pustakawan di sana, Mario Domina, menggambarkan Darmian sebagai anak yang rapi, terpelajar, dan juga lembut.

Foto: Instagram matteodarmian36

Sama seperti bocah lokal kebanyakan, Darmian juga bermain sepak bola dengan klub setempat di alun-alun utama Rescaldina. Darmian lumayan punya privilege karena pelatihnya adalah ayahnya sendiri. 

Potensinya kemudian ditangkap oleh Beniamino Abate. Mantan kiper dan juga ayah Ignazio Abate itu merupakan scouting AC Milan di area Lombardy. Mulai dari situ pintu kariernya mencelangak. Darmian bergabung dengan akademi Milan di usia 10 tahun dan mendapatkan debutnya di Coppa Italia enam tahun berselang.

Milan boleh menjadi cinta pertama Darmian. Namun, di sana pula dia merasakan bagaimana menjadi pemain buangan. Semusim setelah dipinjamkan ke Padova, dia dilepas ke Palermo. 

Sejatinya Darmian tidak nihil pembuktian. Dia rutin masuk seleksi tim junior Italia, ditambah lagi dengan pengalamannya sebagai kapten Milan Primavera. Apa mau dikata, sang allenatore Massimiliano Allegri memilih Abate sebagai sebagai penjaga sisi tepi.

Meski tak banyak, ada eskalasi menit bermain Darmian di Palermo. Total 16 kali dirinya tampil bersama Javier Pastore dan kawan-kawan, termasuk di kompetisi Liga Europa.

Dari Sisilia, Darmian melanjutkan pertualangannya jauh ke utara. Adalah Torino yang dia pilih. Siapa yang menyangka di sana Darmian menemukan bentuk terbaiknya. Puncaknya, ya, saat ambil bagian di Piala Dunia 2014 di Brasil.

"Jika aku berada di Brasil, itu sebagian besar berkat pelatih Torino, Giampiero Ventura, dan sang presiden [Urbano] Kairo. Jika bukan karena mereka, aku tidak akan pernah punya kesempatan seperti ini,” ucap Darmian kepada FIFA.

Ventura dan Kairo adalah kompas sempurna untuk Darmian yang tersesat. Mereka menyediakan kepercayaan lewat waktu serta gaya main yang dia inginkan. 

Darmian sampai mencatatkan rata-rata 5,2 tekel per laga dari total 30 pementasan di Serie A 2012/13. Angka itu menjadi yang tertinggi di lima liga top Eropa. Setelahnya Darmian juga masuk dalam starting XI terbaik Serie A dua musim beruntun. Tak ayal Manchester United meminangnya pada musim panas 2015/16.


“(Louis) van Gaal adalah seseorang yang terobsesi dengan aturan. Dia adalah orang yang menginginkan saya di United,” ungkap Darmian kepada La Gazzetta dello Sport.

Pada akhirnya kita semua tahu apa yang terjadi dengan Darmian di Old Trafford. Dia termasuk dalam gerombolan gagal Van Gaal bersama Angel Di Maria dan Memphis Depay.

Mau bagaimana? Eksistensi Darmian cuma tampak di musim pertama saja. Sementara tiga edisi setelahnya nyaris tak bersisa, baik itu di rezim Jose Mourinho dan juga Ole Gunnar Solskjaer. Sebagai gambaran, Darmian cuma mengecap 444 menit mentas di Premier League edisi 2018/19 atau terendah keenam dari total 28 pemain United.

Situasi tak menyenangkan itu membuat Darmian tak nyaman. “Lebih baik hengkang daripada cuma ongkang-ongkang,” begitu pikirnya. Pada 2 September 2019, dia resmi meninggalkan United menuju Parma.

Darmian bukan memilih I Gialloblu sebagai tujuan, melainkan sebagai batu loncatan. Semusim setelahnya, dia pergi ke Inter Milan dengan status pinjaman.

***

"Conte punya ide-ide hebat, secara taktis dia selangkah lebih maju,” jawab Darmian saat ditanyai siapa yang terbaik di antara Conte, Mourinho, dan Van Gaal.

Masuk akal Darmian menyatakan pujiannya kepada Antonio Conte. Selain CV-nya yang mentereng, pelatih kelahiran Lecce itu juga berhasil memaksimalkan potensi Darmian dalam timnya. Spesialisasinya sebagai wing-back sangat terakomodasi di Inter.

Buat Conte, bek sayap adalah fondasi. Mereka kudu aktif terlibat dalam serangan selain juga melakukan aksi defensif. Kreativitas dan ketajaman sama pentingnya dengan kemampuan melakukan transisi. Darmian adalah salah satu dari sedikit pemain yang piawai dalam hal ini. Setidaknya, itu sudah dia buktikan semasa menjadi wing-back dalam format 3-4-2 yang diusung Ventura sewaktu di Torino.

Whoscored mencatat Darmian sudah bermain di 7 posisi berbeda di Inter musim ini: Mulai dari bek sentral, wing-back, hingga gelandang. Dari posisi kanan dan kiri, semua telah dijajalnya.

Apa yang dialami Darmian sekarang membuat Emanuele Giaccherini, salah satu unsung hero Conte di Juventus dan Timnas Italia, teringat akan perjalanan kariernya sendiri. Dia bermetamorfosis dari pemain underrated menjadi gelandang serbabisa yang diperhitungkan.

“Darmian telah melakukan apa yang saya lakukan di Juventus. Salah satu kehebatan Conte adalah bahwa dia tidak peduli siapa nama Anda atau berapa umur Anda, dia hanya tertarik pada cara Anda dalam latihan. Jika Anda pantas untuk bermain, Anda akan bermain," ujar Giaccherini dalam wawancaranya dengan Tuttosport.

Kepercayaan Conte kepada Ashley Young, Arturo Vidal, dan Darmian bisa menjadi bukti untuk omongan Giaccherini di atas. Mereka tak lagi muda dan sudah memasuki kepala tiga.

Betul bahwa Darmian hanya berstatus sebagai pelapis Achraf Hakimi dan Ivan Perisic. Sebanyak 12 dari 23 penampilannya berawal dari bangku cadangan. Namun, kompetensi, pengalaman, serta keserbabisaan Darmian begitu vital buat Nerazzurri.

Bisa dilihat dari golnya ke gawang Hellas Verona pekan lalu. Masuk di menit 65, Darmian sukses memecah kebuntuan 11 menit kemudian. Itu menjadi lesakan semata wayang yang membawa Inter menang.

Itu bukan kali pertama Darmian menjadi game changer. Pada pekan 30, dia berhasil menjadi penawar saat Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez gagal tugas. Sepakan kaki kirinya berhasil mengoyak jala Cagliari sekaligus menghadirkan 3 angka buat Inter. Bisa dibayangkan betapa heroiknya Darmian buat Inter.

---

Lupakan masa kelam Darmian di Milan dan United. Sekarang, dia bersilih dari pemain buangan menjadi personel andalan. Andai Inter meraih Scudetto musim ini, jangan lupakan ada peran besar Darmian di belakangnya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.