Revolusi Genoa Dimulai dari Andriy Shevchenko

Pelatih baru Genoa, Andriy Shevchenko. (Twitter: @GenoaCFC)

Andriy Shevchenko berhasil merevolusi Timnas Ukraina. Tugas yang sama kini menantinya sebagai pelatih anyar Genoa.

Andriy Shevchenko pernah begitu identik dengan kesuksesan. Namun, menyusul kepindahan bernilai 30 juta poundsterling ke Chelsea pada Mei 2006, berulang kali dia diterpa kegagalan. Karier sepak bolanya tak lagi mulus. Bahkan, saat dipinjamkan kembali ke Milan pada musim 2008/09, tak sekali pun Shevchenko berhasil mencetak gol di Serie A.

Semusim di Milan itu menjadi penutup karier bermain Shevchenko di luar negeri. Dia lalu memutuskan pulang untuk memperkuat klub yang membesarkan namanya, Dynamo Kyiv. Era kedua Shevchenko bersama Dynamo ini sebetulnya tak bisa disebut sebagai sebuah kegagalan lantaran dia masih dipercaya 83 kali dan mencetak 30 gol dalam kurun tiga musim. Dia pun masuk skuad Timnas Ukraina dalam gelaran Euro 2012.

Namun, Shevchenko sadar bahwa, di usia 36 tahun, dia sudah habis sebagai pemain. Maka, usai Piala Eropa, pemain yang akrab disapa Sheva itu memutuskan gantung sepatu. Tanpa menghabiskan banyak waktu, Shevchenko langsung terjun ke dunia politik dengan menjadi kader Partai Ukraina Maju. Shevchenko pun langsung menjadi calon anggota legislatif untuk pemilu di tahun yang sama.

Keputusan Shevchenko untuk berpolitik sebenarnya bukan hal mengejutkan. Sejak akhir 90-an, dia sudah menunjukkan ketertarikan dengan dunia politik lewat pernyataan dukungan terhadap Partai Sosial Demokrat Ukraina. Lalu, pada pemilihan presiden 2004, Shevchenko mendeklarasikan dukungan untuk Viktor Yanukovych.

Akan tetapi, keputusan untuk berpolitik itu berujung pada kegagalan pahit. Partainya hanya meraih 1,58% suara dan gagal melewati parliamentary threshold. Shevchenko pun, secara otomatis, gagal menjadi anggota parlemen. Kegagalan ini membuatnya berpikir ulang. Dia tahu bahwa dia sebenarnya ingin menjadi pelatih dan akhirnya jalan itulah yang dia tempuh.

Federasi Sepak Bola Ukraina juga tahu bahwa Shevchenko ingin menjadi pelatih. Itulah mengapa mereka menawarinya jabatan pelatih tim nasional pada November 2012. Namun, Shevchenko merasa belum siap waktu itu. Tawaran tersebut ditolak dan dia memilih untuk menyepi.

Empat tahun lamanya Shevchenko "menghilang". Pada 2016, tak lama sebelum Piala Eropa, dia ditunjuk menjadi asisten pelatih Timnas Ukraina, Mykhaylo Formenko. Shevchenko pun tak butuh waktu lama untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan dari tangan Formenko. Menyusul penampilan buruk Ukraina di Euro 2016, Formenko dipecat dan Shevchenko didapuk jadi pelatih kepala.

Shevchenko sudah diincar jadi pelatih timnas oleh federasi sejak 2012 dan akhirnya mendapat pekerjaan itu pada 2016. Akan tetapi, penunjukannya mendapat respons miring dari berbagai pihak. Publik sepak bola Ukraina melihat Shevchenko sebagai sosok minim pengalaman dan tidak punya bakat melatih.

Kekhawatiran publik itu menjadi kenyataan setelah Ukraina dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Kritikan makin deras saja menghujani Shevchenko dan Federasi Sepak Bola Ukraina. Akan tetapi, kegagalan itu sebetulnya merupakan berkat terselubung. Untung saja, segala kritikan tadi dihadapi Shevchenko dan federasi dengan kepala dingin. Sebab, setelah itu, revolusi sepak bola Ukraina dimulai.

Shevchenko adalah anak didik tokoh revolusioner sepak bola Ukraina, Valeriy Lobanovksyi. Karier sepak bolanya melejit berkat pria yang tenar dengan topi bulatnya tersebut. Shevchenko memulai karier profesional bersama Dynamo pada 1993. Empat tahun kemudian, dia merasakan tangan dingin Lobanovskyi. Kolaborasi mereka membawa Dynamo sampai ke semifinal Liga Champions 1998/99 dan Shevchenko jadi topskorer turnamen bersama Dwight Yorke.

Konsep utama sepak bola Lobanovskyi adalah pressing. Lobanovksyi sendiri mewarisi itu dari tokoh revolusi sebelumnya, Viktor Maslov. Seharusnya, konsep bermain itu menjadi identitas sepak bola Ukraina. Akan tetapi, pragmatisme kerapkali jadi jalan pintas untuk mengatrol prestasi. Bahkan, pragmatisme seperti menjadi identitas baru bagi mereka.

Shevchenko tidak menyukai ini. Dia memang sempat menjadi bagian dari rezim yang pragmatis itu. Akan tetapi, diam-diam Shevchenko sudah merancang perubahan yang ingin dia jalankan sejak awal. Mempersiapkan segalanya dalam diam ini pulalah yang membuat Shevchenko jadi punya bekal untuk merevolusi sepak bola di negerinya.

Selama bermain, Shevchenko dilatih banyak pelatih hebat. Dari Lobanovskyi sampai Alberto Zaccheroni. Dari Guus Hiddink sampai Jose Mourinho. Dari Carlo Ancelotti sampai Luiz Felipe Scolari. Shevchenko tidak tampak sebagai seorang calon pelatih karena dia memang tidak menunjukkannya. Dia mengikuti ajaran Lobanovskyi untuk mencatat segalanya dengan detail, tetapi itu dilakukannya dengan diam-diam.

Sampai akhirnya, semua amunisi terkumpul dalam arsenal Shevchenko. Dia pun dengan lantang berkata, "Prinsip kami adalah sepak bola yang kompak, seimbang antara bertahan dan menyerang, dan dimainkan dengan umpan pendek-menengah. Kami ingin selalu mengontrol bola."

Shevchenko tidak asal bicara. Apa yang dipikirkan dan diucapkan benar-benar mewujud di lapangan. Ukraina yang gagal lolos ke Piala Dunia 2018 dibawanya lolos ke Euro 2020. Di turnamen itu pun terlihat betul bahwa Ukraina sudah tak seperti dulu. Ukraina yang tampak di turnamen tersebut adalah Ukraina yang diinginkan oleh Shevchenko.

Jika kita melihat hasil akhir, Ukraina tidak terlihat impresif. Mereka kalah dari Belanda dan Austria di fase grup lalu lolos ke fase gugur sebagai salah satu tim peringkat tiga terbaik. Di babak 16 besar, Ukraina cuma menang tipis atas Swedia sebelum digulung Inggris 0-4 di babak perempat final. Akan tetapi, sepak bola bukan cuma persoalan hasil akhir. Hasil akhir adalah bonus dari segala daya yang dikerahkan sepanjang laga.

Daya yang dikerahkan Ukraina itu membuat orang terkaget-kaget. Sebab, kualitas pemain Ukraina memang tak sebaik tim-tim papan atas Eropa. Akan tetapi, mereka tidak takut untuk bermain proaktif dan terbuka, meski sebetulnya mereka tidak naif juga. Penampilan itulah yang diharapkan para pemilik baru Genoa saat menunjuk Shevchenko sebagai pelatih baru klub menggantikan Davide Ballardini.

Di Genoa nanti, seperti halnya di Timnas Ukraina, Shevchenko akan dibantu oleh dua eks staf kepelatihan Milan, Mauro Tassotti dan Andrea Maldera. Tassotti menjabat sebagai asisten pelatih, sementara Maldera adalah analis video. Diharapkan, perubahan yang dibawa Shevchenko untuk negerinya bisa menular ke klub tertua Italia itu.

Komposisi skuad Genoa sangat cocok dengan Shevchenko. Di Ukraina, dia biasa menerapkan pakem tiga bek. Genoa pun terbiasa bermain dengan pola serupa bersama Ballardini. Mereka sudah memiliki pemain-pemain yang semestinya bisa menerapkan ide bermain Shevchenko. Akan tetapi, yang perlu dipikirkan Shevchenko adalah mengubah mentalitas para pemain Genoa.

Meski punya koleksi Scudetti berjumlah sembilan, Genoa sudah terlalu lama berkubang dalam kegureman. Bahkan, tim terakhir yang berhasil meraih juara Serie A dari kota pelabuhan itu bukanlah Genoa, melainkan Sampdoria. Artinya, Genoa bukan lagi klub besar dan mereka terbiasa bersikap layaknya tim semenjana.

Kini, Genoa punya pemilik baru dengan ambisi baru. Ambisi itu diwujudkan dengan mendatangkan Shevchenko. Maka, PR terbesar Shevchenko adalah mentransfer ambisi itu dari meja direksi ke lapangan hijau.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.