Rice yang Berharga

Foto: Instagram @Deccers

Manchester United boleh saja berambisi mendatangkan Declan Rice. Namun, ingat: Ia adalah pemain paling "berharga" untuk West Ham United.

Dari bocah yang tidak pernah diakui, Declan Rice menjelma jadi pemain paling “dihargai”.

Pada usia 14 tahun, seorang staf pelatih tim junior Chelsea menghubungi ayah Rice, Sean, dan mengatakan bahwa anaknya tidak lagi diinginkan oleh Chelsea. Staf tersebut juga mengatakan bahwa sejak hari itu, Rice dipersilakan untuk bergabung dengan tim lain.

Keputusan Chelsea melepas Rice dilakukan setelah mempertimbangkan banyak alasan. Menurut Chelsea, Rice tidak punya kemampuan untuk bermain di satu posisi tertentu. Ia dinilai terlalu buruk untuk seorang pemain belakang, tetapi juga tidak layak saat dimainkan di lini serang.

Rice juga dilepas karena didiagnosis mengidap gangguan pertumbuhan. Saat menjalani tes naik tingkat, ia mengalami penyakit yang di kemudian hari bisa mengganggu caranya dalam menggerakkan tubuh.

“Saya kaget dengan keputusan yang mereka buat. Saya pikir Chelsea akan mempertahankannya mengingat ia punya karakter yang jauh lebih baik dibandingkan anak-anak seumurannya,” kata Michael Beale, mantan pelatih Rice di tim junior Chelsea kepada The Athletic.

Beale tidak dapat berbuat apa-apa untuk masa depan Rice. Sebab, beberapa hari sebelum Rice dilepas, ia bergabung dengan Liverpool. “Saya yakin, di kemudian hari, ia akan menjadi pesepak bola yang hebat,” kata Beale hari itu.

Head of Academy Recruitment West Ham United, Dave Hunt, datang di waktu yang tepat. Hunt, yang telah mengamati Rice sejak usia sembilan tahun, langsung menawari Sean untuk mengajak anaknya mengikuti trial.

“Pada hari pertamanya di West Ham, ia menjadi pemain trial terbaik yang pernah saya lihat. Saya tidak tercengang dengan penampilannya hari itu karena saya sudah mengaguminya sejak lama,” ujar Hunt.

Namun, jalan Rice tidak semudah itu. Alasan-alasan yang membuatnya dilepas Chelsea membuat tim pelatih junior West Ham banyak menghabiskan waktu bersama. Mereka kerap saling silang pendapat, terutama menyangkut posisi yang pas untuknya.

Ide datang dari Tony Carr, Kepala Youth Development West Ham. Melihat perkembangan tubuh Rice yang amat cepat, ia langsung menyarankan tim pelatih untuk mencobanya bermain sebagai bek tengah.

Lama bermain sebagai bek tengah tidak membuat Rice kesulitan saat dimainkan di posisi tertentu. Saat ia berusia 18 tahun, Manuel Pellegrini datang ke West Ham. Melihat bakatnya, Pellegrini tanpa pikir panjang mengubah posisinya ke gelandang bertahan.

Empat tahun sejak ditunjuk menjadi gelandang bertahan, Rice menjelma sebagai salah satu yang terbaik di Inggris. David Moyes, manajer West Ham kini, bahkan mengatakan bahwa Rice tidak akan pernah tergantikan.

Penampilan apik Rice membuat banyak klub besar tertarik. Setelah Chelsea dan Arsenal diisukan tertarik mendatangkannya, kini giliran Manchester United yang siap merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan jasa Rice.

Keinginan United untuk mendatangkan Rice cukup masuk akal. Dalam tulisan “Alfa, Omega, Paul Pogba”, kami sempat menyinggung bahwa satu masalah United sekarang adalah tidak adanya gelandang bertahan mumpuni.

Fred adalah gelandang bertahan yang paling sering dimainkan oleh Ole Gunnar Solskjaer musim ini. Dalam 29 pertandingan yang telah dilakoni United, pemain asal Brasil tersebut diturunkan sebagai starter 20 kali dan menjadi pengganti tiga kali.

Namun, kebutuhan United saat ini adalah satu gelandang bertahan yang mampu melakukan banyak hal, mulai dari bertahan hingga mengirimkan bola ke depan. Hal ini tidak dapat dipenuhi oleh Fred lantaran kemampuan terbaiknya hanya di seputaran aspek bertahan.

Oleh karena itu, rasanya sah-sah saja apabila United mengarahkan targetnya kepada Rice. Dari catatan bertahan, statistik Rice tak sedikit berbeda dengan Fred. Namun, saat mengalirkan bola, Rice punya hasil yang lebih baik.

Meski sama-sama bermain sebagai gelandang bertahan, Fred dan Rice punya ciri khas yang berbeda. Fred lebih mengandalkan mobilitas, sementara Rice piawai dalam membaca situasi dan menempatkan diri.

Sejauh ini, Fred membukukan rata-rata 2 tekel sukses per pertandingan. Angka tersebut di atas rata-rata Rice, yang hanya 1,7. Namun, soal intersep, Rice unggul dengan rata-rata 2,1 intersep sukses per pertandingan, sementara Fred hanya 2.

Gaya bermain yang lebih mobile membuat Fred menekan lawan lebih banyak dari Rice. Ia membukukan 23 pressing ke lawan per pertandingan. Jauh di atas angka Rice yang hanya 15 pressing per pertandingan.

Satu tugas yang membuat Rice dianggap sebagai holding midfielder apik adalah kemampuannya dalam menjemput dan mengalirkan bola. Ia tidak jarang untuk bermain di posisi sejajar dengan bek tengah agar tercipta semakin banyak opsi operan.

Rice terbilang apik dalam mengalirkan bola. Rasio keberhasilan umpan jarak pendeknya mencapai 90,1%, sementara umpan jarak menengahnya (antara 13 sampai 27 meter) mencapai 89,9%. Rasio tersebut membuatnya menempati urutan kelima gelandang bertahan dengan akurasi umpan tertinggi.

***

Alasan terbesar United tertarik mendatangkan Rice adalah kemampuannya bermain sebagai gelandang bertahan dengan peran holding midfielder. Fred memang lugas dengan posisi gelandang bertahan, tetapi kurang saat harus memerankan peran tersebut.

Masalah yang mungkin membuat United akan kesulitan adalah banderol Rice yang cukup tinggi. Pemegang saham mayoritas West Ham, David Sullivan, berkata bahwa Rice layak dibanderol 100 juta pounds, sementara David Moyes menilai valuasinya setara dengan tumpukan uang di Bank of England.

Sekarang pilihan ada di United, deal or no deal?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.