Ruang dan Waktu adalah Milik Toni Kroos

Foto: Twitter @realmadrid.

Oleh Toni Kroos, bola tak ubahnya sebuah pion dan dia adalah tuannya. Ke mana pun dia menghendaki, ke sanalah bola itu bakal bergerak.

Katanya, salah satu hal terbaik dalam hidup adalah ketika kita berada pada momen, tempat, dan waktu yang tepat. Tidak terlalu cepat atau tidak terlambat satu detik pun.

Ketika Montgomerry Scott berdebat dengan instrukturnya bahwa perpindahan objek bisa dilakukan dari satu planet ke planet lain--asalkan masih berada dalam satu sistem bintang yang sama--dia bertindak nekat.

Scotty, demikian Montgomerry Scott biasa disapa, ingin membuktikan bahwa teori instrukturnya yang mengatakan bahwa perpindahan objek hanya bisa dilakukan dalam radius beberapa ratus kilometer adalah salah.

Maka, ia mengambil seekor anjing beagle, yang kebetulan milik admiral dari akademi tempatnya menimba ilmu, dan mempraktikkan teori perpindahan objek yang sebetulnya belum matang tersebut.

“Aku tahu anjing itu,” kata temannya, Kapten James T. Kirk. “Ke mana anjing itu sekarang?”

“Aku juga pengin tahu kalau anjing itu muncul lagi,” jawab Scotty sekenanya.

Fragmen yang menunjukkan betapa degilnya Scotty itu menjadi salah satu comedic relief dari versi reboot "Star Trek" di layar lebar. Dalam semesta "Star Trek", Scotty adalah karakter penting. Dia adalah chief engineer dari USS Enterprise, kapal ruang angkasa yang dinakhodai oleh Kirk.

Sebagai chief engineer, Scotty adalah sosok krusial untuk Enterprise. Proses perpindahan objek--termasuk makhluk hidup--dari satu tempat ke tempat lain, atau bahkan memindahkannya ke dalam kapal yang tengah bergerak di hyperspace, bukan persoalan sulit.

Yang jadi soal, dalam fragmen komikal tersebut, Scotty belum bisa menyempurnakan teorinya. Ia baru bisa melakukannya lewat cara “curang”: Setelah Spock dari masa depan memberikannya rumus persamaan yang sesungguhnya kelak ditemukan oleh Scotty sendiri.

Rumus persamaan tersebut membenahi pola pikir Scotty. Ia tadinya mengira yang bergerak hanyalah ruang tempat objek itu berasal dan ruang yang dituju oleh objek tersebut. Ia sama sekali tidak mengira bahwa ruang angkasa juga ikut bergerak.

Tentu saja analogi geeky di atas tidak betul-betul menunjukkan teori sesungguhnya soal ruang, waktu, dan momen. "Star Trek" pada akhirnya cuma bergerak pada ranah science fictions. Namun, hal tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa ruang dan waktu, apalagi mendudukkannya untuk menjadi urusan numerik, selalu menjadi persoalan rumit.

***

Bagi Johan Cruyff, ruang dan waktu adalah segalanya. Totaal voetbal yang ia dengung-dengungkan—berikut turunannya seperti juego de posicion—cukup bergantung pada pengeksploitasian ruang.

Ball possession yang Cruyff gunakan bukanlah tanpa arah dan tanpa maksud. Seringkali penguasaan bola tersebut ia gunakan untuk memancing lawan keluar dari posisinya dan menciptakan ruang untuk dieksploitasi.

Oleh karena itu, Cruyff juga menekankan bahwa timing adalah perkara penting. Kamu tidak boleh terlalu cepat atau terlambat satu detik pun. Kamu harus berada pada saat yang tepat untuk melepas operan, menerima operan, atau ketika bergerak memasuki ruang.

Persoalannya, tak banyak pemain yang punya ketepatan seperti itu. David Silva adalah salah satunya. Ia sering mendapatkan pujian karena jarang menyentuh bola lebih banyak dari yang seharusnya. Oleh karena itu, ia jarang melepas operan dengan timing yang salah.

Pemain lain yang juga punya karakteristik serupa adalah Toni Kroos. Dahulu, ketika masih memperkuat Bayern Muenchen, orang-orang memanggilnya sebagai The Sharpshooter alias si Penembak Jitu atau The German Sniper. Semua karena kepiawaiannya dalam menembak bola dari jarak jauh.

Kroos seolah-olah sudah lahir dengan bakat untuk berkawan karib dengan bola. Otak dan kaki-kakinya terkoneksi dengan baik. Seketika ia berpikir, seketika itu pula kakinya bekerja.

Oleh Kroos, bola tak ubahnya sebuah pion dan dia adalah tuannya. Ke mana pun dia menghendaki, ke sanalah bola itu bakal bergerak. Bola, lewat kaki-kaki Kroos, seolah diletakkan begitu saja pada ruang dan waktu yang tepat.

Kroos adalah bocah ajaib. Teman-teman masa kecilnya mengenal dia sebagai anak yang sering bermain dengan anak-anak yang satu atau dua tahun lebih tua. Malah, pada usia 16 tahun, ia sudah bergabung dengan Timnas Jerman U-17.

“Pada level itu, perbedaan umur punya pengaruh besar,” ujar mantan rekan satu tim Kroos Jerman U-17, Stefan Reinartz.

Reinartz bukanlah satu-satunya orang yang punya kenangan brilian akan Kroos. Richard Fitzpatrick, penulis yang menggarap buku "El Clasico: Football’s Greatest Rivalry", pernah menceritakan bagaimana guru Kroos di sekolah melihat keajaiban lainnya.

Kroos, kata sang guru, berada satu level di atas anak-anak lainnya. Oleh karena itu, untuk bermain sepak bola sama rata dengan teman-temannya, ia diminta bermain telanjang kaki.

Sepak bola, menurut Cruyff, adalah permainan sederhana. Namun, untuk memainkannya secara sederhana bukan perkara mudah. Kroos, sementara itu, berhasil menemukan bagaimana caranya untuk bermain sesederhana dan seefektif mungkin.

Di luar kemampuannya untuk melepaskan operan dan tembakan dengan jitu, Kroos paham kapan saat yang tepat dan ke ruang mana melepas operan itu. Kemampuannya untuk melepas operan dengan timing yang tepat itu tak lepas dari teknik passing-nya yang juga benar.

Menurut Fitzpatrick, rekan-rekan Kroos memujinya karena operannya tidak pernah memantul sembarangan. Ia seperti meluncur dengan mulus di atas lapangan. Reinartz kemudian menambahkan bahwa operan Kroos tidak hanya meluncur mulus, tetapi juga mengeluarkan bunyi “whooosh”, seolah-olah bola meluncur dengan ringannya.

Teknik melepas operan dengan benar itu juga ia lengkapi dengan kemampuannya membaca permainan dan observasi yang tepat akan keberadaan posisi rekan. Kroos kabarnya bisa mengetahui berapa meter jarak Thomas Mueller, Mesut Oezil, atau rekan-rekannya yang lain, meski matanya sedang tertutup. Dari situ, ia paham ke mana, kapan, dan bagaimana semestinya melepas operan.

Sederet kemampuan itulah yang membuat Kroos menjadi sosok penting di lini tengah Real Madrid. Musim ini, ketika Casemiro atau Sergio Ramos absen, dia bisa tampil sebagai penyeimbang tim.

Tanpa Casemiro, Kroos rela turun lebih dalam untuk menjemput bola kemudian mengalirkannya ke lini depan. Ia juga bisa turun ke lini belakang untuk menjadi pseudo-center back dengan berdiri di antara dua bek tengah pada fase build-up dari lini belakang. Ini mengapa, Madrid masih bisa membangun serangan dari lini belakang ketika Ramos absen.

Jika Kroos sedang memainkan peran sebagai jangkar, biasanya Zinedine Zidane akan meminta Luka Modric atau Martin Odegaard untuk mengambil peran yang lebih advance. Modric biasanya masih berdiri di area tengah, sedangkan Odegaard lebih sering mengambil posisi untuk lebih dekat dengan lini depan.

Andaikan Casemiro bermain, pilihan Zidane menjadi lebih mudah; entah memainkan Odegaard dan Kroos di depan Casemiro atau Modric dan Kroos. Namun, melihat Odegaard bisa melepas 1,96 umpan kunci per 90 menit (dari 230 menit bermain di La Liga musim ini), sepertinya ia layak dikedepankan. Modric sendiri rata-rata melepas 1,53 umpan kunci per 90 menit dari 1.292 menit bermain.

Catatan Kroos lebih krusial lagi. Sejauh ini, ia sudah membuat rata-rata 2,48 umpan kunci per 90 menit. Angka itu merupakan yang tertinggi di antara pemain Madrid lainnya. WhoScored juga mencatat bahwa Kroos rata-rata melepas 71,4 operan per laga dengan tingkat akurasi mencapai 93,3%

Andai Zidane ingin bermain lebih direct pun Kroos juga bisa menjadi sosok sentral. Pasalnya, selain bisa melepaskan tembakan jarak jauh dengan akurasi tinggi, ia juga bisa melepaskan umpan panjang dengan sama baiknya. Rata-rata, ia bisa melepaskan 7,2 umpan panjang sepanjang musim ini berjalan.

Toni Kroos adalah silent Galactico, begitu Fitzpatrick menyimpulkan Kroos. Bukan apa-apa, kedatangannya ke Madrid pada 2014 tidak semeriah—katakanlah—Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, ataupun Kaka.

Ia tidak pernah menjadi seorang narsisis seperti Ronaldo atau mengumbar emosi seperti Ramos. Kroos, pada akhirnya, adalah seseorang yang lebih memilih untuk bersikap seperti caranya bermain sepak bola: Halus, efektif, dan efisien.

Namun, selayaknya seorang sniper, Kroos agaknya memang lebih suka bekerja (atau membunuh) dalam kesunyian.