Run, Matip, Run!

Foto: @LFC.

Penampilan Joel Matip meningkat musim ini. Ia jadi rekan duet yang sempurna buat Van Dijk. Aksi khasnya pun terus terlihat dan makin berbahaya.

Setiap kali melihat Joel Matip melakukan aksi khasnya: Berlari menggiring bola ke sepertiga akhir area lawan, saya selalu terbayang salah satu adegan di film Forest Gump.

Adegan saat Forrest mampu berlari untuk menghindari kejaran tiga bocah perundungnya. Adegan saat Jenny Curran, teman perempuan Forrest, berteriak: "Run, Forrest, run!". Pada momen itu, Forest yang tadinya menggunakan alat bantu berjalan di kakinya, tiba-tiba bisa berlari kencang. Ia kemudian terus berlari dan berlari, tak peduli apa yang ada di depannya. Yang ia tau: Ia harus menghindari tiga perundung itu.

Saya melihat Matip seperti itu. Saat mendapat bola dan kemudian melihat ruang kosong atau tak punya opsi umpan karena seluruh rekannya dijaga, Matip akan langsung menggiring bola ke depan. Menusuk ke sepertiga akhir lawan. Ia tak peduli dengan lawan yang mendekati atau berada di depannya. Yang ia tau: Bola harus sampai di muka kotak penalti lawan, agar tim bisa melancarkan serangan.

Dan tiap melihat Matip mulai melakukan aksi khasnya itu, saya jadi ingin melakukan apa yang dilakukan Jenny. Ingin rasanya berteriak, "Run, Matip, run!".

***

Saat Matip datang ke Liverpool, ekspektasi terhadapnya tidak sedemikian tinggi. Pertama, ia didatangkan dengan status bebas transfer. Kedua, ia datang dari Schalke yang sedang tidak terlalu spesial di Bundesliga (saat itu). Ketiga, ia bukan sosok populer yang sering dielu-elukan media. Matip adalah Matip.

Penampilannya di musim pertama memang bagus. Namun, mengingat Liverpool saat itu masih berada dalam fase peralihan, orang-orang tidak terlalu memperhatikan Matip. Ia memang tampil 32 kali di seluruh kompetisi, tapi duetnya bersama Dejan Lovren juga tidak terlalu spesial.

Di musim 2017/18, musim keduanya, Matip sebenarnya terus tampil baik. Namun, cedera kemudian menenggelamkan namanya. Ia harusnya jadi pasangan Virgil van Dijk di final Liga Champions pada musim tersebut, tapi cedera yang dialami sejak Maret membuat tempatnya diambil alih Lovren. Di musim itu Liverpool juga cukup spesial, sayangnya Matip tak ambil banyak bagian.

Barulah di musim 2018/19, kita melihat Matip naik tingkat. Ia tampil 31 kali di seluruh kompetisi saat itu. Duetnya bersama Virgil van Dijk di lini belakang membuat Liverpool cuma kebobolan 22 kali di Premier League--jadi catatan terbaik musim itu. Keduanya juga jadi kunci sukses di balik keberhasilan The Reds menjadi kampiun Liga Champions. Matip bahkan mencatatkan satu assist di partai final.

Sialnya, di dua musim berikutnya, Matip kembali terbenam akibat cedera. Ia absen total 351 hari pada musim 2019/20 dan 2020/21. Catatan yang kemudian membuatnya lebih dikenal sebagai bek rentan cedera ketimbang bek bagus. Catatan yang menenggelamkan apa yang ia tampilkan sepanjang musim 2018/19.

Ketika kemudian Liverpool mendatangkan Ibrahima Konate di awal musim ini, Matip mungkin terlihat akan makin tenggelam. Namun, kenyataannya tidak demikian. Performa Matip justru kembali menanjak. Jika memperhatikan Liverpool musim ini, kamu mungkin menyadari bahwa Matip begitu menonjol perannya. Ia kembali seperti musim 2018/19.

Saat performa Van Dijk belum mencapai puncaknya lagi (seperti saat belum cedera parah), Matip mampu menutup lubang-lubang yang ada dengan bekerja ekstra keras. Matip mengambil tugas-tugas yang belum bisa dilakukan Van Dijk dengan sempurna--terutama di awal-awal musim ini. Karenanya tak perlu heran kalau melihat beberapa statistiknya menanjak.

Pertama, umpan lambungnya jadi jauh lebih efektif. Ini, tentu saja, untuk membantu tugas Van Dijk. Histori mencatat bahwa Van Dijk adalah bek dengan kemampuan luar biasa dalam hal melepas umpan lambung. Namun, mengingat kuantitas yang ia lepaskan jauh menurun (16,5 umpan lambung per 90 menit musim ini, paling sedikit selama ia membela Liverpool), Matip hadir untuk membantu.

Pada musim 2021/22, Matip punya catatan 13,9 umpan lambung per 90 menit. Akan tetapi, poinnya bukan di jumlah, tapi di persentase kesuksesannya. Musim ini, persentase umpan panjang suksesnya mencapai angka 84,5%. Catatan itu adalah catatan terbaiknya sepanjang berseragam Liverpool. Dari situ ia mencatatkan 6,46 umpan mengarah ke sepertiga akhir pertahanan lawan per 90 menit. Lagi-lagi catatan terbaik.

Musim ini, Matip juga memperbaiki kemampuan membaca permainan. Kita bisa melihat itu dari catatan intersepnya yang meningkat. Di musim ini, pemain kelahiran Bochum itu mencatat 1,46 intersep per 90 menit. Catatan itu tentu saja yang terbaik jika kita bandingkan dengan catatannya di tiga musim terakhir.

Dengan kemampuan membaca permainan yang membaik, Matip juga jadi sulit dilewati lawan. Per 90 menit, ia cuma dilewati lawan sebanyak 0,39 kali. Lagi-lagi ini catatan terbaik sepanjang kariernya di Liverpool. Bahkan lebih baik dari catatannya pada musim 2018/19 saat ia dilewati lawan 0,76 kali per 90 menit.

Kemampuan melakukan intersep dan kemampuan sulit dilewati lawan sebenarnya adalah atribut utama Van Dijk. Namun, lagi-lagi, mengingat ia belum kembali ke puncak performa, Matip membaik dan mampu mengemban atribut itu dengan baik. Di musim ini pun Liverpool jadi tim dengan angka harapan kebobolan (expected goal against/xGA) terkecil kedua (15.1) dan baru kebobolan 13 gol di Premier League.

Selain bisa menjadi pasangan yang sempurna buat Van Dijk, musim ini juga jadi musim di mana kita sering melihat trademark-nya Matip. Iya, aksi berlari menggiring bola ke sepertiga akhir pertahanan lawan itu. Aksi yang kemudian menjadi ciri khasnya, mengingat di musim ini rerata ia melakukan 2,38 giringan bola ke sepertiga akhir area pertahanan lawan.

Catatan Matip itu, untuk seorang bek tengah, adalah yang terbaik di Premier League. Dibanding musim-musim sebelumnya, catatan itu juga yang terbaik. Karenanya, kita bisa melihat bahwa, sebagai seorang bek tengah, Matip punya kemampuan menghasilkan peluang. Sepanjang musim ini, sudah ada tiga gol Liverpool yang diawali oleh aksi ofensif Matip. Entah itu umpan, entah itu karena ia dilanggar lawan.

Salah satunya tercipta di laga vs Leeds. Kala itu Matip merangsek, menggiring bola menuju muka kotak penalti Leeds. Dari situ, ia dengan cerdik memberi umpan kepada Trent Alexander-Arnold yang masuk ke kotak penalti dengan kondisi tanpa pengawalan. Alexander-Arnold kemudian melepas umpan silang mendatar yang disambut sempurna oleh Mohamed Salah.

Well, bek berpaspor Kamerun itu memang begitu. Ketika situasi sedang buntu, aksi khasnya bisa menjadi alternatif. Mampu menjadi awalan buat Liverpool untuk mendapatkan peluang. Sebab, aksi-aksinya itu pun acap tidak bisa ditebak oleh lawan. Mereka tak menyangkan bahwa yang akan membelah pertahanan, yang akan menerobos shape yang rapat, adalah seorang Matip.

***

Matip tidak punya media sosial. Namun, ada satu akun di Twitter yang acap mengunggah hal-hal konyol tentangnya. Mulai dari ekspresi lucunya, tingkah laku yang aneh, sampai aksi-aksi heroiknya di lapangan. Akun itu bernama @NocontextJMatip dan mereka sampai di-follow oleh pemain Liverpool seperti Van Dijk.

Hal itu menunjukkan bahwa di luar lapangan, Matip memang sosok yang disenangi oleh rekan-rekan timnya. Sosok humoris yang suka bertingkah laku aneh dan penuh canda. Sikap yang berbanding terbalik dengan apa yang ia tunjukkan saat sedang berlari menggiring bola membelah pertahanan lawan.

Aksi yang membuatnya mirip Forest Gump. Aksi yang membuat kita ingin berteriak, "Run, Matip, run!".

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.