Rupa Buruk Lazio di Cermin Retak

Salam fasis dari seorang pendukung Lazio. (Twitter/@aryan_thunder)

Lazio bukanlah klub fasis. Akan tetapi, klub ini seperti terjebak dalam identitas yang diciptakan oleh para fasis dan neo-fasis untuk mereka. Mengapa sulit sekali bagi Lazio untuk mengenyahkan citra "klub fasis"?

Angela Giussani sudah berusia 40 tahun ketika dia mendirikan sebuah perusahaan penerbitan yang diberi nama Astorina. Lahir di Milano pada 1922, Angela mulanya bekerja sebagai model. Namun, profesi itu tak lama dia jalani. Setelah menikah dengan seorang penerbit buku bernama Gino Sansoni, Angela ikut menekuni dunia baru tersebut.

Sampai akhirnya, Angela punya cukup keberanian untuk memulai usaha sendiri. Keberanian ini muncul tidak dengan tiba-tiba, tentu saja. Diam-diam, ketika masih membantu suaminya, dia mulai mengembangkan sebuah cerita tentang seorang pencuri yang berubah menjadi pahlawan. Salah satu tujuan utama Angela mendirikan Astorina adalah untuk menerbitkan cerita yang dikarangnya itu.

Cerita itu diberi judul "Diabolik". Ia diterbitkan dalam bentuk komik dan, dalam perkembangannya, menjadi salah satu seri komik terpopuler Eropa. "Diabolik" sudah terjual sampai 150 juta eksemplar ke seluruh dunia dan telah diadaptasi menjadi film, serial animasi, bahkan video game. Belakangan, adik Angela yang bernama Luciana pun ikut terlibat dalam penulisan komik "Diabolik".

"Diabolik" merupakan salah satu produk budaya pop terbaik Italia. Ia berkisah tentang seorang pencuri yang cerdas dan kejam bernama Diabolik. Dalam aksi-aksinya, Diabolik dibantu oleh kekasih sekaligus rekannya, Eva Kant. Mereka berdua bekerja sama untuk mencuri dari para kriminal di kota Clerville yang, konon, terinspirasi dari Jenewa.

Meskipun awalnya tidak segan-segan untuk membunuh — termasuk polisi dan warga sipil —, Diabolik perlahan insyaf. Dia memang tak pernah berhenti mencuri karena itu adalah inti dari karakternya, tetapi aksi-aksinya tak lagi menelan korban jiwa. Perkembangan karakter Diabolik itulah yang membuat seri ini jadi begitu populer.

Sayangnya, seiring dengan semakin populernya "Diabolik", karakter utama dari seri komik ini dikooptasi oleh sekawanan begundal yang biasa ditemukan di tribune utara Stadio Olimpico Roma pada akhir pekan. Oleh mereka, karakter Diabolik digunakan untuk menjuluki pemimpin mereka yang bernama asli Fabrizio Piscitelli.

Ada yang menyebut Piscitelli lahir pada 1964, ada pula yang mengatakan dia dilahirkan tahun 1966. Sampai sekarang, ini belum bisa dipastikan. Akan tetapi, yang sudah pasti, Piscitelli sudah menjadi penghuni Curva Nord Olimpico sejak berusia 13 tahun. Ini artinya, Piscitelli sudah mendukung Societa Sportiva Lazio sejak akhir 70-an.

Seperti halnya di klub-klub lain, kelompok-kelompok ultras Lazio lahir pada dekade 1960-an. Mereka muncul dari kalangan pemuda yang merasa atmosfer stadion begitu membosankan. Waktu itu, kebanyakan orang menonton sepak bola dengan duduk manis dan para pemuda tersebut tidak puas. Maka, mulailah mereka berdiri di belakang gawang dan bernyanyi.

Pada paruh pertama 1970-an, para ultras Lazio itu baru mulai mengonsolidasi kekuatan. Grup besar pertama lahir pada 1971 dan diberi nama Commandos Monteverde Lazio. Akan tetapi, kelompok yang pada akhirnya bakal menguasai tribun utara adalah Eagles. Kelompok ini lahir pada 1976 dengan nama Gruppi Associati Bianco Azzurri atau G.A.B.A. dan tujuan awalnya adalah menyatukan suporter tribun utara dan selatan.

Pada 1978, Eagles menahbiskan diri sebagai kelompok suporter terbesar Lazio lewat pembentangan spanduk raksasa berukuran 56 meter yang bertuliskan "Les Supporters". Piscitelli kecil awalnya merupakan bagian dari kelompok ultras Eagles ini.

Akan tetapi, pada pertengahan 80-an, Piscitelli dan sekelompok anggota Eagles muda lain mulai merasa tidak puas dengan tingkah polah kelompoknya. Mereka merasa Eagles terlalu jinak untuk menjadi kelompok ultras terbesar Lazio. Pada saat yang bersamaan, mereka sedang asyik-asyiknya bergaul dengan seorang desainer grafis ber-nom de plume Grinta.

Grinta, Piscitelli, dan angkatan muda Eagles ini mulai berpikir untuk membentuk grup baru. Namun, mereka tidak langsung mengeksekusi rencananya dengan frontal. Para pemuda itu awalnya menciptakan identitas terlebih dahulu. Dari hasil nongkrong bareng itu, lahirlah sebuah karakter bernama Mr. Enrich. Karakter itu digambarkan mengenakan topi mangkok dan berpose sedang menendang.

Pada 1987, barulah kelompok pecahan bikinan Grinta dan Piscitelli itu lahir dengan nama Irriducibili. Mr. Enrich pun kemudian dijadikan ikon kelompok ultras tersebut. Pose Mr. Enrich itu sendiri menggambarkan tingkah laku para anggota Irriducibili yang tak segan-segan menggunakan kekerasan untuk mengambil alih kekuasaan tribune utara dari tangan Eagles.

Irriducibili awalnya dipimpin oleh Grinta dan tujuan awalnya sederhana. Mereka ingin tampak lebih keras dan lebih tangguh dari Eagles. Akan tetapi, seiring dengan kebangkitan Lazio pada dekade 90-an, Irriducibili mulai menyimpang. Melihat banyaknya jumlah uang yang bisa didapatkan, Piscitelli menyingkirkan Grinta dan mengambil alih tampuk kepemimpinan Irriducibili.

Di bawah pimpinan Piscitelli, Irriducibili menjelma menjadi mesin uang. Pada masa ini pulalah kelompok ultras tersebut menjadi identik dengan gerakan politik ekstrem kanan. Tak cuma itu, Piscitelli juga menyulap Irriducibili menjadi tak ubahnya organisasi kriminal.

Kemunculan ultras pada dekade 1960-an dan 1970-an sebetulnya diinisiasi oleh pemuda-pemuda berhaluan politik kiri. Akan tetapi, kehebohan dan perilaku bon vivant para anggota kelompok ultras kemudian menarik perhatian orang-orang dari golongan lain. Perlahan, para begundal ekstrem kanan mulai bergabung sampai akhirnya tak sedikit kelompok ultras yang jatuh dalam cengkeraman mereka.

Kelompok ultras Lazio tak masuk pengecualian. Awalnya, anasir-anasir sayap kanan itu cuma menyelipkan pesan-pesan fasis ala Benito Mussolini di tribune secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, seiring dengan bertambahnya jumlah mereka, pesan politis yang disampaikan menjadi banal dan terang-terangan. Irriducibili pimpinan Fiscitelli pun kemudian jadi simbol fasisme di tribune stadion Italia.

Monetisasi Irriducibili berasal dari sana. Pada awal 90-an, mereka mencari dana dengan berjualan stiker, syal, kaus, dan pernak-pernik lain berbau fasisme. Mereka bahkan sampai bisa memiliki 12 cabang toko yang diberi nama Original Fans. Semakin ekstrem sikap politik mereka, semakin laku pula suvenir yang mereka jual.

Para anggota Irriducibili dididik secara militer oleh Piscitelli. Mereka dilarang mengonsumsi narkoba dan harus selalu mengikuti apa kata pemimpin. Secara militan, mereka juga terus-menerus menyuarakan sikap politiknya, mulai dari membentangkan spanduk bertema holokos, menyanyikan lagu kebangsaan Italia pada hening cipta untuk imigran yang tenggelam, sampai mencorat-coret stiker Anne Frank dengan hinaan.

Segala yang dilakukan Irriducibili selalu masuk dalam pemberitaan. Irriducibili sendiri perlahan menjalin afiliasi kuat dengan partai sayap kanan Forza Nuova. Secara otomatis, Piscitelli pun menjadi figur besar dan berhasil mengumpulkan kekayaan sampai jutaan euro. Kecerdasan berbisnis dan kekejaman Piscitelli membuatnya mendapat julukan Diabolik.

Namun, tak seperti Diabolik yang bertaubat, Piscitelli terus melancarkan aksi-aksi kejinya sampai akhir hayat. Dia tak cuma berdagang suvenir sepak bola tetapi juga mengedarkan narkotika yang disuplai dari Italia selatan. Sampai akhirnya, pada 2019, Piscitelli ditembak mati saat sedang duduk-duduk di taman kota. Akhir hidup Piscitelli alias Diabolik benar-benar seperti akhir hidup para mafiosi.

***

Piscitelli memang telah tiada. Irriducibili pun kini telah bubar. Akan tetapi, Irriducibili menjelma menjadi grup baru bernama Ultras Lazio dan mereka masih mendominasi tribune utara. Entah apa yang terjadi dengan bisnis ilegal yang dulu pernah dijalani Piscitelli, yang jelas Ultras Lazio masih identik dengan fasisme dan rasialisme. Teranyar, para anggota Ultras Lazio terlihat menyambut salam fasis Juan Bernabe — pelatih elang Lazio — dengan teriakan dukungan untuk Il Duce alias Mussolini.

Benito Mussolini. Ilustrasi: Arif Utama.

Sebelum itu, pada musim panas, Ultras Lazio juga sudah berulah dengan menyerang pemain baru Lazio, Elseid Hysaj. Pangkalnya, pemain asal Albania itu menyanyikan lagu "Bella Ciao" yang belakangan populer berkat serial Netflix "Casa del Papel" pada prosesi inisiasi tim.

Sepintas, aksi Hysaj itu tak tampak berbahaya. Lagipula, para pemain Lazio lainnya terlihat mengikuti aksi Hysaj. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa lagu "Bella Ciao" bukan lagu sembarangan. Pada Perang Dunia II, lagu rakyat ini dikooptasi oleh kelompok Partisan Italia yang anti-fasis sebagai anthem perlawanan terhadap Mussolini. Kelompok Partisan ini pulalah yang mengeksekusi mati Mussolini dan menggantung mayatnya di jalanan Milano.

Hysaj dianggap memprovokasi Ultras Lazio yang sampai sekarang masih berada di haluan ekstrem kanan. Tak cuma merisak Hysaj di jagat maya, para suporter garis keras itu juga mendatangi si pemain di markas latihan. Beruntung, petugas keamanan klub sigap menghalau.

Dua peristiwa itu seakan-akan menjadi penegas bahwa Lazio dan fasisme adalah dwitunggal. Padahal, kenyataannya sama sekali tidak demikian. Lazio sebagai sebuah klub adalah korban dari inflitrasi politik oleh para fasis dan neo-fasis.

Lazio didirikan pada 1900 oleh sekelompok pemuda yang dipimpin serdadu Kerajaan Italia bernama Luigi Bigarelli. Para pemuda itu, termasuk Bigarelli, adalah penggemar olahraga yang membutuhkan wadah untuk menyalurkan hobinya. Namun, sepak bola pada awalnya bukanlah bagian dari klub. Dulunya, Lazio adalah klub renang, klub atletik, dan klub dayung. Sepak bola baru mulai dimasukkan dalam aktivitas klub pada tahun kedua.

Lazio didirikan untuk menghormati spirit Olimpiade. Warna biru mereka adalah warna nasional Hellenik atau Yunani. Elang yang jadi simbol mereka pun bukan simbol fasisme, melainkan wujud penghormatan terhadap Zeus. Olimpiade Yunani Kuno sendiri digelar sebagai salah satu ritual pemujaan terhadap Zeus.

Namun, seiring dengan bangkitnya fasisme di Italia pasca-Perang Dunia I, simbol-simbol milik Lazio itu turut menarik perhatian para anggota Partai Fasis, termasuk Mussolini. Nama Lazio, yang berasal dari Latium (pusat pemerintahan Romawi Kuno), semakin mendekatkan citra mereka dengan fasisme karena, pada prinsipnya, narasi yang dijual oleh para fasis itu adalah mengembalikan Italia kepada kejayaan Romawi Kuno.

Karena itu, Lazio pun imun terhadap titah Mussolini. Seusai naik takhta menjadi penguasa Italia, salah satu hal pertama yang dilakukannya adalah memerintahkan pendirian klub sepak bola yang "bisa mewakili kebesaran Roma". Ada empat klub di Roma waktu itu dan tiga di antaranya, SS Alba-Audace, Fortitudo-Pro Roma, serta Roman FC, harus rela dilebur menjadi satu klub baru bernama Associazione Sportiva Roma.

Lazio selamat dari merger karena memiliki bekingan seorang jenderal fasis bernama Giorgio Vaccaro. Vaccaro menilai Lazio punya nilai sejarah lebih ketimbang klub-klub Roma lainnya. Mussolini pun manggut-manggut saja mendengar argumen Vaccaro dan membiarkan Lazio hidup. Akhirnya, sejak 1927, Roma memiliki dua klub sepak bola yang berseteru sampai sekarang.

***

Perlu ditekankan di sini bahwa Lazio bukanlah klub fasis. Akan tetapi, fasisme memang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah mereka. Lazio bisa selamat dari perintah merger karena dukungan jenderal fasis. Pada perkembangannya, kelompok pendukung mereka juga diinfiltrasi oleh para neo-fasis. Akan tetapi, sebagai sebuah klub, mereka tidak pernah punya sikap mendukung fasisme.

Lazio juga sebetulnya punya banyak pendukung yang menolak neo-fasisme Irriducibili. Bahkan, mereka memiliki sebuah pergerakan sendiri yang diberi nama The Laziale e Antifascista Group (LAF). Gerakan ini didirikan pada 2011 untuk memerangi stereotip bahwa Lazio adalah klub neo-fasis.

Pihak klub sendiri telah berulang kali berusaha melawan neo-fasisme. Mereka pernah mengedukasi para suporter dengan menuturkan cerita Anne Frank. Mereka juga berulang kali menghukum Piscitelli dengan melarangnya datang ke stadion. Bernabe si pelatih elang pun sudah diskors akibat ulahnya. Akan tetapi, segala upaya Lazio ini tak pernah berhasil.

Ada dua hal yang menyebabkan upaya Lazio jadi tampak sia-sia. Pertama, karena Irriducibili memang terlalu kuat. Saat masih hidup dulu, Piscitelli bahkan berani melancarkan kampanye pembelian Lazio dari tangan Claudio Lotito dengan bekingan mafia Italia selatan. Selain itu, tendensi untuk melakukan kekerasan dari Irriducibili juga membuat pihak-pihak lain ciut sebelum bertindak. Kini, spirit Irriducibili diwarisi oleh Ultras Lazio.

Kedua, inkonsistensi. Lazio memang sudah melakukan apa yang mereka bisa untuk melawan neo-fasisme. Akan tetapi, seringkali tindakan yang dilakukan cuma bisa dikategorikan sebagai aksi kehumasan. Ketika situasi sudah sangat parah dan citra klub betul-betul tercoreng, barulah mereka bertindak.

Pamer ideologi yang dilakukan Irriducibili tidak cuma tampak di stadion, tetapi juga di kamp latihan Lazio di Formello. Ketika menyaksikan tim berlatih, Irriducibili tak segan-segan menunjukkan salam fasis yang bakal membuat mereka dilarang masuk stadion. Namun, tak ada aksi dari pihak klub untuk menghilangkan ini dari tempat latihan.

Inkonsistensi lain terlihat dari keputusan mengontrak cicit Mussolini yang bernama Floriani. Sebagai catatan, keluarga Mussolini sampai sekarang masih aktif di perpolitikan Italia. Cucu Mussolini, Alessandra, pernah menjadi salah satu politisi terkemuka Italia dari partai sayap kanan Forza Italia. Dia bahkan sempat terpilih masuk Parlemen Eropa pada 2014.

Floriani adalah putra dari Alessandra Mussolini. Saat ini Alessandra memang sudah tak aktif lagi di politik tetapi adiknya yang bernama Rachele masih aktif berkiprah di perpolitikan Roma. Memang tidak adil menghakimi Floriani karena tingkah polah keluarganya. Akan tetapi, fakta bahwa dia lahir dari rahim seorang neo-fasis jelas tidak membantu.

Floriani, yang bernama lengkap Romano Floriani Mussolini itu, menjadi bagian dari tim junior Lazio sejak 2016. Pada Minggu (24/10/2021), dia untuk pertama kalinya dipanggil ke tim utama Lazio untuk menghadapi laga kontra Hellas Verona di Stadio Marc'Antonio Bentegodi. Floriani memang tak bermain tetapi langkah Lazio itu tetap saja memantik kontroversi.

Lazio bukanlah klub fasis. Akan tetapi, klub ini seperti terjebak dalam identitas yang diciptakan oleh para fasis dan neo-fasis untuk mereka. Saking sudah melekatnya label fasis itu, Lazio sampai kebingungan sendiri bagaimana caranya melepaskan diri. Padahal, yang mereka mesti lakukan sebenarnya sederhana saja. Yakni, tidak melakukan hal-hal yang bisa menyudutkan mereka.

Namun, perkara neo-fasisme ini memang kompleks. Bukan Lazio saja yang mengalaminya karena sebagian besar kelompok ultras klub-klub Italia memang sudah dikuasai golongan ini. Haluan politik negara yang makin lama makin ke kanan juga memberi angin segar bagi mereka.

Lazio bukannya tidak bersalah dalam melanggengkan kebebalan ala neo-fasisme itu. Akan tetapi, mereka tidak bisa pula disalahkan sepenuhnya, apalagi dihakimi. Masalah Lazio itu adalah masalah Italia dan banyak negara di dunia. Ingat, sepak bola adalah cerminan sebuah bangsa. Celaka bagi Lazio, wajah merekalah yang paling kerap muncul di cermin retak itu.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.