Saat Dybala dan Juventus Tidak Lagi Mesra

Foto: Instagram @paulodybala.

Apakah ini waktunya Paulo Dybala dan Juventus mengakhiri kebersamaan selama hampir enam tahun?

Pernah ada satu masa saat hanya Juventus yang berada di dalam otak Paulo Dybala. Ia bisa mengingat dengan jelas pertandingan pertama melawan mereka. Ia juga menyaksikan parade juara Juventus yang ditayangkan televisi Italia.

Mengkhayal adalah hal yang lumrah bagi manusia. Bagi Dybala, yang saat itu masih memperkuat Palermo, Juventus adalah bagian dari khayalannya. Maka, saat Juventus datang dan menawarkan kesempatan untuknya, ia langsung berkata iya.

Bergabung dengan Juventus adalah berkah dari Tuhan untuk Dybala. Ia rela memangkas masa liburannya agar bisa secepat mungkin berada di Turin. Peristiwa tersebut seakan menunjukkan bahwa Juventus adalah rumah Dybala.

***

Ada banyak peran yang dilakoni oleh Dybala selama enam tahun bersama Juventus. Pada musim perdana, ia bermain sebagai deep-lying forward dalam pola 3-5-2. Satu posisi lain, biasanya diisi secara bergantian oleh Mario Mandzukic, Alvaro Morata, atau Simone Zaza.

Ia bersalin rupa menjadi trequartista di musim 2016/17. Trequartista adalah peran yang mengharuskan pemain menciptakan peluang bagi diri sendiri dan yang lain. Peran tersebut dipilih karena Juventus menggunakan 4-2-3-1 dan mengakomodir kedatangan Gonzalo Higuain.

Peran itu berlanjut saat Juventus mendatangkan Cristiano Ronaldo. Keberadaan Ronaldo--dan Mandzukic--membuat Juventus menggeser Dybala ke sisi kanan lapangan dalam pola 4-3-3 atau 3-4-3. Dengan ditempatkan di area tersebut, catatan dan kontribusi Dybala menjadi lebih sedikit.

Secercah harapan sempat dimiliki oleh Dybala saat Andrea Pirlo mendapatkan tongkat kepemimpinan. Dalam beberapa video latihan, tampak bagaimana Pirlo memiliki preferensi khusus terhadap dua penyerang.

Masalahnya, Dybala tidak punya waktu untuk unjuk gigi. Sejak Juventus menggelar latihan perdana, ia tidak pernah ada karena tengah melakoni perawatan cedera. Alhasil, Dejan Kulusevski-lah yang dipilih untuk menemani Ronaldo.

Dybala baru dapat beraksi pada pertengahan Oktober 2020, tepatnya saat bersua Dinamo Kiev. Pada pertandingan tersebut, ia dimainkan sebagai trequartista di belakang Morata yang bertindak sebagai target man.

Penampilan Dybala di laga tersebut rupanya tidak memuaskan. 34 menit berada di atas lapangan, ia hanya mampu melepaskan enam umpan ke sepertiga akhir pertahanan lawan. Tak ada umpan darinya yang berujung gol dan bahkan peluang.

Meski demikian, Pirlo masih memberinya waktu. Dua pertandingan berikutnya, Hellas Verona dan Barcelona, ia turun sebagai starter. Lagi-lagi hasilnya tidak jauh berbeda. Ia gagal membuat Pirlo terpesona.

Ketidakmampuan Dybala meyakinkan Pirlo membuat jalannya menjadi pilihan utama kian sulit. 10 pertandingan berikutnya hingga akhir tahun, ia hanya empat kali menjadi starter dan hanya mampu menciptakan dua gol.

Kinerja Dybala sempat membaik saat memasuki Januari. Satu gol dan dua assist ia buat hanya dalam kurun waktu 197 menit. Hingga akhirnya, ia mengalami cedera saat Juventus meladeni Sassuolo.

Juventus mengumumkan bahwa Dybala mengalami cedera ligamen pertandingan tersebut. Juventus juga mengatakan bahwa Dybala akan absen selama 15 hingga 20 hari. Siapa sangka, cedera membuatnya harus absen dalam waktu yang lebih lama.

Cedera yang dialami oleh Dybala menjadi berkah untuk Morata. Sejak pertandingan tersebut, Morata nyaris selalu diturunkan sejak menit pertama. Ia lantas mengunci posisi yang dulunya ditempati oleh Dybala.

Keputusan Pirlo memainkan Morata didasari oleh banyak faktor. Yang paling besar tentu saja kemampuan Morata dalam memainkan banyak peran dalam posisi penyerang, mulai dari defensive forward hingga target man.

***

Enam tahun berlalu. Gairah yang dulu ditunjukkan oleh Dybala tidak lagi terlihat.  Kini, momen Dybala untuk meninggalkan Juventus tinggal menunggu waktu.

Meninggalkan Juventus akan membawa Dybala ke dalam dimensi yang baru. Mengingat usia Dybala yang kini memasuki 27 tahun, bisa jadi ini adalah waktu yang tepat baginya untuk mencari pelabuhan baru.

Persoalan kedua, sebesar apapun pengorbanan Dybala, ia akan terus berada di bawah bayang-bayang Ronaldo. Tidak peduli seberapa besar cinta Juventini kepada Dybala, muruah Ronaldo akan selalu membayanginya.

Situasi berbeda dihadapi oleh Juventus. Saat ini saja, rumor kepergian Dybala sudah menimbulkan pro dan kontra. Melepas Dybala--yang tentu akan menguntungkan secara finansial--akan memberangus mimpi yang sudah dicanangkan Juventus.

Prospek yang akan didapatkan oleh Juventus untuk menjual Dybala terbilang menguntungkan. Menurut laporan Independent, dua tahun lalu saja, banyak klub yang rela mengantre meski banderol Dybala di kisaran 70 juta euro.

Minusnya, kepergian Dybala akan mengurangi opsi di lini depan Juventus. Melihat deretan pemain depan Juventus yang kuat di kaki kiri, hanya Dybala yang gaya permainannya benar-benar flamboyan dan mengandalkan aspek teknis.

Masih ada tiga bulan untuk Dybala dan Juventus sebelum bursa transfer musim panas ditutup. Masih ada tiga bulan bagi mereka untuk menimbang-nimbang setiap kemungkinan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.