Saatnya Tsimikas Mentas

Foto: LFC.

Cedera Andrew Robertson membuat Liverpool kehilangan sosok penting di sisi kiri. Kini, Kostas Tsimikas yang akan menambal lubang itu. Mampukah ia melakukannya dengan baik?

Tim scouting Liverpool punya kebiasaan menggolongkan pemain buruan ke dalam empat kelas: A, B, C, dan D.

Penggolongan ini berdasarkan dengan statistik, atribut, kapabilitas, sampai seberapa cocok seorang pemain berada di sistemnya Klopp. Golongan A adalah yang paling lengkap dan jadi prioritas untuk direkrut. Sementara golongan D adalah mereka yang punya kemungkinan amat kecil buat direkrut karena memiliki banyak kekurangan.

Golongan B dan C, yang berada di tengah-tengah, memang tak selengkap golongan A. Mungkin ada satu-dua statistik yang angkanya tak sesuai apa yang dicari atau mereka tak memiliki beberapa atribut yang dibutuhkan Liverpool. Namun, mereka ini lebih baik dan lebih cocok ketimbang golongan D.

Pada musim panas 2020, ketika mencari full-back kiri untuk jadi pelapis Andrew Robertson, tim scouting Liverpool punya nama yang mengisi tiap golongan itu. Yang pertama didekati, tentu saja adalah pemain yang masuk dalam golongan A. Orangnya, saat itu, adalah Jamal Lewis yang bermain untuk Norwich City.

Saat transfer musim panas dibuka, Liverpool menyodorkan 10 juta poundsterling pada Norwich untuk memboyong Lewis ke Anfield. Kesepakatan personal dengan sang pemain sudah terjalin, tapi Norwich menolak. Mereka meminta angka yang lebih tinggi, 20 juta pounds.

Budget Liverpool tak sampai segitu. Mereka kemudian mundur. Lewis, incaran pertama, dilepas. The Reds kemudian mengalihkan buruan kepada full-back kiri Real Madrid, Sergio Reguilon. Sang pemain didekati, tapi ternyata sudah lebih dekat ke Tottenham Hotspur. Lagi pula harga yang ditawarkan Spurs tinggi: 27,5 juta pounds.

Liverpool, lagi-lagi, harus mundur. Kini mereka beralih ke pemain golongan C. Di sinilah nama Konstantinos Tsimikas muncul. Dan tak seperti dua nama sebelumnya, nama Tsimikas mungkin masih kelewat asing buat banyak pengemar Liverpool. Cukup wajar, mengingat ia "hanya" main di Olympiacos.

Namun, tim scouting Liverpool melihat bawa Tsimikas, meski tak sempurna, punya kapabilitas untuk bisa jadi pelapis yang bagus buat Robertson. Toh, pada musim terakhirnya, ia juga mencatatkan tujuh assist di seluruh kompetisi buat tim jagoan Yunani itu. Bukan catatan yang buruk buat seorang full-back.

Negosiasi Liverpool dan Olympiacos kemudian berjalan mudah. Kesepakatan terjalin setelah proses negosiasi yang tak lama. Banderol sesuai dompet Liverpool: 11,75 juta pounds. Olympiacos juga senang dengan angkanya. Tsimikas pun pindah ke Anfield dan hingga kini ia berstatus sebagai pelapis Robertson.

***

Cedera yang dialami Robertson pada laga uji tanding vs Athletic Bilbao, 8 Agustus lalu, cukup parah. Pemain berpaspor Skotlandia itu harus absen setidaknya beberapa pekan ke depan. Bahkan berpeluang bertambah ke hitungan bulan. Ini jelas kerugian besar buat Liverpool.

Robertson adalah pemain utama yang di musim lalu tak tergantikan perannya. Bayangkan saja, ia bermain di seluruh laga Premier League, menghabiskan 3.386 menit (terbanyak di tim). Sepanjang itu, Robertson juga membukukan tujuh assist. Kepergiannya jelas meninggalkan lubang.

Terlebih, perpaduan Robertson dan Sadio Mane di sisi kiri serangan Liverpool juga sudah sangat klop. Tanpa Robertson, serangan Liverpool dari sisi kiri bisa jadi terasa hambar. Mane akan kehilangan sosok yang mampu membukakan ruang serta meningkatkan eksplosivitasnya.

Kini, Tsimikas yang harus menggantikan peran itu, menambal lubang yang ditinggalkan Robertson. Penampilan Tsimikas memang menjanjikan di pramusim, sehingga membuat Juergen Klppp bakal memilihnya alih-alih kembali mengalihfungsikan James Milner ke pos full-back kiri.

Namun, pramusim jelas berbeda di musim sebenarnya. Soal ini, Tsimikas masih minim pengalaman. Pemain asal Yunani itu cuma tampil enam menit di Premier league musim lalu. Di Liga Champions memang lumayan, ia bermain 131 menit. Namun, penampilan yang sebentar itu masih tak meyakinkan.

Tsimikas memang agresif dalam membantu serangan, ia punya umpan silang yang lumayan. Hal itulah yang membuatnya direkrut Liverpool. Smarterscout (situs yang memberikan ponten 1-99 untuk atribut seorang pemain) memberikan nilai 97 untuk Tsimikas dalam soal menggiring bola dan dribel. Catatan itu diambil dari penampilannya selama musim 2019/20 di Olympiacos.

Selain itu, ia juga mendapatkan ponten 79 dalam soal penerimaan bola di kotak penalti lawan. Tsimikas memang acap overlap sangat tinggi, dan bahkan beberapa kali punya peluang mencetak gol. Sepanjang kariernya, sih, ia sudah membukukan 13 gol. Bukan angka yang jelek untuk seorang full-back.

Namun, problem utama pemain bernomor punggung 21 ini adalah soal pertahanan. Ia kerap terlambat balik ke posisinya setelah naik jauh ke atas. Selain itu, awareness-nya dalam bertahan juga masih buruk. Ia acap terlalu fokus pada bola, alih-alih kepada pemain lawan.

Laga vs Atalanta di ajang Liga Champions musim lalu bisa dijadikan contoh. Ada dua hal yang terjadi. Pertama, ada momen di mana Atalanta mendapatkan peluang karena Tsimikas telat turun usai naik. Padahal, di sisi sebelah kanan, Trent Alexander-Arnold telah kembali ke posisinya.

Kedua, ada di momen gol pertama Atalanta. Tsimikas abai bahwa di belakangnya ada Josip Ilicic yang siap menerima umpan silang. Alih-alih mendekatkan posisi ke Ilicic, ia justru fokus melihat bola. Alhasil Ilicic pun mampu menyambut umpan silang dengan sempurna dan Liverpool kebobolan.

Kesalahan-kesalahan seperti itu jelas tak bisa diterima lagi musim ini. Tsimikas kudu membaik dalam soal pertahanan. Terutama karena ia bisa jadi sasaran serangan lawan-lawan Liverpool. Pun karena Virgil van Dijk, yang pandai mengover sisi kiri belakang, masih diragukan untuk langsung tampil 90 menit.

Smarterscout sebenarnya memberikan ponten 88 buat Tsimikas dalam soal tekel serta ponten 83 dalam urusan memenangi bola kembali dan intersep. Jadi, secara duel, kemampuan bertahan Tsimikas sebenarnya tak buruk. Ia hanya perlu meningkatkan awareness bertahannya. Juga lebih rajin turun.

Jika sudah memperbaiki itu, Tsimikas punya peluang untuk mampu dapat kesempatan lebih banyak di Liverpool. Bahkan tak cuma jadi pelapis Robertson saja. Sebab, ia akan menjadi full-back dengan atribut yang disukai Klopp: agresif dan kreatif dalam menyerang, juga disiplin dan kukuh dalam bertahan.

Namun, jika gagal melakukannya dan kembali melakukan kesalahan-kesalahan tak perlu, mungkin tempat di sisi kiri pertahanan Liverpool akan kembali Klopp berikan buat James Milner sampai Robertson benar-benar sembuh. Dan Tsimikas bisa masuk daftar jual.

***

Tampang Tsimikas mungkin terlihat seperti pemuda malas yang lebih senang menghabiskan waktu untuk rebahan di kamarnya. Namun, dari perjalanan karier, ia justru merupakan sosok penuh kerja keras dan punya keinginan belajar yang tinggi.

Sebab, bocah ini adalah bocah yang mampu menembus tim utama Olympiacos pada usia 19 tahun setelah cuma bermain di klub medioker bernama Panserraikos. Juga merupakan sosok yang mampu mencuri perhatian saat dikirim ke Denmark untuk menjalani peminjaman bersama Esbjerg dan Belanda bersama Willem II.

Seharusnya, selama musim kemarin, Kostas juga bekerja keras dan belajar untuk bisa nyetel di sistemnya Klopp. Untuk bisa jadi full-back andalan Liverpool. Sejauh ini, di pramusim, ia sudah menunjukkan itu. So, mari menantikan pementasannya di Premier League.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.