Second Coming Joan Laporta: Bisakah Jadi Juru Selamat Barcelona?

Ilustrasi: Arif Utama.

Joan Laporta pernah mengangkat Barcelona dari keterpurukan. Kini, ia kembali ketika kondisi klub sedang amburadul. Banyak yang berharap, ia bisa membenahi Barcelona sekali lagi.

Apakah Joan Laporta adalah juru selamat buat Barcelona? Well, menengok masa lalunya, dia memang layak mendapatkan sanjungan. Namun, masa depan siapa yang tahu?

Laporta, kata sejumlah wartawan sepak bola yang berbasis di Barcelona, adalah orang yang paham FC Barcelona luar-dalam. Menurut salah satunya, Frederic Porta, ketika Laporta mundur pada 2010, beberapa dari mereka meyakini bahwa Laporta bakal kembali ketika El Barca sedang ambruk.

“Ada frasa di Catalunya, ‘Lebih baik orang gila yang sudah kita kenal ketimbang seorang asing yang bijak’,” kata Porta di The Athletic. Ucapan Porta mengindikasikan bahwa Laporta mungkin bukan orang yang lurus-lurus saja, tapi dia tahu bagaimana caranya membenahi (dan menjalankan) Barcelona sebagai sebuah klub.

Pada 7 Maret 2021, Laporta kembali menjabat sebagai Presiden Barcelona setelah berhasil memenangi voting. Ia mengumpulkan 30.184 suara dari 55.611 pemilih.

Laporta mengungguli dua pesaingnya, yakni Victor Font (16.679) dan Antoni Frexia (4.769). Ini merupakan kali kedua ia menjabat sebagai Presiden Barcelona. Sebelumnya, pria berusia 58 tahun itu menjabat posisi serupa pada tahun 2003-2010.

***

Barcelona, pada awal tahun 2000-an, adalah klub yang tidak karuan. Los Cules terakhir kali memenangi La Liga pada tahun 1998/99 dan selebihnya susah menuju puncak. Jangankan ke puncak, hingga musim 2003/04 saja mereka cuma dua kali mejeng di tiga besar klasemen akhir.

Buruknya prestasi Barcelona dianggap sebagai dampak dari pemimpinnya saat itu, Joan Gaspart. Gaspart terpilih setelah tak lama Barcelona melego Luis Figo ke Real Madrid yang notabene rival mereka.

Dari situ, Gaspart sudah dianggap gagal. Dirinya tak bisa memaksimalkan uang yang melimpah hasil penjualan Figo ke Real Madrid.

Gaspart lantas mundur pada pertengahan Februari 2003, lebih cepat dari yang semestinya. Ia terpukul oleh beragam tekanan. Deretan hasil buruk yang menimpa Barcelona membuatnya memilih untuk turun jabatan satu bulan lebih cepat. Wajar, waktu itu Barcelona cuma berselisih dua poin atas penghuni zona degradasi.

Tampuk kepemimpinan Barcelona kemudian dipegang oleh Enric Reyna Martinez sebagai pejabat sementara sampai akhirnya Laporta memenangi pemilihan pada 15 Juni 2003.

Generasi baru di Barcelona muncul. Laporta menunjuk orang-orang yang lebih muda dan sangat terbuka dengan hal-hal baru. Laporta mencanangkan kebijakan dari sisi ekonomi dan sosial yang apik sebagai landasan Barcelona di masa kepemimpinannya.

Apa yang dibawa Laporta ke Barcelona adalah keseimbangan dan keteraturan. Ia membenahi mismanajemen dalam tubuh klub, bukan sekadar mengumbar janji untuk mendatangkan pemain bintang.

Memang, Laporta pada akhirnya membawa masuk Ronaldinho setelah berjanji mendatangkan bintang asal Brasil tersebut bersama dengan David Beckham—Beckham akhirnya berlabuh di Real Madrid—, tetapi itu dilakukannya bukan tanpa pertimbangan masak.

Mereka, para bintang yang pada akhirnya masuk ke dalam tim, adalah yang betul-betul bisa memberikan nilai tambah untuk klub, baik untuk pemasukan maupun permainan tim. Maka, datanglah pemain-pemain seperti Deco, Samuel Eto’o, dan Rafael Marquez.

Uang yang digelontorkan untuk mendatangkan nama-nama besar itu memang tidak sedikit, tapi hasilnya sepadan. Terlebih, Barcelona pada era Laporta juga melejitkan sejumlah nama didikan La Masia seperti Oleguer Presas, Andres Iniesta, hingga Lionel Messi.

Dengan kombinasi pemain bintang dan akademi, Barcelona jadi raja di Spanyol lagi. Musim 2004/05, Barca yang dilatih Frank Rijkaard menjadi kampiun La Liga usai lima musim berpuasa.

Pada musim selanjutnya, Barcelona kembali memanen trofi. Tak cuma meraih gelar juara La Liga, Blaugrana juga sukses menjuarai Liga Champions usai mengalahkan Arsenal pada partai puncak.

Namun, angin biasanya berembus makin kencang manakala kamu berada di puncak. Usai Barcelona menjadi juara Liga Champions, Laporta dipaksa turun oleh pengadilan. Ia dianggap sudah melewati masa jabatannya sebagai Presiden Barcelona yang jatuh pada 30 Juni 2006.

Laporta tak patah arang. Sebulan usai turun, ia maju lagi dalam pencalonan Presiden Barcelona. Kali ini langkahnya lebih mudah; Laporta menjadi calon tunggal karena kandidat lainnya tak bisa memenuhi syarat dukungan minimal dari para anggota klub (socios).

Laporta kembali melakukan manuver pada periode keduanya. Kali ini, dirinya mempercayakan Pep Guardiola untuk mengarsiteki Barcelona. Keputusan itu cukup mengejutkan mengingat Guardiola cuma berstatus sebagai pelatih Barcelona B sebelumnya. Guardiola juga belum memiliki pengalaman melatih di level senior.

Namun, kepercayaan Laporta kepada Guardiola berbuah manis. Barcelona meraih predikat treble winner pertamanya pada musim 2008/09.

Kalau ditotal, era Laporta berhasil menyumbangkan 12 gelar juara, termasuk 4 trofi La Liga dan dua Liga Champions, untuk Barcelona. Tak heran, Laporta dicap sebagai Presiden Barcelona yang paling sukses.

Lagipula, prestasi Laporta di Barcelona bukan cuma raihan gelar. Pada eranya, Barcelona juga bekerja sama dengan UNICEF. Logo UNICEF terpampang di kaos Barcelona dan itu menjadi kali pertama sponsor terpampang di jersi sepanjang sejarah Barcelona.

Dengan perjanjian itu, Barcelona ikut menyumbang sekitar 1,5 juta euro per tahun sebagai bentuk donasi. Sederet prestasi dan kebijakan ini membuat Laporta tidak hanya memiliki hubungan yang baik dengan para pemain, tetapi juga suporter.

Jabatan Laporta berakhir pada 2010. Dirinya tak berniat untuk lanjut menjabat dan lebih memilih menekuni bidang lain di luar sepak bola, termasuk politik.

***

Melihat pencapaiannya di Barcelona, sulit untuk tidak menyelipkan romantisme masa lalu ketika membicarakan Laporta. Terlebih, ia lagi-lagi datang ketika raksasa Catalunya itu sedang kacau-balau.

Barcelona tak ubahnya seonggok barang di pojok gudang yang sedang digerogoti tikus. Selain problem finansial—keuangan yang cekak dan utang yang bertambah—, mereka juga dihadapkan pada persoalan kualitas skuad yang tak cukup seimbang, hubungan yang buruk antara para pemain dan petinggi klub, dan (lagi-lagi) mismanajemen.

Sid Lowe, dalam tulisannya di The Guardian, menggambarkan dengan telak kekacauan dalam tubuh Barcelona lewat sudut pandang yang krusial: Bagaimana Los Cules pelan-pelan menyingkirkan Luis Suarez.

Para petinggi klub boleh beranggapan bahwa gaji Suarez kemahalan dan membebani keuangan klub, plus ia sudah tua—usianya sudah 34 tahun—, tetapi cara mereka mencueki Suarez hingga penyerang asal Uruguay itu gerah sendiri adalah bukti bagaimana Barcelona diurus oleh orang-orang yang salah.

Suarez pada akhirnya menunjukkan bahwa ia belum habis-habis amat. Keberhasilan Atletico Madrid memuncaki klasemen La Liga hingga setelah 25 laga sedikit-banyak adalah berkat andilnya. Lowe, dalam tulisan yang sama, menyebut bahwa Suarez tidak hanya memberikan impak positif pada permainan, tetapi juga perkara mengangkat mental bertanding tim.

Untuk urusan finansial, Barcelona ditengarai memiliki utang sebesar 1,17 miliar euro atau sekitar Rp20 triliun. Laporta, dalam kampanyenya, menyatakan bakal memanfaatkan pasar obligasi untuk bisa mendapatkan ekstra uang.

Lantas, bagaimana dengan Lionel Messi? Well, urusan bintang asal Argentina ini termasuk salah satu yang paling kompleks. Messi punya hubungan baik dengan Laporta, tetapi gajinya yang selangit jelas ikut membebani keuangan klub. Oleh karena itu, Laporta mesti bisa mengimbangi hubungan baiknya dengan Messi dengan kepiawaian menjaga neraca klub.

"Melihat Lionel Messi datang untuk memilih bersama keluarganya membuktikan kalau ia cinta Barcelona. Kami adalah keluarga dan mudah-mudahan ini akan mendorongnya untuk bertahan di Barcelona," kata Laporta.

Katanya, Laporta bukan sekadar orang yang terbiasa mengucapkan janji manis, tetapi juga menepatinya. Ini yang bikin hubungannya dengan para pemain Barcelona langgeng. Kalau melihat catatan kariernya cukup cemerlang, bolehlah para pendukung Barcelona kembali berharap kepadanya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.