Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Sejauh Mana Klub Promosi Bisa Bertahan di Premier League?

Foto: @norwichcityfc

Dari tiga klub promosi ini, siapa yang bakal bertahan di Premier League?

Belantara Premier League terasa menakutkan bagi tim promosi. Mereka tidak jarang jadi bulan-bulanan dan pada akhirnya hanya numpang lewat.

Tengok saja musim lalu. Dari tiga klub yang promosi, dua di antaranya, Fulham dan West Bromwich Albion, harus terdegradasi di akhir musim. Kisah mereka diselamatkan oleh Leeds United yang mampu mengakhiri musim di posisi kesembilan.

Persoalan utama dari klub promosi adalah pemain. Ada jurang amat besar yang memisahkan kualitas pemain mereka dengan tim Premier League lain. Fulham di musim lalu jadi contohnya. Mereka mendatangkan 11 pemain di bursa transfer musim panas.

Mayoritas dari 11 pemain yang didatangkan oleh Fulham saat itu memang langsung menjadi tumpuan tim. Namun demikian, jika dibandingkan pemain dari klub-klub lain, pemain-pemain ini jelas punya level yang lebih rendah.

Leeds barangkali bisa jadi pengecualian. Meski mayoritas pemain baru yang didatangkan bukan nama-nama populer, mereka berhasil memberikan impak signifikan. Keberhasilan Leeds juga tak bisa dilepaskan dari nama Marcelo Bielsa di posisi pelatih.

Melihat fenomena tersebut, bagaimana dengan musim ini? Apakah mereka mampu mengikuti jejak Leeds atau justru terjerembab seperti Fulham dan West Brom pada akhir musim lalu?

Warna merah menandakan peringkat di klasemen akhir. Visualisasi: Rafi Aqila

Norwich City

Setelah terdegradasi dari Premier League 2019/20, Norwich City membuat kebijakan berani: Mempertahankan Daniel Farke di pos pelatih. Pemilik Norwich, Delia Smith, berkata, “Farke punya kapasitas untuk membawa tim ini lebih baik ke depannya.”

Keputusan tersebut barangkali jadi keputusan terbaik Smith. Pasalnya, di bawah Farke, Norwich amat dominan di Divisi Championship musim lalu. Mereka bahkan sempat mencatat 9 kemenangan secara beruntun.

Gaya bermain Norwich musim lalu nyaris mirip dengan yang mereka tampilkan di musim terakhir di Premier League. Menggunakan pola 4-2-3-1 dan mengandalkan gegenpressing seketika kehilangan bola.

Sedikit yang jadi pembeda adalah cara mereka menekan lawan. Mereka tidak lagi sekadar mengarahkan bola ke Todd Cantwell dan Emiliano Buendia, tapi juga ke pemain-pemain lain yang naik ke pertahanan lawan.

Kelebihan

Masuknya Milot Rashica dan Josh Sargent ke deretan pemain di lini serang bakal menambah opsi serangan Norwich. Rashica, yang biasa bermain di sisi sayap, bakal menutup kepergian Buendia.

Musim lalu, Rashica menorehkan 2,33 progressive carries (pergerakan ke kotak penalti) per 90 menit. Angka tersebut menjadikannya sebagai salah satu pemain dengan progressive carries terbanyak di Bundesliga.

Norwich juga bakal terbantu dengan adanya Sargent. Sargent, yang piawai melakukan pressing kepada bek lawan, sesuai dengan gaya bermain Norwich yang menjadikan penyerang tengah sebagai pemain pertama yang menekan lawan.

Kekurangan

Kepergian Emiliano Buendia jadi sisi minus Norwich. Pasalnya, ia berperan penting terhadap lahirnya 31 dari 75 gol yang dibukukan Norwich di Championship musim lalu. Secara garis besar, Buendia bahkan jadi menjadi pengatur serangan utama mereka.

Masalah lain Norwich adalah ketiadaan nama berpengalaman di pos bek tengah. Grant Hanley, yang musim lalu jadi bek utama Norwich, hanya bermain 15 kali di Premier League 2019/20. Demikian pula dengan Ben Gibson, yang terakhir hanya bermain sekali untuk Burnley di Premier League 2018/19.

***

Watford


Sejak tongkat kepelatihan jatuh ke tangan Xisco pada Desember 2020, Watford berubah jadi tim yang mengesankan. Di bawah Xisco, Watford hanya menelan 5 kekalahan dan mencetak 40 gol dari 25 pertandingan.

Xisco mengubah pola lawas Watford, 4-4-2, ke 4-3-3. Perubahan pola tersebut mengubah beberapa pemain, salah satunya Ismaila Sarr, jadi lebih berbahaya. Sarr bahkan tak hanya jadi kunci Watford membangun serangan, tapi juga mencetak gol.

Sarr bukan satu-satunya pemain yang jadi tumpuan mencetak gol. Selain ia, ada penyerang Joao Pedro. Gaya Pedro yang lebih mengandalkan kecepatan dan dribbling membuat Watford amat cair di depan.

Adanya Pedro dan Sarr seakan menutupi ketergantungan mereka terhadap Troy Deeney. Deeney, yang mencetak 47 gol untuk Watford di Premier League, bahkan tidak lagi algojo lini depan. Pertama, karena cedera. Kedua, karena semakin tajamnya Sarr dan Pedro.

Kelebihan

Watford membuka bursa transfer musim panas 2021 dengan penuh kejutan. Setelah mendapatkan Danny Rose secara gratis, mereka juga berhasil mengamankan tanda tangan Joshua King yang dilepas oleh Everton.

Masuknya dua pemain tersebut, terutama King, bakal menambah opsi lini depan Watford. Musim lalu, masalah utama Watford adalah mencetak gol via kepala. Dari 63 gol yang mereka buat, hanya 6 yang tercipta lewat kepala.

Kekurangan

Persoalan terbesar Watford musim lalu adalah pada diri mereka sendiri. Keberadaan pemain-pemain yang gemar melakukan dribbling hingga minimnya positional awareness membuat mereka kerap kehilangan bola.

Per musim lalu, mereka kehilangan bola 24,7 per pertandingan. Angka tersebut memang tidak terhitung tinggi di Championship. Namun bila melihat catatan Premier League musim lalu, catatan tersebut mirip dengan yang dibukukan oleh tim yang terdegradasi, West Bromwich Albion (24,3).

***

Brentford


Brentford jadi salah satu klub paling menarik di Championship musim lalu. Mulai dari tidak adanya peran tetap yang harus dijalani oleh setiap pemain di masing-masing posisi hingga nyaris meratanya menit bermain pemain di tim utama.

Dari 29 pemain yang diturunkan oleh Thomas Frank di Championship musim lalu, hanya ada tiga nama yang rutin diturunkan: Ivan Toney di posisi penyerang, kiper David Raya, dan bek tengah Ethan Pinnock.

Serangan Brentford fokus pada dua daerah half space di pertahanan lawan dan nyaris selalu menaruh banyak pemain di area tersebut. Dari area tersebut, biasanya serangan mereka diakhiri dengan umpan silang atau terobosan.

Gaya tersebut bukan satu-satunya cara Brentford menembus lawan. Pressing agresif juga kerap mereka lakukan demi mendapatkan keuntungan dari kesalahan lawan. Pun demikian dengan set-piece yang membuahkan 12 gol musim lalu.

Kelebihan

Brentford disebut beruntung saat berhasil mendapatkan Kristoffer Ajer dari Celtic dan Frank Onyeka dari Midtjylland pada bursa transfer musim panas. Namun demikian, kelebihan utama mereka ada di skuat saat ini.

Ivan Toney adalah kunci utama Brentford. Penyerang 25 tahun tidak hanya piawai dalam mencari ruang, tapi juga melakukan gerakan-gerakan berbahaya di dalam kotak penalti. 33 gol di Championship musim lalu jadi buktinya.

Selain Toney, Brentford juga memiliki Bryan Mbuemo di pos winger kanan. Kelincahan Mbuemo dalam mengobrak-abrik serangan lawan menjadi salah satu senjata Brentford musim lalu.

Kekurangan

Keputusan Brentford bermain dalam garis pertahanan tinggi jadi masalah utama mereka musim lalu. 13 gol dari 42 gol yang bersarang ke gawang mereka bahkan terjadi lewat skema serangan balik cepat.

Sama seperti Watford, Brentford juga amat mudah kehilangan bola. Bek kiri utama mereka, Rico Henry, musim lalu bahkan kehilangan 2,1 bola per pertandingan dan menjadikannya sebagai bek yang paling sering kehilangan bola di Championship.



Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now