Semua Tergantung Smith Rowe

Foto: @Arsenal.

Nomor 10 Arsenal tak selalu digunakan oleh pemain hebat. Bergkamp boleh dianggap Tuhan, tetapi Wilshere malah sering berada di ruang perawatan. Kini, nomor 10 The Gunners ada dalam tanggung jawab Emile Smith Rowe

Bagi Arsenal, Dennis Bergkamp adalah legenda. Bahkan, mungkin lebih dari itu. Pernahkah kamu mendengar Bergkamp dijuluki sebagai 'God Dennis'?

Bergkamp memang terlampau sulit untuk dinafikan. Dahulu, Bergkamp adalah Arsenal dan begitu juga sebaliknya. Ia loyal dan menambatkan cintanya kepada The Gunners. Cinta itu kemudian mewujud pada kedigdayaan Bergkamp sebagai pencetak gol dan kreator peluang pada era Arsene Wenger.

Bergkamp menghabiskan 11 musim kariernya bersama Arsenal. Total, ia bermain sebanyak 423 kali dan mengemas 112 gol untuk Arsenal. Dalam kurun 11 musim tersebut, ada 10 gelar juara yang diberikannya untuk 'Meriam London'. Tak cuma itu, ia juga pernah dianugerahi gelar PFA Player of The Year edisi 1997/98. Komplet.

Apa yang membuat Bergkamp sulit betul untuk dilupakan adalah bagaimana ia bermain dengan begitu elegan. Sentuhannya halus, tidak perlu banyak repot-repot membuat gerakan.

Selain itu, pria kelahiran Amsterdam, Belanda, tersebut juga diberkahi teknik kelas satu. Teramat sering kita melihat Bergkamp mengecoh bek lawan dengan satu atau dua gerakan seperti berdansa. Seolah-olah, ia membuat bola hidup dengan kakinya.

Ingatan akan sosok kreatif di Arsenal tak cuma melekat pada sosok Bergkamp. The Gunners juga pernah memiliki salah satu gelandang serang terbaik dunia yakni Mesut Oezil.

Oezil bukanlah Bergkamp. Dia datang dan dibesarkan dengan cara bermain sepak bola yang berbeda. Jika kita melihat Bergkamp begitu indah memainkan bola, Oezil adalah tipikal pemain kreatif yang amat mementingkan efisiensi dan presisi.

Jarang Oezil bergerak seperti angsa dengan sentuhan halus. Kamu bakal menemukan Oezil sebagai gelandang yang justru tak banyak bergerak, tapi kakinya berbicara dengan bahasa yang teramat lugas. Satu atau dua operan, tahu-tahu dia sudah mengkreasikan peluang atau assist.

Dengan 77 buah assist, Oezil mengekor di belakang Thierry Henry dan Cesc Fabregas sebagai pendulang assist terbanyak. Kendati punya arketipe berbeda dengan Bergkamp, Oezil pun tampak seperti pewaris nomor 10 yang layak.

Di Arsenal, nomor yang sering betul hidup berbarengan dengan pemain-pemain kreatif itu kini punya pemilik baru. Namanya, Emile Smith Rowe. Ketika Smith Rowe menandatangani kontrak baru (yang membuatnya terkiat hingga 2026), nomor 10 itu seperti menjadi kado kesepakatan.

"Smith Rowe yang meminta jersi bernomor punggung 10. Itu memperlihatkan ambisi dan keinginannya. Dia bertanya kepada saya dan meminta klub bahwa ia ingin nomor punggung tersebut," ucap Pelatih Arsenal, Mikel Arteta.

"Kami berbincang sedikit, kami membahasnya dan dia tahu konsekuensinya (menggunakan nomor 10), tetapi dia merasa siap untuk melakukannya dan jika dia siap untuk melakukannya, maka saya akan berada tepat di belakangnya," kata pelatih asal Spanyol itu.

***

Ada perjalanan panjang dilalui Smith Rowe sebelum akhirnya mengenakan nomor lungsuran Bergkamp dan Oezil tersebut. Ia meniti jejak sedikit demi sedikit di tim junior Arsenal, yang perjalanannya tak bisa dibilang pendek.

Smith Rowe bergabung dengan Arsenal ketika usianya baru 10 tahun. Namun, pada usia semuda itu pun ia sudah belajar bahwa yang namanya hidup tidak melulu soal anggukan persetujuan. Ada juga penolakan-penolakan yang barangkali tak ia inginkan.

Lahir dan besar di Thornton Heath, di selatan Kota London, Smith Rowe sempat ditolak oleh akademi Chelsea ketika menjalani trial. Namun, sebuah akhir yang buruk bisa saja merupakan awal baik bagi cerita lainnya.

Ketika ia akhirnya bergabung dengan Arsenal, di situlah cerita baik itu mulai memintal benangnya. Smith Rowe harus menempuh waktu selama satu setengah jam kalau ingin berlatih. Karena tak mau anaknya lelah di perjalanan, orang tua Smith Rowe pun memutuskan untuk hijrah ke utara.

"Semua yang melihat Smith Rowe saat itu memprediksi kalau dia memiliki talenta yang luar biasa. Dia memiliki etos kerja dan sikap yang sangat fantastis," ucap salah satu pelatih akademi Arsenal saat itu, Kwame Ampadu.

Kerja keras itu juga yang membuat Smith Rowe bisa bertahan begitu lama dan menaiki tangga yang lumayan tinggi. Tujuh tahun setelah bergabung, Smith Rowe sudah menembus skuad utama Arsenal. Tidak langsung jadi pemain unggulan di tim utama, memang, tetapi terlebih dulu diberi jalan seperti kebanyakan pemain muda lainnya: Dimainkan pada laga-laga pramusim lebih dulu. Waktu itu, ia ikut dibawa pada tur ke Singapura.

Pada usia 17 tahun, Smith Rowe menjalani debut bersama tim utama 'Meriam London'. Tepatnya pada pertandingan Liga Europa melawan Vorskla Poltava, Smith Rowe tampil di babak kedua menggantikan Alex Iwobi.

Dari awal yang begitu sederhana itu, Smith Rowe kemudian belajar lagi bahwa perjalanan akan selalu dilalui dengan pasang-surut. Yang namanya jalan berkerikil tak selamanya buruk. Maka, ketika peminjamannya ke RB Leipzig pada 2019 tak berjalan mulus, yang perlu ia lakukan hanyalah bersabar menunggu kesempatan berikutnya.

Smith Rowe hanya tampil 3 kali bersama RB Leipzig karena terganggu cedera hamstring. Alhasil, ia pun kembali ke London dan mendapatkan kesempatan peminjaman berikutnya pada 2020, kali ini bersama Huddersfield Town. Di sini, Smith Rowe menemukan jalan terang.

"Ia bagus dalam transisi dari bertahan ke menyerang dengan cepat. Ia bisa menerima umpan dan kemudian berlari dengan cepat ke depan. Dia sudah berada di level atas," puji Pelatih Huddersfield, Danny Crowley.

Di Huddersfield, Smith Rowe tidak hanya belajar dan mengasah diri, tapi juga memahami pentingnya sense of urgency. Dua gol dan tiga assist, ia buat. Namun, yang lebih penting lagi, ia kembali ke Arsenal dan menjadi penawar ketika timnya itu sedang lesu seperti kekurangan gairah dan darah.

***

Ketika Arsenal tampil mengecewakan pada paruh pertama musim 2020/21, dan sempat mengalami enam laga beruntun tanpa meraih kemenangan, ada indikasi bahwa mereka kekurangan gelandang kreatif di tengah. Alhasil, serangan The Gunners lebih condong ke sisi lapangan, membuat lawan gampang mematahkannya.

Sebenarnya, kalau mau bicara gelandang kreatif, Arsenal masih memiliki Mesut Oezil. Namun, eks pemain Real Madrid itu tak didaftarkan pada ajang Premier League. Alhasil, Arteta mau tak mau mesti menggulirkan dadu. 

Pada laga melawan Chelsea, sang pelatih mengambil langkah berani. Pierre-Emerick Aubameyang, Nicolas Pepe, dan Willian ia cadangkan. Sebaliknya, Arteta memainkan para pemuda seperti Gabriel Martinelli, Smith Rowe, dan Bukayo Saka. Ketiganya mendapatkan peran sebagai kreator karena pergerakan yang dinamis.

Keputusan Arteta jitu. Arsenal menang 3-0 dan Smith Rowe membuat satu assist pada laga tersebut. Sejak saat itu, Smith Rowe selalu mendapatkan kepercayaan untuk tampil. The Gunners pun sempat tak terkalahkan pada tujuh laga beruntun di Premier League.

Smith Rowe memang memberikan dimensi lain dalam permainan Arsenal. Kecermatannya dalam memberikan umpan serta menemukan ruang menjadi keuntungan tersendiri. Ia rajin bergerak; bisa berada di tengah, kanan, atau kiri, membuat rekan-rekannya tak kekurangan opsi umpan.

Musim lalu, Smith Rowe menjadi pemain dengan rata-rata umpan kunci tertinggi di Arsenal (1,4 per laga). Pencapaian itu sama dengan Marten Odegaard yang baru datang pada pertengahan musim sebagai pemain pinjaman.

Menariknya, kehadiran Odegaard tak membuat Smith Rowe terpinggirkan. Arteta masih bisa menemukan solusi bagaimana memainkan Smith Rowe dan Odegaard secara bersamaan.

Dengan pergerakannya yang cair, Smith Rowe bermain di pos winger kiri. Ia mendapatkan kebebasan untuk bergerak di half-spaces atau masuk ke tengah untuk berkombinasi dengan Odegaard.

Kehadiran Smith Rowe di pos winger kiri juga bermanfaat untuk Kieran Tierney. Sebab, Tierney yang bermain di full-back kiri memiliki ruang terbuka yang dibuat oleh Smith Rowe. Bukan kebetulan jika sisi kiri menjadi titik tumpu serangan Arsenal pada musim lalu. Lihat saja, sebanyak 40 persen serangan Arsenal berasal dari posisi tersebut.

Persoalannya, kalau Smith Rowe bermain di pos winger kiri, siapa yang akan mengisi area sentral? Well, Smith Rowe memang masih bisa bergerak ke tengah, tetapi ia tetap butuh partner seperti Odegaard, seorang kreator yang beroperasi di area sentral.

Maka, meski sudah memiliki Smith Rowe, Arsenal tetap mengincar gelandang kreatif di bursa transfer musim panas tahun ini. James Maddison, Housem Aouar, hingga Odegaard digadang-gadang menjadi buruan.

Kehadiran salah satu gelandang kreatif akan menambah variasi serangan Arsenal. Mereka bisa bahu membahu dengan Smith Rowe yang bergerak bebas dari sisi kiri.

***

Nomor 10 di Arsenal tak selamanya tentang pemain-pemain hebat. William Gallas pernah menggunakan nomor tersebut dan menjadi kapten, namun ia tak begitu disegani oleh para fans Arsenal.

Arsenal juga pernah memberikan nomor punggung 10 kepada pemain lulusan akademi yakni Jack Wilshere. Ya, Wilshere memang digadang-gadang akan menjadi gelandang hebat Arsenal dan Timnas Inggris. Namun, harapan tinggal harapan.

Wilshere lebih banyak di ruang perawatan ketimbang di atas lapangan. Kurang lebih sepuluh tahun berseragam Arsenal, Wilshere cuma main sebanyak 198 pertandingan. Karier Wilshere pun turun perlahan-lahan.

Kali ini Arsenal kembali memberikan nomor 10 kepada pemain lulusan akademinya. Baik atau buruk nomor keramat itu ada di pundak Smith Rowe.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.