Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Semua yang Perlu Kamu Tahu soal Format Baru Liga Champions

Ilustrasi: Arif Utama

Jika semuanya lancar, Liga Champions akan memakai format baru mulai 2024. Mudah-mudahan dunia belum kiamat.

Lolosnya Real Madrid dan Manchester City pada Kamis (15/4/2021) menandai berakhirnya babak perempat final Liga Champions 2020/21. Empat slot semifinal sudah terisi penuh. Selain dua klub itu, ada Paris Saint-Germain dan Chelsea yang sudah memastikan diri lebih dulu.

Liga Champions musim ini berjalan dengan format yang sudah digunakan sejak cukup lama. Sebanyak 32 klub akan melakoni babak penyisihan yang terbagi menjadi delapan grup. Dua tim teratas pada masing-masing grup akan lolos ke fase knock out yang dimulai dari babak 16 besar, lalu berlanjut ke perempat final, semifinal, final.

Istilah sederhananya: Kejuaraan dengan format setengah kompetisi.

Namun, sistem seperti itu besar kemungkinan hanya akan digunakan hingga 2023. UEFA bersama Asosiasi Klub Eropa (ECA) berencana melakukan pergantian format kompetisi yang diterapkan pada 2024. Ya, jika semuanya lancar, Liga Champions akan memakai format baru mulai 2024.

Hah, format baru?

Yep.

Sebaru apa memangnya?

Baru banget. Kalau lihat jauh ke belakang, UEFA belum pernah coba nerapin format ini.

Hmm I see. Jelasin lebih rinci, dong!

Sebenarnya rencana ini sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Sempat mengendap begitu aja sampai enggak tahu berapa lama, isunya mulai naik lagi akhir 2019. Waktu itu Asosiasi Klub Eropa alias ECA lagi rapat di markasnya UEFA, Jenewa, Swiss.

Nah, ketua ECA ini namanya Andrea Agnelli, Presiden Juventus. Konon, dia termasuk salah satu yang mengusulkan sekaligus yang paling getol memperjuangkan format baru tadi.

Yang paling mencolok dari format baru adalah perubahan jumlah peserta. Kalau Liga Champions versi ‘normal’-nya diikuti 32 klub, pada format baru ini bakal ada tambahan empat klub lagi. Itu artinya ada 36 klub yang akan ikut serta.

Enggak berhenti di situ. Format baru ini juga…

Bentar-bentar, seriusan jumlahnya 36? Saya kaget beneran.

I know right, tapi emang sebanyak itu.

Hmm.. oke, lanjutin yang tadi. Sorry motong, hehe.

Oke. Karena 36 klub, berarti ada empat klub tambahan. Sejauh ini rencananya salah satu dari keempat klub itu berasal dari Ligue 1 Prancis. Berarti Ligue 1 bakal kebagian jatah empat klub karena sebelumnya mereka cuma ngirim tiga wakil.

Masalahnya, belum ada kepastian soal tiga klub sisa. Beberapa klub top mengusulkan untuk diberikan kepada tim juara dari liga lain saja. Ada juga usulan berupa pertimbangan koefisien UEFA. Jadi, misalnya, Arsenal bisa saja lolos meski terpuruk di Premier League karena koefisien mereka bagus.

Meski demikian, yang sampai saat ini bisa dipastikan masih jumlah klub yang ikut berkompetisi saja.

Perubahan jumlah peserta juga bakal mengubah sistem kompetisi. Perubahannya bisa dibilang radikal. Kita enggak bakal lagi nemuin yang namanya babak grup atau penyisihan. Sistem itu akan dihapus sepenuhnya.

Sebagai gantinya, Liga Champions bakal menggunakan sistem liga yang berisi 36 klub tadi. Setiap klub tersebut akan melakoni 10 pertandingan: Lima laga kandang, lima laga tandang.

Mirip sama sistem liga biasa ya berarti?

Enggak juga. Kalau liga kayak, katakanlah Premier League atau Bundesliga, semua tim betul-betul bakal bertemu. Liga Champions format baru ini enggak begitu. Pertama, setiap tim cuma bakal bertemu 10 lawan.

Kira-kira mirip sama ‘Swiss System’ di turnamen catur. Jumlah putaran kompetisinya tetap, tetapi jauh lebih sedikit daripada turnamen round-robin karena tiap tim enggak bakal ketemu semua tim peserta.

Kedua, delapan tim dengan perolehan poin tertinggi otomatis lolos ke babak 16 besar. Delapan slot tersisa bakal jadi rebutan tim urutan sembilan hingga 24 lewat babak play-off. Nah, babak 16 besar sendiri bakal berjalan sebagaimana sistem gugur pada umumnya.

Catur? Jangan-jangan UEFA ikut-ikutan demam ‘Dewa Kipas’ juga ini? Atau malah The Queen’s Gambit?

Hahahaha.. enggak begitu, kisanak. Kan UEFA sama ECA sudah mulai ngobrolin ini sejak lumayan lama. Bahkan 2019 gambaran kasar konsepnya sudah ada. Sementara Dewa Kipas baru ramai tahun ini, terus The Queen’s Gambit tayang tahun lalu.

Iya juga, sih. Btw, kenapa UEFA mutusin buat ganti format?

Dalam banyak wawancara, beberapa perwakilan UEFA bilang format baru ini adalah upaya memperbaiki sistem kompetisi lama yang sudah usang. Ada juga yang bilang sebagai respons UEFA dan ECA untuk menolak kompetisi terpisah. Sebelumnya sempat beredar kabar bakal ada kompetisi baru bernama Liga Super Eropa.

Tapi, banyak yang lebih percaya bahwa perubahan format baru adalah cara UEFA cari duit tambahan.

Kenapa bisa begitu?

Kita lihat saja dari jumlah peserta. Karena jumlahnya bertambah, otomatis jumlah pertandingan bakal semakin banyak, apalagi formatnya memakai format Swiss tadi. Bayangin, kalau sebelumnya cuma ada 125 pertandingan, dengan format baru bakal ada 225 pertandingan. Sinting enggak, tuh?

Kemungkinan klub-klub elite Eropa buat ketemu satu sama lain juga semakin besar dengan sistem ini. Dengan begini, uang hak siar bakal meningkat berkali-kali lipat. Pendapatan UEFA juga otomatis ikut bertambah, beriringan dengan klub-klub peserta.

Masuk akal kalau kemudian Agnelli sampai bilang format baru Liga Champions ini sebagai sistem yang hebat. “Saya pikir ini adalah sistem yang hebat. Jumlah pertandingan yang dimainkan akan berbeda dari sebelumnya,” gitu katanya.

Dampak positifnya udah. Kira-kira ada dampak negatif enggak?

Jelas ada dan ini yang dikeluhkan oleh banyak pihak meski sebelumnya Agnelli mengeklaim bahwa klub-klub anggota ECA sudah bersepakat.

Contohnya soal jadwal. Dengan sistem yang sekarang saja klub-klub merasa kelabakan. Mereka mesti main tiap akhir pekan di liga dan kompetisi Eropa. Belum lagi kalau ada jeda internasional seperti kualifikasi Piala Dunia, Piala Eropa, atau sekadar uji tanding.

Jadwal yang kayak begitu bisa menguras tenaga pemain. Ujung-ujungnya bakal banyak yang cedera. Lihat tuh Bayern Muenchen pas lawan PSG kemarin: Empat pemain inti enggak main. Tim sehebat apa pun bakal riweuh, apalagi kalau yang absen selevel Robert Lewandowski.

Terus mau ditambah pakai kompetisi dengan pertandingan yang lebih banyak? Enggak kebayang bakal gimana. Perlu kita ingat juga bahwa beberapa negara punya tiga kompetisi lokal. Inggris, misalnya. Bisa mencak-mencak tiap hari Jurgen Klopp sama Pep Guardiola.

Sejauh ini, Premier League memang salah satu yang mengkritik penerapan format baru. Mereka merasa format ini bisa merusak konsentrasi klub. Bagi mereka, pertandingan domestik harus terus dijadikan prioritas klub-klub Inggris.

Ada juga yang mendasarkan alasan keuangan. Javier Tebas selaku Presiden La Liga, misalnya, bilang bahwa usulan ECA bisa memiskinkan liga Spanyol. Berikutnya ada Presiden Young Boys yang bilang “Penggemar akan kehilangan minat pada liga domestik. Secara ekonomi juga semakin rusak.”

Namun, yah, keputusan UEFA dan para petinggi ECA sepertinya sudah bulat. Tinggal menunggu waktu sampai perubahan format baru ini mereka sahkan.

Kapan?

Rencana awalnya, ECA bakal mengeluarkan keputusan pada 29 Maret 2021. Namun, belum ada kesepakatan yang diperoleh karena pandangan klub-klub anggota sempat terpecah, terutama soal pembagian hak komersil. Kalau begini ECA belum bisa bikin proposal untuk diberikan kepada UEFA.

Jadi, keputusan resmi bakal keluar ketika ECA kembali menghelat pertemuan pada Senin (19/4). Yep, enggak lama lagi. Yang jelas, kalau keputusannya adalah mengganti format Liga Champions, perubahannya bakal kita lihat tiga tahun lagi atau pada 2024. Mudah-mudahan dunia belum kiamat.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now