Sepak Bola dan Bulan Ramadan

Sumber Foto: Twitter @Benrahma2.

Menjalani ibadah puasa sebagai pesepak bola memang cukup berat. Selain latihan dan pertandingan, mereka dituntut untuk bisa menjaga kondisinya saat tak bisa mengonsumsi makanan dan minuman.

Berpuasa, bagi para pesepak bola, pada akhirnya merupakan sebuah pilihan. Tak semua menjalankannya, tetapi ada juga yang tetap beribadah meski harus bermain di tengah jadwal yang padat.

Ketika membicarakan puasa sebagai sebuah pilihan, kita tidak hanya membicarakan kewajiban seorang pemain terhadap agama yang mereka peluk, Islam, tetapi juga kewajiban mereka untuk tetap bermain di tengah lingkup kompetisi yang minta ampun tuntutannya.

Tuntutan itu bukan perkara, seperti yang sudah disebut sebelumnya, jadwal yang padat saja, tetapi juga soal prejudice (prasangka) dari kalangan klub sendiri.

Penyerang Newcastle United, Demba Ba, misalnya. Ia pernah disalahkan atas pilihannya berpuasa oleh pelatihnya saat itu, Alan Pardew. "Menjalani ibadah puasa sangat sulit untuk Demba Ba. Berpuasa membuat ketajamannya berkurang," ucap Pardew.

Ucapan Pardew, tentu saja, masih amat mungkin dibantah. Ba sendiri terang-terangan menjawab bahwa naik-turun penampilannya di atas lapangan sama sekali tidak ada hubungannya dengan puasa.

Demba Ba ketika memperkuat Newcastle United. Foto: Twitter @Squawka.

"Setiap kali saya memiliki manajer yang tidak senang saya berpuasa, saya hanya mengatakan, 'Jika saya bermain bagus, maka teruslah mainkan saya. Kalau saya bermain buruk, ganti saya dan taruh di bangku cadangan'," ucap Ba.

Opini Pardew juga amat gampang dipatahkan kalau melihat performa Paul Pogba dalam beberapa pekan terakhir. Tampil sebagai katalis Manchester United semenjak dipasang sebagai false winger di sisi kiri, Pogba ternyata melakukan semuanya dalam keadaan berpuasa.

Heatmap Paul Pogba, termasuk ketika menjadi false winger di sisi kiri. Stats: Sofascore.

Memang tak ada pengaruhnya berpuasa dengan penampilan di atas lapangan. Apalagi, kalau pemain (dan klubnya) bisa menjaga asupan saat berbuka dan sahur.

***

Said Benrahma tiba-tiba berlari ke pinggir lapangan pada laga Burnley vs West Ham United, gameweek 34 Premier League. Tidak, Benrahma tidak cedera atau mengganti sepatunya. Pemain West Ham itu berlari ke pinggir lapangan untuk berbuka puasa.

Sambil bertekuk lutut, Benrahma mengonsumsi makanan dan minuman yang sudah dibawakan staf pelatih West Ham. Sebenarnya, juga ada buah pisang yang ditawarkan kepada Benrahma, tetapi eks pemain Brentford itu cuma memilih cairan isotonik dan energy gel untuk berbuka.

Oh, ya, laga tersebut juga dihentikan sementara untuk menghormati Benrahma berbuka puasa. Benrahma sendiri tampil apik. Satu assist-nya kepada Michail Antonio membantu The Hammers menang dengan skor 2-1.

Bukan Benrahma saja yang berbuka puasa di tengah laga. Sebelumnya, bek tengah Leicester City, Wesley Fofana, juga melakukan hal serupa. Bahkan, ketika Leicester bertemu West Bromwich Albion, 22 April lalu, Brendan Rodgers menarik keluar Fofana supaya si pemain bisa leluasa berbuka puasa.

"Dia belum makan dan minum, jadi saya menariknya keluar ketika waktu berbuka puasa tiba agar dia bisa berbuka," ujar Rodgers.

Baru pada laga Leicester melawan Crystal Palace, Selasa (27/4) dini hari WIB, Fofana dan Cheikhou Koyate berbuka puasa bersama di tengah pertandingan. Kiper Palace, Vicente Guaita, menunda goal kick dan memberikan kedua pemain Muslim itu untuk melepas dahaga.

"Saya ingin berterima kasih kepada Premier League, Crystal Palace, Vicente Guaita, dan semua pemain Leicester yang membiarkan saya berbuka puasa di tengah laga. Ini yang membuat sepak bola begitu indah," tulis Fofana di akun Twitter-nya.

Benrahma dan Fofana beruntung. Kompetisi tempat mereka bermain, Premier League, sudah lebih peka terhadap para pemain yang berpuasa di tengah kompetisi. Mereka tak perlu repot-repot berbuat seperti Kiper Tunisia, Mouez Hassen, yang harus pura-pura mengalami cedera supaya ia dan rekan-rekannya bisa berbuka puasa.

Ada perjalanan panjang dari prasangka miring seperti yang diutarakan oleh Pardew menuju kesempatan untuk berbuka di tengah pertandingan seperti yang didapatkan Benrahma dan Fofana. Perubahan itu menunjukkan bahwa Premier League, beserta klub-klubnya, sudah mau menerima ibadah puasa sebagai bagian dari kepercayaan pemain yang tak bisa dipisahkan begitu saja.

Menurut Sky Sports, baru musim ini Premier League secara terbuka mempersilakan berbuka puasa di tengah pertandingan. Biasanya, sebelum pertandingan, kedua kapten tim akan dimintai persetujuan bahwa laga akan berhenti di tengah jalan untuk memberikan kesempatan pemain Muslim berbuka puasa.

Namun, menurut dr. Zaf Iqbal, mantan dokter tim utama Liverpool yang kini bekerja untuk Crystal Palace sebagai heads of sports medicine, sejak beberapa tahun terakhir sejumlah klub memang sudah lebih terbuka dalam menyikapi pemainnya yang berpuasa.

Iqbal, dalam wawancara dengan Bleacher Report pada 2018, menyebut bahwa beberapa manajer yang pernah bekerja dengannya amat pengertian dengan pemain-pemainnya yang memilih untuk berpuasa.

"Dalam pramusim beberapa tahun lalu, ketika waktu berpuasa amat panjang, manajer tim kami mengizinkan para pemain yang berpuasa untuk menjalani latihan satu sesi saja. Setelah itu, mereka menjalani sesi latihan di gym. Padahal, biasanya mereka menjalani dua sesi latihan di lapangan," kata Iqbal.

Sebagai dokter yang sudah bekerja untuk tiga tim Premier League, Tottenham Hotspur, Liverpool, dan kini Palace, Iqbal punya banyak cerita. Salah satunya adalah soal Luis Suarez yang selalu mengingatkannya untuk berbuka puasa ketika matahari sudah terbenam.

"Dia suka mengingatkan saya bahwa matahari sudah terbenam dan kami pun berbincang-bincang soal Ramadan. Dia ingat, beberapa rekan setimnya di Ajax juga menjalani ibadah puasa," ujar Iqbal.

Dalam laporan yang sama, Bleacher Report juga menyebutkan bahwa beberapa federasi, termasuk FA, juga sudah memberikan penyuluhan kepada klub-klub yang memiliki pemain Muslim di dalam skuadnya. Dengan begitu, kesalahpahaman akan bulan Ramadan dan aktivitas berpuasa para pemain Muslim menjadi berkurang.

Sebagai salah satu orang yang cukup vokal menyuarakan kondisi kesehatan pemain, termasuk hak pemain-pemain Muslim untuk berpuasa, Iqbal jugalah yang mengajak Rodgers dan Pelatih Palace, Roy Hodgson, untuk menghentikan pertandingan demi memberikan kesempatan pemain berbuka puasa di tengah pertandingan.

Iqbal memang sangat peduli dengan asupan gizi pemainnya saat bulan Ramadan. Apalagi, selama berpuasa pemain bisa mengalami penurunan dua persen berat badan. Hal ini bisa menyebabkan gangguan dalam berkonsentrasi dan kinerja fisik juga bisa menurun hingga 20 persen.

Di Palace, Iqbal juga memberikan program kebugaran dan pencegahan cedera untuk pemain yang sedang berpuasa. Ia juga berkonsultasi dengan tim pelatih mengenai waktu yang tepat untuk berlatih dan materi latihan yang baik kepada pemain.

Menyoal konsumsi cairan, Iqbal menyarankan para atlet untuk meminum cairan isotonik pada jam-jam mereka bisa makan dan minum. Idealnya, cairan yang masuk ke tubuh adalah dua sampai empat liter.

Lalu mengenai asupan makanan saat sahur, Iqbal menyarankan para pemain mengonsumsi karbohidrat yang akan mengeluarkan energi perlahan. Asupan itu bisa didapatkan dalam kandungan ubi jalar, pasta, kacang, hingga oats.

"Karena pemain tidak akan mengonsumsi makanan atau cairan apa pun sejak sebelum matahari bersinar, mereka harus bergantung pada simpanan energi lain di tubuh," ucap Iqbal seperti dilansir situs resmi Crystal Palace.

Saat berbuka, penting bagi para pemain mengembalikan kondisi tubuh. Oleh karena itu, tak jarang kita melihat pemain mengonsumsi minuman protein atau energy gel yang bisa membantu proses regenerasi otot dan pemulihan.

***

Menjalani ibadah puasa di Inggris juga cukup berat. Kalau di Indonesia rata-rata berpuasa 12 hingga 13 jam, di Eropa umat muslim bisa berpuasa selama 15 hingga 17 jam seharinya.

Untungnya, lembaga Nujum Sport mau membantu para pemain muslim di Premier League dalam menjalankan ibadah puasa.

Kurang lebih 200 pesepak bola mendapat manfaat dalam program yang diberikan oleh Nujum Sport. Para pemain tersebut diberikan paket Ramadan yang berisi kurma, madu, hingga tasbih. Dalam bingkisan tersebut juga ada panduan yang harus dilakukan oleh klub dalam membantu para pemainnya menjalankan ibadah puasa.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.