Sepak Bola Jalanan Saint-Maximin

Ilustrasi: Arif Utama

Sepak bola jalanan tampak seperti melepaskan Saint-Maximin dari ekspektasi orang-orang. Ia menghiraukan segala tuntutan. Hanya kebahagiaan yang ia cari di dunia sepak bola. Dan itu ia dapat setelah mengecoh lawan dengan dribel mumpuni. 

Sepak bola jalanan selalu menjadi tempat spesial bagi Allan Saint-Maximin. Tak peduli seberapa keras benturan di jalanan, ia akan terus menggiring bola, tertawa terbahak-bahak, menengadahkan kepala, menepuk-nepuk dada sendiri, dan berkata: Saya bahagia.

Usia Saint-Maximin masih lima tahun. Namun, ia punya cara sendiri untuk mendapat atensi orang-orang di Jalanan Meudon, Prancis --tempat ia tumbuh dan berkembang. Dengan bola di kakinya, ia bisa berlari cepat, meliuk-liukkan badan, memindahkan bola dari kaki kiri ke kanan, dan melewati rekan-rekannya.

Aksi-aksi legenda Brasil, Ronaldinho, yang Saint-Maximin saksikan selalu berputar-putar di benaknya. Ada keinginan besar untuk meniru gerakan eks pemain Barcelona tersebut. Jika gagal, ia akan terus mencoba, mencoba, mencoba, dan mencoba, sampai puas.

Kala itu, Saint-Maximin benar-benar mempersetan gol. Yang ia pikirkan hanya cara melewati lawan, bukan menendang bola sekeras-kerasnya. Semakin banyak lawan yang dilewati, semakin senang juga ia ketika pulang.

Didier Demonchy, pelatih akademi Ris-Orangis, terperangah melihat kemampuan dribel Saint-Maximin. Selama 30 tahun berkecimpung di dunia sepak bola, ia baru menyaksikan anak kecil mampu menggiring bola dengan cepat dan tidak goyah.

"Ia sangat lincah dan benar-benar berbeda dengan pemain lain," kata Demonchy sebagaimana mengutip The Athletic.

Demonchy berpandangan bahwa Saint-Maximin dianugerahi Tuhan bakat yang luar biasa. Oke, Saint-Maximin rutin mengasah skill dribel dari satu jalanan ke jalanan lain, dari satu lapang ke lapang lain. Tapi, tetap ada peran Tuhan yang mengiringinya.

"Itu bakat bawaan. Dan kita bisa melihat bahwa ia belajar sepak bola dari jalanan," ucapnya. "Biasanya, anak seusianya akan melakukan banyak kesalahan dan terjatuh saat menggiring bola. Namun, ia dapat melakukan segalanya dengan benar."

Jalanan tidak hanya membentuk Saint-Maximin sebagai pendribel yang baik, tetapi juga turut merakit mimpi-mimpi Saint-Maximin. Ketika berusia tujuh tahun, pria berkebangsaan Prancis itu menyatakan dengan sungguh-sungguh kepada sang ayah, Alex, bahwa ia ingin menjadi pesepakbola profesional.

Alex tertawa. Ia hanya menganggap ucapan Saint-Maximin sebagai gurauan. Tak pernah terbayang dalam benak Alex bahwa Saint-Maximin bisa menjadi pemain profesional. Bagi Alex, sepak bola cuma tempat bermain Saint-Maximin yang hiperaktif.

Meski begitu, Alex tidak lantas memupus mimpi Saint-Maximin. Laiknya seorang ayah yang mencintai anaknya dengan sangat teramat, Alex berkata "Oke, kami selalu bersamamu. Kami akan mendukung keputusanmu."

Kata-kata Alex bukan omong kosong. Kendati ada banyak keraguan akan mimpi Saint-Maximin, Alex tetap mendorong anaknya berlatih mengolah bola, menendang, dan mengumpan, dari satu akademi ke akademi lainnya.

Sampai suatu hari, saat berusia 10 tahun, potensi Saint-Maximin tercium pencari bakat Saint-Etienne, Dominique Fernandez. Sama seperti Demonchy, Fernandez terkejut melihat aksi dribel Saint-Maximin.

“Allan berusia 10 tahun ketika saya pertama kali melihatnya bermain di turnamen U-13 di Meudon,” kata Fernandez kepada The Athletic. “Saya belum pernah melihat pemain seperti itu sepanjang karier saya. Kecepatan dan dribelnya luar biasa."

Saint-Maximin mendapat kontrak profesional pertama saat berusia 16 tahun bersama Saint-Etienne. Hanya butuh waktu dua bulan bagi Saint-Maximin untuk menjalani debut saat Saint-Etienne melawan Esbjerg di Liga Europa.

Perjalanan Saint-Maximin sebagai pemain profesional pun resmi dimulai.

***

Sepak bola jalanan tampak seperti melepaskan Saint-Maximin dari ekspektasi orang-orang. Ia menghiraukan segala tuntutan, bahkan dari klub maupun pelatih. Hanya kebahagiaan yang ia cari di dunia sepak bola. Dan itu ia dapat setelah mengecoh lawan dengan dribel mumpuni.

Di Saint-Etienne, misalnya, Saint-Maximin punya hubungan tidak baik dengan Galtier. Saint-Maximin kecewa bukan main saat Galtier jarang memainkan sebagai starting line-up. Ada banyak faktor penyebab kenapa Galtier mengambil keputusan itu. Salah satunya kematangan Saint-Maximin.

Namun, Saint-Maximin peduli setan dengan alasan-alasan Galtier. Sebab, bagi Saint-Maximin, janji Galtier untuk memberinya banyak jam terbang diingkari. Selama dua musim (2013/14 dan 2014/15) memperkuat Saint-Etienne, Saint-Maximin hanya bermain 17 laga.

Saint-Maximin kemudian bergabung dengan Monaco pada musim 2015/16 dengan mahar 4 juta poundsterling. Monaco tidak langsung memasukkan Saint-Maximin ke dalam skuad. Mereka memilih meminjamkan Saint-Maximin ke dua klub, yakni Hannover 96 (2015/16) dan Bastia (2016/17).

Peminjaman itu tergolong berhasil. Meski perjalanan di Hannover 96 tidak berjalan mulus karena ada friksi dengan manajemen, Saint-Maximin mulai membuktikan diri saat berkostum Bastia.

Kemampuan dribel Saint-Maximin benar-benar terlihat jelas selama mengarungi Ligue 1 2016/17. Merujuk WhoScored, pria 23 tahun itu merangkum 4,3 dribel sukses per laga. Catatan itu tidak berbanding lurus dengan produktivitas gol. Ya, ia hanya mengemas 3 gol dan 2 asis dari 33 laga.

Produktivitas gol ini juga yang membuat Monaco rela melepas Saint-Maximin dengan harga 8,5 juta poundsterling ke OGC Nice pada musim 2017/18.

Sial bagi Saint-Maximin, kedatangannya ke Nice tidak mendapat sambutan hangat. Pelatih Nice saat itu, Lucien Favre, langsung meminta klub untuk menjual Saint-Maximin. Alasannya: Saint-Maximin tidak memiliki kecerdasan taktis. Ia, kata Favre, lebih suka menggiring bola ketimbang mencetak gol.

Namun, permintaan Favre tidak langsung diwujudkan. Ada waktu dan kesempatan yang ia berikan kepada Saint-Maximin. Rangkuman 3,6 dribel per laga, 5 gol, dan 8 asis, sepanjang musim cukup untuk Saint-Maximin bertahan di Nice.

Peralihan nakhoda dari Favre ke Patrick Vieira sedikit melegakan Saint-Maximin. Eks pemain Arsenal itu dinilai akan memberikan kesempatan dan kepercayaan yang lebih tinggi kepada Saint-Maximin.

Vieira pun lebih memilih Saint-Maximin ketimbang Mario Balotelli di lini depan Nice. Jika memasang dua penyerang, Balotelli dan Saint-Maximin jadi andalan Vieira. Apalagi hubungan Balotelli dan Saint-Maximin di luar lapangan tergolong baik.

Mereka kerap memperlihatkan kebersamaan dan kehangatan melalui media sosial masing-masing. Vieira tentu semringah dengan eratnya hubungan dua ujung tombak Nice. Namun, itu tak berlaku di lapangan.

Balotelli dilaporkan kesal dengan Saint-Maximin karena lebih rajin menggiring bola daripada mencetak gol atau menyajikan peluang kepadanya. Vieira turun tangan menenangkan mereka. Tapi, Saint-Maximin tetap teguh pada pendiriannya bahwa yang terpenting klub menang, bukan soal berapa gol dan asis yang ia ciptakan.

Pendirian itu tetap Saint-Maximin pegang saat berlabuh di Newcastle United pada musim 2019/20. Hal itu pun terlihat dari statistik yang dilansir WhoScored. Pada musim 2019/20, Saint-Maximin merangkum 4,7 dribel di tiap laga. Namun, dalam 26 laga, ia hanya mengemas 3 gol dan 4 asis.

Musim berikutnya, torehan gol dan asis Saint-Maximin tidak berubah. Catatan dribel sukses per laga ia pun masih yang tertinggi di antara pemain Newcastle United lainnya, yakni berada di angka 3,8.

Di akhir musim 2020/21, pendirian Saint-Maximin mulai berubah. Ia memang masih mementingkan aksi-aksi dribel mumpuni di lapangan, tetapi ia enggan melupakan gol dan asis yang menjadi produk penting.

"Saya harus mulai membawa permainan ke level berikutnya. Itu bisa dilakukan dengan mencetak gol dan asis lebih banyak dari musim-musim sebelumnya. Dan saya harus melakukan segalanya dengan lebih baik lagi," kata Saint-Maximin.

Omongan Saint-Maximin bukan isapan jempol. Kata-kata yang ia keluarkan terwujud juga di lapangan. Tengok saja torehan gol Saint-Maximin musim 2021/22. Meski liga baru berjalan tujuh pekan, ia sudah mengemas 2 gol. Jumlah gol itu menjadi yang terbanyak --bersama Callum Wilson-- di Newcastle United.

Sedangkan torehan asis Saint-Maximin berada di angka 3. Lagi-lagi, catatan itu menjadi yang tertinggi di antara pemain Newcastle United. Tentu saja, gol dan asis Saint-Maximin berpotensi mengalir lebih deras pada laga-laga berikutnya.

***

Orang-orang menilai Saint-Maximin sebagai pria eksentrik. Penilaian itu tidak hadir begitu saja. Selalu ada hal yang melatarbelakanginya. Dan itu berkaitan dengan aktivitas Saint-Maximin di media sosial.

Di media sosial, ia sering berbual-bual tentang apa saja, termasuk rekening tabungan. Teraktual, ia mengunggah video orang sedang tertawa terbahak-bahak untuk menyambut kedatangan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, sebagai pemilik baru Newcastle United.

Setelah itu, ia menulis: A new start with an ambitious Newcastle United. You deserve it more than anyone. Enjoy. Di antara tulisan tersebut, ia menyelipkan beberapa emoji, seperti love.

Tidak hanya itu. Saint-Maximin dinilai sebagai pria glamor. Selain membawa mobil mewah ke tempat latihan, ia selalu memakai banyak pernak-pernik di jarinya. Pelatih Newcastle United, Steve Bruce, pun sempat menegur apa yang dilakukan anak asuhnya itu.

Ketika bermain, Saint-Maximin acap memakai ikat kepala. Katanya ia terinspirasi salah satu film karate. Dari banyaknya ikat kepala yang dikenakan, ada juga yang bertuliskan Gucci. Apa-apa yang dikenakan Saint-Maximin, kata orang-orang, terlalu berlebihan. Tapi, ia tutup telinga dan berkata: Saya tidak peduli.

Meski disesaki kontroversi, Saint-Maximin terlibat aktif dalam beberapa kegiatan amal dan sosial. Ia menjadi salah satu donatur Newcastle’s West End Food Bank. Selain itu, ia juga menyalurkan bantuan lebih dari 60 paket perawatan untuk pekerja NHS di Tyneside.

"Kami berada dalam situasi yang sangat beruntung sebagai pesepakbola," kata Saint-Maximin mengutip The Guardian. "Tetapi, apa yang dilakukan mereka, seperti bank makanan, sangat menginspirasi. Itu membuat kamu ingin memberikan bantuan sebanyak mungkin."

Saat berusia 18 tahun, Saint-Maximin mendapat kado istimewa dari sang ibu, Nadege. Kado itu berupa album foto perjalanan Saint-Maximin dari kecil hingga mendapat kontrak pertama dari Saint-Eitenne.

Di belakang album foto tersebut tertulis: Album ini telah dirancang agar setiap hari, kamu menghargai keberuntungan yang kamu miliki. Kamu harus rendah hati.

Kepada The Athletic, Nadege berujar bahwa album foto itu ia buat agar Saint-Maximin selalu tahu di mana ia tumbuh dan berkembang.

Dalam interview bersama 433, Saint-Maximin seperti mengonfirmasi keinginan sang ibu. Bahwa ia selalu tahu tempat pulang. Tidak terkecuali Sepak Bola Jalanan.

"Saya akan menyimpan pelajaran di jalanan seumur hidup."

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.