Sepatu Afena-Gyan

Foto: Twitter @ASRomaEN.

Sepatu yang dijanjikan Mourinho itu seperti memberi kekuatan ekstra kepada Afena-Gyan untuk membuktikan bahwa ia pantas mendapatkan tempat di Roma.

Tidak ada yang pasti di atas lapangan sepak bola. Juara bertahan bisa menjadi pecundang dalam semalam, pemain bintang dapat menjadi cecunguk dalam sekejap. Felix Afena-Gyan tahu itu.

Meski demikian, Afena-Gyan tetap rela menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di lapangan bola bersama tim sekolahnya sampai 2018. Seluruh jalan hidup Afena-Gyan seolah-olah berkata bahwa ia memang lahir untuk sepak bola.

Hingga suatu ketika, tim pencari bakat AS Roma, Morgan De Sanctis dan Simone Lo Schiavo, mengendus bakatnya dan berangkat ke Ghana. Dalam sekejap, Afena-Gyan sudah menjadi rebutan Roma dan AC Milan.

Tepat pada 13 Maret 2021 ia resmi menjadi penggawa tim muda Roma. Meski demikian, menjadi penggawa tim muda berarti berjauh-jauhan dengan lampu sorot. 

Keberuntungan Afena Gyan bernama Jose Mourinho. Sang pelatih Portugal memanggilnya untuk bergabung dengan tim senior pada 24 Oktober 2021. Tiga hari setelahnya, ia melakoni debut sebagai pemain profesional, tepatnya saat melawan Cagliari.

Oh, Afena-Gyan masih bau kencur. Kariernya tidak akan mentereng dalam waktu dekat. Ia belum pantas berlaga di kasta tertinggi sepak bola Italia. Sewajarnya Afena-Gyan menerima argumen tersebut. Toh, usianya masih 18 tahun dan pengalamannya juga tak banyak. Kalau begitu kondisinya, jangankan mengejar gelar juara, mendapat tempat utama pun terasa mustahil.

Namun, Afena-Gyan tidak berteman dengan kewajaran. Di usianya masih belia, ia bersedia bertanding mati-matian di lapangan sepak bola. Hidup baginya adalah berlari dan menendang bola. Ia bertaruh dengan memberikan segala apa yang ada dalam dirinya untuk sepak bola. 

Menjadi pesepak bola berarti kau harus tetap berpegang pada pekerjaan itu seperti orang gila. Karier pesepak bola profesional tak akan bisa berumur panjang bila ia menyerah saat tak mendapat perhatian. 

Riwayat Afena-Gyan sebagai pesepak bola bakal ada di titik nadir jika ia membiarkan bangku cadangan menghabisinya. Afena-Gyan tak pernah tahu kapan ia bisa menyentuh lapangan sebagai pemain Mourinho. Yang dia lakukan hanya bersiap, lalu berlatih dengan sebaik-baiknya. 

Jauh sebelum melakoni debut profesional, Afena-Gyan sudah digempur penantian. Alih-alih merayakan gol, ia justru menanggung beban akan hasrat yang belum sampai. Namun, barangkali seperti itulah cara olahraga bekerja. Raga diolah menjadi gelar juara. 

Mourinho yang melatih Roma pun bukan pelatih yang merengkuh gelar juara dalam sekejap. Berkali-kali ia disisihkan, bahkan oleh klub yang dianggapnya sebagai rumah sendiri. Berkali-kali ia menyentuh final, tetapi malah menutup laga sebagai pesakitan. Namun, pengalaman-pengalaman itu  mengajar Mourinho untuk tak takluk pada kekalahan. Dalam tarikan napas yang sama, Mourinho mengajar Afena-Gyan untuk tidak terkapar di hadapan ketidakpastian.

Lalu tibalah kita di sini, di hari Roma melawan Genoa. Di Stadion Luigi Ferraris, 21 November 2021, Afena-Gyan kembali dipanggil untuk masuk lapangan. 

Meski kesempatan itu baru datang pada menit 74, Afena-Gyan ogah membuang-buangnya dengan percuma. Delapan menit bertanding, Afena-Gyan menorehkan salah satu catatan terpenting dalam hidupnya: Mencetak gol sebagai pesepak profesional. 

Torehan itu dibuatnya dengan memanfaatkan assist Mkhitaryan yang berhasil melewati kepungan tiga pemain Genoa. Dengan sekali sentuhan, Afena-Gyan mengonversi umpan tersebut menjadi gol yang membawa Roma memimpin 1-0. 

Gol itu dirayakannya dengan khas. Alih-alih memeluk senior-seniornya, Afena-Gyan berlari ke arah Mourinho yang berdiri di tepi lapangan. Ternyata Afena-Gyan hendak mengingatkan Mourinho tentang apa yang telah dijanjikannya.

Sepatu berwarna biru navy itu bernama Balenciaga Speed Trainers. Bentuknya tidak menyerupai sepatu-sepatu pada umumnya. Sepatu itu terbuat dari 80 persen bahan poliamida dalam bentuk upper stretch-knit dan 20 persen elasthanne pada sol karet putih. Bahan itu pula yang membuat pemakainya seperti mengenakan kaus kaki yang menyatu dengan sepatu.

Sepatu itu berharga selangit, mencapai 800 euro. Kalau dikonversi ke rupiah, nilainya ada di kisaran Rp13.000.000,-. Bagi para pesepak bola elite, uang 800 euro adalah perkara sepele. Namun, Afena-Gyan baru sampai di Roma pada 2021, itu pun tergabung dalam tim primavera.

Mourinho tahu keinginan Afena-Gyan. Ia berjanji akan membelikan sepatu tersebut jika Afena-Gyan mencetak gol untuk Roma. Sang pemuda Ghana tidak menganggap tawaran tersebut sebagai omong kosong. Ia bahkan tak hanya mencetak satu gol di laga melawan Genoa tersebut. 

Afena-Gyan mencetak gol keduanya pada menit 90+3'. Ia melesakkan tembakan melengkung ke arah gawang sejauh 22 meter yang tidak sanggup diantisipasi oleh kiper Genoa. Di titik itu pulah orang-orang mulai percaya bahwa Mourinho tak salah memilih orang. 

Hal pertama yang dilakukan Mourinho pada pagi hari setelah laga tersebut adalah membelikan Balenciaga Speed Trainer untuk Afena-Gyan. Dengan senyum yang membaur dengan rasa tidak percaya, Afena-Gyan membuka kotak itu dan menemukan sepatu impiannya. Afena-Gyan tak lagi malu-malu. Dengan segera ia mencoba sepatu tersebut, lalu kembali memeluk Mourinho.

Bagi Mourinho, Afena-Gyan adalah pemuda spesial. Sepanjang kariernya sebagai pelatih, Mourinho bertemu dengan banyak pemain hebat yang begitu menginginkan bola sampai ke atas kaki mereka. Namun, yang membuat Mourinho terkesan pada Afena-Gyan adalah kegigihannya untuk mendapatkan bola tersebut. Katanya, Afena-Gyan adalah pemain yang terus berlari dan menciptakan ruang untuk mendapatkan bola.

Mencetak enam gol dalam lima laga Primavera, itulah yang membuat pandangan Mourinho tertuju kepada Afena-Gyan. Kemampuan dan efektivitasnya dalam mencetak gol menjadi kunci yang membukakan pintu tim utama bagi Afena-Gyan. Pun demikian dengan kecepatannya. Ternyata kecepatan dan stamina tersebut didapat Afena-Gyan sejak masih berstatus sebagai sprinter saat SMA. 

Langsung mencap bahwa masa depan Afena-Gyan akan gemilang di AS Roma karena dua gol dalam tiga laga itu kepalang naif. Masih terlalu dini untuk menyandangkan predikat itu kepadanya. Meski demikian, setidaknya Mourinho percaya bahwa pemuda 18 tahun ini bisa menjadi harapan bagi AS Roma. Karena itu pula, Mourinho menegaskan bahwa Afena-Gyan akan tetap bermain untuk tim senior AS Roma.

"Yang paling membuat saya terkesan, ia tahu membuat keputusan tepat di depan gawang. Saya minta maaf kepada De Rossi dan skuad Primavera karena Felix akan tetap bersama tim kami," ujar Mourinho.

***
Sepatu yang dijanjikan Mourinho itu seperti memberi kekuatan ekstra kepada Afena-Gyan untuk membuktikan bahwa ia pantas mendapatkan tempat di Roma. 

Untuk sesaat Afena-Gyan peduli setan dengan mengerikannya bangku cadangan dan ancaman tersisih dari tim. Dalam 20 menit, Afena-Gyan berani membayangkan suatu saat nanti ia bisa menjadi seperti Daniele de Rossi yang mengacak-acak Barcelona di Liga Champions 2018.

Lapangan sepak bola gemar memberikan beban yang berat kepada anak-anak muda. Bahkan mereka yang bergelar wonderkid pun banyak yang terkubur karena tak sanggup memikul ekspektasi. Meski tak berlabel bocah ajaib, Afena-Gyan pun menanggung beban yang sama beratnya. Bukan tak mungkin setelah dua atau tiga kali mencetak gol, ia justru terjerembap. 

Namun, Afena-Gyan juga punya kemungkinan lain. Ia bisa mengusir cerita-cerita suram tentang ketidakpastian pemain muda. Bersama teman-temannya ia mengupayakan kemenangan, menanggung kekalahan, dan membuktikan bahwa di Roma sana, selalu ada ruang bagi anak muda sepertinya.