Seperti James Sands

Foto: Riiana Izzietova

Gelandang bertahan yang tenang. Ia berjibaku dalam diam. Duel-duel, tekel-tekel yang ia lakukan tak mesti kasar, tak mesti ganas.

Saya kira, salah satu peninggalan terbaik dari sepak bola era 1990-an akhir hingga 2000-an awal adalah soal citra.

Dalam ingatan mereka-mereka yang menonton sepak bola di era itu, citra terhadap sebuah tim, posisi, peran, strategi bisa tergeneralisir secara kolektif.

Pemain yang berperan sebagai seorang gelandang bertahan, misalnya, memiliki citra kolektif sebagai pemain yang berani, tegas, keras tak pandang bulu di lapangan.

Ini terejawantahkan via pemain-pemain seperti Roy Keane, Gennaro Gattuso, Daniele de Rossi, sampai Edgar Davids.

Mereka adalah pemain-pemain pintar, tapi lebih sering dicitrakan sebagai seorang gelandang bertahan yang keras, berani, sampai garang di atas lapangan—siap melancarkan tekel, siap menghadapi pelbagai duel.

Citra ini terawat sampai kemudian pemain-pemain di era 2010-an muncul. Sergio Busquets memang memiliki arketipe berbeda, tapi ia juga memiliki tugas yang sama: Sebagai gelandang yang bisa membantu tim memutus serangan lawan.

Namun, Busquets jelas berbeda. Ia tak memiliki citra seperti para pendahulunya itu. Caranya memutus serangan lawan tak mesti melalui tekel atau duel.

Rodri, gelandang bertahan pertama yang memenangkan Ballon d‘Or dalam dua dekade terakhir, juga tak dicitrakan sebagai seorang gelandang bertahan yang keras dan garang.

Padahal, Rodri lebih fisikal ketimbang Busquets, dan juga terlihat lebih “kotor“. Casemiro, yang juga jauh lebih “kotor“ dan keras ketimbang Busquets, bahkan Rodri, juga tak memiliki citra yang sama.

Meski secara arketipe Casemiro lebih mirip dengan nama-nama yang disebutkan di atas, ia tak dicitrakan memiliki aura yang sama seperti Keane atau Gattuso, misalnya.

Di era saat ini, kita juga melihat bagaimana pemain seperti Moses Caicedo, Martin Zubimendi, Aurelien Tchouameni, sampai Vitinha juga melakukan kerja-kerja “kotor“ gelandang bertahan, tapi citra yang sama juga tak melekat pada mereka.

Well, sepak bola memang berubah. Permainan semakin kompleks dan teknikal, aksi-aksi teatrikal makin sedikit mengingat ruang makin sempit, dan media sudah tak bisa lagi mencitrakan sesuatu secara kolektif sebab data untuk memverifikasi sudah tersebar di mana-mana.

Dari segi pemain itu sendiri, mereka juga mulai tak mencitrakan diri seperti sebelumnya: Bahwa tak perlu berlagak garang untuk memperjelas peran sebagai gelandang bertahan, misalnya.

Bagi saya, pemain lain yang bisa jadi contoh adalah James Sands, gelandang bertahan asal Amerika Serikat.

Di atas lapangan, Sands punya tugas untuk melakukan kerja-kerja “kotor“ gelandang bertahan: Melakukan tekel-tekel untuk memutus serangan lawan, berjibaku dalam duel-duel, melancarkan pressing, bergerak ke mana pun untuk membantu mengalirkan bola atau menghentikan lawan.

2024 lalu, ia terpilih sebagai pemain bertahan terbaik New York FC, menunjukkan betapa piawai dirinya dalam melakukan tugas-tugas defensif.

Dalam perjalanan kariernya, Sands memang belum banyak tampil di Eropa. Selain bersama New York FC dan Tim Nasional Amerika Serikat, ia pernah berseragam Glasgow Rangers dan kini bermain untuk St. Pauli dengan status pinjaman.

Namun, dalam kariernya itu, ia telah melewati banyak laga-laga panas: Old Firm Derby, laga Amerika Serikat vs Meksiko yang, baginya, sangat intens dengan atmosfer luar biasa, juga kemudian Stadtderby.

Foto: Riiana Izzietova

Untuk Stadtderby, James baru saja menyelesaikan edisi pertamanya akhir pekan lalu, di mana ia mengakhiri laga dengan catatan lima tekel sukses dan delapan kali menang duel. Tak ada satu pun pemain di lapangan yang mencatatkan lebih banyak darinya di dua statistik tersebut.

James berduel untuk menjaga atau merebut bola, melancarkan tekel untuk memutus serangan lawan. Pemain berusia 25 tahun ini melakukan kerja “kotor“ ala gelandang bertahan.

Namun, ia tak memiliki citra garang atau keras. Justru, James terlihat sebagai pemain yang kalem di lapangan: Ia tak melakukan konfrontasi, tak memprotes keras-keras, tak banyak bersitegang dengan lawan. Ia berjibaku dalam diam.

Duel-duel dan tekel-tekel itu bahkan dilakukan James di kandang lawan, di Volksparkstadion milik HSV. Ia tetap tenang, dan ketenangan itu membantu St. Pauli menang 2-0.

Bahkan di luar lapangan, ia menjadi salah satu pemain paling kalem, paling sopan yang pernah saya dengar. Tiap kali meladeni wawancara, ia menjawab dengan senyum, pilihan-pilihan kata, caranya menjawab, terdengar bahwa ia begitu tenang.

***

Citra seperti yang dibangun dari sepak bola era 1990-an akhir atau 2000-an awal itu telah lenyap. Pemain bisa mencitrakan diri seperti apa saja, tapi penampilan di lapangan yang biasanya lebih banyak berbicara.

Lagipula statistik dan data sudah ada untuk mengecek fakta, membuat pandangan mata lebih tajam lagi.

Busquets telah memulai, lantas diteruskan dengan gelandang-gelandang bertahan yang tak lagi menonjolkan keganasan, namun teknik dan kecerdasan di atas lapangan.

Bagi saya pribadi, saya menikmati keduanya, meski pemain seperti Sands selalu membuat saya kagum: Ia bisa ganas tanpa harus bermain keras dan menonjolkan aura tersebut di lapangan. Ia memenangkan duel, melancarkan tekel dengan tenang.

Sands bermain sangat rapi, kalem sebagai pemain bertahan, tanpa perlu memasukan jersei ke dalam celana untuk membuatnya terlihat demikian.