Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Serigala Ibu Kota yang Terluka

Twitter @ASRoma.

Penampilan AS Roma inkonsisten sepanjang musim. Apa masalah mereka?

Jose Mourinho mencak-mencak di pinggir lapangan. Pria kelahiran Setubal itu sebal dengan wasit Luca Pairetto yang memimpin jalannya pertandingan AS Roma vs Hellas Verona.

Jelang pertandingan berakhir, Mourinho memperagakan gesture menelepon yang ia tujukan kepada Pairetto. Ada dugaan, gesture tersebut sindiran karena ayah Pairetto terlibat skandal Calciopoli pada 2006 lalu.

Menurut laporan La Stampa, Mourinho juga mengeluarkan kalimat tendensius kepada Pairetto. "Juventus sent you!" serunya. Ucapan tersebut, menurut laporan yang sama, membuat si pelatih asal Portugal terancam hukuman yang lebih keras.

Akibat gesture itu, Mourinho mendapat kartu merah. Masih kesal dengan keputusan tersebut, The Special One menendang bola ke atas lalu pergi meninggalkan lapangan. Mourinho kemudian dihukum tak boleh menemani Roma dalam dua pertandingan Serie A mendatang.

Bukan kali ini saja Mourinho melakukan kritik keras kepada wasit. Usai pertandingan melawan Genoa (5/2) lalu, Pria berusia 59 tahun itu melontarkan kalimat pedas kepada pengadil lapangan. Hal tersebut disebabkan wasit memberikan kartu merah kepada Nicolo Zaniolo yang protes karena golnya dianulir.

"Saya berbicara dengan wasit. Keputusan yang dibuatnya tidaklah benar. Apakah jika Zaniolo bermain untuk Inter, Juventus atau Milan, situasinya akan sama?" ucap Mourinho.

Well, Mourinho boleh saja meng-kambing-hitam-kan wasit saat Roma tak bisa memetik kemenangan. Namun, Mourinho juga harus berkaca dan melihat ke dalam dirinya dan tim. Sebab, Roma di bawahnya saat ini memiliki banyak kekurangan yang membuat hanya bisa berkutat di papan tengah.

***

Roma tak bisa memetik kemenangan di empat pertandingan terakhir pada lintas kompetisi. Hasil minor itu membuat mereka sementara ada di peringkat delapan. Berselisih enam poin dari Juventus yang ada di zona Liga Champions.

Lini belakang menjadi salah satu masalah yang belum bisa dibenahi Mourinho. Bobroknya lini belakang tim arahan Mourinho memang cukup mengejutkan. Pasalnya, Mou terkenal sebagai pelatih yang mengutamakan pertahanan yang kokoh.

Saat menjadi juara pada musim pertama bersama Chelsea, Mourinho menjadi pertahanan sebagai kunci. Tak heran, sepanjang kompetisi Chelsea cuma bobol 32 kali dan menjadi tim yang paling sedikit kebobolan di musim tersebut.

Seni bertahan Mourinho juga pernah diperlihatkan saat membesut Inter di musim 2009/10. Kala itu, Mourinho sukses membawa La Beneamata meraih Scudetto. Pada musim tersebut, Inter juara dengan cuma kebobolan 34 kali.

Pertahanan yang kuat dan kokoh belum bisa diterapkan Mourinho di Roma. 'Serigala Ibu Kota' masih sangat mudah ditembus oleh para lawan. Dalam hal ini, terlepas dari set-up taktik yang Mourinho terapkan, ada urusan eksekusi juga yang ikut menjadi faktor.

Dalam format 3-5-2 atau 3-4-2-1 yang biasa Mourinho terapkan pada lima laga terakhir, ada celah di lini belakang yang acap bermunculan. Alhasil, Roma cuma sekali mencatatkan clean cheet.

Lubang yang kerap muncul di antara wingback dan tiga bek tengah bisa dimanfaatkan oleh lawan. Proses gol kedua Verona ke gawang Roma menjadi bukti nyata bagaimana lawan mengeksploitasi ruang di pertahanan Roma tersebut.

Dalam proses gol tersebut, Gianluca Caprari bisa mendapatkan bola dengan bebas. Pemain Verona itu berdiri di antara Ainsley Maitland-Niles dan Chris Smalling. Setelahnya, Caprari melakukan cut back ke tengah lalu disambut dengan sepakan keras Adrian Tameze.

Fragmen mengenai bagaimana lawan mengeksploitasi ruang di half-space pertahanan Roma juga terjadi pada laga melawan Sassuolo. Gol pertama yang masuk ke gawang Roma berawal dari bebasnya pemain Sassuolo berdiri di half-space lalu melepaskan tendangan yang dibelokkan Smalling ke dalam gawang.

Selain renggangnya pertahanan, individual error juga jadi sebab gawang Roma gampang kebobolan. Lihat saja bagaimana Matias Vina membebaskan pemain Verona untuk memberi umpan sebelum terjadinya gol Antonin Barak. Lalu, dua gol yang bersarang ke gawang Roma pada laga melawan Sassuolo merupakan eror dari pemainnya sendiri.

Gol pertama terjadi karena Rui Patricio yang kurang lengket dalam menangkap bola. Kemudian, gol kedua tercipta karena Rick Karsdorp memberikan kemudahan untuk Hamed Traore memperdayai Patricio.

Itu baru soal pertahanan. Hal lain yang juga menjadi kelemahan Roma adalah bagaimana mereka melakukan pressing. Melihat catatan yang dilansir FBref, efektivitas pressing Roma bermasalah karena dari torehan 152,5 pressing per 90 menit, kesukesannya cuma berada di angka 30 persen saja.

Selain lini pertahanan, Roma juga memiliki masalah pada lini depan. Tammy Abraham tak punya pelapis yang memadai untuk bisa menyumbangkan gol. Apesnya, Abraham juga tak begitu konsisten dalam membobol gawang lawan. Sampai giornata 26, baru ada 11 gol yang dibuat Abraham dari rata-rata 14 expected goals (xG).

Melihat catatan tersebut, Abraham underperforming dari catatan xG-nya. Semestinya, dari kualitas peluang yang ia miliki, eks striker Chelsea itu sudah bisa membuat 14 gol. Artinya, ada persoalan dalam hal finishing yang perlu ia perbaiki. 

Nicolo Zaniolo yang biasa menjadi tandem Abraham di lini depan juga kurang berkontribusi banyak. Gol yang Zaniolo buat cuma 2 dari total 48 shots yang ia lepaskan semusim ini.

Sebenarnya, Roma masih memiliki Lorenzo Pellegrini dari lini kedua. Kapten Roma itu menjadi penggawa terproduktif kedua via kemasan enam gol dari xG yang cuma 4,9. Selain menjadi pendulang gol, gelandang berusia 25 tahun itu juga piawai mengkreasikan peluang. Ada rata-rata 2,5 umpan kunci yang dibukukan Pellegrini sejauh ini--paling tinggi di Roma.

Masalahnya, Pellegrini sering berkutat di ruang perawatan. Sudah delapan kali pemain berusia 25 tahun itu absen di Serie A karena cedera.

Kendati terus mendapatkan hasil minor, ada kemungkinan posisi Mourinho bakal aman-aman saja di Roma. Sebab, apa yang dibebankan manajemen kepadanya bukan cuma untuk sesaat saja.

"Kami mulai untuk membangun semua struktur, tak cuma fasilitas tetapi manusia yang ada di dalamnya juga. Seperti yang owner katakan, kami melakukan ini untuk masa depan, untuk klub, dan juga fans," tutur Mourinho dalam saat jumpa pers perdananya bersama Roma.

Sejauh ini, apa yang Mourinho utarakan pada awal-awal masa jabatannya itu masih berjalan selurus dengan kenyataan. Tidak ada tanda-tanda para petinggi Roma bakal mendepaknya. Selain itu, ada pembelaan dari General Manager Roma, Tiago Pinto, terhadap sikap Mourinho, meskipun nama yang disebut terakhit itu juga ikut kena hukum karena menyerang Pairetto. 

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now