Si Tua Buffon

Foto: Instagram @gianluigibuffon.

Bagi Gianluigi Buffon, masa tua bukan tangan kekar yang mencekokinya dengan kesepian dan kemarahan tanpa penawar. Serupa hari-hari suram, masa depan pada hari tua sungguh ada di tangan Buffon.

Ketika usianya mencapai 44 tahun, Gianluigi Buffon masih berdiri gigih menjaga gawang.

Sebagian orang menganggap bahwa masa tua adalah sarangnya fragmen suram. Dialog-dialog yang bersinggungan dengan hari tua nyaris tanpa keriangan. Kalimatnya berat-berat, tanpa humor witty yang menggelitik.

Bagi orang-orang ini masa tua adalah titah tanpa ampun yang menyeretnya ke pertarungan melawan penyesalan panjang akan mimpi yang tak terwujudkan. Masa tua adalah tangan kekar yang mencekokinya dengan kesepian dan kemarahan tanpa penawar. Bagi mereka, masa tua adalah permusuhan dengan waktu yang enggan melambat. Makin tua, makin kau dekat dengan hari kematian.

Terlepas dari segala kemuraman yang ditampilkan, sebagian orang memutuskan untuk tak bergidik ngeri di hadapan masa tua. Bagi mereka, menjadi tua ibarat mendaki gunung. Semakin tinggi kamu menjejak, kamu akan semakin lelah dan sulit bernapas. Namun, pemandangan yang kamu dapat juga semakin hebat.

Jika masa tua berkawan erat dengan kematian, itu benar. Yang perlu diingat, kematian bukan lawan, tetapi bagian dari kehidupan. Segala macam peristiwa muram yang kau hadapi ketika kau tua nanti bisa saja terjadi untuk membawa kepada hari gemilang. Serupa hari-hari suram, masa depanmu pada hari tua sungguh ada.

Masa tua seperti itulah yang tergambar dalam perjalanan Buffon sebagai pesepak bola. Saat kawan-kawan seangkatannya beramai-ramai menikmati masa pensiun atau menjalani karier sebagai pelatih baru, Buffon tetap bersetia berdiri di depan gawang.

Saat usianya mencapai 40 tahun ia membawa rekor yang rasanya tak mungkin dicetak oleh manusia normal ke Paris Saint-Germain. Di Paris, Buffon tak selalu menjadi penjaga gawang utama. Bangku cadangan menjadi kawan baiknya.

Bagi banyak pemain, bangku cadangan adalah lawan yang jauh lebih hebat dari tim mana pun yang mereka hadapi. Bangku cadangan, sedapat mungkin, mereka hindari. Jika mesti berhadapan melulu dengan bangku cadangan, mereka memilih pergi atau mungkin mengambil keputusan radikal, seperti gantung sepatu.

Namun, Buffon berbeda. Baginya bangku cadangan adalah kesempatan. Bangku cadangan adalah penanda bahwa sewaktu-waktu ia akan dibutuhkan oleh tim. Barangkali ia hanya akan turun di laga-laga sepele. Akan tetapi, istilah sepele hanya berlaku bagi kita, orang awam, para penonton. 

Bagi pemain seperti Buffon, tak ada laga yang sepele. Semua pertandingan penting, semua pertandingan butuh kemenangan. Karena itu, ia bersedia berdiri di depan gawang demi menjaga keunggulan dan mengupayakan kemenangan bersama kawan-kawannya.

Pada 2019, Buffon kembali ke Juventus. Buffon tak lagi menggunakan nomor punggung satu. Selain itu, Buffon menolak ban kapten yang memang dipakainya sebelum pindah ke PSG.

“Sudah seharusnya sang kiper utama, Szczęsny, mengenakan nomor 1 di punggungnya, sementara Chiellini adalah kapten yang luar biasa. Saat ini, saya hanya ingin membantu tim. Saya harus memastikan diri saya siap ketika diminta bermain,” kata Buffon dikutip dari Football Italia.

Laga terakhir Grup G Liga Champions 2020/21 bersama Juventus adalah panggung yang menampilkan drama-drama epik bagi ‘hari tua’ Buffon. Pada pertandingan tersebut, Juventus menghajar Barcelona 3-0 di Camp Nou.

Hanya karena bertanding di masa tuanya, bukan berarti Buffon merangkak dengan layu. Caranya menepis tembakan, keengganannya untuk tunduk pada intimidasi lawan berbicara soal tekadnya untuk menghidupi masa tua di atas lapangan sepak bola. 

Keunggulan 3-0 yang dicetak Juventus pada menit 50 tak mengakhiri penjagaannya. Buffon tetap berdiri tegak di depan gawang. Ia tetap berteriak, mengacungkan tinju setiap kali berhasil menahan gempuran lawan. Bahkan ketika untuk kesekian kali sepakannya berhasil ditepis, Lionel Messi yang masyhur itu tersenyum kepada Buffon. 

Sesekali Buffon mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi sambil mengedipkan mata. Bahasa tubuh tanpa kata-kata itu seperti menegaskan “Tenang saja, gawang kita aman. Biar saya yang jaga. Kalian bermain saja untuk mencetak gol,” kepada kawan-kawannya.

Jika ditotal, Buffon membukukan tujuh kali penyelamatan di laga tersebut. Ini merupakan pertandingan pertama dan terakhirnya di Liga Champions 2020/21; barangkali yang terakhir di Liga Champions. Namun, dalam satu laga pula Buffon membuktikan bahwa ia belum habis dimakan usia.

Ketika musim 2020/21 tuntas, Buffon tak berhenti bersepak bola. Tempatnya di Juventus ditinggalkan, lalu ia pulang ke Parma. Klub ini adalah tempat spesial. Semua kesuksesan yang diraih olehnya dimulai dari klub yang berada di Emilia-Romagna itu.

Usia Buffon saat itu masih 17 tahun. Namun, pria kelahiran Carrara itu sudah diberi mandat untuk mengawal gawang Parma di laga yang cukup krusial menghadapi AC Milan. Tepatnya pada 19 November 1995, pelatih Parma ketika itu, Nevio Scala, memilih Buffon karena kiper utama, Luca Bucci, mengalami cedera. Sebenarnya masih ada kiper kawakan, Alessandro Nista, yang bisa dimainkan Scala. 

Namun, performa impresif Buffon saat latihan membuat Scala mengambil langkah penuh risiko itu. "Buffon belum pernah bermain di tim utama dan kami akan berlaga melawan tim penuh bintang. Di sana ada Roberto Baggio, George Weah, hingga Paolo Maldini," ucap Scala kepada Goal International.


“Pada usia 43, saya harus membuat pilihan yang mungkin terlihat aneh, gila, atau bahkan tidak populer,” kata Buffon. “Namun, sisi gila saya selalu menghentikan saya dari menetapkan batasan untuk diri saya sendiri. Itu memungkinkan saya untuk terus bermimpi dan saya bahagia ketika saya bermimpi. Saya mungkin tidak memenangi apa pun, tetapi itu tidak mengganggu saya. Saya tidak pernah mengejar piala. Sepanjang hidup saya, yang menarik bagi saya adalah perjalanannya, tantangannya. Itu sebabnya saya terus melakukannya,” papar Buffon.

Kata-kata Buffon tersebut menggambarkan bahwa ia adalah anomali masa tua. Ketimbang menganggap masa tua sebagai kedekatan dengan ketidakberdayaan, ia memilih menghidupinya dengan sekuat-kuatnya. Dengan daya yang terus dirawat dari hari ke hari, Buffon turun arena, berpesta bersama para pemuda di atas lapangan sepak bola.

Ketika kembali menjadi ‘anak baru’ di Parma, Buffon tidak diperlakukan secara istimewa. Di sesi makan tim, ia tetap disuruh naik ke atas meja dan menyanyi dengan konyol. Entah lagu Italia apa yang dinyanyikan saat itu. Yang jelas, anak-anak muda yang menjadi kawan-kawan barunya tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan. Barangkali dengan cara itulah Buffon menyambut hari tuanya di Parma dengan riang. 

Seperti kata-katanya, tentang hasil, Buffon tak berpikir banyak. Memikirkan hasil sama dengan meributkan ketidakpastian. Bagi Buffon, yang terpenting adalah berdiri di depan gawang untuk merengkuh kemenangan, persis seperti yang dilakukannya sejak 1991.

Pada 28 Februari 2022, Buffon memperpanjang kontrak dengan Parma hingga 2024. Buffon rupanya belum ingin berhenti untuk mengusir cerita-cerita sendu tentang kemuraman penjaga gawang dengan sarung tangannya yang dipasang kencang. 

Bersama teman-temannya ia mengupayakan kemenangan, menanggung kekalahan, dan membuktikan bahwa selalu ada tempat bagi orang tua sepertinya di lapangan sepak bola. Bagi Buffon, hidup di usia tua bukan masalah. Kalau hari tua bisa dijalani tanpa memelas, buat apa mati lekas-lekas?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.