Siapa Bilang Tottenham Cuma Harry Kane dan Son Heung-Min Doang?

Twitter @HKane

Tottenham bukan sekadar tombak yang tajam di depan. Mereka adalah trisula, tombak bermata tiga yang tajam di tiap sisinya.

Tottenham Hotspur lagi di atas angin. Sudah 18 poin mereka raup. Rasio kemenangannya pun impresif: 66% dari 9 laga. Alhasil, pasukan Jose Mourinho itu nangkring di puncak klasemen Premier League.

Makin-makin karena kompetitor Tottenham lagi pada sempoyongan. Liverpool misalnya, meski punya torehan poin sama, sekarang lagi ketar-ketir. Lini belakang mereka keropos karena badai cedera.

Manchester City, apalagi. Cuma 3 kali mereka menang dari total 8 pertandingan. Oke, ada Chelsea yang cukup impresif. Namun, mereka masih mengais konsistensi dengan para personel anyarnya.

Manchester United dan Arsenal? Jangan ditanya. Kita semua tahu mereka bukan kandidat juara Premier League musim ini.

Sudah pasti Harry Kane dan Son Heung-Min tak bisa dilepaskan dari pencapaian Tottenham. Nama yang disebut pertama jadi top-assist sementara Premier League di angka 9. Son tak kalah beringas dengan sembilan golnya. Jumlah itu cuma kalah dari Dominic Calvert-Lewin.

Terus, apa cuma gara-gara Kane dan Son Tottenham jadi jago? Tentu saja tidak.

Begini, ada benarnya menyebut Tottenham sebagai tim yang produktif. Sudah 21 gol mereka bikin hingga pekan kesembilan. Jumlah ini setara dengan Liverpool dan hanya terpaut satu gol lebih sedikit dari Chelsea.

Namun, tim yang komplet 'kan tim yang bisa menyerang dan bertahan sama baiknya. Untuk urusan ini, Tottenham nomor wahid, wong mereka baru kebobolan 9 kali.

Kondisi tersebut merepresentasikan dua hal: Pertahanan yang kokoh dan lini tengah yang solid. Memang inilah yang diinginkan Mourinho.

Sebagai pelatih pragmatis dia butuh pemain dengan spesifikasi komplet. Tak muluk-muluk, kok, asal mampu menyerang saat mode ofensif dan bertahan saat dibutuhkan. Minimal itu saja.

Dari segi formasi, Mourinho tak fluktuatif seperti musim lalu. Sekarang The Special One intens memakai format dasar 4-2-3-1. Lini serang cair dan pertahanan mid-block jadi pakemnya. Bukan semata bagaimana memberi peran playmaker kepada Kane dan kecepatan Son sebagai senjatanya, tetapi juga memaksimalkan full-back dan lini tengah sebagai penyeimbangnya.

Full-back dituntut aktif dalam membangun serangan. Sementara perang double pivot lebih kompleks lagi: Ya jadi jangkar, mengover halfspace, jadi distributor bola pula.

Lantas, siapa yang layak mendapatkan kredit atas performa ciamik Tottenham sejauh ini?

Pierre-Emile Hojbjerg

Oke, kami mengerti kalau Pierre-Emile Hojbjerg 'cuma' mantan pemain Southampton. Pernah berseragam Bayern Muenchen juga, tetapi, ya, kontribusinya minim. Selama tiga musim, cuma 25 kali Hojbjerg tampil buat Die Roten

Namun, siapa yang menyangka justru Hojbjerg-lah rekrutan terbaik Mourinho musim ini? Ya, melebihi Gareth Bale itu sendiri. Eks striker Tottenham, Dmitar Berbatov, bahkan menyebut Hojbjerg sebagai gelandang ideal Mourinho, pemain yang Mourinho banget-lah.

"Mourinho tahu siapa yang dia butuhkan saat terjun ke lantai transfer. Akhirnya dia mendapatkannya dalam diri Hojbjerg," kata Berbatov kepada Betfair.

Well, transfer Hojbjerg bukan kebetulan. Mourinho memang sudah mengincar Hojbjerg sejak musim lalu. Badan kekar, jago duel, dan oke dalam mendistribusikan bola jadi daya tariknya.

Bukan rahasia lagi kalau Mourinho butuh gelandang dengan karakteristik semacam itu. Ada Marouane Fellaini semasa melatih Manchester United. Lalu Nemanja Matic sewaktu di Chelsea, Xabi Alonso di Real Madrid, dan Esteban Combiasso di Inter.

Hojbjerg jadi palugada (apa lu butuh gue ada) Mourinho: Jadi peredam serangan, pelindung back-four, sekaligus pengalir bola.

The Spurs Express menyebut 75% dari gol Tottenham lahir dari aksi tekel, Intersep, dan umpan langsung Hojbjerg. Tak sampai di situ, Hojbjerg menjadi pemain Tottenham yang paling sering memegang bola, yaitu sebanyak 809 kali. Ini membuktikan bahwa ia bukan sekadar tukang jagal biasa.


Alan Shearer bahkan mengakui Hojbjerg sebagai unsung hero di kemenangan Tottenham atas City. Pernyataan legenda Timnas Inggris itu ada benarnya. Pekan lalu Hojbjerg jadi batu kripton buat juego de position Pep Guardiola.

Kejeliannya dalam menutup half space sukses membuat City kelimpungan. Bukan hanya menutup sayap-sayap City, tetapi juga mematikan ruang gerak Kevin De Bruyne, sang kreator serangan utama mereka.

Sergio Reguilon

Keresahan Tottenham di sektor full-back kiri sudah muncul sejak musim lalu. Gimana enggak, di antara Ben Davies, Danny Rose, dan Ryan Sesegnon, tak ada satu pun yang ampuh dalam mengakomodasi serangan. Ketiganya nihil gol dan assist di Premier League musim lalu.

Makanya Tottenham berani merogoh 25 juta poundsterling buat menebus Sergio Reguilon dari Real Madrid. Dua gol dan 4 assist bersama Sevilla musim lalu adalah alasannya.

Langkah itu jitu. Reguilon cepat beradaptasi dan nyetel dengan pakem Mourinho. Dua assist jadi buktinya. Dia bahkan masuk di 3 besar pemain Tottenham dengan rata-rata umpan kunci terbanyak.

Kontribusi ini penting mengingat Tottenham tak punya gelandang kreatif untuk saat ini, apalagi saat berhadapan dengan lawan yang menerapkan garis pertahanan rendah. Contohnya, ya, saat bersua Brighton and Hove Albion.

Di situ Reguilon mampu jadi penawar atas ketiadaan gelandang kreatif Tottenham. Gol kemenangan yang dibuat Bale lahir melalui manuvernya dari sisi kiri.

Sebaliknya, Reguilon juga tampil ciamik saat Mourinho memainkan taktik defensif. Lihat saja performa ciamiknya saat Tottenham melibas Manchester City 2-0 pekan lalu.

Reguilon yang diutus menjaga kedalaman, sukses meredam kreativitas Riyad Mahrez. Padahal, sisi tepi bisa dibilang merupakan jalur serangan utama City. FYI, persentase serangan The Citizens dari area sentral cuma mencapai 29%.

Tak sulit mengatakan bahwa Reguilon salah satu penyebab City gagal membobol gawang Tottenham. Menurut Whoscored, pemain 23 tahun itu telah mencatat 4 blok--tertinggi bersama Eric Dier dan Toby Alderweireld.

Masih tak percaya? Tanya saja kepada Mourinho mengapa dia rela mentraktir Reguilon daging ham senilai 500 poundsterling usai pertandingan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.