Siapa Mau Jadi Mezzala?

Ilustrasi: Arif Utama

Sepak bola modern menuntut keseimbangan. Taktik berkembang menjadi sistem kompleks yang tidak bisa menoleransi celah. Itulah sebabnya, mezzala tak mati.

Nicolo Barella tidak perlu mencetak gol untuk membuat seantero Kota Milan mengarahkan wajah kepadanya. Ia tidak perlu menjadi Lautaro Martinez, apalagi Romelu Lukaku. Ia hanya perlu menjadi seorang mezzala.

Kemenangan 3-0 atas AC Milan pada Februari 2021 adalah kegembiraan yang dirayakan sejadi-jadinya oleh Inter Milan. Mereka menang telak di Derby della Madonnina. Terlebih, Milan yang sekarang sudah mulai ditakuti lagi.

Barella tidak mencetak satu gol dan assist pun di sepanjang pertandingan tersebut. Ketiga gol Inter dicetak oleh Lukaku dan Martinez, sedangkan assist dibukukan oleh Ivan Perisic dan Lukaku. Meski demikian, kemenangan tersebut juga ditopang oleh permainan gemilang Barella.

Barella bermain di posisi yang cukup abu-abu, yaitu di sisi kanan lini tengah. Di sana ia membantu Inter mendominasi sisi sayap tersebut dan tak jarang masuk ke lini pertahanan lawan dari kiri.

Antonio Conte tetap menginstruksikan pasukannya untuk berlaga dalam formasi 3-5-2. Christian Eriksen bermain dalam di sisi kiri sebagai gelandang tengah. Berdampingan dengan Barella yang mengambil posisi lebih maju di kanan, mereka mengapit Marcelo Brozovic.

Dengan berperan sebagai mezzala yang ditempatkan di posisi seperti itu, Barella bergerak bebas di lini tengah dan mengeksploitasi channel antara full-back dan bek tengah. Formasi empat bek yang sering digunakan membuat Milan cukup gagap menutup ruang antara full-back dan bek tengah. 

Dalam terjemahan harfiahnya, mezzala berarti half winger. Artinya, kombinasi gelandang dan pemain sayap. Jika suatu waktu menemukan sebutan interno, ingat saja bahwa itu adalah nama lain mezzala.

Laga Timnas Italia melawan Timnas Jerman Barat pada Piala Dunia 1970 barangkali menjadi pertama kalinya dunia sepak bola menyadari keberadaan seorang mezzala modern. Pertandingan itu adalah sebenar-benarnya kejutan. Meski 1-1 pada waktu normal, tubian gol justru datang dari kedua kubu pada babak tambahan. Pada akhirnya Italia menang 4-3. Namun, duel ini lebih dari sekadar kemenangan Azzurri.

Gianni Rivera mempertontonkan performa yang hingga kini bisa saja menjadi salah satu ingatan terbaik bagi mereka yang menonton pertandingan tersebut. Dua umpan panjangnya berakhir dengan gol Tarcisio Burgnich dan Luigi Riva.

Rivera pun mencetak gol penentu kemenangan Italia di duel tersebut. Berlari dari lini kedua, Rivera mencari ruang dalam kotak penalti Jerman dan mengonversi umpan Roberto Boninsegna menjadi gol lewat sepakan mendatarnya.

Rivera adalah anomali pada masanya. Ini bukan hanya karena ia dikenal sebagai gelandang dengan produktivitas gol tinggi, tetapi juga tentang apa yang membuatnya bisa menjadi begitu. 

Biasanya, para gelandang kreatif sepertinya adalah para pemain cepat. Sepintas Rivera tampak bermasalah dengan kecepatan. Itu belum ditambah dengan posturnya yang ringkih sehingga terlihat mudah dibekuk lawan. 

Akan tetapi, kualitas Rivera yang tidak dimiliki para pemain pada era itu adalah kematangan visi. Keunggulan itu membuat Rivera jadi pemain yang efektif di antara lini tengah dan depan alias halfspace.

Rivera mungkin terlihat sering berlama-lama menahan bola. Namun, manuvernya seperti itu berfungsi untuk memecah tekanan lawan dan mempersilakan kawan-kawannya untuk mengambil langkah.

Penggunaan mezzala dipercaya sudah mulai tampak jauh sebelum Piala Dunia 1970 berlangsung di Meksiko. Kira-kira empat dekade sebelumnya, penggunaan istilah mezzala sudah mulai didengar. 

Di era itu, taktik sepak bola masih begitu sederhana, orang-orang mengenalnya dengan istilah sistem WM dan Italia hanya memiliki dua peran gelandang: Intermedio dan mezzala. Jika intermedio adalah gelandang yang dekat dengan pertahanan, mezzala adalah gelandang yang dekat dengan penyerangan.

Taktik sepak bola, termasuk Italia, berkembang. Apa boleh buat, mezzala pun demikian. Kekalahan Inter dari Celtic pada final European Cup 1967 dipercaya sebagai tanda kejatuhan catenaccio atau sistem pertahanan gerendel ala Italia.

Meski demikian, bukan berarti taktik itu didiamkan begitu saja. Catenaccio bermutasi menjadi taktik baru yang dikenal dengan sebutan zona mista. Sistem ini mulai populer pada paruh kedua era 1970-an.

Adalah Luigi Radice, pelatih Torino, yang disebut-sebut memopulerkan taktik itu pertama kali di Italia. Zona mista dapat diartikan sebagai sistem pertahanan ketat ala catenaccio, tetapi menggunakan sistem penjagaan area atau zonal marking.

Dari situ, taktik sepak bola Italia mulai mengejar keseimbangan. Untuk mewujudkan tujuan itu pula, banyak tim yang bermain dengan sistem 4-3-3 dan 3-5-2.

Para mezzala di era itu tidak memiliki kewajiban untuk bertahan karena bagaimanapun, fondasi utamanya masih catenaccio. Yang menjadi unsur penyeimbang adalah serangan. Karena itu, fungsi utama mereka adalah memastikan serangan tidak kandas.

Kualitas utama yang mesti dimiliki para mezzala pada era zona mista adalah pemosisian diri. Jangan lupa bahwa catenaccio membuat hampir setiap tim bermain begitu rapat, terlebih ketika lawan sedang menguasai bola.

Itulah sebabnya tidak semua pemain cocok untuk menjadi mezzala. Selain Rivera, mezzala yang terkenal di era itu adalah Sandro Mazzola yang bermain untuk Inter dan Renato Zaccarelli, sang legenda Torino. Tadinya Claudio Sala-lah yang mengemban peran itu di Torino. Akan tetapi, ruang gerak mezzala yang cenderung terbatas pada halfspace justru mematikan potensi Sala.

Radice lalu mengubah peran Sala menjadi penyerang sayap murni dan menunjuk Zaccarelli sebagai mezzala. Keputusan itu tepat, Torino pun merengkuh scudetto pada 1975/76.

Karena taktik berkembang, peran mezzala pun mengikuti. Pada umumnya di era modern fondasi taktik atau pola permainan adalah penyerangan. Maka dari itu, fungsi penyeimbang berubah, tidak melulu penyerangan, tetapi juga pertahanan.

Kalau kalian menyukai gim Football Manager, kemungkinan besar mengenal bahwa mezzala dibagi dalam dua tipe besar: Penyerang (attack) dan penyeimbang (support).

Jika menugaskan seorang mezzala untuk attack, kalian akan sering menemukannya bermain sebagai lini kedua dalam sistem penyerangan. Ia bisa diandalkan untuk menyambar bola muntahan sebagai alternatif serangan balik. Pilihan lainnya, ia dipersilakan membawa bola ke depan gawang lawan dengan dribble atau tembakan.

Jika seorang mezzala ditugaskan sebagai support, kalian bakal lebih sering melihatnya bermain sebagai seorang team player. Dalam sistem yang kalian bangun, ia bertugas menyeimbangkan penyerangan dan pertahanan dengan performanya di area halfspace. Sesekali kamu akan menyadari bahwa ia melepas umpan berbahaya ke area pertahanan lawan.

Mana tugas yang harus diberikan, semuanya bergantung pada sistem yang digunakan tim dan lawan. Jika kembali pada laga Inter melawan Milan tadi, Barella bertugas sebagai mezzala yang mengemban tugas support.

Sepak bola modern hampir tak terpisahkan dari playmaker. Jika disederhanakan, playmaker bertugas sebagai penggagas atau kreator serangan. Mezzala bertugas sebagai penerima umpan. Di sini ia tidak berfungsi untuk menjadi kreator serangan utama atau pencetak assist, tetapi menjadi pencipta umpan kunci dan memecahkan tekanan kuat lawan.

Selain Barella, Kevin de Bruyne di Manchester City bisa disebut--atau setidaknya mendekati--mezzala. Pun demikian dengan Paul Pogba kala masih membela Juventus. Jika Arturo Vidal fokus jadi gelandang yang membantu pertahanan dan Andrea Pirlo berperan sebagai regista, Pogba bertanggung jawab untuk membantu serangan.

Sergej Milinkovic-Savic di Lazio dapat diperhitungkan sebagai mezzala karena ia cenderung berlari ‘belakangan’ ke kotak dan cerdas saat beroperasi di halfspace. Milinkovic-Savic terkadang juga bermain di sisi sayap, tetapi bukan tak mungkin ia merangsek ke tengah untuk bertarung di duel udara.

Penggawa Napoli, Piotr Zieliński, juga sah-sah saja disebut sebagai mezzala. Lebih sering bermain di sisi kiri, ia tak segan maju ke depan untuk menopang serangan. Zielinski layak diandalkan untuk memastikan bola tetap mengalir di area lebar dan bisa merangsek ke depan sewaktu-waktu.

Mezzala adalah peran yang rumit karena sifatnya yang samar. Salah sedikit, bukan tidak mungkin jadi tumpang tindih. Meski demikian, sepak bola modern menuntut keseimbangan. Taktik berkembang menjadi sistem kompleks yang tidak bisa menoleransi celah. Itulah sebabnya, mezzala tak mati.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.