Siasat Agar Tottenham Tak Lagi Karam

Foto: Twitter @SpursOfficial.

Tottenham kembali meraih hasil yang tidak maksimal di Premier League. Lantas, apa yang harus dilakukan Antonio Conte?

Ada kegirangan dari pendukung Tottenham Hotspur usai manajemen menunjuk Antonio Conte sebagai manajer. Asa untuk melihat Tottenham mengakhiri paceklik gelar membuncah.

Conte, yang punya CV impresif sebagai pelatih, ditunjuk sebagai manajer pada awal November 2021. Pria asal Italia itu menggantikan posisi Nuno Espirito Santo yang memiliki rapor merah bersama The Lilywhites pada awal musim 2021/22.

Banyak faktor yang membuat pendukung Tottenham yakin dengan kedatangan Conte. Salah satunya adalah raihan cemerlangnya di tim-tim yang ia latih.

Teranyar, bersama Inter, Conte berhasil meraih Scudetto 2020/21 dengan memutus rekor sembilan musim berturut-turut Juventus. Pada musim 2019/20, Conte juga membawa La Beneamata menembus babak final Liga Europa sebelum takluk di tangan Sevilla.

Conte juga pernah meraih kesuksesan dengan Juventus. Mulai menangani klub hitam-putih itu pada tahun 2011/12, Conte langsung meraih gelar Scudetto. Total, Conte memberikan lima gelar untuk Juventus dengan rincian tiga Scudetto dan dua Piala Super Italia.

Di Premier League, Conte juga punya torehan apik. Pada musim 2016/17, ia langsung membawa Chelsea meraih juara Premier League. Setahun berselang, giliran Piala FA yang ia berikan untuk klub London Barat tersebut.

Sederet catatan tersebut membuat Conte digadang-gadang akan mengubah wajah Tottenham. Sayang, Conte tak bisa membawa kebahagaiaan dan senyum kepada manajemen dan pendukung Tottenham secara instan.

Start Conte tidaklah mulus. Usai imbang dengan Everton, Tottenham juga menelan kekalahan dari NS Mura di UEFA Conference League. Paling baru, Tottenham di bawah Conte tumbang tiga kali secara beruntun di Premier League.

Lalu, apa masalah Tottenham yang harus segera diperbaiki Conte?

Skuad yang Tak Punya Mental Pemenang

Skuad Tottenham yang ada saat ini dirasa sangat cocok untuk mengusung gaya Conte yang direct dan acap memaksimalkan serangan balik. Apalagi, Tottenham diisi beberapa pemain cepat semisal Son Heung-min, Lucas Moura, hingga Steven Bergwijn.

Jangan lupa, The Lilywhites juga memiliki Harry Kane yang piawai melindungi dan mendistribusikan bola. Dua atribut tersebut cocok digunakan saat melakukan serangan balik. Manakala Keane menahan bola, para pemain lain bisa mencari ruang—untuk kemudian Keane kirimkan bola kepada mereka.

Namun, Tottenham memiliki kendala dalam skuadnya. Bukan soal teknik di atas lapangan, melainkan soal mentalitas bertanding.

"Pada saat ini, level Tottenham tidaklah tinggi. Saya senang berada di sini, tetapi kami harus bekerja lebih keras untuk bisa memperbaiki kualitas skuad. Kami Tottenham memiliki gap yang sangat lebar dengan tim-tim top," ucap Conte usai Tottenham tumbang dari Mura.

Faktor mental juga yang membikin Tottenham menjadi tak konsisten. Tottenham bermain sangat apik melawan Liverpool pada gameweek 18 Premier League. Mereka menahan The Reds 2-2 usai tertinggal dengan skor 1-2. Selain itu, klub asal London Utara tersebut juga bisa dengan dramatisnya melakukan comeback pada menit-menit akhir dan memenangi pertarungan dengan Leicester City.

Namun, di sisi lain, mereka juga bisa kebobolan pada menit-menit akhir dan takluk di tangan lawan. Contohnya adalah pada pertandingan melawan Southampton (9/2/2022). Pada laga tersebut, Tottenham unggul 2-1 terlebih dahulu, tetapi akhirya kalah 2-3 karena kebobolan gol pada menit ke-80 dan 82.

Inkonsistensi ini adalah wujud dari bagaimana The Lilywhites belum bisa mempertahankan ritme permainan dan mengontrol pertandingan selama 90 menit penuh. Ada faktor soal eksekusi taktik, tentu saja, tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana para pemain mereka kehilangan fokus pada saat-saat tertentu. Seperti kata Conte, ada urusan mental bermain di sini.

Conte Belum Temukan Wingback Idaman

Dalam formasi 3-4-3 atau 3-5-2 yang biasa Conte terapkan, wingback memegang peranan yang cukup penting. Biasanya, wingback yang dimainkan Conte tampil agresif dan menjadi salah satu tumpuan serangan atau opsi tambahan di kotak penalti lawan.

Bersama Inter, misalnya, Conte memiliki Achraf Hakimi, Ivan Perisic, Matteo Darmian, hingga Danilo D'Ambrosio yang biasa dimainkan di posisi tersebut. Total, keempatnya bisa melesakkan 17 gol di Serie A.

Bahkan, Hakimi sempat menjadi top skorer ketiga Inter bersama Alexis Sanchez via kemasan tujuh gol. Di bawah mereka ada Ivan Perisic yang biasa main di wingback kiri dengan torehan empat gol.

Ketika menukangi Chelsea, Conte juga punya Victor Moses dan Marcos Alonso yang aktif di sisi lapangan. Keduanya tak cuma bisa menginisiasi serangan, tetapi juga bisa menjadi pemecah kebuntuan untuk Chelsea.

Nah, bersama Tottenham, Conte belum menemukan wingback yang sesuai dengan gaya bermainnya. Emerson Royal yang biasa dimainkan di sisi kanan tak begitu agresif.

Cuma ada rata-rata satu umpan kunci yang dihasilkan pemain Brasil itu di Premier League sejauh ini. Royal juga cuma mencatat 0,6 umpan silang per pertandingan. Selain itu, gol pun belum dibuat oleh Royal, sementara catatan asisnya baru sebiji.

Selain Royal, Tottenham punya Matt Doherty yang bisa main di wingback kanan. Namun, Doherty tak mendapat tempat utama di bawah Conte. Pemain asal Irlandia itu baru sekali tampil penuh.

Persoalan agresivitas juga terjadi di sisi kiri. Sergio Reguilon yang biasa dimainkan belum bisa beradaptasi dengan gaya main Conte.

Pemain asal Spanyol terlihat kesulitan saat mendapat tekanan dari lawan. Pertandingan melawan Southampton menjadi contohnya. Dua gol terakhir yang dibuat The Saints berawal dari umpan silang di sisi kiri, pos yang menjadi wilayah penjagaan Reguilon.

Pertahanan Belum Kokoh

Salah satu kehebatan Conte lainnya adalah membuat tim yang ia tangani sulit ditembus lawan. Dengan cara bertahan yang rapat dan agresif sejak lini depan, lawan jadi sulit untuk menyerang dan mengembangkan permainan.

Namun, Conte sejauh ini belum bisa menularkan cara bertahan seperti itu kepada Tottenham. Mereka sudah menerima rata-rata 13,3 shots per game-nya di Premier League. Intensitas pressing Tottenham juga tak begitu tinggi. Rata-ratanya 147,9 per laga dengan intensitas mencapai 41,9.

Tiga bek sejajar yang Conte mainkan juga kerap membuat kesalahan yang menguntungkan lawan. Mereka acap membuat kesalahan individu. Selain itu, cara mereka memposisikan diri menghadapi tekanan lawan juga masih buruk.

Gol Raul Jimenez akhir pekan lalu menjadi contohnya. Di situ, banyak pemain Tottenham yang berada di dalam kotak penalti, tetapi membiarkan Jimenez mengeksekusi bola.

***

Baru-baru ini Conte kembali mengutarakan masalahnya di Tottenham. Pria kelahiran Bari itu kecewa dengan aktivitas transfer klub.

"Apa yang terjadi di bursa transfer Januari tidaklah mudah. Kami kehilangan empat pemain penting dan kami hanya mendatangkan dua pemain. Bukannya kami memperkuat skuad, malah justru melemahkannya," ucap Conte dalam wawancaranya dengan Sky Sport sItalia.

Bisa jadi, melihat situasi yang ia hadapi saat ini, Conte tengah melakoni salah satu pekerjaan terberatnya sebagai pelatih.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.