Sirat AC Milan

Selebrasi pemain AC Milan. Foto: @acmilan

Milan memang berhasil mengudeta puncak klasemen Serie A dari Napoli, tetapi mereka masih punya celah yang bisa mengikis kans duduk di singgasana Italia.

AC Milan begitu bergairah mengarungi musim 2021/22. Serangan mereka meledak-ledak. Cara bertahan mereka sangat agresif. Keberhasilan mengudeta puncak klasemen Serie A dari Napoli pada pekan ke-16 mengonfirmasi, mereka berada di barisan terdepan perburuan scudetto.

Salah satu perwujudan ketajaman Milan musim ini adalah fluiditas mereka dalam mencetak gol. Ada 14 pemain yang berhasil mencetak gol di Serie A. Apabila dikalkulasi, Milan sudah merangkum 35 lesakan atau tertinggi kedua bersama Atalanta setelah Inter Milan (39 gol).

Milan versi Stefano Pioli adalah Milan yang mengedepankan bola-bola pendek dengan cepat secara vertikal dalam format 4-2-3-1. Tiga pemain secondline mendapat kebebasan bergerak saat fase ofensif. Kebebasan itu berdampak pada serangan Milan yang amat cair.

Kita acap melihat Brahim Diaz berada di sisi kanan atau kiri. Begitu juga Rafael Leao dan Alexis Saelemaekers yang kerap bertukar pos. Jika Pioli memainkan Ante Rebic sebagai penyerang tengah, opsi mengakhiri serangan semakin melimpah.

Pada fase ofensif, Pioli melibatkan banyak pemain. Selain dua gelandang tengah, bek kiri mereka, Theo Hernandez, rajin memperkuat daya ledak Milan dengan menyisir tepi, mengirim umpan silang, dan masuk ke dalam kotak penalti.

Semakin paripurna karena Milan punya striker ganas: Zlatan Ibrahimovic dan Olivier Giroud. Kedua pemain itu sudah merangkum 10 gol sejauh ini. Rinciannya, Ibrahimovic 6 gol dan Giroud sisanya. Ketajaman mereka seperti membuktikan bahwa usia bukan ganjalan melesakkan bola ke gawang lawan.

Keterlibatan banyak pemain dalam fase ofensif mendorong Milan menerapkan pressing tinggi saat kehilangan bola. Mereka akan memburu pemain lawan yang menguasai bola untuk meredam counter attack sedini mungkin.

Itu terlihat dari PPDA atau passes per defensive action. The Analyst mencatat, PPDA Milan sejauh ini berada di angka 9,7 atau terendah kedua di antara kontestan Serie A musim ini.

PPDA merupakan statistik yang bisa mengukur intensitas pressing sebuah tim. PPDA biasanya menghitung umpan yang terjadi di area pertahanan lawan saja. Sebab, pressing yang intens sudah dilakukan sejak area pertahanan lawan. Semakin dikit angka PPDA berarti semakin intens pula pressing yang dilakukan klub.

Gaya bermain seperti itu membuat fan Milan harus mengenakan baju hangat berlapis-lapis setiap melihat klasemen Serie A meski di luar sana terik. Sebab, embusan angin di puncak sangat kencang. Dingin, bung!

Namun, Milan punya celah. Celah itu tidak begitu besar, tetapi bisa menjatuhkan mereka. Celah itu tidak terlihat dalam dua laga terakhir karena nihil kebobolan, tetapi berpotensi mengikis kans mereka duduk di singgasana Italia. Dan celah itu bertajuk kedalaman skuat bek tengah.

Memermanenkan Fikayo Tomori di awal musim merupakan langkah yang tepat. Atribut Tomori yang membuatnya penting di lini belakang Milan adalah kecepatan recovery. Atribut tersebut sangat diperlukan untuk meredam serangan balik sekaligus mengoreksi kesalahan rekannya yang bisa saja membahayakan gawang sendiri.

Laga Milan vs Liverpool pada matchday pertama Grup B Liga Champions memperlihatkan betapa cekatannya seorang Tomori mengover kegagalan rekannya mengadang pemain lawan.

Ketika laga memasuki menit ke-12, misalnya, Mohammed Salah berhasil mengelabui Hernandez dan langsung menembak bola. Tomori yang tertinggal beberapa langsung berlari cepat dan melancarkan tekel. Bola yang sudah siap meluncur ke gawang Milan pun berbelok arah setelah mengenai kaki Tomori.

Tomori bukan tanpa cela. Setidaknya ada dua hal yang menjadi kelemahannya. Pertama adalah kemampuan duel udara. Cela yang kedua merupakan buah dari agresivitas Tomori. Pergerakannya untuk menempel ketat striker lawan hingga tengah lapangan menghadirkan lubang di lini pertahanan.

Beruntung bagi Milan, mereka mempunyai bek tengah sarat pengalaman macam Simon Kjaer dan Alessio Romagnoli. Dua pemain itu punya ketenangan dan jago berduel udara. Atribut yang pas untuk menutup minus Tomori. Maka, duet Tomori-Kjaer ataupun Tomori-Romagnoli membuat pertahanan Milan baik-baik saja.

Namun, Tomori bukan pemain bertulang besi dan berotot kawat. Intensitas duel yang cukup tinggi sewaktu-waktu bisa membuatnya berkawan cedera. Hal yang tidak diinginkan itu pun terjadi pada 20 November 2021, saat Tomori dikonfirmasi mengalami cedera pangkal paha.

Cedera tersebut memaksa Tomori absen saat Milan melawan Fiorentina, Atletico Madrid, dan Sassuolo. Untuk menyiasati absennya Tomori, Pioli melakukan sejumlah eksperimen di lini belakang Milan. Namun, hasilnya tidak memuaskan.

Ketika melawan Fiorentina, Pioli memasang Matteo Gabbia dengan Kjaer. Keputusan itu bisa disebut gagal total. Milan untuk kali pertama di musim 2021/22 kebobolan empat gol dalam satu laga.

Jika melihat proses gol ketiga Fiorentina, Milan benar-benar membutuhkan bek tengah yang jago beradu sprint. Ya, saat laga berusia 60 menit, Gabbia kalah adu lari dari Dusan Vlahovic. Kondisi itu ironis karena Gabbia sudah unggul beberapa langkah.

Gagal dengan duet Kjaer-Gabbia, Pioli memainkan Kjaer-Romagnoli saat melawan Atletico. Duet tersebut tergolong kokoh. Selain nihil kebobolan, pertahanan Milan mampu menutup ruang tembak Atletico.

Keberhasilan tersebut tentu menjadi salah satu alasan Pioli kembali menduetkan Kjaer-Romagnoli ketika menjamu Sassuolo. Namun, duet Kjaer-Romagnoli tidak setangguh laga sebelumnya. Mereka berdua kalang kabut meredam kecepatan penyerang-penyerang cepat Sassuolo macam Domenico Berardi.

Semakin pelik karena pada laga itu, Romagnoli mendapat kartu merah, sedangkan Kjaer mencetak gol bunuh diri. Milan pun keok 1-3 di Stadion San Siro.

Situasi berbalik drastis ketika Tomori kembali merumput manakala berjumpa Genoa dan Salernitana. Kita boleh menyebut dua lawan itu beda kelas dengan Fiorentina dan Sassuolo, tetapi catatan clean sheet dua laga berturut-turut bisa jadi penanda ketergantungan Milan akan sosok Tomori.

Jika melihat sirat tersebut, Milan membutuhkan kedalaman skuat untuk pos bek tengah, terlebih Kjaer dikabarkan akan menepi selama enam bulan setelah menjalani operasi pada lutut ligamennya. Hanya mengandalkan Tomori, Romagnoli, dan Gabbia, sangat berisiko bagi Milan, padahal kedalaman skuad sangat krusial.

Setidaknya, ada dua nama yang menjadi incaran Milan di bursa transfer musim dingin nanti, yakni Nikola Milenkovic dan Luiz Felipe. Siapa pun bek tengah yang nantinya merapat ke Milan, ia tidak hanya diharapkan menambah kedalaman skuat, tetapi juga mampu menggantikan peran Tomori jika si pemain sewaktu-waktu cedera.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.