Soal Hugo Ekitike dan Harganya yang Mahal

Foto: Twitter Hugo Ekitike

Ekitike dibeli dengan harga mahal untuk Liverpool dan artikel ini akan menjelaskan mengapa ia belum layak ditebus dengan uang sebanyak itu.

Saya ingin mulai dengan tiga poin.

Pertama, saya merasa bahwa Hugo Ekitike dan Liverpool cocok. Ekitike punya atribut yang bisa berguna dengan baik di Liverpool, dan Liverpool punya hal-hal yang dibutuhkan Ekitike untuk berkembang sebagai pemain.

Namun, ini juga menjadi poin kedua, saya merasa—berdasarkan apa yang saya lihat (angka, data, pertandingan) dan analisis—bahwa Ekitike bukan pemain yang memiliki harga €95 juta. Atau, ia belum ada di angka itu. Dan Liverpool, tentu, overpaying untuknya.

Ketiga, saya merasa banyak thread soal Ekitike di media sosial terlalu hiperbola. Ekitike potensial, tentu saya setuju. Dia punya beberapa nilai plus sebagai seorang striker, saya juga lihat dengan mata kepala sendiri. Statistik atau data soalnya menjanjikan, saya paham. Akan tetapi, ada beberapa catatan, dari menonton pertandingannya selama dua musim terakhir, yang membuat ada poin kedua tadi.

Dan ini penjelasan untuk itu semua.

Liverpool ada pada situasi bahwa mereka butuh pemain depan baru. Kabar soal Luis Diaz ke Bayern München dan Darwin Nunez akan pergi terus berembus. Kepulangan (RIP, forever Reds) Diogo Jota juga membuat satu spot di lini depan lowong.

Bila situasi masih sama sebagaimana musim lalu berjalan dan berakhir, Michael Edwards dan Richard Hughes mungkin tak akan menginjak pedal gas dalam-dalam untuk mendatangkan pemain depan (terutama yang mahal), terkhusus seorang penyerang tengah.

Namun, Liverpool butuh. Kemudian muncullah nama Alexander Isak dan Ekitike sebagai kandidat terkuat, sampai akhirnya nama kedua yang dipilih. Tanya kenapa, ada beberapa hal yang menjadi alasan selain tentunya fakta bahwa Newcastle United tak ingin Isak pergi.

Musim lalu, di empat liga top Eropa, tak ada pemain U-23 yang mencetak gol lebih banyak dari Ekitike. Tambahkan Ligue 1, maka hanya ada dua pemain. Mendatangkan pemain yang memiliki pengalaman untuk mencetak banyak gol di usia muda jelas nilai plus.

Dan perlu dicatat juga bahwa musim lalu Ekitike diekspektasikan mencetak gol lebih banyak dari 15 gol yang ia catatkan. Opta mencatat bahwa ia seharusnya bisa memiliki 6.6 gol lebih banyak, sedangkan data Wyscout mengekspektasikan Ekitike mencetak 6.09 gol lebih banyak.

Well, underperformed xG seperti kasus Ekitike ini memang bisa menunjukkan bahwa sang pemain punya masalah soal finishing (yang akan saya jelaskan nanti). Namun, ini xG yang tinggi juga memberikan sinyal bahwa Ekitike, secara konsisten, memiliki pemahaman kapan dan di mana ia harus menembak.

Tentu memang belum sempurna, tapi apa yang ia catatkan musim lalu menunjukkan sinyal positif—dan tim rekrutmen sebuah klub biasanya memang menyukai sinyal seperti ini, terutama dari para pemain muda.

Kemudian, perlu dicatat bahwa Liverpool harus mengganti volume tembakan yang musim lalu dicatatkan oleh Jota dan Diaz. Kedua pemain itu memiliki rerata jumlah tembakan 3.11 dan 2.39 per 90. Ini adalah volume yang tinggi dan harus Liverpool “ganti“ musim depan—terutama buat Jota yang memiliki rerata lebih dari tiga tembakan.

Dan musim lalu, Ekitike merupakan salah satu pemain di Bundesliga dengan catatan tembakan terbanyak per 90 menit, dengan angka 3.68. Eks pemain PSG ini punya kepercayaan diri dan desire untuk melepaskan banyak tembakan, dan Liverpool butuh itu.

Melihat peta tembakannya pun, terlihat bahwa Ekitike adalah pemain yang fleksibel. Dalam arti, ia mampu melepaskan tembakan setelah menerima umpan dari rekannya (terutama umpan terobosan) atau ia bisa mengkreasikan tembakan itu sendiri via dribel atau giringan bola, misalnya.

Peta Tembakan Ekitike. Sumber: StatsBomb via The Transfer Flow

Bila melihat data StatsBomb pun, terlihat bahwa Ekitike mendapatkan xG yang lebih tinggi dari umpan terobosan dan dribel ketimbang dari bola mati atau umpan silang. Dan poin pertama, dari umpan terobosan itu, juga menunjukkan bahwa Ekitike mau, tidak malas, dan paham harus berlari ke mana (terutama dalam membuat progressive run).

Menonton pertandingannya pun, terlihat bahwa Ekitike adalah pemain yang tak malas dalam merespons serangan tim dengan terus berlari ke depan. Wyscout mencatat ia melakukan 3.02 progressive runs per 90 menit, catatan yang membuatnya ada dalam 20 besar di Bundesliga.

Silakan tonton ulang pertandingan vs Dortmund di mana Ekitike mampu mencetak gol setelah memutuskan untuk terus berlari ke arah kotak penalti usai turun agak ke tengah untuk menjadi tembok demi memperlancarkan serangan tim.

So, Ekitike adalah penyerang potensial yang berpengalaman mencetak dobel-digit gol, mampu konsisten menciptakan xG yang tinggi, fleksibel dalam konteks bisa menciptakan tembakan sendiri atau melalui umpan dari rekan setim, serta tak malas untuk membuat pergerakan-pergerakan (terutama progresif) tanpa bola.

Ia juga tidak malas untuk bergerak dalam hal melakukan pressing terhadap lawan. Opta mencatat musim lalu Ekitike menjadi pemain Frankfurt dengan rerata tertinggi dalam melakukan high-intensity pressure di sepertiga akhir pertahanan lawan. Menontonnya pun menunjukkan impresi yang sama, bahwa ia bukan striker yang malas saat timnya dalam kondisi tanpa bola.

Terdengar menjanjikan? Tentu. Dan nilai plusnya juga bukan cuma itu. Ekitike juga bisa menciptakan peluang untuk rekan-rekannya. Musim lalu ia mencatat enam assists (per Wyscout) dan 0.18 expected assists per 90 menit. Jelas bukan angka yang buruk untuk seorang striker.

Radar Ekitike. Sumber: StatsBomb via The Transfer Flow

Jika menonton seluruh assist-nya pun, bisa dilihat bahwa Ekitike mampu menciptakan peluang dengan berbagai cara: Umpan terobosan, umpan silang mendatar, cut-back, umpan setelah menempatkan diri dari tembok. Ada beberapa yang terlihat mudah, tapi ada pula yang menunjukkan bahwa momentumnya mengumpan tepat.

Well, sampai sini, jelas Ekitike terdengar sangat menjanjikan, bukan? Yap, saya setuju bila potensinya memang menjanjikan. Namun, ada hal-hal soal Ekitike yang harus dipahami lebih jauh.

Pertama, dan mungkin banyak yang tidak sadar, adalah fakta bahwa ia bermain di klub dengan taktik atau strategi yang unik. Tak seperti Liverpool, Frankfurt tak suka lama-lama memegang bola, tak terlalu mengindahkan pressing, dan sangat mengandalkan serangan direct atau counter dalam menciptakan peluang.

Sebabnya, dalam banyak kesempatan Ekitike biasanya lebih berhadapan dengan garis pertahanan tinggi ketimbang low-block. Ia terbiasa punya “taman bermain“ yang luas dan tak banyak tekanan. Dan ketika menghadapi situasi itu, saya melihatnya masih kesulitan.

Silakan tonton pertandingan vs St. Pauli di kandang Frankfurt untuk menyaksikan betapa kesulitannya Ekitike ketika menghadapi pertahanan yang cukup dalam dan rapat, serta menghadapi pemain-pemain belakang yang mampu menekannya di saat tepat serta tak mudah “terpancing“ terhadap pergerakannya.

Atau, ketika menghadapi tim yang memiliki pemain bertahan kelas satu, Ekitike juga masih terlihat kesulitan dalam memenangi duel-duel. Dalam laga tandang vs Bayern München ia hanya memenangkan 32% duel. Menghadapi Borussia Dortmund di kandang 17% dan dalam laga vs St. Pauli yang saya sebutkan di atas ia hanya memiliki persentase menang duel sebesar 27%.

Padahal, ketika menghadapi tim yang notabene tak lebih superior dalam aspek defensif seperti Holstein Kiel, Augsburg, atau Borussia Mönchengladbach, persentase duel sukses Ekitike bisa lebih dari 40%. Dan jelas pertahanan mayoritas tim-tim Premier League lebih mewah ketimbang tiga tim ini.

Menonton Ekitike dan menyaksikan duel-duelnya, terlihat bahwa Ekitike memiliki beberapa catatan: Ia masih terlalu lembek—banyak momen di mana ia terlihat kalah body, juga ia kesulitan jika harus membuat badannya bergerak dari kanan ke kiri, juga ketika ditekan saat dalam posisi membelakangi gawang.

Persentase duel ofensifnya secara keseluruhan musim lalu mencapai angka 31%. Bukan catatan buruk, tapi itu di bawah angka striker elite macam Harry Kane, dan bahkan di bawah eks rekan satu timnya Omar Marmoush.

Catatan itu didapat Ekitike saat menghadapi pemain-pemain belakang Bundesliga. Namun, ketika harus menghadapi pemain-pemain belakang mahal Premier League, situasinya bisa jadi lain. Ia harus membenahi beberapa hal untuk mampu menjadi striker yang lebih tangguh, dan jelas ia butuh waktu untuk itu.

Poin kedua adalah soal finishing. Ekitike memang mampu melepaskan banyak tembakan, juga punya momentum dan tempat mencetak gol yang cukup membuatnya atraktif sebagai seorang pemain depan. Namun, bisa menyaksikan tembakan-tembakannya musim lalu, Ekitike punya beberapa persoalan.

Penyelesaian akhirnya, jujur saja, masih buruk dalam beberapa kesempatan. Silakan tonton pertandingan tandang vs Mainz atau pertandingan kandang vs Holstein Kiel di mana ia terlihat punya masalah saat harus menyelesaikan tembakannya, bahkan di situasi 1 vs 1 menghadapi kiper.

Terkadang, Ekitike juga terlihat belum mampu mengontrol power tembakannya dengan baik. Acap terlalu kencang, acap terlalu pelan. Pertandingan kandang vs Stuttgart bisa menjadi contoh bagaimana power seharusnya bisa membuat ia mencetak gol atau membuat peluangnya menjadi lebih berbahaya.

Liverpool punya masalah yang sama dengan Darwin Nunez dan sudah dalam beberapa musim ia terlihat belum bisa memperbaiki aspek ini. Staf pelatih jelas harus memastikan bahwa Ekitike bisa menjadi berbeda dari Nunez soal bagaimana finishing bisa diperbaiki. Bila berhasil, Liverpool akan memiliki striker yang buas.

Poin berikutnya yang harus diperbaiki Ekitike adalah soal variasi link-up. Ya, link-up, hal yang terlihat sangat diapresiasi darinya bila membaca banyak analisis di internet sana. Bahkan ada yang membandingkan link-up-nya dengan Roberto Firmino (well, saya tertawa saat membaca ini).

Begini, bila melihat pertandingan-pertandingannya, sebenarnya mudah menyaksikan bahwa cara Ekitike dalam melakukan link-up terlihat monoton. Iya, dia memang striker yang cukup rajin untuk turun ke belakang. Namun, ini biasanya ditujukan untuk melakukan hal yang sama berulang-ulang: Turun ke belakang, menjadi target umpan seperti tembok, dan dengan segera melakukan umpan balik ke rekan terdekatnya.

Well, situasi ini memang bagus, sebab bila ia turun dan berhasil memancing satu pemain belakang untuk ikut dengannya, akan ada ruang tercipta yang bisa dieksploitasi oleh rekan-rekannya. Namun, ini juga mudah dibaca.

Pertandingan vs St. Pauli jadi contoh bagaimana Hauke Wahl, pemain belakang lawan, memutuskan untuk tak terlalu mengindahkan untuk menekan Ekitike rapat-rapat dan lebih fokus untuk kembali ke ruang dan menjaga organisasi pertahanan timnya. Hasilnya, Ekitike tak mampu berbuat banyak.

Secara general, Ekitike adalah pemain yang mampu melepaskan umpan satu sentuhan dengan cukup baik. Dan ini yang digunakan oleh Frankfurt musim lalu. Mereka berharap ketika Ekitike menjadi target, menerima bola, dan kemudian melepaskan umpan satu sentuhan ke rekan terdekat, tercipta chaos di pertahanan lawan, disorganisasi, yang akan Frankfurt manfaatkan lewat pergerakan tanpa bola dan kombinasi cepat.

Namun, situasi akan sulit buat mereka bila chaos atau disorganisasi di pertahanan lawan tidak tercipta. Dan inilah kenapa Ekitike lebih layak diapresiasi sebagai penyerang yang bagus menjadi “tembok“ ketimbang sebagai penyerang dengan link-up play mumpuni. Sebab ia tak turun untuk banyak melakukan kombinasi atau mengorganisasi arah serangan dan membuat timya tak terpaku kepada chaos.

Tentu saja, aspek ini masih bisa Liverpool asah. Ekitike bisa memperbaiki visi bermainnya untuk menjadi striker yang tak hanya mobile, tapi juga pintar untuk membaca keadaan dan lebih banyak berkontribusi dalam aspek permainan ketimbang hanya menjadi tembok.

Pengambilan keputusan juga menjadi hal yang harus diperbaiki. Terkadang saya merasa Ekitike harusnya bisa menembak, tapi ia memutuskan untuk mengumpan. Terkadang memutuskan untuk mengumpan bukanlah hal yang bijak dalam satu momen, tapi ia memutuskan untuk tetap memutuskannya.

Bila Liverpool juga bisa membantunya untuk memperbaiki ini, Ekitike bisa menjadi striker yang komplet dalam urusan produk akhir. Sebab, sinyal dan potensi memerlihatkan bahwa ia bisa menjadi pemain depan yang tak hanya mampu menyelesaikan peluang, tapi juga menciptakannya buat rekan.

Aspek-aspek inilah yang membuat adanya keraguan soal kelayakan Ekitike menjadi pemain €95 juta. Pendapat saya, ia belum ada di angka sana. Sebab, saya mengekspektasikan penyerang yang lebih komplet, yang pengambilan keputusannya lebih baik, dari Ekitike bila membeli dengan harga €95 juta. Bayern München membeli Harry Kane di harga yang mirip, btw.

Namun, saya paham bahwa Richard Hughes dan Michael Edwards mungkin tak hanya melihat Ekitike sebagai pemain yang menjanjikan, tapi juga sebagai aset yang potensial. Sebab, Ekitike masih 23 tahun dan ia dikontrak dengan durasi enam musim.

Sebab, bila ternyata Ekitike tak cocok di Liverpool, tak mampu berkembang seperti yang diharapkan, dan kemudian dalam dua tahun manajemen memutuskan untuk menjualnya dengan harga €60 juta, saya rasa itu masih menjadi pergerakan bisnis yang bagus.

Namun, masalah gaji memang patut disayangkan. Sebab, kabar menyebut Ekitike mendapat sekitar €14,9 juta per musim. Lantas, bila biaya transfernya (saya menghitung total €95 juta) diamortisasi plus dengan asumsi gaji sama selama enam tahun, tiap tahun Ekitike akan membuat Liverpool mengeluarkan uang sekitar €30,7 juta per tahun.

Ini akan menjadi batu sandungan, sebab hanya tim-tim kaya Premier League atau tim-tim macam Real Madrid, PSG, atau Bayern München yang bisa membayar gaji yang sebegitu besar (di luar Arab Saudi, tentunya). Pasar buat Ekitike akan mengecil dan menjualnya akan jadi kerja yang tak mudah.

Singkatnya, Liverpool melakukan perjudian (well, setiap transfer pun) besar dalam Ekitike di musim panas ini. Sebuah pergerakan yang saya tak saya duga akan terjadi musim panas ini, mengingat Liverpool tak biasanya menggelontorkan banyak uang untuk membeli pemain yang masih berstatus potensial di bawah Michael Edwards.

Akan tetapi, bisnis sepertinya agak berubah. Liverpool nampaknya mulai mempertimbangkan untuk membeli pemain muda dengan mahal, memberi mereka kontrak jangka panjang, dan melihat mereka juga sebagai aset yang bisa membuat klub tak rugi-rugi amat sebagai pembukuan. Luis Diaz baru saja menjadi contoh, dan mungkin Ekitike akan begitu.

Yang jelas, masih banyak PR dari Ekitike dan tim pelatih harus membantunya. Sebab, dari situ akan ditentukan apakah pembelian yang kemahalan ini akan membuahkan hasil atau tidak. Dan menurut saya Ekitike butuh waktu yang tak sebentar untuk mampu menyentuh level yang Liverpool inginkan (saya senang bila ternyata salah).