Sometimes Maybe Good, Sometimes Maybe Shit: Mendefinisikan Kepelatihan Gattuso

Ilustrasi: Arif Utama.

Entah kutukan apa yang menghinggapi Gennaro Gattuso begitu memutuskan gantung sepatu sebagai pemain. Ia selalu datang sebagai pelatih saat tim sedang hancur-hancuran.

Meski berpakaian sutra, monyet sirkus tetap monyet. Diego Maradona yang didukung oleh 14 pesepak bola--termasuk Eric Cantona--muntab pada pengujung 1994, lalu membentuk serikat pesepak bola internasional pada 18 September 1995.

Mereka muak karena tak pernah diikutsertakan dalam perkara strategis di ranah sepak bola. FIFA sebagai payung tertinggi sepak bola internasional tak pernah melibatkan mereka yang merupakan pekerja lapangan bola dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan olahraga ini.

Eduardo Galeano dalam 'Soccer in Sun and Shadow' mencatat nukilan tersebut. Jangankan mempertimbangkan sudut pandang para pemain, mempersilakan bersuara pun tidak. Itulah yang dilakukan birokrasi sepak bola internasional.

Untungnya, makin ke sini para pemain makin berani bersuara. Kabar baiknya, nilai kontrak mereka juga mulai melegakan. Klub juga lebih terbuka. Meski demikian, para penguasa industri sepak bola terus memperlakukan memperlakukan para pemain dan pelatih sebagai mesin yang sah-sah saja untuk dibeli, dijual, dan dipinjamkan.

Keberanian para pemain untuk bersuara membuat klub memutar otak. Klub-klub Eropa dan Amerika kini memiliki staf psikolog. Akan tetapi, orang-orang tersebut digaet bukan untuk mendengar jiwa-jiwa merana yang tersembunyi di belakang kemudi Porsche.

Segala macam pendekatan, terapi, pengobatan, dan pelukan yang diberikan kepada para pesepak bola tetap bermuara pada klub. Mereka butuh para pemain yang dapat menggiring klub pada kemenangan dan kejayaan. Tanpa dua hal itu, tak akan ada gelontoran duit. Pokoknya seluruh treatment tersebut pada akhirnya adalah pengingat supaya:

Aurelio de Laurentiis bukan remaja. Ia tahu persis apa-apa yang dihadapinya sebagai Presiden Napoli. Lawan-lawan timnya sudah pasti harus dikalahkan. Namun, ada yang lebih memusingkan daripada kedigdayaan Juventus dan aturan Financial Fair Play. Itu adalah kemelut di dalam timnya sendiri.

Entah di mana letak sumbunya pertama kali, yang jelas Napoli di kepemimpinan Carlo Ancelotti kacau. Tim memberontak pada Laurentiis yang menggagas pemusatan latihan. Tindakan itu acap diambil jika tim mengalami krisis. Singkat cerita, Ancelotti angkat kaki. Kepergiannya meninggalkan pertanyaan tak terjawab, mirip dengan yang terjadi pada epilog kepelatihan Maurizio Sarri.

Salah tunjuk orang sedikit saja, bukan tak mungkin protes seperti yang diprakarsai Maradona itu atau unjuk rasa lainnya terwujud di era kepemimpinan De Laurentiis. Toh, tanpa Maradona pun pemain-pemainnya mulai memberontak.

Karena itu ia membutuhkan orang yang bisa memegang para pemainnya tanpa menjadi diktator. Di Napoli sana, tak boleh ada dua diktator. Cuma De Laurentiis yang boleh menjadi diktator.

***

Entah kutukan apa yang menghinggapi Gennaro Gattuso begitu memutuskan gantung sepatu sebagai pemain. Ia selalu datang sebagai pelatih saat tim sedang hancur-hancuran. 

Lihat saja jalan ceritanya, mulai karier perdananya sebagai pelatih di FC Sion, kiprahnya di Italia bersama Palermo, perantauan keduanya di OFI Crete, percobaannya di Pisa, kepulangannya ke AC Milan, hingga keputusan untuk bergabung dengan Napoli menggantikan Ancelotti yang menjadi mentornya dulu.

De Laurentiis tidak bersikap naif. Sebagai orang yang sudah lama memerintah klub sepak bola, ia tahu persis seperti apa Gattuso. Di matanya Gattuso bukan orang paling bertalenta, baik sebagai pemain maupun pelatih. Namun, ia tahu bahwa Gattuso pernah menjadi gelandang bertahan yang membuat pemain lawan malas berhadapan dengannya.

De Laurentiis juga paham bahwa seorang pelatih yang menggebrak meja dan membuat penerjemahnya ketakutan di konferensi pers karena terusik dengan gosip soal tim asuhannya jelas bukan pelatih main-main.

Kalaupun performa tim tidak bisa langsung menanjak, setidaknya para pemain bakal berpikir berulang kali sebelum berulah. Sembarangan sedikit, si badak bisa menyeruak. Buktinya, ya, pengusiran Hirving Lozano. Jika asisten pelatih lawan saja berani dicekiknya, apalagi menghukum pemain yang banyak tingkah.

Formasi 4-4-2 Ancelotti ternyata gagal total di Napoli. Meski terkesan kokoh, para pemain lawan mudah menembus lini tengah sebelum akhirnya mengobrak-abrik barisan pertahanan Napoli.

Gattuso datang dan menyadari celah tersebut. Ia lalu memimpin timnya dalam skema 4-3-3. Dibandingkan 4-4-2, formasi ini lebih familiar di Napoli. Saat Sarri memimpin, Napoli kerap bertanding dengan skema ini.

Ancelotti mengubah Napoli menjadi seperti dirinya sendiri: Filosofis dan manis. Namun, agaknya Ancelotti lupa bahwa sejarah mencatat bahwa para weirdos-lah yang berhasil mengangkat derajat Napoli.

Di tangan Ancelotti, Napoli menjadi terlampau santun. Ancelotti bukan pelatih buruk. Ia hanya bukan orang yang tepat untuk Napoli.

Gattuso juga memahami siapa-siapa yang bekerja dengannya. Ini tak cuma bicara tentang pemain, tetapi juga De Laurentiis yang menjadi bosnya. De Laurentiis adalah control freak. Ia akan merasa aman jika segala sesuatu bisa dikendalikannya. Itulah sebabnya De Laurentiis membutuhkan orang yang bisa memberikan kejelasan kepadanya.

Gattuso tahu bahwa bosnya ini adalah orang film. Makanya, ia pun berbicara dalam bahasa yang dimengerti oleh De Laurentiis.

“Napoli harus menjadi tim yang good looking seperti Brad Pitt saat menyerang dan sekeras tampang saya saat bertahan.” Dengan kalimat itulah Gattuso berbicara tentang misinya kepada De Laurentiis.

Formasi 4-3-3 yang dipakai Gattuso membuat Napoli mampu menerapkan prinsip serangan dengan membuka area permainan selebar-lebarnya untuk menciptakan ruang. Napoli juga cukup baik dalam memindahkan arah serangan, terutama ketika lawan sedang bertahan dengan blok rendah.

Bersyukurlah Napoli karena memiliki Lorenzo Insigne dan Dries Mertens yang bisa diandalkan untuk bermain melebar sehingga half space lawan diserang oleh duet gelandang, Piotr Zielinski dan Fabian Ruiz.

Bertahan di kedalaman meski baru unggul tipis bukan perkara haram bagi pasukan Gattuso. Contohnya adalah apa yang terjadi pada musim lalu. Inter Milan tidak menjadi satu-satunya raksasa yang dibuat kerepotan oleh Napoli. Setelah skuat asuhan Antonio Conte itu tunduk di leg pertama semifinal Coppa Italia, giliran Barcelona yang dibikin frustrasi di babak 16 besar Liga Champions 2019/20.

Gattuso tidak sekadar jadi sensasi dengan memperlihatkan tampang seperti orang yang baru selesai tawuran di kelab malam. Napoli yang seret prestasi selama bertahun-tahun dan cuma mampu jadi tim hampir juara, dibawanya ke podium kampiun. Gelar juara Coppa Italia 2019/20 dipersembahkannya. Lawan Napoli di babak final pun tidak main-main, Juventus asuhan Sarri.

****

Keberhasilan Gattuso menstabilkan Napoli setelah kisruh internal menimbulkan pertanyaan: Mengapa ia tidak dapat melakukan hal serupa di Milan? Dia datang ke San Siro saat timnya carut-marut. Lagi pula, ketimbang Napoli, seharusnya Gattuso lebih mengenal Milan.

Gattuso sebenarnya tidak bisa dibilang tidak berkutik di Milan. Menyadari sistem tiga bek yang digunakan tak lebih dari sumber masalah, Gattuso mengembalikan tim bermain dalam 4-3-3.

Gattuso mengutak-atik efektivitas lini kedua Milan saat itu lewat sisi sayap. Pasalnya, para penyerang Rossoneri saat itu sedang bobrok-bobroknya. Rumus yang dipakai Gattuso kala itu adalah kreativitas Suso, Giacomo Bonaventura, dan Hakan Calhanoglu jadi kunci untuk mengatasi miskinnya produktivitas mereka.

Belum lagi dengan Franck Kessie yang mahir untuk memanfaatkan peluang dari lini kedua. Dan format 4-3-3 adalah jawaban ideal untuk memaksimalkan komposisi skuat Milan saat itu.

Namun, dasar Milan, masalahnya banyak betul. Setelah melewati 10 laga tanpa kekalahan sejak 26 Desember 2018, Milan menukik lagi. Sejak Maret 2019, badai cedera menghantam Milan. Para pemain pilar bertumbangan dalam waktu lama, terutama Lucas Biglia dan Giacomo Bonaventura.

Gattuso sempat menyiasati absennya Biglia dengan Bakayoko. Tidak terlalu oke, sih, tetapi lumayan. Masalah terpelik saat itu adalah pengganti Bonaventura yang perannya sangat signifikan di lini kedua.

Selain itu, Milan mengidap ketergantungan yang teramat sangat terhadap Piatek. Jika Piatek absen mencetak gol, Milan acap menelan hasil negatif. Pakem dasar 4-3-3 yang diusung Gattuso memang melahirkan keseimbangan buat Milan. Masalahnya, pakem itu bukan wadah yang sesuai untuk menempatkan Piatek dan Patrick Cutrone secara bersamaan.

Meninggalkan salah satunya di bangku cadangan pun jadi keputusan ganjil. Jangan lupa bahwa Piatek adalah juru gedor utama Milan pada 2018/19, sedangkan Cutrone merupakan goal-getter utama pada 2017/18.

Persoalan lainnya adalah perubahan yang diinginkan Milan. Manajemen menyebut bahwa mereka membutuhkan orang yang dapat mengangkat Milan dengan segera. Menyebalkan di satu sisi, dapat dipahami di sisi lain.

Keputusan itu menyebalkan karena bobroknya Milan bukan persoalan satu atau dua tahun, dapat diterima karena Milan baru saja berganti kepemimpinan dan manajemen. Tidak ada orang yang cukup bodoh untuk menyelamatkan Milan dari masalah finansial serumit itu tanpa berharap segalanya dapat terbayar dengan sesegera mungkin.

Roberto Mancini menampik segala komentar yang menyebut Gattuso sebagai pelatih modal motivasi doang. Pelatih Timnas Italia ini percaya betul bahwa Gattuso memahami taktik dan man management sama baiknya. Menurutnya, Gattuso adalah orang yang gigih. Kesulitan demi kesulitan yang dihadapinya, termasuk di awal kepelatihan di Sion, turut membentuknya menjadi orang yang cerdas dan tangguh.

Dari situ, Mancini yakin bahwa kesulitan yang dihadapi Milan tidak akan membuatnya gentar. Masalahnya, Milan ketika itu tidak punya banyak waktu lagi. Kalau tidak segera membaik, kapal bisa benar-benar tenggelam.

Napoli saat itu sepertinya jauh lebih stabil ketimbang Milan. De Laurentiis yang sudah memerintah 16 tahun sepertinya belum berminat untuk turun takhta. Artinya, yang kacau saat itu hanyalah tubuh tim, bukan keseluruhan klub. Selama Gattuso mampu mengendalikan tim, De Laurentiis siap mengendalikan semuanya.

Terlepas dari itu semua, bukan berarti Gattuso boleh tenang-tenang saja. De Laurentiis adalah diktator. Yang namanya diktator pasti bisa melakukan apa saja, termasuk mendepak orang-orang yang tak dapat memberikan keuntungan baginya. Nasib yang demikian bisa terjadi pada Gattuso jika ia gagal mengangkat Napoli.

Sepak bola memang sebajingan itu. Mereka yang secara langsung hidup di atasnya, termasuk Gattuso, sudah paham. Akan tetapi, apa boleh buat, serupa tak ada tulisan yang sempurna, tak ada pula tempat yang sempurna. Kalau kata Gattuso, "Sometimes maybe good, sometimes maybe shit."  

Untuk menghadapinya, Gattuso cuma bisa melakukan apa yang pernah dilakukan selama bertahun-tahun: Bertahan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.