Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Spursy!

Foto: Twitter @Goal.

Mereka melabeli kebiasaan Tottenham Hotspur terjungkal pada saat-saat krusial dengan 'Spursy'. Pokoknya, ada-ada saja kejadian di mana kesebelasan asal London Utara itu tampil inkonsisten justru ketika sedang bagus-bagusnya.

Tottenham Hotspur pernah berada di puncak kejayaan meski sudah lama sekali. Tepatnya pada musim 1960/61, The Lilywhites menjadi kampiun kompetisi teratas yang saat itu masih bernama First Division.

Di bawah arahan Bill Nicholson, Spurs mendominasi kompetisi. Dalam 42 pertandingan, klub yang berasal dari London Utara itu menang 31 kali dan cuma kalah tujuh kali.

Spurs juga sangat subur dengan rata-rata 2,091 gol per pertandingannya. Sampai akhirnya mereka unggul delapan poin atas peringkat dua, Sheffield Wednesday, pada tabel klasemen.

Kedigdayaan Spurs musim tersebut tak cuma di First Division saja. Pada pentas Piala FA, Spurs juga menjadi kampiun. Dalam final yang diselenggarakan di Wembley, Spurs sukses mengempaskan Leicester City 2-0.

Jadilah, Spurs merengkuh double winners pada musim tersebut --pencapaian yang belum mereka ulangi kembali hingga musim kemarin.

***

Jose Mourinho datang ke Spurs membawa harapan yang cukup besar untuk pendukung kesebelasan asal London Utara itu. Wajar, Spurs sudah berpuasa gelar cukup lama. Kurang lebih 60 tahun lamanya Spurs tak merengkuh gelar juara Liga Inggris.

Asa Spurs ada di pundak Mourinho. Apalagi, pria kelahiran Setubal, Portugal, itu selalu memberikan gelar untuk klub yang dilatihnya.

Kesempatan Spurs tinggi bila melihat hasil yang mereka raih pada awal-awal Premier League musim ini. Oke, mereka memang kalah dari Everton di gameweek pertama. Namun, setelahnya mereka tampil apik dan bisa menumbangkan Manchester United dan Manchester City.

Spurs juga mampu memuncaki klasemen dari gameweek kesembilan hingga ke-12. Pada periode-periode tersebut juga Spurs bisa jadi klub paling sedikit kebobolan di ajang Premier League.

Namun, Spurs being Spurs. ‘Spursy’, demikian label yang biasa disematkan atas kebiasaan Spurs menyabotase diri sendiri. Manakala menghadapi situasi penting, seringkali mereka justru terpeleset dan terjatuh. Perlahan, penampilan mereka menurun dan tak lagi memuncaki klasemen Premier League.

Pada empat pertandingan terakhir Premier League, Spurs sama sekali tak meraih kemenangan. Rinciannya, Harry Kane dan kolega kalah sekali dan imbang tiga kali.

Rentetan hasil buruk tersebut mereka dapatkan usai memenangi Derbi London Utara di gameweek ke-11 Premier League. Pada laga tersebut, Spurs dengan meyakinkan bisa menumbangkan Arsenal dengan skor 2-0.

Mereka tampil sangat solid dan bisa membuat Arsenal tak menghasilkan peluang berbahaya. Lalu, apa yang membuat penampilan Spurs menurun dan tak bisa meraih kemenangan di empat laga teranyarnya?

Yang paling kentara adalah intensitas. Spurs selalu memilih menurunkan intensitas setelah unggul atas lawan. Pertandingan melawan Crystal Palace bisa menjadi acuannya.

Pada babak pertama, Spurs tampil menekan. Imbasnya, mereka bisa menghasilkan delapan shots dalam 45 menit pertama. Mereka pun bisa membuat gol pada menit ke-23 lewat Harry Kane.

Namun, situasinya berbeda pada babak kedua; Spurs cuma mencatat enam upaya dengan dua yang mengarah ke gawang. Sepanjang paruh kedua pertandingan, Spurs juga tak bisa menghasilkan big chances (peluang penting). Alhasil, momentum lewat. Gawang mereka pun bobol lewat Jeffrey Schlupp pada menit ke-81.

Hal serupa juga terjadi pada laga melawan Wolverhampton Wanderers. Spurs unggul cepat pada menit pertama melalui Tanguy Ndombele. Pada babak pertama pun Spurs bisa mengoleksi lima shots dengan tiga di antaranya mengarah ke gawang. Expected Goals (xG) mereka pada babak pertama mencapai 0,35 (tidak impresif, tetapi, well, lumayan).

Akan tetapi, pada babak kedua semuanya menurun. Mereka hanya mampu membuat 1 shot pada paruh kedua. Itu pun tidak tepat sasaran. xG mereka juga menurun ke angka 0,03.

Kebiasaan Mourinho yang gemar memainkan skema counter attack menjadi penyebabnya. Spurs akan lebih banyak menunggu dan membiarkan lawan menekan ketika mereka sudah unggul.

Ini yang menjadi bumerang untuk mereka. Spurs memang bukan tim yang gencar menekan dan menguasai pertandingan. Rata-rata penguasaan bolanya saja hanya 49 persen --urutan ke-13 di Premier League. Begitu juga dengan xG mereka yang cuma 21,67.

Rendahnya angka xG Spurs, seperti yang dicontohkan pada babak pertama melawan Wolves, menunjukkan bahwa angka harapan gol atau kualitas peluang mereka rendah. Thus, ada problem dari cara mereka mencari peluang.

Ketiadaan gelandang serang yang mumpuni juga mempengaruhi Spurs. Mereka tak bisa mengatur tempo permainan dengan baik untuk bisa melakukan tekanan.

Dulu, tugas seperti ini diemban oleh Christian Eriksen. Akan tetapi, gelandang asal Denmark itu malah dilego ke Inter Milan. Giovanni Lo Celso dan Tanguy Ndombele yang biasa dimainkan di pos tersebut tak secemerlang Eriksen.

Keduanya cuma memiliki rata-rata umpan kunci (umpan yang menjadi peluang) sebesar 0,8 di Premier League. Jumlahnya kalah banyak dari Kane yang rata-rata umpan kuncinya mencapai 1,8.

Hal lain yang membuat Spurs merosot adalah kedalaman skuat yang tak mumpuni. Ada ketergantungan terhadap Kane dan Son Heung-min sebagai pemasok gol utama. Kalau keduanya menurun, lini depan Spurs juga ikut-ikutan menurun. Empat laga terbaru, Kane cuma sekali membuat gol. Pemain berusia 27 tahun itu juga tidak bisa membuat assist.

Foto: Twitter @SpursOfficial.

Begitu juga dengan Son. Penggawa asal Korea Selatan itu cuma mampu membuat satu gol dari empat laga Spurs di Premier League. Padahal, Son pernah membuat delapan gol dari gameweek kedua hingga keenam.

Deputi mereka seperti Gareth Bale, Lucas Moura, dan Carlos Vinicius tak sepadan. Ketiganya total baru mengemas dua gol pada ajang Premier League.

Tak cukup problem di lini depan, konsentrasi lini belakang mereka juga tak bagus. Hugo Lloris dan kolega sudah kehilangan 11 poin selama musim ini akibat kebobolan pada 10 menit terakhir pertandingan.

Menariknya, gol-gol di 10 menit terakhir kebanyakan tercipta melalui skema bola mati. Melawan Liverpool dan Wolves, Spurs kebobolan lewat skema sepak pojok. Kemudian, Palace bisa menyamakan kedudukan lewat sepakan bebas.

10 dari 15 gol yang bersarang ke gawang Spurs sejauh ini berasal dari bola mati. Tiga lainnya dari open play dan dua lagi lewat gol bunuh diri.

Mengingat Mourinho adalah pelatih yang terbilang rigid serta mengedepankan kedisiplinan dan fokus dalam permainan, kehilangan konsentrasi pada menit-menit akhir pertandingan adalah hal yang absurd buat Spurs.

***

Well, Spurs dan inkonsistensi memang erat beberapa musim terakhir ini. Di ajang Premier League musim lalu saja Spurs bisa menang tiga kali beruntun --termasuk mengalahkan City--. Namun, pada empat laga setelahnya Spurs malah bermain imbang.

Solusi harus cepat ditemukan oleh Mourinho untuk bisa kembali ke jalur kemenangan. Kalau tidak, penantian untuk menjadi juara di Liga Inggris akan bertambah panjang.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now