Starboy

Foto: Instagram @masongreenwood.

Mason Greenwood sudah menunjukkan bahwa dia adalah superstar mini bahkan ketika usianya baru 6 tahun. Bakatnya kemudian terasa dengan sederet kerja keras.

Saya sulit untuk mendedah dan mencerna konsep bakat. Apakah ia berkah atau ketidaksetaraan belaka?

Kalau ia berkah, sebuah karunia, tentu tiap-tiap orang bisa berharap untuk mendapatkannya. Kalau ia adalah ketidaksetaraan, kita masih saja membicarakannya selayaknya sebuah berkah.

Ketika usianya baru 6 tahun, Mason Greenwood pernah mempermalukan satu tim sekaligus. Tim Greenwood, Idle Juniors FC, menang 10-1 pada pertandingan kompetitif pertama dalam hidupnya. Kesepuluh gol Idle Juniors pada laga tersebut seluruhnya diborong oleh Greenwood.

Jika unjuk kemampuan pada usia dini adalah sebuah pertanda, para pemandu bakat adalah sekelompok cenayang. Dari hari ke hari, mereka berputar-putar seperti burung bangkai. Bedanya, yang mereka endus bukan makhluk yang nyaris mati, tetapi kemampuan mentah yang belum sepenuhnya terasah.

Greenwood, seperti halnya banyak anak ajaib lainnya, tak ketinggalan menjadi sasaran. Hanya dalam hitungan bulan dari pertandingan kompetitif pertamanya itu, ia sudah bergabung dengan Manchester United.

Ia langsung disekolahkan di pusat pengembangan bakat United di Halifax, West Yorkshire. Cerita yang beredar dan kemudian disuarakan oleh The Independent, Greenwood acap menendang-nendang bola untuk masuk ke tong sampah di luar pusat latihan.

Bagi Greenwood, berakrab-akrab dengan bola tak ubahnya anak-anak seumurannya yang bermain-main dengan robot Gundam atau action figure lainnya. Ia adalah Chuck Noland dan bolanya adalah Wilson. Di dalam pulau yang tak berpenghuni, mereka tak terpisahkan.

Kisah-kisah yang berkenaan dengan anak-anak seperti Greenwood, entah itu fiksi ataupun non-fiksi, biasanya mengenal trope klise yang sama: Bahwa anak-anak ini sudah diperkenalkan dengan benda yang kelak amat lekat dengan mereka sedari kecil.

Eiji Sawakita dalam ‘Slam Dunk’ sudah diperkenalkan dengan bola basket bahkan sejak ia baru bisa merangkak. Sementara, dalam cerita-cerita pemain bola berbakat, kita biasa mendengar bagaimana ia menendang-nendang “bola” yang dibentuk dari gulungan kaos kaki.

Saya tidak tahu bagaimana Greenwood pertama kali mengenal bola. Apakah ia dihadapkan pada pilihan, seperti Musa pada bara api dan roti, entahlah. Yang jelas, Musa kemudian memilih api—karena nalurinya mengatakan bahwa api terlihat lebih menarik daripada roti—sampai akhirnya ia harus meminjam lidah Harun untuk menyampaikan bait-bait Allah.

Greenwood, menurut Tony Park, penulis ‘Sons of United’ yang sudah menyaksikan ratusan pemain datang dan pergi dari akademi United, juga secara naluriah memilih bola sebagai kawan akrabnya. Namun, bakat dan naluri pada akhirnya bakal sia-sia belaka jika tidak diasah.

Beruntunglah Greenwood, ia memiliki ayah dan ibu yang mengharapkan dirinya untuk terus menjejak bumi. Ayah Greenwood, Andrew, adalah pria biasa-biasa saja. Dia emoh untuk menonjol, tetapi selalu mengingatkan anaknya bahwa etos dan kerja keras adalah segalanya.

Seberapa pun piawainya Greenwood kecil mengolah bola—dan seberapa sering ia menuai pujian—ayahnya selalu mengingatkan bahwa jika ia ingin bersungguh-sungguh menjadi pemain sepak bola, tak ada jalan selain menganggap pencapaian dan kemampuannya sejauh itu belum cukup.

Maka, Greenwood pun belajar. Hari demi hari, ia mengasah kaki kiri dan kanan sama baiknya. Kedua belah kaki itu kemudian ia gunakan untuk memperlakukan bola dengan cara-cara yang amat ia kenali dengan baik: Menggiringnya dengan kecepatan atau menyepaknya dengan kekuatan.

Greenwood tidak sekadar belajar bagaimana caranya menendang bola, tetapi juga memahami bahwa untuk melepaskan sepakan pun ia harus melakukannya pada saat yang tepat. Dari situ, ia memupuk kebiasaan: Menendang bola saat kiper belum betul-betul siap.

Pelan-pelan, nama Greenwood menjadi buah bibir, terutama untuk para pendukung United yang dengan seksama menyaksikan pertandingan tim-tim junior. Beberapa di antaranya, meyakini dia adalah Starboy, seorang superstar mini atau bocah yang kelak menjadi bintang. Beberapa lainnya, seperti David Pritt, mengingat Greenwood sebagai anak yang biasa menendang bola dengan amat presisi, entah itu dalam situasi open-play ataupun bola mati.

Namanya kemudian berdengung di tembok-tembok Carrington, tempat tim utama United berlatih, dan The Cliff, lapangan latihan lama ‘Iblis Merah’ yang kini biasa menjadi kandang tim U-18. Para pelatih segendang sepenarian dengan para pendukung, Greenwood memang memiliki potensi besar.

Lantas, ketika usianya baru 16 tahun, Jose Mourinho sudah memasukkannya ke dalam daftar pemain United yang ia bawa untuk melakoni tur pramusim di Amerika Serikat. Buat Greenwood, ini adalah lompatan besar. Untuk pendukung United yang sudah lama menyaksikannya langsung di akademi, ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu.

Pada Maret 2019, ia melakoni debut bersama tim utama ketika Ole Gunnar Solskjaer memasukkannya sebagai pemain pengganti pada laga melawan Paris Saint-Germain. Dalam usia 17 tahun dan 156 hari, ia menjadi pemain termuda kedua—di belakang Norman Whiteside—yang memperkuat United pada pertandingan kompetisi antarklub Eropa.

Tentu, masuknya Greenwood ke dalam skuad pada pertandingan itu tidak ujug-ujug belaka. Sebelum Solskjaer memasukkannya ke dalam tim, Greenwood terlebih dulu membuat catatan impresif; ia mencetak 22 gol dalam 22 pertandingan untuk level U-18, U-19, dan U-23.

Mark Senior, mantan pelatih Greenwood ketika ia baru berusia 6 tahun, menyebut bahwa perkembangannya amat pesat. Greenwood, kata Senior, belajar lebih cepat daripada bocah-bocah kebanyakan.

“Dia betul-betul cepat (belajar). Sekali saja kamu menunjukkannya trik kecil atau gerakan baru, ia langsung bisa melakukannya,” ujar Senior kepada Manchester Evening News.

Buat Solskjaer, Greenwood adalah pemain komplet. Ketika masih bermain untuk tim akademi, Greenwood pernah mengecap posisi gelandang, sebelum akhirnya bermain sebagai penyerang tengah. Oleh karena itu, Solskjaer bisa memainkannya dalam berbagai posisi dan peran, entah sebagai penyerang tengah, penyerang sayap, atau second striker.

Yang membuat Solskjaer makin bungah, Greenwood memiliki kaki kiri dan kanan yang sama baiknya. Untuk atribut yang satu ini, ia bahkan menyebut Greenwood sebagai finisher yang lebih natural ketimbang Marcus Rashford sekalipun. Pasalnya, tak hanya teknik menendang Greenwood saja yang bagus, tetapi juga kemampuannya untuk melepaskan sepakan dari berbagai sisi dan sudut sudah terbukti merepotkan lawan.

Juli 2020, ketika memperkuat United pada pertandingan melawan AFC Bournemouth, Greenwood menunjukkannya dengan terang-terangan. Ia mencetak sepasang gol pada pertandingan itu, satu dengan kaki kiri, yang lainnya dengan kaki kanan. Keduanya ia cetak dengan sepakan keras yang rasanya sulit betul untuk diblok tangan penjaga gawang.

Salah satu highlight dari pertandingan itu adalah bagaimana kiper Bournemouth kala itu, Aaron Ramsdale, meneriaki bek-bek di hadapannya. Ramsdale mengingatkan para bek itu, jangan sampai Greenwood—yang sedang menggiring bola ke sisi kanan—berbelok dan menggunakan kaki kirinya untuk menyepak.

Perkiraan Ramsdale salah. Greenwood nyatanya tak perlu menggunakan kaki kiri untuk menyepak. Setelah sisi kirinya tertutup sama sekali, ia masih bisa melepaskan sepakan kaki kanan yang keras dan mengarah ke pojok atas gawang.

***

Untuk mereka yang sedang menapak naik, hidup memang tidak selamanya memberikan kebaikan. Bagi Greenwood, setelah musim penuh perdananya dengan United berakhir dengan 17 gol dari total 49 penampilan, yang mesti ia lalui selanjutnya adalah pendakian yang curam.

Dimulai dengan menurunnya jumlah gol yang ia cetak pada musim 2020/21, Greenwood dihadapkan pada masalah ketika ia dan Phil Foden (gelandang Manchester City) membawa wanita masuk ke hotel pada saat memperkuat Timnas Inggris di Islandia. Karena melanggar protokol kesehatan, Greenwood dan Foden dipulangkan pada saat itu juga.

Ia disorot habis-habisan. Lantas, Solskjaer bertindak seperti induk binatang buas yang melindungi anaknya; Greenwood ia jauhkan dari lampu sorot. Solskjaer tak lantas memasukkannya ke dalam skuad untuk tiap laga United, tetapi memilih untuk memainkannya secara perlahan-lahan.

Ketika akhirnya ia mencetak gol pada pertandingan melawan Leicester City di Piala FA dan Brighton & Hove Albion di Premier League, Greenwood akhirnya memilih bersyukur. Ada perasaan lega, yang ia akui, meletup. Akhirnya, ia mencetak gol lagi.

Dengan sepasang gol yang ia cetak pada Premier League 2020/21, Greenwood total telah mencetak 12 gol dalam 58 laga di Premier League. Menurut catatan Opta, ia cuma kalah dari Wayne Rooney (15 gol) dan Rashford (13 gol) sebagai pemuda yang mencetak gol di Premier League pada usia yang sama untuk United.

Hidup memang tidak selamanya berjalan mulus untuk Greenwood, tetapi sederet catatan tersebut menunjukkan bahwa ia berada di jalur yang tepat. Tinggal bagaimana United (dan Solskjaer) mengasahnya, seperti yang orang tuanya lakukan ketika ia masih kecil.

Kalau yang dimiliki Greenwood ini adalah bakat dan ia lebih mirip seperti ketidaksetaraan untuk pemain-pemain muda seumurannya, biarlah.

Toh, ketika ia menjejalkan 10 gol ke gawang lawan pada pertandingan kompetitif pertamanya, ia sudah kadung menapaki sebuah jalan yang lebih mirip seperti sebuah rimba. Greenwood, yang sedari kecil diajari untuk bekerja keras, tentu memahaminya. Di sini, yang kuat pada akhirnya melahap yang lemah.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.