Suara Lantang Bruno

Foto: Instagram @brunofernandes.10.

Bruno Fernandes tak sekali mengangkat mikrofon dan berteriak soal hal-hal di sekitar yang tidak masuk akal.

Bruno Fernandes tidak hanya pandai mengolah bola, ia juga piawai memainkan kata yang dapat mempengaruhi lawan bicara.

Jose Fernandes tidak ingat kapan pertama kali anaknya, Bruno, dapat berbicara. Satu-satunya ingatan soal Bruno yang tidak dapat ia lupakan adalah bagaimana anak nomor duanya itu cerewet dan suka beradu argumen pada akhir masa kanak-kanak.

Bruno kecil tak seperti anak biasa. Menurut Jose, sejak kecil Bruno kerap menunjukkan gelagat tak senang apabila melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan yang ia yakini. “Ia akan berusaha membuat sekelilingnya tahu apa yang ia inginkan,” kata Jose.

Syahdan, Jose sempat berpikir untuk pindah ke Swiss sambil membawa istri beserta tiga anak laki-lakinya. Ide tersebut mendadak keluar saat Portugal tengah dilanda krisis moneter dan ia tidak kunjung mendapatkan pekerjaan.

Ia lantas mengumpulkan semua anggota keluarganya. Tidak butuh waktu lama bagi Jose membuat istri dan dua anaknya setuju. Masalah baginya hanya satu, Bruno enggan pindah ke Swiss dan malah berkata, “Orang Swiss tidak tahu bagaimana caranya bermain sepak bola.”

Bruno juga mengancam akan pergi dari rumah apabila mereka benar-benar pindah ke Swiss. Mimpi anak dan ancaman membuat Jose berpikir ulang. Hingga akhirnya, ia membuat keputusan untuk hijrah ke Swiss sendirian.

***

Menjelang hari-hari terakhirnya di Serie A pada musim 2011/12, Novara membuat kebijakan berani: Mengerahkan seluruh daya untuk mencari pemain-pemain muda potensial dengan harga murah di seluruh penjuru Eropa.

Mauro Borghetti, yang saat itu statusnya hanya pencari bakat biasa, ditugaskan untuk mengawasi bakat muda dari Portugal. Sesampainya di sana, ia mengatur janji dengan banyak agen, termasuk Miguel Pinho.

Pinho memiliki hubungan darah dengan Bruno. Oleh karena itu, tidak heran ia merekomendasikan saudaranya kepada Borghetti. Borghetti pun diundang untuk menyaksikan Bruno bermain dalam sebuah pertandingan di tim U-19.

Penampilan Bruno di dalam pertandingan tersebut tidak membuat Borghetti yakin. Menurutnya, kualitas teknik Bruno bahkan tidak jauh berbeda dibandingkan anak-anak seusianya. Namun, mentalitas yang berbeda membuat Borghetti memutuskan untuk membawa Bruno.

“Bruno punya visi hidup seperti orang yang punya pengalaman. Ia punya target yang jelas untuk masa depan. Satu pelajaran yang saya dapat darinya adalah ia selalu berupaya mengangkat derajat orang-orang di sekelilingnya,” kata Borghetti.

Bruno hanya butuh empat bulan untuk beradaptasi di Novara. Ia tidak hanya berusaha untuk mengejar segala kekurangan teknisnya, tapi juga menambal ketidakmampuannya berbahasa Italia. Memasuki bulan kelima, Bruno mendapatkan satu tempat di tim utama dan fasih Bahasa Italia.

Penampilan apik Bruno selama di Novara membuat Udinese tertarik. Udinese tak butuh waktu lama untuk menyetujui banderol sekitar 6,5 juta euro yang diajukan oleh Novara. Memasuki musim panas 2013, ia resmi bergabung Antonio Di Natale dkk.

Sebagai anak baru, Bruno berusaha membaur dengan semua elemen di tim. Meski demikian, tidak mudah baginya untuk langsung diterima. Satu pemain yang membukakan pintu untuknya adalah Di Natale.

Dengan usia yang terpaut 17 tahun, Di Natale mengajarkan banyak pelajaran kepada Bruno. Di luar lapangan, mereka kerap menghabiskan waktu bersama dan membicarakan banyak hal, mulai dari permainan hingga kehidupan.

“Bruno selalu menganggap hidup adalah sebuah medan pertempuran. Maka, tidak heran ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenangi semuanya. Anda tidak akan percaya bahwa di usianya yang saat itu terbilang muda sudah berani memacu pemain yang lebih tua,” kata Di Natale.

Di Natale berkata bahwa salah satu alasan Bruno tidak betah di Udinese adalah tidak banyak pemain yang punya hasrat untuk menang. Menjelang dimulainya musim 2015/16, ia memilih untuk bergabung ke Sampdoria yang dirasa punya visi serupa.

Hanya satu musim Bruno menghabiskan waktu di Sampdoria. Persoalannya masih sama, visi yang dicanangkan klub di awal musim ternyata berakhir mengecewakan. Ia pun memutuskan untuk pulang ke Portugal untuk membela Sporting Lisbon.

Bruno mendapatkan tempat spesial di Sporting meski terhitung pemain baru. Ia juga bukan kapten tim, tapi kemampuannya untuk mendongkrak semangat pemain lain membuatnya jadi kepanjangan tangan pelatih Jorge Jesus di atas lapangan.

Bruno juga menjadi yang paling vokal saat 50-an ultras Sporting merusak kamp latihan. Kasus ini bermula dari kegagalan Sporting mendapatkan satu tiket ke Liga Champions 2018/19. “Saya murka dengan tindakan kalian,” kata Bruno saat itu.

Perusakan tersebut sempat membuat Bruno dan delapan lain sempat berpikir untuk memutuskan kontrak yang masih tersisa. Meski demikian, Bruno memilih untuk bertahan setelah bertemu perwakilan suporter yang tidak setuju dengan tindakan vandalisme tersebut.

***

Bruno melakoni debutnya bersama Manchester United pada 1 Februari 2020 dengan menghadapi Wolverhampton. Setelah pertandingan tersebut, MUTV menyiarkan program bertepat.Box to Box yang dipandu oleh Dave O’Brien dan Danny Webber.

Pertandingan itu sendiri berakhir 0-0 meski United membuat 16 percobaan ke gawang lawan. Namun, yang menjadi topik pembicaraan bukan ketidakmampuan United menyelesaikan peluang, tapi bagaimana Bruno menjadi komandan.

“Bruno seakan menjadi pendikte permainan United. Ia bahkan berteriak kepada Maguire agar bola mengalir. Ia menyuruh pemain lain untuk bergerak setelah memberikan umpan. Tidak banyak pemain United yang bisa melakukan ini,” kata Webber.

Webber yang mulanya tercengang melihat kejadian itu, akhirnya mulai terbiasa. Pada partai semifinal Liga Europa 2019/20, Bruno menunjukkan hal serupa. Bedanya, kali ini Bruno tak sanggup lagi menahan amarah.

Kejadian ini bermula setelah Bruno melihat Victor Lindeloef tak memotong bola dan justru membiarkan pemain lawan mencetak gol. Keduanya pun beradu mulut dan Lindeloef kedapatan berkata, “Filho da Puta” atau “Son of a b**ch”.

Pada hari yang lain, ofisial United mengatakan bahwa Bruno marah kepada pemain lain. Kemarahan ini terjadi setelah mereka kalah 1-4 di babak pertama dari Tottenham Hotspur pada pekan ketiga Premier League 2020/21.

“Ia memasuki lorong dengan wajah yang sangat kusut. Ia lantas mengambil alih sesi istirahat di pertengahan babak dan menyebut pemain lain tidak punya semangat untuk memenangi pertandingan,” kata ofisial tersebut kepada The Telegraph.

Tidak berhenti sampai di sana. Saat riuh European Super League lalu, Bruno kembali mengambil mikrofon dan mengungkapkan isi otaknya. Ia pun menjadi anggota skuat United pertama yang berteriak soal ini.

Sambil me-repost unggahan kompatriotnya, Daniel Podence, Bruno berkata, “Mimpi tidak dapat dibeli.”

Kalau United memang tengah berusaha membangun tim bermodalkan tulang punggung yang kokoh, pembelian Bruno adalah salah satu langkah yang tepat.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.