Sudah Waktunya Andreas Christensen Bersinar

Foto: Instagram @andreaschristensen3.

Berani, kuat dalam duel satu lawan satu, dan cerdas dalam melakukan build-up, alasan-alasan ini menjelaskan mengapa Andreas Christensen menjadi penting untuk Thomas Tuchel.

Di atas rumput lapangan, Andreas Christensen punya satu misi: Mewujudkan harapan ayahnya bertahun-tahun lalu.

Ayah Christensen, Sten namanya, adalah mantan kiper Brondby, klub Denmark. Dari Sten inilah kecintaan Christensen terhadap sepak bola berasal. Mula-mula dia cuma melihat sang ayah bermain. Semakin hari, dia mulai memainkan bola yang tergeletak di depan rumah.

Kata Sten, anaknya tak bisa jauh dari sepak bola. Bahkan ketika berbicara atau bahkan makan siang, bola selalu melekat di kakinya. “Dia sudah bermain sepak bola sejak berumur dua tahun. Dia senang menendang bola ke arah gawang kecil,” kenang sang ayah.

Yang Sten lihat waktu itu bukan sekadar bocah yang senang bermain sepak bola. Pada diri Christensen dia melihat bakat besar. Lantas, dia menyimpan harap agar sang anak bisa memiliki karier sepak bola yang jauh lebih cemerlang ketimbang dirinya.

Langkah pertama yang Sten tempuh adalah memasukkan Christensen ke akademi sepak bola sesegera mungkin. Pilihan Sten jatuh kepada Birkerod, tim muda di Kopenhagen. Masalahnya, Christensen masih berusia empat tahun ketika itu.

“Jadi, kami terpaksa berbohong karena di Denmark, Anda tidak bisa bermain sebelum berusia lima tahun,” ujar Sten.

Segala berjalan baik-baik saja buat Christensen. Kendati mesti berbohong, karier juniornya tak menemui rintangan berarti. Terbukti, tak ada yang mempermasalahkan hal tersebut. Dia juga sempat menimba ilmu di klub ayahnya dahulu, Brondby, saat menginjak 10 tahun.

Dua tahun berselang, dia bahkan sudah sanggup memikat sejumlah klub top Eropa sebelum akhirnya memilih tim muda Chelsea.

Pelatih pertamanya di Brondby, John Ranum, bilang bahwa Christensen memiliki kemampuan teknik yang sangat baik. Dia juga tenang, pintar membaca pergerakan lawan, serta punya visi bermain yang bagus. Sederet kemampuan ini yang bikin Chelsea mendatangkannya.

Namun, ada satu hal yang jadi kekurangan Christensen: Tubuhnya terbilang ringkih sehingga fisiknya tidak cukup kuat. Ini bahkan sudah terlihat sejak dia masih bermain di Brondby. Sebagai seorang bek tengah, jelas saja ini jadi sorotan dan Ranum tak menampiknya.

Pada 2014, Christensen promosi ke tim utama Chelsea. Tahun berikutnya, seperti kebanyakan pemain muda Chelsea, Christensen dipinjamkan ke tim lain. Dalam hal ini tim tersebut adalah penghuni Bundesliga bernama Borussia Moenchengladbach.

Bundesliga berbeda dengan Premier League. Jika Premier League terbilang cepat dan sangat mengandalkan fisik, Bundesliga cenderung taktis. Ini bikin kekurangan fisik dalam diri Christensen tak terlalu kentara. Malah, dia terpilih menjadi pemain terbaik Gladbach pada musim pertamanya.

Sten yakin betul bahwa anaknya memang punya kualitas. Namun, langsung terpilih sebagai pemain terbaik klub di musim pertama adalah kejutan. Sten bahkan tak mengira Gladbach memberi anaknya kesempatan tampil yang amat banyak. Dalam dua musim di Jerman, dia tampil 81 kali.

“Tahun pertama dan kedua sama hebatnya. Dia bermain bersama sederet pemain muda berkualitas di Gladbach,” ujar Sten.

Pada 2017/18, Christensen kembali ke Chelsea. Kini dia bukan lagi bocah minim pengalaman. Christensen telah berkembang sebagai salah satu bek tengah muda menjanjikan.

Keunggulannya terletak pada kemampuan membaca serangan lawan sekaligus merancang serangan tim sendiri dari lini belakang. Dengan semua keunggulan itu, para pendukung Chelsea lantas menjulukinya sebagai The Danish Beckenbauer.

Pada musim itu Chelsea yang dilatih Antonio Conte sebetulnya tampil buruk. Berstatus juara bertahan, cuma urutan kelima Premier League yang mereka raih. Walau begitu, Christensen mampu membuktikan kapasitasnya, terutama hingga pertengahan musim. Dia jadi satu dari tiga bek tengah dalam 3–5–2 Conte.

Satu hal yang mencoreng performa Christensen kala itu adalah laga melawan Barcelona di leg pertama 16 besar Liga Champions. Dia melakukan kesalahan yang bikin Chelsea bobol saat unggul 1–0. WhoScored lantas menyebutnya sebagai penampil terburuk dengan rating 5,6.

Penampilan buruk itu seolah jadi titik balik yang meredupkan karier Christensen. Pada musim-musim berikutnya, dia tak lagi mendapat kepercayaan seperti sebelumnya. Terlebih, cedera terus-menerus menggerogoti tubuh ringkihnya.

Semua bisa saja berujung lebih baik seandainya Christensen tak buru-buru kembali ke Chelsea. Karena, pertama, Gladbach ingin dia bertahan. Kedua, seperti dilaporkan The Athletic, ada Borussia Dortmund yang juga sangat tertarik kepadanya.

Ketertarikan tersebut datang pada 2016/17 atau ketika Christensen masih di Gladbach. Thomas Tuchel, pelatih Dortmund kala itu, menganggap Christensen cocok dengan skema tiga beknya. Sayangnya, Christensen memilih pulang. Dortmund akhirnya mendatangkan Marc Bartra dari Barcelona.

Namun, seperti sebuah takdir, Christensen pada akhirnya tetap berjodoh dengan Tuchel. Bukan di Dortmund, melainkan di Chelsea. Tuchel, yang baru saja kehilangan pekerjaan di Paris Saint-Germain (PSG), pada pertengahan musim 2020/21 untuk menggantikan Frank Lampard.

Yang paling berubah dari Chelsea sejak Tuchel masuk adalah lini pertahanan. Dalam sembilan laga di Premier League, cuma dua kali Chelsea bobol. Untuk mewujudkan itu, ada lini tengah yang jadi andalan Tuchel dalam mengantisipasi serangan balik lawan.

Juga satu lagi: Christensen. Dia jadi jenderal di lini belakang dalam skema 3–4–2–1 Tuchel.

Christensen sebetulnya cuma jadi pelapis ketika bersama Frank Lampard. Sesekali dia tampil dan dalam kesempatan minim itu, sayangnya, Christensen tampil buruk. Dalam laga melawan Aston Villa pada Desember 2020, misalnya, dia jadi dalang lahirnya gol Matthew Cash.

Christensen tak langsung bangkit ketika berbenturan dengan Jack Grealish. Eks manajer Tottenham Hotspur, Tim Sherwood, lantas memberi komentar pedas dengan menyebut pemain Chelsea itu ‘seperti bayi yang sedang tiduran di lantai’.

“Kenapa dia terus berbaring di lapangan? Mengapa dia tidak langsung bangkit dan bermain lagi mengawal lini pertahanan? Dia tidak terluka, dia cuma pura-pura cedera,” ujar Sherwood.

Saat Tuchel baru datang, Christensen juga sebatas cadangan. Situasi baru berubah ketika Thiago Silva cedera pada awal laga melawan Tottenham Hotspur. Christensen masuk menggantikannya dan terus-menerus jadi andalan Tuchel pada laga-laga berikutnya.

Liam Twomey dalam artikelnya di The Athletic menyebut performa terbaik Christensen terjadi kala menghadapi Liverpool. Dalam laga itu, Christensen memang menonjol dari aspek bertahan. Dia mencatat 9 clearances, 1 intersep, serta duel udara dengan persentase kemenangan 100%.

Namun, menurut Twomey, yang paling menonjol dari Christensen pada laga itu adalah caranya menguasai bola. Pada awal pertandingan, misalnya, Christensen mendapat pressing ketat dari Sadio Mane, sedangkan N’Golo Kante yang ada di posisi terdekat sudah dijaga lawan.

Alih-alih tertekan, Christensen mampu memutar badan, sedikit berlari untuk mengelabui Sadio Mane, sebelum akhirnya memberi operan ke arah Cesar Azpilicueta.

Sebuah gerakan sederhana tetapi dalam skema Tuchel yang biasa membangun serangan dari belakang, hal seperti itu sangat berguna. Tak ayal jika Tuchel sangat senang dengan keberadaan pemain asal Denmark itu di jantung pertahanan timnya.

“Dia berani, kuat dalam duel satu lawan satu, dan cerdas dalam build up. Dia juga bermain dengan penuh percaya diri. Saya sangat senang dengan penampilan dan perkembangannya. Dia adalah aspek penting dalam penampilan kami sejauh ini,” ujar Tuchel.

Pada laga itu Christensen mencatatkan akurasi operan mencapai 92 persen. Angka yang sama juga berlaku untuk keseluruhan akurasi operannya di Premier League musim ini, salah satu yang tertinggi di antara para pemain Chelsea lainnya.

Jelaslah masih terlalu dini untuk menilai Christensen. Musim masih panjang. Dia juga masih harus bersaing dengan Thiago Silva jika sudah pulih kelak. Namun, untuk saat ini, Christensen pantas senang dan menikmati peran besar yang dia emban.

“Sudah lama saya tidak diturunkan secara beruntun. Sebelumnya saya keluar-masuk tim dalam waktu yang lama. Jadi, tentu saja saat ini saya menikmatinya,” ungkap pemain berusia 24 tahun tersebut.

Terlepas dari semua itu, kesempatan yang Christensen peroleh juga semakin mendekatkannya untuk mewujudkan harapan sang ayah belasan tahun lalu. Sebab memang sudah waktunya Christensen bersinar.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.