Tahun Baru Salernitana

Foto: Instagram @ussalernitana1919official

Salernitana terjerat aturan MCO FIGC. Namun, di pengujung 2021, mereka selamat dari hukuman berkat uluran tangan seorang pengusaha asal Naples.

Bagi sebagian orang, tahun baru tak berbeda dengan hari-hari biasa. Setelah tidur empat atau lima jam, kamu akan melihat hari bergerak seperti biasa. Pekerjaan, masalah, tawa, dan keluhan datang silih berganti. Begitu terus sampai 365 atau 366 hari ke depan. Letupan kembang api tak ubahnya satu atau dua hari khusus. Gemerlapnya hanya akan jadi cerita dalam satu atau dua jam saja. Setelahnya, serupa letupannya yang sementara, semua akan kembali menjadi biasa-biasa saja.

Namun, buat sebagian orang lagi, tahun baru adalah hari penting. Pada hari ini kamu memulai segalanya, meninggalkan cerita lama dan bersiap memasuki perjalanan waktu baru. Tak ada yang bisa menjamin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, bagi orang-orang seperti ini, kecewa adalah urusan belakangan. Awal tetap awal, ia layak untuk disambut.

Hari-hari menjelang tahun baru adalah perjalanan mendebarkan bagi Salernitana. Jika gagal menemukan pemilik baru hingga 31 Desember 2021, mereka akan didepak dari Serie A 2021/22. Ironis, karena ini pertama kalinya Salernitana kembali ke Serie A sejak 1999.

Ancaman itu datang karena kepemilikan Salernitana dipegang oleh Claudio Lotito yang merupakan Presiden Lazio. Regulasi sepak bola Italia menetapkan aturan satu orang satu klub Serie A. Itu artinya, Salernitana dianggap melanggar aturan jika Lotito masih berstatus sebagai pemilik klub. 

Lotito memegang saham mayoritas Lazio sejak 2004. Ialah yang berjasa besar membebaskan Lazio dari lilitan utang. Meski belum mampu memimpin Lazio menjadi kampiun Serie A, kucuran dana dan otak bisnis Lotito di awal kepemimpinannya memampukan timnya merengkuh beberapa gelar juara: Coppa Italia 2008/09 dan 2012/13, serta Italian Super Cup 2009. 

Lotito ternyata tidak berhenti sampai di Lazio. Pada Juli 2011, ia memutuskan mengakuisisi Salernitana. Keputusan ini lagi-lagi menyelamatkan sebuah klub sepak bola dari ujung tanduk. Ketika itu, Salernitana baru saja dinyatakan bangkrut dan harus berlaga di Serie D. Bersama saudara iparnya, Marco Mezzoroma, Lotito mendaftarkan Salerno Calcio berkompetisi dan setahun berikutnya membeli lisensi nama Salernitana dan mengembalikan nama klub seperti semula. 

Keputusan Lotito untuk mengambil alih kepemilikan Salernitana sebenarnya mengundang tanda tanya jika melihat dari sisi ideologi. Pasalnya, Lazio terkenal dengan klub beraliran kanan, sedangkan Salernitana kiri. Namun, barangkali Lotito tidak peduli-peduli amat dengan urusan politik. Sebagai pengusaha, baginya yang terpenting adalah potensi keuntungan bisnis.

Salernitana sebenarnya termasuk tim gurem dan terkenal eksistensinya di Serie B maupun C. Tercatat hanya 2 kali tim berjuluk I Granata ini ke Serie A, yaitu musim 1947/48 dan 1998/99. Maka, ketika Salernitana berhasil merangsek masuk ke Serie A kembali pada 2021/22 seharusnya orang-orang berpesta. 

Namun, tak ada pesta yang berlangsung selamanya. Keberhasilan menjejak ke Serie A diikuti dengan ancaman terdepak dari Serie A. Ini berpangkal dari kepemilikan Lotito. Pada 19 Mei 2021, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mengeluarkan regulasi anyar yang disahkan pada September 2021. Pada pasal 16 ayat 1 regulasi tersebut tertulis bahwa seseorang atau suatu badan tidak boleh memegang kepemilikan lebih dari satu klub. 

Para pengusaha seperti Aurelio De Laurentiis pun dibikin pusing. Masalahnya, De Laurentiis tercatat sebagai pemilik Napoli, sedangkan anaknya, Luigi De Laurentiis, merupakan pemilik Bari. Karena keduanya masih terikat induk perusahaan yang sama, sesuai regulasi tersebut, salah satu klub harus dilepas kepemilikannya. Akan tetapi, selama keduanya tidak berkompetisi di liga yang sama, mereka masih memiliki waktu hingga 2024. Situasi berbeda dialami oleh Lolito karena Lazio dan Salernitana sama-sama bermain di Serie A. Karena itulah, mereka hanya diberi waktu sampai 31 Desember 2021.

Lotito dan Salernitana sebenarnya sudah menyiasati aturan tersebut. Pada Juni 2021, Salernitana merilis pernyataan resmi bahwa Omnia Service S.r.l. (yang dimiliki oleh Lotito) dan Morgenstern S.r.l mentransfer kepemilikan saham mereka atas Salernitana kepada badan perwalian, Salernitana 2021. Keputusan ini dilakukan sebagai jalan untuk menemukan pemilik baru Salernitana. Akan tetapi, FIGC menilai langkah ini belum cukup. Satu-satunya cara untuk agar Salernitana terhindar dari hukuman terdepak dari Serie A adalah dengan mencari pemilik baru.

Regulasi FIGC tersebut sejalan dengan aturan yang ditetapkan oleh UEFA. Asosiasi Sepak Bola Eropa melarang adanya kepemilikan multipel dalam satu kompetisi Eropa yang sama. 

Regulasi MCO UEFA, sumber: UEFA

Hubungan formal dan informal antara klub di seluruh dunia telah ada selama beberapa dekade. Konglomerat Parmalat yang dijalankan oleh Calisto Tanzi menguasai klub Italia Parma dan klub Brasil Palmeiras, sementara perusahaan Inggris ENIC memiliki saham di Glasgow Rangers, Slavia Prague, AEK Athens, Vicenza Calcio, FC Basel, dan Tottenham Hotspur.

Kepemilikan ENIC memicu penyelidikan UEFA terhadap multiple club ownership (MCO) pada 1999 ketika AEK dan Sparta lolos ke kompetisi Eropa. Pada 31 Agustus 2021, lahirlah aturan yang melarang dua (atau lebih) klub dengan pemegang saham mayoritas yang sama bermain di kompetisi Eropa yang sama. Mengutip data Play The Game, konferensi internasional yang bertujuan memperkuat landasan etika olahraga dan mempromosikan demokrasi, transparansi dan kebebasan, ekspresi dalam olahraga, menemukan 60 MCO yang melibatkan 156 klub.

Regulasi FIGC dan UEFA soal MCO didasari oleh kebutuhan akan integritas kompetisi alias untuk menghindari konflik kepentingan. Antonia Hagemann, CEO Supporters Direct Europe--payung organisasi suporter Eropa--mengatakan: “Fenomena MCO menciptakan tingkatan klub yang berbeda: Klub induk dan klub di bawahnya. Jika Anda adalah penggemar klub induk, Anda beruntung. Namun, tidak demikian jika Anda adalah penggemar klub yang ada di bawahnya.” 

Sumber data: Play The Game
Sumber data: Play The Game

Maksud Hagemann, klub induk tentu akan lebih diutamakan daripada klub pengumpan atau klub yang di bawahnya. Jika demikian, tentu ada tata kelola tidak sehat yang melibatkan banyak klub. Dalam hal ini, klub induk tidak hanya bicara tentang fenomena seperti Red Bull, tetapi juga jumlah uang yang dikeluarkan seseorang ketika membeli sebuah klub. 

Lotito, misalnya. Barangkali ia memiliki preferensi sendiri tentang Lazio dan Salernitana. Bisa jadi, jika uang yang dikeluarkan untuk membeli dan membangun Lazio lebih besar daripada Salernitana, ia akan lebih mengutamakan Lazio. Jika keduanya bertemu dalam satu kompetisi yang sama, bukan tidak mungkin Lotito menggunakan cara culas untuk memenangkan Lazio. Begitu pula jika yang terjadi adalah sebaliknya. Belum lagi dengan tindakan kriminal kelas kakap, seperti pencucian uang, yang bisa saja terjadi.

Ancaman lain adalah persoalan di bursa transfer yang dianggap bisa merugikan pasar. Menurut Hagemann, bursa transfer bisa saja berubah jika tidak ada aturan pasti tentang MCO.

“Fenomena MCO juga bisa menjadi akhir bursa transfer yang sebenarnya karena hanya ada transfer antarklub. Sebagai pemain, Anda dapat memulai dengan klub pengumpan dan naik ke klub induk. Masalahnya, kondisi ini mendorong ketidaksetaraan dan meracuni daya saing pasar,”  lanjut Hagemann.

***

Sebelum berada dalam kondisi terjepit, Salernitana sebenarnya memiliki pilihan. Pemilik Leeds United, Andrea Radrizzani diklaim mengajukan penawaran tertulis untuk membeli Salernitana senilai 26 juta euro. Namun, Salernitana menilai angka tersebut terlalu kecil sehingga tidak ada gayung bersambut.

Tak kunjung menemukan pembeli dan semakin dekat dengan depakan, Lotito akhirnya menjual kepemilikannya atas Salernitana di pengujung 2021 kepada pengusaha Naples, Danilo Iervolino. Ia adalah founder Telematic University Pegaso, universitas daring yang tersebar di 60 kota di Italia. Ironisnya 51% saham Salernitana yang jatuh ke tangan Iervolino yang berambisi mengubah klubnya menjadi The Next Atalanta, hanya dihargai senilai 10 juta euro. Hal ini pulalah yang konon membuat Lotito berang.

Namun, semurka-murkanya Lotito, toh, ia tidak mempunyai pilihan lain yang lebih baik. Uluran tangan 10 juta euro itu pulalah yang memastikan Salernitana tetap berlaga di Serie A 2021/22. 

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.