Tahun Berubah, Iker Muniain Tetap Sama

Foto: Twitter @IkerMuniain10.

Dengan usianya yang sudah 28 tahun, segala julukan 'The Next' yang pernah tersemat kepadanya tak lagi relevan. Meski begitu, Iker Muniain sebetulnya tetap sama.

Karena acap dituduh menerjemahkan artikel The Athletic dan luar negeri, kami akan mengawali tulisan kali ini dengan cara yang sangat lokal: Ingat dengan pemuda Basque yang pernah dijuluki ‘The Next Messi’? Ternyata seperti ini nasibnya sekarang!

IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN

Hanya satu pemain asal Basque yang pernah disejajarkan dengan Messi sehingga Anda bisa dengan cepat menebaknya. Ya, Iker Muniain.

Lahir di Pamplona, Muniain adalah gambaran pemuda Basque sesungguhnya. Ia tak hanya besar dan lahir di sana, tetapi juga hidup sebagai penggemar sejati Athletic Club de Bilbao, klub paling Basque di Spanyol. Pemain idolanya bahkan bukan Zidane apalagi Ronaldo, melainkan Joseba Etxeberria, kapten Athletic.

Karier sepak bola Muniain bermula saat berlatih di UDC Txantrea. Usianya masih begitu muda tetapi bakatnya sudah terlihat dengan jelas. Dari banyak cerita, bola seakan lengket saat bersentuhan dengan kakinya. Lantas jika Athletic merekrutnya pada usia 11 tahun, itu adalah wajar belaka.

Athletic merupakan tempat terbaik bagi Muniain. Ini adalah klub yang amat bertumpu kepada para pemain lokal Basque seperti dirinya. Bahkan tak sekadar bertumpu karena Athletic punya kebijakan jelas dan tegas untuk hanya menggunakan para pemain yang berasal dari wilayah mereka.

Dengan begini, potensi Muniain untuk berkembang jauh lebih besar ketimbang jika pindah ke klub lain. Terlebih, Athletic sedang dalam masa-masa terbaik mereka kala itu. Mereka dipenuhi para pemain muda bertalenta macam Fernando Llorente, Ander Herrera, hingga Javi Martinez.

Namun, di antara semuanya, Muniain-lah yang paling mencuri perhatian.

Permulaannya adalah ajang Liga Europa 2009 melawan BSC Young Boys. Muniain mencetak dua sejarah sekaligus. Pada leg pertama, ia menajdi pemain termuda yang pernah berseragam Athletic. Sementara leg kedua, Muniain menjadi pencetak gol termuda timnya sepanjang sejarah.

Segera setelahnya, kabar menyebar di mana-mana. Headline-nya tidak lagi pemain muda paling berbakat dari Basque sejak era Exteberria, tetapi bertambah menjadi ‘Lionel Messi dari Basque’. Melihat gaya bermainnya, Muniain memang tak ubahnya pemain Argentina itu.

“Ketika saya berada di lapangan, saya mencoba untuk bersenang-senang. Hanya karena saya bermain di divisi satu, bukan berarti saya harus mengubah gaya bermain. Saya adalah pemain yang banyak menguasai bola, sedangkan lawan akan mencoba menghentikan saya semampu mereka,” tuturnya.

Muniain yang beroperasi di sayap kiri kerap mempertontonkan aksi olah bola memukau, terutama pada 2010–11, musim terbaiknya. Dengan kaki kecilnya, ia kuasa mengobrak-abrik pertahanan lawan dengan cara-cara yang mengintimidasi: Nutmeg, mengubah kecepatan, berputar, dan lain-lain.

Begitu mendekati kotak penalti lawan, ia bisa melepaskan crossing akurat, terobosan tajam, bahkan tembakan langsung menuju mulut gawang. Gelar breakthrough talent of the year La Liga lantas ia raih, beriringan dengan lima gol dan tiga assist yang ia ciptakan musim itu.

Ketika Marcelo Bielsa menjadi juru taktik Athletic pada 2011–12, Muniain kian berkembang. Berperan sebagai sayap kiri dalam skema 3–3–3–1 Bielsa, ia tampil amat gemilang. Bersama pelatih berjuluk si Gila itu Muniain menambahkan agresivitas ke dalam salah satu skill set-nya.

Tentu bukan hal mengejutkan karena agresivitas adalah kunci sepak bola praaktif Bielsa. Agresivitas itu pula yang membuat Sir Alex Ferguson kehabisan kata-kata melihat Manchester United-nya tak berdaya. Kala itu, United takluk agregat 3–5 dari Athletic-nya Bielsa dalam laga Liga Europa.

Muniain ambil bagian dalam kemenangan bersejarah itu. Pergerakannya baik saat memegang bola maupun tidak menguasai bola membuat United kelabakan. Ia bahkan mencetak sebiji gol pada leg pertama sehingga tak salah menyebutnya sebagai tokoh utama duel tersebut.

“Saya tak tahu bagaimana cara melukiskan gol ketiga itu,” ujar Ferguson perihal gol Muniain.

Athletic gagal menjuarai Europa League musim tersebut usai kandas dari Atletico Madrid pada babak final. Meski demikian, musim itu menyisakan cerita bahwa Muniain memang bukan pesepakbola biasa. Lantas, Manchester City hingga Juventus santer dikaitkan dengan namanya.

Namun, kita tahu bagaimana akhirnya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, dan Muniain masih tampil rutin di hadapan publik San Mames. Yang selalu muncul adalah kabar perpanjangan kontrak, alih-alih perpindahan klub.

Alhasil kita sampai pada musim ini: 2021–22, saat Muniain sudah berusia 28 tahun dan wajahnya penuh dengan brewok. Model rambutnya bahkan turut berubah sehingga julukan Bart Simpson yang pernah disemptkan rekannya, Fernando Amorebieta, sama sekali tak relevan.

Hal lain yang juga tak lagi relevan adalah statusnya. Tentu tak masuk akal menyebut Muniain hari ini sebagai The Next Messi ataupun Messi dari Basque. Ia juga bukan lagi bocah ajaib karena, well, sudah berada pada usia yang masuk kategori emas bagi seorang pesepakbola.

Yang masih relevan adalah kemampuannya. Kendati dianggap tak pernah memenuhi ekspektasi sebagai bintang besar dunia, Muniain tetap sanggup membuat para lawannya pontang-panting. Musim ini, ia menunjukkan segala kemampuan yang bertahun-tahun lalu membuat namanya melambung.

Beroperasi di sayap kiri dalam skema 4–4–2 Marcelino García Toral yang penuh nyali, Muniain terlihat licin. Merebut bola dari kakinya sama seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Di La Liga musim ini, ia termasuk salah satu pemain dengan rerata dribel sukses tertinggi (2,1 per laga).

Torehannya kian mencolok jika melihat caranya menciptakan peluang. Masih seperti dulu, ia akan mengawali manuver dengan melewati beberapa pemain, lalu mengakhirinya dengan crossing maupun umpan terobosan. Tak salah jika ia menjadi pemain dengan jumlah penciptaan peluang tertinggi (43 kali).

Secara keseluruhan, Muniain sudah mencetak dua gol dan tiga assist bagi Athletic musim ini.

Segala hal tersebut jadi bukti bahwa Muniain masih seperti dulu. Ia tetap pesepakbola berbakat yang amat merepotkan bagi pertahanan lawan. Ia hanya tak mengikuti sebagian besar rekan seangkatannya seperti Ander Herrera hingga Javi Martinez yang menempuh jalan menuju klub lain.

Namun, tak ada yang salah dengan itu. Sepak bola menganggap mereka yang setia bersama satu klub saja sebagai orang-orang spesial. Simak bagaimana dunia mengenang Matt Le Tissier, atau Fransesco Totti, atau Ryan Giggs, atau Paolo Maldini, atau para pesepakbola lain yang sedikit sekali jumlahnya.

Muniain berada dalam trek yang sama degan nama-nama tersebut.

“Pada masa-masa tertentu, klausul pembelian rekan- rekan saya ditebus dan mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan klub dan menyakiti fans. Ketika salah satu dari kami pergi, fans akan merasa sedih karena mereka kecewa. Saya tidak ingin itu terjadi pada saya,” kata Muniain.

IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN IKLAN

Ingat dengan pemuda Basque yang pernah dijuluki ‘The Next Messi’? Ternyata ia masih sehebat dahulu kala, meski julukan yang diberikan kepadanya tak lagi relevan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.