Tak Perlu Ada Pleidoi untuk Chris Wilder

Ilustrasi: Arif Utama.

Wilder hanya perlu pergi dari Sheffield, lalu membuktikan bahwa di rimba seliar sepak bola, selalu ada tempat bagi orang sepertinya.

Seperti orang yang ingin hidup tanpa masa lalu, Chris Wilder meninggalkan Sheffield United.

Sheffield adalah dunia yang sangat dikenal Wilder. Ia memulai segalanya di Southampton. Namun, rumput Sheffield adalah rumput pertama yang dipijaknya sebagai orang dewasa. Ia membela klub itu selama 6 tahun, sejak 1986. 

Seperti orang yang bertemu dengan cinta pertamanya, Wilder melompat ceria ketika membubuhkan tanda tangan sebagai pelatih Sheffield. Serupa orang yang membuktikan bahwa mimpi liarnya bukan omong kosong, Wilder menepuk dada saat membawa Sheffield ke Premier League pada akhir 2018/19.

Orang-orang menyangkanya sebagai kebetulan. Namun, nasib adalah sutradara ulung. Pemikirannya yang tak tertebak menggiring Kevin McCabe, mantan Chairman Sheffield, dan Wilder bertemu di Bramall Lane untuk menonton final kompetisi antar-pub di Sheffield.

McCabe menyaksikan laga dengan susah hati. Matanya mengarah ke lapangan, tetapi pikirannya bergelut memikirkan Sheffield yang sedang compang-camping di League One.

Wilder datang dengan hati yang lega. Ia baru saja mengantar Northampton Town promosi ke League One. Mendengar tim yang pernah dibelanya saat muda itu tak sanggup mendekati gawang lawan, Wilder hanya bisa menelan ludah berkali-kali dan memberikan nomor teleponnya kepada McCabe.

Sebenarnya sudah cukup lama McCabe menginginkan Wilder menjejak ke Bramall Lane sebagai pelatih. Akan tetapi, ada banyak persoalan yang harus dipertimbangkan, termasuk status Wilder sebagai juru taktik Northampton.

Keruwetan itu ternyata hanya prasangka yang berputar-putar dalam kepala McCabe. Wilder cuma mengajukan satu syarat. Ia meminta McCabe menelepon Presiden Northampton, Kelvin Thomas, untuk membereskan biaya kompensasi yang harus dibayar Sheffield terkait transfer ini.

Thomas tidak mempersulit keadaan. Ia tahu betul bahwa Wilder ingin kembali ke Sheffield. Kesepakatan terjadi, Wilder datang dengan hati yang meletup tanpa tahu apa yang bisa dikerjakannya untuk menolong tim.

***

Sepak bola Wilder adalah rimba liar yang melahirkan kejadian tak terduga dan keruwetan yang seperti tanpa jalan keluar. Wilder tak perlu berpikir tinggi-tinggi menjadi juara. Cerita kepelatihannya pada 2002 hingga 2008 di Halifax Town bahkan dimulai tanpa seorang pemain pun.

Klub benar-benar tak punya uang dan pemain. Tantangan pertama yang dihadapi Wilder saat itu adalah memastikan timnya bisa bertanding dengan 11 orang di laga perdana.

Sepak bola yang dihadapi Wilder saat itu adalah pertempuran untuk bertahan hidup di divisi kelima sepak bola Inggris. Halifax baru saja selamat dari lubang jarum kebangkrutan setelah konsorsium pengusaha lokal yang beranggotakan 10 orang mengumpulkan uang sekitar 100.000 poundsterling.

Untuk sementara, Halifax selamat. Namun, mereka hanya punya segelintir untuk bisa berlaga dan membangun tim. Dalam keadaan seperti itu Wilder dipanggil kembali ke Halifax. Klub ini adalah klub terakhir yang dibela Wilder sebagai pemain. Setelah jatuh bangun selama 19 tahun sebagai bek, kini Wilder ditempa untuk menjadi seorang manajer.

Hari-hari pemusatan latihan yang dihabiskan Wilder bersama para pemain Sheffield dengan menggunakan dua bus mewah ala klub sepak bola selalu mengembalikannya pada cerita di Halifax. Pada awal masa kepemimpinannya, Wilder dan para pemain Halifax mesti menempuh perjalanan sekitar 12 jam dengan bus reyot untuk menjalani latihan tanding di daerah utara.

Di Halifax waktu itu, Lee Butler yang merupakan pelatih penjaga gawang juga sering bermain sebagai pencetak gol. Fisio tim adalah bek kiri dan pelatih tim utama bermain sebagai gelandang tengah. Apa boleh buat, setiap orang harus turun tangan.

Hanya karena terlihat karib dengan hal-hal suram, bukan berarti tak ada kehormatan dalam cerita sepak bola Wilder. Semua tim yang dilatihnya, mulai dari Alfreton Town hingga Sheffield, merasakan sendiri nikmatnya mengangkat trofi. Situasi sulit silih berganti, tetapi Wilder tak kehilangan martabatnya.

Wilder tak hanya cerdas, tetapi juga cermat dan jenaka. Ia bersahabat dengan semua pemain dan selalu tahu cara untuk mendekatkan suporter dengan tim. Dalam sesi wawancara di depan ruang ganti ketika Northampton juara Football League Two 2015/16, anak-anak asuhnya mengendap-endap merencanakan kejutan.

Wawancara itu terhenti di tengah jalan karena tiba-tiba, Wilder diguyur berbotol-botol bir oleh para pemainnya. Fragmen jenaka yang tertangkap kamera itu ibarat ajakan ke seantero Inggris untuk memaklumkan kabar baik tentang kegembiraan yang lahir di tanah Northampton.

Pada musim pertamanya bertugas di Bramall Lane, Wilder mengangkat Sheffield yang finis di urutan ke-11 di League One 2015/16 menjadi kampiun 2016/17 dan naik ke Championship. Setelah finis di urutan ke-10 Championship 2017/18, The Blades jadi runner up Championship 2018/19 dan bersorak merayakan kelolosan ke Premier League.

Dua promosi dalam tiga musim adalah hasil yang fantastis. Ditambah, Sheffield bukan klub kaya-raya. Mereka bahkan datang ke Premier League 2019/20 sebagai tim terhemat dengan cuma menghabiskan sekitar 47 juta poundsterling di bursa transfer musim panas.

Sebagian besar pemainnya ditarik dari liga-liga yang lebih rendah. Tak ada superstar, tak ada selebritas. Sebagian di antaranya adalah orang-orang biasa yang ikut tersenyum geli sambil membantu Wilder agar tak benar-benar tergelincir saat bergaya mengangkat trofi di atas bis ketika diarak keliling kota sebagai juara Championship 2016/17.

Di bawah asuhan Wilder, Sheffield membukukan masing-masing empat poin--satu kemenangan dan satu hasil imbang--saat melawan Chelsea, Arsenal, dan Tottenham Hotspur. Pep Guardiola, Juergen Klopp, hingga Sir Alex Ferguson menaruh hormat padanya.

Wilder tak hanya membuat Sheffield menjadi tim terliar di Premier League. Kemenangan memang tak selalu berhasil diamankannya. Namun, ia berhasil mendamaikan para suporter dan pemain. Barangkali karena kejatuhan yang tak selesai-selesai, suporter Sheffield muak dengan para pemain. Sebaliknya, para pemain terusik karena suporter tak mendukung mereka sepenuhnya ketika bermusim-musim digebuk mala.

Namun, setelah promosi dari League One, Sheffield disebut-sebut sebagai salah tim Championship yang paling banyak mendatangkan penonton. Dengan humornya yang entah bagaimana caranya muncul begitu saja saat sesi wawancara, Wilder mempersatukan para suporter. Ia membuat suporter ikut menepuk-nepuk emblem Sheffield di jersi dalam kebanggaan yang meletup-letup setiap kali para pemain merayakan gol dengan gesture serupa. 

Ia menyulut sorak-sorai dengan ikut berseluncur di atas rumput bersama para pemain ketika merayakan gol. Wilder melompat dengan lincah, mengacungkan tinju ke udara hampir di setiap kemenangan. 

Sambil mengangkat kedua tangan, ia memimpin suporter bertepuk tangan, untuk menyanyikan chant bagi tim. Bahasa tubuh tanpa kata-kata itu menegaskan; “Ayo dukung kami! Kami belum menyerah! Kita belum tamat, malam ini kita pulang dengan kemenangan!“

Di tengah-tengah perjalanan yang tak terbayangkan itu, Wilder bertemu dengan rintangan yang juga tak pernah ia pikirkan: Pangeran Abdullah. Konon penunjukan Wilder pada 2016 terjadi di tengah friksi kedua pemilik klub, McCabe dan Pangeran Abdullah. Hingga 2013, McCabe berstatus sebagai pemilik tunggal. Lantas, ia menjual 50% sahamnya senilai 10 juta poundsterling kepada sang pangeran.

Mengutip laporan Alistair Magowan untuk BBC, perselisihan muncul karena McCabe curiga Pangeran Abdullah tak memiliki uang yang ia klaim sebelumnya. Perselisihan itu berlanjut hingga ke Pengadilan Tinggi. Apes bagi McCabe, Pangeran Abdullah akhirnya menjadi penguasa Sheffield pada 2019.

Wilder bukan pria yang meledak-ledak jika bicara urusan di balik meja. Taktik dan mengurus tim saja sudah membuatnya pusing, buat apa ia ikut campur. Namun, Wilder tahu betul apa yang diinginkannya. Sebagai manajer, ia harus ikut mengambil keputusan jika berkaitan langsung dengan tim.

Kejutan yang dibuat Sheffield di Premier League 2019/20 tidak bersumber dari lesakan gol. Dengan 39 gol, mereka menjadi salah satu tim dengan gol yang paling sedikit di musim itu. Bahkan Bournemouth yang terlempar ke Championship saja bisa membuat 40 gol.

Kekuatan terbesar Sheffield adalah lini pertahanan yang kokoh. Pada kurun itu, mereka hanya kebobolan 39 kali. Jumlah itu membawa Sheffield sebagai tim keempat yang paling jarang kebobolan di Premier League 2019/20, di bawah Liverpool (33), Manchester City (35), dan Manchester United (39).

Petaka datang ketika lini pertahanan terguncang. Dean Henderson, sang penjaga gawang, diangkut kembali ke Old Trafford. Bek tengah yang menjadi kunci pertahanan Sheffield, Jack O'Connell, cedera. Begitu pula dengan gelandang impresif mereka, Sander Berge.

Kondisi ini mematahkan pedang tajam Sheffield. Dalam 29 laga Premier League, mereka cuma menang empat kali. Kemenangan pertama baru didapat pada laga ke-18 ketika melawan Newcastle United.

Setelah empat bulan, suporter Sheffield mendengar lagi wawancara jenaka Wilder. Barangkali humor adalah cara Wilder menghargai kemenangan, tak peduli setipis apa pun itu. “Wawancaranya jangan lama-lama, saya mau pulang!”

Wilder bukannya mendiamkan permasalahan di lini pertahanan timnya. Akan tetapi, sang bos besar menolak untuk kembali menggelontorkan uang setelah mendatangkan Rhian Brewster (22 juta poundsterling), Berge (20 juta poundsterling), Oliver McBurnie (20 juta poundsterling), dan Lys Mousset (10 juta poundsterling).

Investasi itu seperti buntung. Brewster yang memecahkan rekor transfer saja belum sanggup mencetak satu gol pun. Ironis karena ia didatangkan untuk menjadi solusi bagi sistem penyerangan Sheffield.

***

14 Maret 2021, keputusan sudah bulat. Dengan senyuman khasnya, Wilder berpamitan dan mengusir cerita-cerita suram tentang pemecatan. 

Mungkin sesekali ia akan datang untuk menyaksikan laga Sheffield, persis ketika ia berdiri di tribune penonton tepat di belakang David Seamen ketika The Blades berlaga melawan Arsenal pada semifinal Piala FA 2002/03. Atau barangkali ia akan menyempatkan diri untuk menonton laga tandang Sheffield serupa yang dilakukannya bersama teman-temannya di tim utama Sheffield demi menonton pertandingan tim semi-reserve Sheffield melawan Wrexham pada Sherpa Van Trophy 1988/89.

Katanya, ia menyimpan seluruh cerita dan kenangan terbaik bersama Sheffield. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Wilder hanya perlu pergi, lalu membuktikan bahwa di rimba seliar sepak bola, selalu ada tempat bagi orang sepertinya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.