Tanpa Ben Chilwell, Chelsea Jadi "Unwell"

Foto: @BenChilwell.

Chelsea mulai merana setelah Chilwell cedera. Mereka cuma memenangi tiga dari sembilan pertandingan di liga. Sepenting itukah keberadaannya?

Sendu tahun baru Ben Chilwell. Dengan bantuan kruk, dia kembali lagi ke tempat latihan Chelsea setelah sebulan lebih. Tidak seperti rekan-rekan setimnya, dia datang ke sana untuk memulai proses rehabilitasi.

Cedera itu dialami saat timnya membabat Juventus 0-4 di Liga Champions. ACL-nya robek dan Chilwell terancam absen hingga akhir musim. Artinya, Chelsea harus mulai membiasakan diri tanpanya.

Bukan perkara mudah buat Chelsea. Nyatanya, lima hari kemudian The Blues ditahan imbang Manchester United di kandang. Itu belum seberapa. Mereka keok 2-3 dari West Ham di pekan 15 dan bermain imbang 3-3 dengan Zenit St. Petersburg pada matchday pemungkas fase penyisihan. Alhasil Chelsea kudu puas finis sebagai runner-up Grup H.

Inkonsistensi ini terus berlanjut di Premier League. Cuma satu poin yang Chelsea dapat ketika bersua Everton, Wolverhampton Wanderers, dan Brighton and Hove Albion. Kegagalan yang harus dibayar mahal. Sepuluh poin kini jarak mereka dengan Manchester City.


"Kami tidak memiliki bek sayap lagi. Semua pemain cedera dan beberapa di antaranya baru pulih dari COVID. Sementara di saat yang bersamaan kami harus terus melakoni pertandingan,” ucap Thomas Tuchel usai timnya ditahan imbang Brighton.

Pertandingan di Stamford Bridge itu menggambarkan betapa anjloknya performa Chelsea sekarang. Persentase penguasaan bola keseluruhan hanya 48%. Jauh di bawah rata-rata mereka musim ini sebanyak 59%.

Yang lebih penting lagi adalah agresivitas. Hanya 11 jumlah tembakan Chelsea atau 7 shots lebih sedikit dari Brighton. Dari segi kualitas pun sama. Wong, xG Mason Mount dkk hanya 0,76—juga lebih kecil dari The Seagulls. Sialnya, probelem ini bukan cuma kejadian sekali. Melawan Everton, Chelsea hanya mampu mengkonversi satu gol dari 23 tembakan. Mereka juga mendulang 19 peluang saat takluk dari West Ham.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Chelsea tidak benar-benar mengandalkan para penyerangnya untuk memproduksi gol. Bukannya Tuchel tak mau, tetapi karena striker-striker itu tak cukup mampu melakukannya. Timo Werner misalnya, baru mengemas sebiji gol sampai saat ini.

Romelu Lukaku juga sama saja. Lima gol dia hasilkan dari 13 penampilan atau 0,3 bila dirata-rata per laga. Ini jelas sebuah penurunan dibandingkan saat masih di Inter Milan. Rerata golnya hingga akhir musim 0,66 di tiap pertandingan. Belum lagi dengan kontribusi assist-nya yang mencapai 11. Di Chelsea? Nihil. 

Tuchel sebenarnya sudah mengantisipasi soal kemungkinan seretnya produktivitas lini depan Chelsea. Berkaca dari musim lalu, tak ada penyerangnya yang mencetak lebih dari 7 gol. Topskorer Chelsea malah Jorginho—yang sebagian besar golnya berasal dari titik putih.

Itu yang kemudian mendorong Tuchel memaksimalkan lini kedua. Dalam hal ini, wing-back. Tuchel intens mengadopsi formasi dasar 3-4–2-1 dan dalam fase menyerang, akan beralih menjadi 3-2-5.

Perubahan ini dimotori oleh pergerakan wing-back ke ke garis depan untuk membantu serangan. Bukan hanya itu sebenarnya, karena Tuchel ingin timnya unggul jumlah pemain di setiap lini. Semakin tinggi kuantitas pemain, semakin besar pula opsi serangan Chelsea. Skema ini menjadi penting untuk mempertajam lini depan mereka yang ompong. Maka tak mengherankan bila gol-gol Chelsea kebanyakan berasal dari wing-back mereka. Paling menonjol, ya, Reece James. Sudah 5 gol dan 4 assist dihasilkannya hingga pekan ke-21.

[Baca Juga: Dari Tepi, Sayap-sayap Chelsea Menuai Ambisi]

Well, pada awalnya Marcos Alonso yang dipercaya Tuchel untuk mengisi pos bek sayap kiri—sebagaimana yang pernah dipakai Antonio Conte lima tahun silam. Hasilnya lumayan. Alonso menorehkan masing-masing 1 gol dan assist hingga pekan keenam.

Yang jadi soal, tinggi urgensi Chelsea kepada pencetak gol. Problemnya, itu tadi, rendahnya produktivitas sektor depan. Sumbangsih ofensif Alonso masih kurang untuk menanggulanginya. Bandingkan dengan James yang sudah mengumpulkan satu gol dan 3 assist. Itu yang kemudian membuat Tuchel beralih ke Chilwell. Apalagi waktu itu Chelsea baru kalah 0-1 dari City, sekaligus menjadi kekalahan pertama mereka di liga.

Chilwell menjawab kepercayaan itu dengan sempurna. Satu gol dia sumbangkan saat diturunkan sebagai starter sepekan setelahnya. Melawan Southampton itu, Chelsea menang 3-1. Tak berhenti sampai sana. Chilwell berurutan mencetak gol di dua pertandingan lagi. Termasuk lesakan semata wayang yang memenangkan Chelsea atas Brentford.

Sampai sekarang, Chilwell telah genap mengoleksi 3 gol dan 1 assist di Premier League. Jumlah tersebut masih lebih baik dari Alonso yang baru memproduksi 2 gol dan 1 assist. Perlu digarisbawahi bahwa eks Fiorentina itu mengecap menit mentas dua kali lipat atas Chilwell.

Overall, apa yang membuat peran Chilwell menjadi vital adalah kemampuannya dalam mencetak gol. Lebih luasnya lagi, keterlibatannya dalam proses serangan Chelsea. Mengacu Fbref, Shot Creating-Actions (SCA) Chilwell mencapai 3,5 per 90 menitnya.

Sebagai komparasi, SCA Chilwell itu masih lebih baik dari Alonso yang mencatatkan 3,29 per 90 menit. Oh, ya, SCA ini merepresentasikan aksi ofensif yang dilakukan sebelum tim melepaskan tembakan. Meliputi umpan, dribble, dan juga pelanggaran.

Belum lagi perkara kualitas penyelesaian peluang. Sebagaimana dicatat Understat, xG surplus 1,7. Pun dengan Expected Assist (xA) miliknya. Ini berbanding terbalik dengan Alonso yang defisit 0,56. Bila mengacu xA-nya, Alonso juga seharusnya bisa mencetak satu assist lebih banyak.

Expected goal dan assist Ben Chilwell di Premier League 2021/22. Sumber: Understat
Expected goal dan assist Marcos Alonso di Premier League 2021/22. Sumber: Understat

***

Gamblangnya, ketiadaan Chilwell memengaruhi betul kualitas serangan Chelsea sekarang. Alonso, kendati punya kemampuan bertahan lebih bagus, tak betul-betul mampu memenuhi kebutuhan Chelsea soal aspek ofensif. 

Kemudian, apakah inkonsistensi yang dialami Chelsea ini gara-gara cederanya Chilwell semata? Tidak juga. Absennya Chilwell memang berimpak, tapi dia bukan satu-satunya alasan akan itu. Dalam beberapa waktu terakhir Tuchel kehilangan banyak pemain gara-gara cedera dan COVID.

Lukaku, Werner, dan Callum Hudson-Odoi sempat terdeteksi positif jelang laga versus Everton. N’Golo Kante dan Mateo Kovacic juga beberapa kali tumbang karena cedera. Ketiadaan mereka berdampak kepada keseimbangan lini tengah Chelsea. Itu pula yang membuat gawang Chelsea kerap bobol belakangan ini. Ruben Loftus-Cheek bukan tandem ideal Jorginho di poros sentral. Pun begitu dengan Saul yang tampil angin-anginan.

Hingga saat ini, Tuchel masih belum bisa menurunkan James dan Trevoh Chalobah yang dibekap masalah hamstring. Transfermarkt mencatat bahwa Kante dan Thiago Silva masih terjangkit COVID per 5 Januari. Dengan begitu, setidaknya mereka baru akan kembali awal bulan depan.

Terlepas dari keroposnya skuad Chelsea sekarang, prioritas Tuchel adalah mengobati para penyerangnya yang mandul. Sebab, kalau bukan sekarang, sampai kapan Chelsea bergantung kepada lini kedua (dan hadiah penalti) untuk mencetak gol?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.