Tekad Kuat Cuadrado

Ilustrasi: Arif Utama.

Juan Cuadrado tumbuh di tengah konflik dan letusan senapan; ini membuatnya besar sebagai orang dengan tekad kuat. Maka, tak peduli sesulit apa pun situasi yang ia hadapi, Cuadrado selalu bisa melewatinya.

Juan Cuadrado punya banyak cara merayakan gol. Namun, di antara semuanya, yang paling sering ia lakukan sejak dulu adalah mengangkat dan mengarahkan kedua tangannya ke langit. Sebuah tragedi ketika ia masih bocah jadi alasan di balik selebrasi itu.

Untuk mengingat semuanya, kita akan berkunjung ke Necocli, kota kecil yang jadi tempat lahirnya Cuadrado, 32 tahun lalu.

Jika Anda mengetiknya di pencarian Google, Anda akan melihat peta sebuah wilayah yang lokasinya tepat berada di pantai utara Kolombia. Kawasan ini memang terkenal karena pantainya. Konon, ia ibarat surga kecil. Anda akan menjumpai berderet pohon palem dengan daun yang melambai, hutan tropis yang lebat, pantai yang panjang, serta laut Karibia yang biru terang.

Sayangnya, selama berpuluh-puluh tahun wilayah itu terkepung oleh sebuah tragedi yang tiada berujung. Tak akan Anda temui wilayah yang dulunya ibarat surga. Turis, tentu saja, enggan berkunjung ke sana. Anda justru akan melihat pemukiman yang porak poranda, diiringi suara jeritan dan dentum tembakan yang seolah tiada habisnya.

Konflik panjang antara militer, gerilyawan, dan para kartel narkoba sejak 1980-an jadi alasan di balik semuanya.

Cuadrado ingat segala tragedi tersebut. Ia juga ingat betul pesan kedua orang tuanya sejak kanak-kanak. Jika terdengar suara tembakan, ucap orang tuanya, Cuadrado mesti berlari sekencang mungkin dan bersembunyi ke bawah tempat tidur, termasuk pada malam ketika tragedi berdarah itu terjadi.

Karena suara tembakan terdengar begitu kencang dan sepertinya tak jauh dari rumah mereka, Cuadrado berlari dan bersembunyi ke kolong tempat tidur. Setelah beberapa saat, suara tembakan memudar dan beralih menjadi suara tangisan kencang Ibunya. Cuadrado merangkak keluar dan mendapati bahwa Guillermo, ayahnya, meninggal karena tertembak.

Tragedi itu yang mendasari gerakan mengangkat tangan Cuadrado tiap kali mencetak gol ke gawang lawan.

Kawan masa kecil Cuadrado, Juan Diego Ramirez, pernah menulis sebuah surat terbuka lewat harian Kolombia El Espectador pada Piala Dunia 2014. Dalam surat itu ia mengenang hubungan perkawanan mereka, kondisi Necocli, juga tentang betapa sulitnya masa kanak-kanak yang Cuadrado alami, terutama setelah sang ayah meninggal.

“Ayah kamu adalah satu dari daftar panjang ketidakadilan yang terjadi di sini, dalam perang menyebalkan ini. Kamu lahir dalam situasi yang sulit. Jadi, kamu tahu lebih dari siapa pun bahwa memiliki bakat saja tidak cukup,” tulis Ramirez.

Buat Cuadrado, hanya memiliki bakat memang tak cukup. Orang-orang sudah sering melihat bagaimana dirinya memainkan bola di jalanan dan lapangan pantai dan berdebu Necocli. Namun, karena kondisi tempat dan kemiskinan yang dia alami, Cuadrado sadar bahwa dia juga mesti punya hal lain yang tak kalah penting: Tekad kuat.

Dalam sebuah wawancara, Cuadrado mengaku bahwa ibunya tak senang melihatnya bermain sepak bola. Oleh karena itu, sang ibu pernah mengikat Cuadrado di sebuah pohon di halaman belakang rumah untuk mencegahnya bermain. Neneknya juga tak begitu suka karena pakaian sekolah Cuadrado selalu kotor tiap kali bermain sepak bola.

Namun, semua larangan itu tak menyurutkan niat Cuadrado. Semangatnya juga tak hilang ketika Deportivo Cali dan River Plate menolaknya karena dianggap terlalu pendek dan kurang gizi — julukannya Shorty. Sebab Cuadrado sudah bertekad bahwa sepak bola adalah jalan keluar atas semua tragedi buruk yang menimpanya selama ini.

***

Uang yang mesti Chelsea keluarkan untuk mendatangkannya dari Fiorentina terhitung mahal: 23,3 juta poundsterling. Seiring dengan itu, ekspektasi yang menumpuk di pundaknya juga besar. Namun, Cuadrado tak kuasa membayar semuanya. Jangankan tampil bagus, ia bahkan sulit menggeser posisi Willian di pos sayap kanan penyerangan.

Salah satu hal yang bikin Cuadrado jarang tampil adalah aspek bertahannya yang buruk. Jose Mourinho, pelatih Chelsea kala itu, pernah geram bukan main karena Cuadrado. Dalam sebuah pertandingan, eks pemain Udinese ini kerap telat mundur membantu pertahanan. Pressing-nya juga dinilai buruk (atau setidaknya tak sebaik Willian).

Chelsea lantas mendatangkan Pedro Rodriguez dari Barcelona, sedangkan Cuadrado dipinjamkan ke Juventus.

Para pendukung Bianconeri menyambut baik karena tahu betapa bagusnya Cuadrado saat masih berkiprah di Italia. Cuadrado sendiri mampu menunjukkan tajinya kembali. Ia mulai rutin bermain di bawah kendali Massimiliano Allegri. Juga satu lagi: Aspek bertahan yang sebelumnya dikritik habis Mourinho malah jadi kekuatan barunya.

Seperti di Chelsea, Cuadrado sebetulnya datang sebagai pemain sayap. Namun, masalah cedera memaksa Allegri memutar otak. Dalam skema 4–3–3 miliknya, ia mengubah Cuadrado menjadi seorang bek sayap. Penampilannya di sana membuat Allegri terkesan, terutama ketika si pelatih coba menerapkan formasi 3–5–2.

Yang Allegri suka dari Cuadrado, pertama-tama, adalah kemampuan menyerangnya. Sebagai pemain yang memang terbiasa menyerang, Cuadrado memiliki dribel dan kecepatan tingkat satu. Soal aspek satu ini, ia jauh melampaui bek kanan utama Juventus, Stephan Lichtsteiner, sehingga bisa menjadi kejutan buat lini pertahanan lawan.

Kedua, semangat juangnya. Ketika Allegri memintanya untuk meningkatkan aspek bertahan, terutama soal timing saat transisi, Cuadrado langsung melatihnya sekeras tenaga. Yang ia tunjukkan di atas lapangan jadi bukti bahwa latihan tersebut berbuah manis.

Maka, sejak saat itu, Cuadrado, mulai rutin mengisi sisi kanan pertahanan Juventus, terlebih setelah Lichtsteiner hengkang.

“Dia tahu kapan harus mengoper bola. Jika dia belajar lebih giat lagi soal timing, terutama kapan harus membantu rekan timnya bertahan, dia bisa menjadi tak terbendung. Juan Cuadrado telah melakukannya dengan sangat baik sejauh ini dan telah meingkat dalam hal taktis, fisik dan teknis,” kata Allegri suatu kali.

Saat kendali pelatih beralih ke tangan Maurizio Sarri, posisi Cuadrado sempat terancam. Apalagi, Juventus baru saja mendatangkan Emre Can yang memang lebih fasih bermain sebagai bek sayap kanan. Namun, pada akhirnya Cuadrado tetap jadi opsi utama karena fleksibilitas yang bisa ia sajikan selama pertandingan.

“Cuadrado mampu bertahan dan menyerang dengan tepat. Dia tak pernah membuat kami kehilangan keseimbangan,” kata Sarri.

Ada peran Andrea Barzagli di balik perkembangan pesat Cuadrado sebagai seorang bek sayap kanan. Sarri pernah menceritakannya. Cuadrado juga sempat mengungkapkan sendiri soal betapa pentingnya keberadaan eks pemain Juventus yang kala itu bertugas sebagai bagian staf kepelatihan tim tersebut.

“Aku mencoba mengubah mentalitasku dan terus menjaga konsentrasi karena aku tahu, aku bisa bermain lebih baik lagi. Namun, Barzagli tak sedetik pun memberiku kesempatan bernapas. Dia terus-terusan meneriaki diriku,” tutur Cuadrado.

Posisi pelatih Juventus saat ini kembali berganti. Kali ini dipegang oleh Andrea Pirlo. Lagi-lagi, Cuadrado masih jadi tumpuan untuk menempati sisi kanan pertahanan. Entah lewat skema 4–4–2 atau 3–4–1–2 andalan Pirlo, sisi kanan hampir selalu jadi milik Cuadrado.

Yang Pirlo sukai dari Cuadrado tak berbeda dengan apa yang pelatih-pelatih sebelumnya rasakan. Selain sangat fleksibel dan sangat bisa diandalkan di sisi kanan, Cuadrado punya tekad dan semangat juang yang tinggi. Apa yang Cuadrado tunjukkan pada laga Supercoppa Italia melawan Napoli awal tahun ini jadi contohnya.

Meski sempat absen hampir tiga pekan akibat terpapar COVID-19, ia tetap mampu tampil ciamik. Satu assist yang dibukukan untuk gol Alvaro Morata jadi bukti. Lebih dari itu, Cuadrado juga mencatatkan 5 dribel sukses, 2 tekel, serta memenangi 1 duel udara. WhoScored lantas mendaulatnya sebagai man of the match laga tersebut.

Secara keseluruhan, Cuadrado telah bikin 16 assist di seluruh kompetisi, terbanyak di Juventus.

“Dia melakukannya dengan sangat baik. Kami bahkan tidak mengira dia akan bertahan di lapangan selama 90 menit penuh, tetapi nyatanya dia melakukan pekerjaan dengan baik,” ujar Pirlo.

Sementara Cuadrado tampil memesona, Juventus cenderung kembang-kempis musim ini. Dengan begitu bisa saja pergantian pelatih pada musim depan kembali terjadi. Berbagai spekulasi bahkan sudah mulai muncul. Mulai dari Simone Inzaghi hingga kembalinya Allegri.

Namun, seperti sebelumnya, besar kemungkinan Cuadrado yang tengah dalam performa ciamik tetap jadi andalan. Kalau dulu ia mesti berlari ketika mendengar suara tembakan, sekarang ia akan terus berlari untuk menyisir sisi lapangan, siapa pun pelatihnya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.