Tekanan Besar untuk Edu Gaspar

Foto: Arsenal.com.

Posisi Edu Gaspar tengah menjadi sorotan. Ia dianggap membuat Arsenal merugi di bursa transfer ini.

Bagi Eduardo Cesar Daud Gaspar, hidup dan karier dalam sepak bola adalah perkara menemukan tempat yang pas.

Edu memang bukan pemain seperti Patrick Vieira ataupun Gilberto Silva. Dibandingkan mereka, Edu hanyalah serep. Oleh pelatih ketiganya di Arsenal, Arsene Wenger, Edu ditempatkan sebagai pelapis untuk Vieira ataupun Gilberto.

Namun, jadi pemain pelapis pun sudah cukup. Asalkan bisa memberikan guna untuk tim, tidak ada masalah. Bergabung pada Januari 2001 dan hengkang pada Mei 2005, Edu masih sempat mencicipi 79 pertandingan bersama The Gunners di Premier League.

Jumlah itu bukanlah jumlah yang buruk untuk seorang pelapis. Jika dirata-rata, Edu masih bisa bermain sekitar 17,5 laga bersama Arsenal. Sudah begitu, ia masih bisa merasakan dua trofi Premier League dan satu invincible season bersama raksasa London Utara itu. Bagi Edu, Arsenal adalah jalan karier dan pencapaian terbesarnya selama menendang si kulit bulat.

Ketika masa-masa menyenangkan itu berakhir, Edu menepi ke Villarreal—tempat ia bermain selama empat tahun dan memenangi satu Copa del Rey—dan mengakhiri kariernya sebagai pemain Corinthians, tempat ia memulai semuanya sebagai pemain profesional.

Jika Arsenal adalah pencapaian terbesarnya, Corinthians adalah awal, akhir, sekaligus awal baru untuknya. Di Corinthians, Edu belajar bahwa untuk menemukan tempat di dalam dunia sepak bola yang sudah kadung sesak, kamu tidak harus berdiri di dalam atau di dekat lapangan.

Begitu kariermu habis, masih ada jalan lain untuk melanjutkannya selain menjadi pelatih. Maka, Edu—yang merasa bahwa kemampuannya dalam bernegosiasi tidak jelek-jelek amat—memilih untuk menjadi seorang director of football.

Berkat kinerjanya, Corinthians berhasil mendatangkan Paolo Guerrero, Paulinho, serta mengorbitkan beberapa pemain seperti Marquinhos dan Malcom, yang kelak terjual dengan harga lumayan ke klub-klub Eropa.

Jika mendatangkan dan menjual pemain menjadi tolok ukur betapa bagusnya kinerja Edu sebagai director of football, tunggu sampai kamu melihat pencapaian tim pada masanya menjabat. Time do Povo—begitu salah satu julukan untuk Corinthians—sukses memenangi Piala Dunia Antarklub dan Serie A Brasil. Lambat laun, Edu mulai menikmati posisinya.

Dari kepiawaiannya duduk sebagai seseorang kepanjangan tangan untuk tim dan klub, ia kemudian menjajal pekerjaan sebagai direktur teknik untuk Tim Nasional Brasil. Apes, alih-alih mencapai hasil kerja yang memuaskan seperti di Corinthians, Edu malah mendapatkan sorotan.

Beberapa wartawan di Brasil pernah mengkritik ketidaktegasannya ketika membiarkan ayah Neymar masuk ke ruang ganti hanya untuk menghibur anaknya. Itu hanyalah satu dari sekian cerita penganakemasan Edu terhadap Neymar. Cerita lainnya, berdasarkan laporan Folha de Sao Paulo, Edu pernah mengizinkan ayah Neymar untuk menginap di hotel yang sama dengan para pemain Brasil.

Setelah perjalanan Brasil di Piala Dunia 2018 berakhir dengan kekalahan dari Belgia di perempat final, hubungan Edu dengan para jurnalis asal Brasil merenggang. Sebelumnya, ia selalu memiliki waktu untuk berbincang-bincang dengan para wartawan itu. Namun, setelah Selecao tersingkir di Kazan, Edu memilih menghindar.

Beberapa wartawan berspekulasi bahwa posisi Edu di Timnas Brasil mulai dipertanyakan. Pertanyaan-pertanyaan soal kapabilitas Edu itu kemudian terbawa sampai suatu ketika pada tahun 2019, ia ditunjuk menjadi direktur teknik pertama dalam sejarah Arsenal.

***

Arsenal bukanlah tim yang alergi menggunakan posisi-posisi yang sifatnya spesialis untuk membuat skuad mereka menjadi lebih baik. Pada awal musim 2018/19, misalnya, mereka menggaet Sven Mislintat sebagai Kepala Pemandu Bakat.

Penunjukan Mislintat bukanlah sesuatu yang mengherankan. Di dalam CV-nya, pria kelahiran Kamen, Jerman, itu pernah menyarankan Borussia Dortmund untuk mendatangkan Pierre-Emerick Aubameyang dan Henrikh Mkhitaryan, dua pemain yang di kemudian hari jadi bagian penting untuk kesebelasan Lembah Ruhr itu.

Di Arsenal, cara Mislintat masih sama. Ia bakal merekomendasikan pemain yang menurutnya cocok untuk kebutuhan tim, tetapi masih memiliki ruang untuk berkembang. Oleh karena itu, ia menyarankan Arsenal untuk mendatangkan Konstantinos Mavropanos, Lucas Torreira, dan Matteo Guendouzi.

Tentu saja, nama-nama yang Mislintat sarankan lebih banyak yang gagal. Masa kerjanya pun berakhir prematur, hanya satu musim saja. Ia memilih untuk pergi karena merasa kedatangan Edu bakal mengebiri perannya.

Peran Edu memang cukup sentral di Arsenal. Ia harus berkoordinasi dengan staf kepelatihan tim utama, tim akademi, tim pemandu bakat, dan tim perekrutan. Semuanya ia lakukan untuk memastikan kontinuitas perkembangan dan efisiensi penguatan skuad.

Maka, ketika proses pembangunan skuad tersebut tidak berjalan sesuai yang diharapkan, Edu merupakan orang yang paling bertanggung jawab. Alhasil, para pendukung Arsenal pun mulai mempertanyakan kinerjanya.

Pada bursa transfer musim lalu, misalnya, Arsenal mendatangkan Willian Borges dengan status bebas transfer. Namun, The Gunners malah memberikan gaji yang besar kepada Willian, yakni 220 ribu poundsterling atau sekitar Rp 4,2 miliar.

Willian pun jadi pemain nomor dua dengan gaji paling besar di Arsenal. Ia hanya kalah dari Pierre-Emerick Aubameyang. Keputusan menggaji mahal Willian itu menjadi blunder karena pada musim 2020/21, sumbangsih pemain asal Brasil tersebut untuk tim tidaklah signifikan.

Kebijakan ini membuat Edu terlihat setengah-setengah membangun Arsenal. Di satu sisi Arsenal mendatangkan pemain muda seperti Kieran Tierney, Gabriel Magalhaes, dan Gabriel Martinelli. Namun, di sisi lain mereka tak bisa mendapatkan pemain senior yang bisa mengangkat dan membimbing para pemain muda.

Memang, keberhasilan mendatangkan Thomas Partey adalah kesepakatan transfer yang sangat baik oleh Arsenal. Sayangnya, Partey tak didukung oleh pemain yang mumpuni di pos yang serupa. Selain itu, Edu juga tak bisa menjual pemain dengan sangat baik. Mesut Oezil, Shkodran Mustafi, Sokratis Papasthopoulus malah diputus kontraknya, yang menyebabkan mereka pergi secara gratis.

Pada musim ini, kebijakan transfer Arsenal di bawah Edu juga menimbulkan tanda tanya. Terutama saat The Gunners mendatangkan Ben White senilai 50 juta poundsterling dan Aaron Ramsdale dengan harga 24 juta poundsterling.

Baik White maupun Ramsdale memang masih memiliki nilai positifnya masing-masing. Misal: Ramsdale dinilai lebih fasih memainkan bola dengan kaki sehingga memudahkan keinginan Mikel Arteta untuk membangun serangan dari belakang. Namun, keduanya dinilai masih sangat minim pengalaman untuk bermain bersama Arsenal, yang notabene memiliki tekanan lebih besar dibandingkan tim masing-masing pemain sebelum ini. Mereka juga dinilai tak layak untuk dibeli dengan mahar yang sangat besar.

Pembelian pemain Arsenal musim ini juga semuanya pemain-pemain muda. Sampai saat ini, belum ada pemain di atas usia 25 tahun yang dibeli oleh Arsenal. Dengan materi pemain senior yang kurang, kebijakan ini memang menjadi masalah. Ada kesan bahwa dalam proses penyusunan skuad, tidak ada perencanaan dan prioritas yang jelas. Tak heran, posisi Edu terancam dan dikabarkan siap dilengserkan oleh para petinggi Arsenal.

Edu, seperti yang acap dipermasalahkan oleh para jurnalis asal Brasil, seringkali bimbang dan minim ketegasan. Padahal, untuk memugar sebuah rumah yang sudah terlalu lama dibiarkan reyot seperti Arsenal, ia semestinya berlaku seperti seorang arsitek dengan blueprint yang jelas.

Menurut laporan The Athletic, semenjak Wenger mengundurkan diri pada 2018, Arsenal telah menghabiskan £400 juta untuk mendatangkan pemain. Nilai setinggi itu sama dengan rata-rata £100 juta per musim, dan kebanyakan di antaranya dihabiskan saat Edu menjabat. Terlepas dari harga pemain belakangan memang tak masuk akal, semestinya jumlah setinggi itu semestinya sudah cukup untuk mendatangkan skuad yang lebih kokoh dan lebih baik.

Per laporan Mirror, Arsenal memang sudah berencana memberhentikan Edu. Bahkan, nama-nama pengganti seperti Marc Overmars, Ralf Rangnick, dan Michael Emenalo dikabarkan telah disiapkan oleh manajemen The Gunners.

***

Dua kekalahan beruntun di pekan awal Premier League membuat situasi Arsenal memanas. Isu pemecatan Arteta menyeruak. Begitu juga dengan posisi Edu. Namun, problem di dalam tubuh Arsenal semestinya disikapi dengan lebih bijak.

Di dalam sebuah tim yang tak kunjung menemukan kohesivitas, pencopotan jabatan satu atau dua orang biasanya tidak akan betul-betul menyelesaikan masalah. Sebaliknya, Arsenal mesti bersikap tegas kepada diri sendiri dulu dan bertanya, ke mana sesungguhnya mereka ingin melangkah?

Begitu visi dan tujuan sudah jelas, barulah mereka merumuskannya melalui beragam misi yang lebih detail, entah itu proses perekrutan pemain atau proses pembangunan tim. Jika stabilitas itu sudah mereka capai, barulah mereka bicara soal prestasi.

Posisi Edu memang rentan, mengingat dialah yang bertanggung jawab dalam proses pembangunan skuad. 

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.