Tempat Baru Asensio

Foto: @marcoasensio10.

Di era Ancelotti, Asensio bersilih dari pemain sayap menjadi gelandang tengah. Lantas, apa yang bisa ia berikan untuk Real Madrid?

Sudah tujuh tahun berlalu sejak Florentino Perez meminta bantuan Rafael Nadal untuk memuluskan rencananya. Bukan, ini tak ada hubungannya sama sekali dengan tenis. Akan tetapi, soal pemuda potensial milik Mallorca. Kebetulan Direktur Olahraga Mallorca, Miguel Angel, adalah paman Nadal. Itulah mengapa Perez melakukan pertemuan dengan mantan petenis nomor 1 dunia tersebut.

“Saya memanggil Rafa Nadal dan memintanya berbicara dengan pamannya,” tutur Perez kepada Onda Cero. Presiden Real Madrid itu melanjutkan, “Saya bilang ke Nadal dan menjelaskan kepadanya bahwa kami ingin membelinya. Dia melakukan tugasnya dengan sempurna dan akhirnya kami menuntaskan transfer dengan cepat.”

Pada 24 November 2014, transfer itu terealisasi. Madrid berhasil mengamankan salah satu talenta terbaik Spanyol di generasinya, Marco Asensio.


***

“Aku mencoba Asensio sebagai gelandang, baik di kiri atau kanan. Kupikir dia bisa bermain bagus di sana dan dia menyukainya.”

Carlo Ancelotti punya pemikiran sendiri soal Asensio; perkara bagaimana dan di mana ia bisa memfungsikan pemain 25 tahun itu. Ia mengungkapkan pandangannya akan Asensio pada konferensi persnya jelang pertandingan versus Levante, Agustus lalu.

Ada dasar kuat di balik keputusan Ancelotti ini. Utamanya, ya, karena stok gelandang Madrid yang minim. Lebih-lebih lagi setelah mereka melepas Martin Odegaard ke Arsenal. Praktis, hanya Federico Valverde alternatif mereka untuk meng-cover trio Luka Modric, Toni Kroos, dan Casemiro. Masih ada Isco dan Dani Ceballos, memang, tetapi keduanya masih dibekap cedera.

Situasi ini berbanding terbalik dengan sektor winger. Madrid mempunyai stok yang cukup untuk satu slot di masing-masing tepi. Masih ada Vinicius Junior serta Rodrygo selain Eden Hazard dan Gareth Bale.

Asensio, sedikit berbeda dengan Vinicius, Rodrygo, Hazard, dan Bale. Mereka winger yang mirip Speedy Gonzales, jago soal kecepatan dan dribel. Sementara, Asensio mengedepankan ketepatan posisi. Dari situ kebanyakan gol dan assist-nya lahir.

So, menjadi masuk akal kalau Ancelotti menggesernya ke area tengah. Kecepatan bukan atribut kunci buat gelandang tengah, melainkan apa yang dipunyai Asensio tadi: Penempatan posisi. Lagi pula, pada praktiknya ia juga akan muncul dari second line dan aktif beroperasi di sepertiga pertahanan lawan.

Kemampuan finishing Asensio tak bisa dicap buruk. Lima gol berhasil ia sarangkan di La Liga musim lalu atau surplus 0,83 dari angka harapan golnya. Sebagai komparasi, rasio itu masih lebih baik dari Vinicius dan Rodrygo. Pun dengan gelandang natural Madrid macam Kroos, Valverde, Casemiro, dan Isco.

Secara matematis, memasang Asensio sebagai gelandang bisa mendongkrak produktivitas Madrid dari area sentral. Lagi pula, memang sudah waktunya mereka untuk melakukan regenerasi. 

Usia Kroos sudah 31 tahun. Lebih-lebih lagi Modric yang lima tahun lebih tua. Casemiro, yang paling muda, juga telah menginjak 29 tahun. Tanpa ketiganya, Madrid timpang. Lini tengah mereka kehilangan keseimbangan.

Petaka itu pernh terjadi di awal musim 2019/20. Modric tumbang lantaran cedera dan Madrid memulai start yang buruk. Cuma sepasang kemenangan yang mereka raih dalam lima pertandingan di lintas ajang.

Itulah kenapa Madrid memboyong Eduardo Camavinga pada musim panas lalu. Mereka sadar harus melakukan peremajaan di lini tengah. Namun, itu saja tak cukup. Madrid perlu gelandang yang mafhum soal urusan ofensif—atribut yang tak cukup dimiliki Camavinga dan Valverde. Ancelotti, melihat itu dalam diri Asensio.

Kemenangan besar Madrid atas Mallorca di pekan keenam menjadi buktinya. Bertandem dengan Valverde serta Camavinga dan turun sebagai gelandang kanan, Asensio sukses mengukir trigol.

Dua lesakan awal membuktikan kualitasnya sebagai pemain yang muncul dari second line. Aksi pertama lahir dari konversi bola rebound sedangkan gol keduanya tercipta setelah menyambut umpan Karim Benzema. Untuk lesakan terakhir, lahir dari sepakan dari luar kotak penalti. Di laga itu, Asensio memenuhi apa yang memang Madrid butuhkan: Alternatif pencetak gol.

Well, bukan rahasia lagi kalau produktivitas El Real terkonsentrasi ke Benzema. Lebih-lebih sejak Cristiano Ronaldo angkat kaki. Pada La Liga musim lalu, Benzema menyumbang 34% dari seluruh total gol Madrid.

Sementara sampai pekan kedelapan ini, jumlah golnya di La Liga mencapai 9 atau 41% dari total lesakan Madrid. Vinicius ada di peringkat kedua dengan 5 gol. Di bawahnya ada Asensio lewat 3 lesakannya tadi. Disusul lima pemain lainnya baru menyumbangkan satu gol—termasuk Bale.

Di sisi lain, masih terlalu cepat untuk mengharapkan tuah Asensio di posisi barunya. Lihat saja kontribusinya sewaktu melawan Villarreal yang tak bagus-bagus amat. Asensio gagal melepaskan shot on target dari dua kesempatan. Torehan umpan kuncinya juga cuma sebiji.

Atribut defensif juga menjadi PR lain Asensio. Tekel, intersep, dan aksi bloknya nihil. Menurut data WhoScored, rata-rata tekel Asensio di La Liga musim ini hanya 0,7 per laga. Jumlah ini bahkan masih kalah dari Vinicius serta Isco yang mengumpulkan 1,4 dan 1,2.

Padahal, kemampuan bertahan menjadi salah satu syarat plus buat gelandang di era modern ini. Apalagi di Madrid yang menggunakan tiga gelandangnya sebagai penyeimbang—bukan sekadar penguat serangan.


Keputusan Ancelotti mengubah posisi Asensio sebagai gelandang bukan langkah asal-asalan. Ketersediaan pemain dan urgensi Madrid kepada pemain tengah menjadi dasarnya. Belum lagi dengan potensi yang dimiliki Asensio. Selain melicinkan regenerasi sektor gelandang, kemampuan ofensifnya bisa membantu Madrid mengurangi ketergantungan akan Benzema. Toh, soal penyelesaian akhir, Asensio terbilang lumayan.  

Namun, perubahan Asensio tak bisa berjalan instan. Ia butuh waktu untuk beradaptasi dan terpenting, meningkatkan kemampuan bertahan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.