Tenang dan Berbahaya seperti Ricky Kambuaya

Ilustrasi: Arif Utama.

Tiga gol untuk Persebaya Surabaya dan satu gol untuk Timnas Indonesia jadi bukti betapa berbahayanya Ricky Kambuaya musim ini. Apa rahasianya?

Jika sebuah momen terjadi satu kali saja, kita bisa dengan cepat menyebutnya sebagai kebetulan. Namun jika itu terjadi berkali-kali, menganggapnya sebagai kebetulan adalah kesalahan. Itulah kenapa yang Ricky Kambuaya tunjukkan sejauh ini patut jadi sorotan.

Untuk kesekian kalinya, tepatnya pada Senin (11/10/2021) malam WIB, pemain kelahiran Sorong itu unjuk aksi. Tampil sejak menit awal tatkala Timnas Indonesia menghadapi Taiwan dalam laga playoff Kualifikasi Piala Asia 2023, ia mencetak sebuah gol.

Pangkalnya adalah menit ke-55 saat Evan Dimas melepaskan crossing dari sisi kanan. Tadinya berhasil dihalau pemain lawan. Namun karena kurang sempurna, bola malah jatuh di kaki Ricky. Tiba-tiba saja ia sudah bikin gol lewat sepakan kencang menuju pojok kiri atas gawang Taiwan.

Gol tersebut makin mempertegas performa apiknya musim ini. Bersama Persebaya Surabaya, Ricky sudah mencatatkan tiga gol di Liga 1. Itu berarti sudah empat gol yang ia catatkan di seluruh ajang musim ini. Semuanya terjadi dalam tujuh pertandingan saja.

Mengingat posisinya yang seorang pemain tengah, patutlah kita bertanya-tanya: Bagaimana Ricky Kambuaya bisa sedemikian berbahaya?

Semuanya bermula pada 5 Mei 1996 di Kota Sorong, Papua Barat. Pada waktu dan tempat itulah Ricky dilahirkan. Meski demikian, ia tak seperti para pemain asal Papua kebanyakan yang mengawali kiprah profesional di Persipura Jayapura atau klub Papua lain.

Sebagai pesepak bola, Ricky justru memulai semuanya bersama tim junior Pro Duta. Usianya masih 18 tahun kala itu. Dua tahun berselang, ia bergabung dengan PSMP Mojokerto Putra. Ya, hari-hari sepak bola Ricky lebih banyak dihabiskan di kompetisi kasta kedua.

Yang perlu dicatat, Ricky tak menjalaninya dengan cara yang biasa-biasa saja. Pertama, ia bekerja keras. Itu pasti. Kedua, kerja keras itu mengantarkannya menjadi pesepakbola yang gigih. Sebagai gelandang, Ricky terbiasa berperan terhadap serangan sekaligus pertahanan tim dengan sama baiknya.

Gaya main seperti itu terakumulasi lewat angka-angka yang ia torehkan di pertandingan. Selain aktif membantu pertahanan, Ricky mampu tampil tajam dengan torehan lebih dari 10 gol untuk PSMP. Inilah yang kemudian menarik minat PSS merekrutnya pada 2019.

Ricky beruntung karena PSS baru saja promosi ke Liga 1. Dengan begini kariernya melejit, dari pemain kasta kedua menjadi pemain klub liga utama. Di sisi lain, juru taktik 'Super Elja' kala itu adalah Seto Nurdiantoro, seorang pelatih yang sangat lihai membaca potensi pemain.

Bukan kebetulan jika nama-nama seperti Kushedya Hari Yudo, Haris Tuharea, Irkham Milla, hingga Ega Rizky berkembang pesat di bawahnya. Bahkan Brian Ferreira, gelandang serang, mendapat peran baru dari Seto sebagai gelandang box-to-box dan mampu menjalankannya dengan sempurna.

Satu nama lain yang mencuri perhatian dari PSS kala itu adalah Rangga Muslim. Kebetulan, saya pernah terlibat wawancara singkat dengan Rangga. Pada salah satu bagian, Rangga menyinggung pengaruh besar Seto dalam perkembangannya, terutama pada musim tersebut.

Menurut Rangga, Seto sering memberi masukan rinci soal teknik dan taktik. Besar kemungkinan, treatment semacam ini juga diberikan kepada semua pemain lain, termasuk Ricky Kambuaya.

Bahwa Ricky hanya tampil pada 14 pertandingan, erat kaitannya dengan skuat PSS kala itu. Di posisi yang sama dengannya sudah ada para pemain sekelas Brian Ferreira dan Guilherme Batata. Di sisi lain, Ricky yang baru menjejakkan kaki di kompetisi tertinggi masih minim pengalaman.

Namun, terlihat jelas bahwa Ricky memang punya potensi. Determinasinya kala beraksi di lini tengah amat menonjol. Inilah yang membentuknya jadi pemain yang bisa diandalkan saat menyerang maupun bertahan. Selain itu, ia punya ketenangan yang tak biasa untuk pemain seusianya.

Semua atribut tersebut terus jadi tumpuannya begitu bergabung dengan Persebaya. Karena Liga 1 2020 dihentikan, kiprahnya bersama tim asuhan Aji Santoso sempat tertunda. Barulah di ajang Piala Menpora 2021, ia punya kesempatan untuk tampil, yang berlanjut ketika Liga 1 2021 bergulir.

Sejauh ini kita melihat betapa Ricky sudah bertransformasi menjadi pemain yang jauh lebih matang. Transformasi lain yang juga terlihat adalah peran di dalam tim. Jika bersama PSS ia banyak berperan sebagai gelandang dengan tipe box-to-box, Aji menyulapnya menjadi gelandang serang.

Melihat aksinya, Ricky seperti mempertontonkan determinasi, kecerdasan, serta keanggunan sekaligus. Determinasinya terlihat dari pressing-nya tiap kehilangan bola, kecerdasannya tergambar dari efektivitas pergerakan dan operannya, sedangkan keanggunan adalah caranya melewati lawan.

Terkait caranya melewati lawan, Aji sampai berkata seperti ini kepada awak media: “Cara dia melewati lawan itu tidak banyak dimiliki oleh para pemain lainnya.”

Aji turut menyebut satu atribut lain, atribut yang juga paling menggambarkan performa pemain berusia 25 tahun itu sejauh ini: Tenang.

Ketenangan tersebut tergambar dari sebagian besar gol yang ia cetak musim ini. Saat menghadapi Persikabo, misalnya, Ricky melepaskan placing dengan amat tenang kendati dua pemain lawan menutupi pergerakannya. Ia bahkan sempat melihat ke arah gawang untuk memilih sudut menembak yang pas.

Gol untuk Timnas Indonesia juga merupakan perwujudan dari ketenangan yang Ricky miliki. Menerima bola muntah di depan gawang Taiwan, ia masih sempat mengambil ancang-ancang beberapa detik sebelum melepaskan tembakan keras terukur dengan kaki kiri.

Butuh ketenangan tingkat tinggi untuk melakukan hal seperti itu dan Ricky memilikinya. Dengan ketenangan tersebut, ditambah visi bermain tingkat satu dan sederet atribut lain dalam dirinya, Ricky Kambuaya bertransformasi menjadi pemain yang amat berbahaya.

Bersama Persebaya, ia sudah menorehkan tiga gol, 5 keypass, 3 sepakan mengarah dalam lima pertandingan Liga 1. Sementara untuk Timnas Indonesia, Ricky berhasil mencetak sebuah gol, satu assist, satu key pass, dan dua sepakan mengarah ke gawang.

Jika orang-orang berkata bahwa bintang baru telah tiba begitu melihat Ricky, itu bukan bualan sama sekali. Angka-angka dan aksinya di lapangan jadi bukti. Namun, puncak masih amat jauh bagi Ricky. Seperti kata Aji, kemampuannya masih bisa dikembangkan lebih jauh lagi.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.