Terjangan Hwang Hee-chan

Foto: Twitter @Wolves

Perjalanan Hwang Hee-chan: Dari laga melawan Indonesia ke negara yang "katanya" jadi kiblat sepak bola.

Curah hujan yang lebat menyambut laga Indonesia vs Korea Selatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 2013 lalu. Alhasil, lapangan jadi amat licin dan becek. Pemain tidak hanya jadi mudah terpeleset, tapi juga sulit mengalirkan bola hingga harus bermain di kondisi yang amat dingin.

Satu pemain di antaranya adalah Hwang Hee-chan. Hwang dimainkan sebagai penyerang sebelah kanan oleh pelatih Kim Sang-ho. Sepanjang laga, ia tampak mati-matian menghadapi Hargianto dan M. Fatchurrochman yang lebih fasih bermain di situasi tersebut.

Meski demikian, Hwang juga tidak bermain buruk. Ia melakukan beberapa aksi yang menyulitkan pertahanan Indonesia. Ia bahkan nyaris menjebol gawang Indonesia pada menit ke-15 setelah mengelabui Ravi Murdianto.

Laga itu kemudian berakhir dengan kekalahan Korea Selatan 2-3. Hwang sendiri pulang dengan penuh rasa kecewa mengingat ajang tersebut adalah turnamen perdananya untuk Korea Selatan U-19.

Setahun lebih sedikit setelah laga melawan Indonesia, Hwang jadi magnet pemberitaan di Korea Selatan. Usut punya usut, ia memilih bergabung dengan klub Austria, Red Bull Salzburg, meski telah didaftarkan oleh Pohang Steelers sebagai pemain homegrown untuk menyambut K League 1.

Keputusan Hwang untuk pindah ke Austria tidak berlangsung begitu saja. Ada proses panjang yang dilakukan oleh Hwang maupun Salzburg untuk memastikan bahwa ini adalah pilihan terbaik.

Hwang menghabiskan banyak waktu untuk berbincang dengan mantan pemain Korea Selatan, Seo Jung-won, yang pernah bermain di Austria. “Kami berdiskusi tentang bagaimana iklim sepak bola di sana. Ia (Seo) bercerita bahwa Salzburg adalah tempat yang tepat untuk belajar,” kata Hwang kepada SPOX.

Sementara itu, Salzburg menghabiskan banyak hari untuk memantau Hwang. Mantan pelatihnya, Peter Zeidler, mengungkapkan bahwa Salzburg bahkan sudah menyiapkan rencana untuk membuat Hwang bersinar.

“Salzburg melakukan apa pun untuk memastikan bahwa Hwang adalah pemain yang tepat. Kami tidak hanya memantau fisik dan bakatnya secara periodik, tapi juga mencari klub yang sesuai dengan permainannya,” kata Zeidler.

Prediksi Salzburg tentang bakat Hwang memang tak meleset. Namun, mereka lupa bahwa saat itu Hwang adalah bocah berusia 18 tahun yang mentalnya belum matang. Salzburg mendapatkan banyak masukan dari Liefering, klub pertama Hwang di Austria, bahwa ia kerap minder dan enggan menerima kegagalan.

“Ia punya keberanian dan kecepatan jauh di atas pemain lain. Namun ia kerap bermasalah saat, misalnya, gagal mengeksekusi peluang. Saat gagal, ia jadi tidak percaya diri sampai takut kembali bermain,” kata Zeidler.

***

Liverpool berada di Grup E pada Liga Champions 2019/20 bersama Salzburg, Napoli, dan Genk. Sebagai juara bertahan dan tim dengan skuad paling mentereng, Liverpool diprediksi tak akan kesusahan di grup ini.

Kenyataan tersebut tidak terjadi di lapangan. Mereka kalah dari Napoli 0-2 di pekan pertama. Penampilan Liverpool di laga ini memang mengecewakan, meski mendominasi permainan dan lebih banyak menciptakan peluang.

Salzburg jadi lawan yang harus dihadapi oleh Liverpool di pekan kedua. Laga ini diyakini bakal berjalan mudah untuk Liverpool. Tak ada yang peduli dengan kenyataan bahwa Salzburg mengalahkan Genk 6-2 di pekan pertama.

Laga berjalan 36 menit, Liverpool unggul 3-0 melalui gol yang diciptakan oleh Sadio Mane, Andrew Robertson, dan Mohamed Salah. Tiga menit berselang, Salzburg memperkecil ketertinggalan melalui Hwang.

Di babak kedua, Salzburg mencetak dua gol melalui Takumi Minamino dan Erling Haaland. Beruntung, Liverpool mampu mencetak gol tambahan melalui Salah. Skor 4-3 pun menjadi penutup pertandingan.

Meski kalah, Salzburg menuai pujian. Keberanian mereka meladeni permainan terbuka Liverpool diacungi jempol. Hwang jadi salah satu pemain yang mendapatkan banyak apresiasi. Tidak lain karena besarnya pengaruh yang ia buat pada tiga gol Salzburg.

Secara keseluruhan, penampilan Hwang pada musim 2019/20 memang terbilang luar biasa. Ia mencetak 11 gol dan 12 assist untuk Salzburg. Kontribusinya saat itu hanya kalah dari Patson Daka yang mencetak 24 gol dan 6 assist.

Di bawah pelatih Jesse Marsch, Hwang kerap ditempatkan sebagai penyerang lubang dalam pola 4-4-2. Jika Marsch mengubah formasi ke 4-2-3-1, ia akan beralih sebagai winger, entah di sisi sebelah kiri atau kanan.

Kemampuan Hwang bermain dalam banyak posisi didukung oleh pandainya ia mencari ruang di pertahanan lawan. Pada musim 19/20, ia menerima rata-rata 23,2 umpan di sepertiga akhir pertahanan lawan. Jauh lebih banyak ketimbang pemain Salzburg lain.

Tidak hanya pandai mencari ruang, Hwang juga berkarakter ngeyel. Laga melawan Liverpool jadi contoh bagaimana ia kerap berupaya untuk menembus adangan pemain lawan atau rapatnya pertahanan lawan.

Hwang juga punya atribut bertahan yang apik. Ia mencatat rata-rata 2,3 tekel dan intersep per pertandingan. Ia juga terbilang rajin menutup pergerakan bek lawan yang naik untuk mengalirkan bola ke depan.

Penampilan apik Hwang di Salzburg membawanya RB Leipzig pada awal musim 2020/21. Sayangnya, ia tidak cukup banyak menerima kesempatan dari Julian Nagelsmann. Selama semusim, ia hanya turun tiga kali sebagai starter.

***

Wolverhampton seakan mengambil risiko saat mendatangkan Hwang. Namun Wolves tak peduli. Minimnya kesempatan yang diberikan kepada Hwang selama berada di Leipzig, tidak membuat Wolves ragu.

Belum genap sebulan setelah resmi berseragam Wolves, Hwang langsung mencetak gol di laga debut saat bersua Watford. Gol tersebut bahkan terjadi pada sentuhan ke-12 yang ia lakukan sejak diturunkan pada menit ke-63.

Potensi Hwang untuk bersinar semakin besar apabila melihat gaya bermain Wolves. Di bawah manajer Bruno Lage, Wolves menyerang dengan amat cepat. Lage juga menggunakan pendekatan agresif yang membuat lawan lebih sering kehilangan bola.

Kini, Hwang diharuskan menghadapi arus yang lebih besar bernama Premier League. Bukan lagi genangan air di penjuru lapangan seperti yang dialaminya delapan tahun silam.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.