The Flying Dutchman

Foto: @euro2020.

Di Piala Eropa 2020, Belanda punya sosok The Flying Dutchman lain dalam diri Denzel Dumfries. Cepat dan kokoh, kehadirannya bisa menjadi malapetaka buat lawan.

Konon, di lautan bumi yang luas ini, ada sebuah kapal hantu yang bisa menghadirkan malapetaka. Jika ada yang sedang berlayar dan kebetulan melihat kapal hantu ini, maka mereka akan tenggelam atau celaka. Kapal hantu ini adalah momok menakutkan.

Semua bermula dari folklor yang mengisahkan bahwa pada abad 17, ada seorang kapten dari Belanda yang mengarungi lautan untuk menuju Hindia Timur. Kapal berlayar kencang, tapi kemudian menemui badai ketika berada di kawasan Tanjung Harapan.

Awak kapal sudah meminta agar sang kapten memutarbalikkan kapalnya, tak melanjutkan perjalanan. Namun, kapten bersikukuh untuk terus melanjutkan. Kepongahan sang kapten pada akhirnya mencelakakan seluruh orang yang ada di kapal. Mereka ditelan badai dan tewas.

Dari situ, katanya, kapal dan seluruh orang di dalamnya berubah jadi hantu. Mereka dikutuk karena menentang alam dan harus berlayar di tujuh samudera untuk selama-lamanya. Kapal hantu inilah yang akan menghadirkan malapetaka setiap ada yang melihatnya. Orang-orang mengenalnya dengan nama The Flying Dutchman.

a small tattered sailing vessel on misty broiling seas with occupants looking up at a huge ghostly ship bearing down on them

Di Piala Eropa 2020, Belanda menghadirkan The Flying Dutchman lain. Ia bukan hantu. Namun, jika lawan melihatnya tiba di dalam kotak penalti, maka lawan akan tahu bahwa malapetaka akan segera datang menghampiri mereka. Dan seperti kapal hantu itu, pemain ini juga tak kenal lelah mengarungi lapangan sepanjang laga.

Pemain ini, tentu saja, adalah Denzel Dumfries.

***

Hidup Denzel Dumfries adalah soal mimpi. Lahir dari seorang ibu yang berasal dari Suriname dan ayah yang merupakan orang Aruba, Dumfries bermimpi untuk bisa menjadi pemain sepak bola ternama Belanda. Namun, dari kecil, ia sudah karib dengan penolakan dan selalu diragukan orang.

Dumfries kecil tak bisa masuk akademi klub-klub tenar Belanda. Ia menghabiskan masa kecilnya di klub bernama VV Smitshoek. Ketika menginjak masa remaja, Dumfries hanya masuk ke klub amatir bernama BVV Barendrecht. Di sana pun ia tak menonjol. Para pelatih di tim menilai pemain kelahiran Rotterdam ini tak punya bakat.

Pada usia 17 tahun, tak ada klub yang mau meminangnya. Namun, pada usia itu juga, ia justru telah mencicipi atmosfer sepak bola internasional. Tentu saja bukan bersama Belanda, tapi bersama Aruba. Dumfries dipanggil untuk menjalani dua pertandingan persahabatan melawan Guam pada akhir Maret 2014.

Dari laga persahabatan itu, ia bermain bagus dan mencetak banyak gol. Akan tetapi, bukan di situ poinnya. Karakteristik Dumfries terlihat setelah pertandingan. Saat seluruh rekan-rekannya berpesta dan minum-minum alkohol, Dumfries berpikir bahwa jika ingin jadi pemain top, kebiasaan seperti itu harus ia hentikan.

Ia juga diberi tahu oleh salah satu rekannya bahwa untuk meneruskan karier sampai ke puncak, yang harus dilakukan adalah berhenti minum alkohol. Pengalaman itu kemudian membuat Dumfries berhenti dari Aruba. Ia menegaskan tak akan bergabung bersama tim jika ada panggilan. Ia tak bisa terus berada di tim nasional negara kecil di Kepulauan Karibia itu.

Dumfries bukannya sombong. Ia hanya berupaya untuk menghentikan kebiasaan buruk agar bisa menjadi pemain yang lebih baik. Tak cuma itu, ini juga dilakukan agar dia secara aturan masih bisa bermain untuk Belanda. Bermain di timnya Robin van Persie, Johan Cruyff, sampai Arjen Robben. Ini mimpi yang dipendamnya sejak lama.

Dari titik itu mulai muncul harapan untuk kariernya. Sparta, klub terbesar kedua di Rotterdam setelah Feyenoord, mengajaknya bergabung. Dumfries langsung mengambil kesempatan itu dengan baik dan pada musim 2015/16 ia meraih gelar Eerste Divisie (kompetisi level dua Belanda), sekaligus promosi ke Eredivisie bersama Sparta.

Setelahnya Dumfries pindah ke Heerenven. Tahu bahwa kemungkinan untuk naik kelas makin terbuka lebar, ia merekrut Edgar Davids, legenda Belanda dan Ajax, sebagai pelatih lari profesionalnya. Dumfries ingin jadi bek sayap yang cepat dan eksplosif. Supaya apa? Supaya ia cocok menjadi pemain belakang di tim yang menerapkan total football.

Kemudian, pada musim 2018, ia diboyong dengan harga 5,5 juta euro. Pada tahun yang sama, Ronald Koeman memberikannya debut di Timnas Belanda. Mimpi Dumfries untuk bermain di klub yang lebih besar dan di Timnas Belanda akhirnya terwujud. Sejak itu, ia tak pernah berhenti jadi andalan.

***

Pada Piala Eropa 2020, Dumfries tak cuma jadi andalan, tapi juga bintang Belanda. Dua gol sudah ia cetak dan dua kali juga ia terpilih jadi Star of The Match (pemain terbaik laga). Tak cuma itu, ia juga merupakan pemain sayap dengan non-penalti expected goal (nPxG) paling tinggi di turnamen dengan angka 1,86.

Itu artinya, meski bermain sebagai wing-back, Dumfries punya peluang mencetak gol yang besar. Bahkan lebih besar dari striker kawakan seperti Harry Kane, Karim Benzema, atau Gerard Moreno. Ini, sesuai dengan apa yang ditulis di awal, bahwa Dumfries adalah momok menakutkan bagi pertahanan lawan.

Sebagai wing-back, ia memang tak ditugaskan Frank de Boer untuk menyisir sisi tepi saja. Namun, ia juga dipersilakan masuk ke area kotak penalti lawan. Ia juga diperbolehkan mengisi half-space kalau pemain depan seperti Donyell Malen atau Memphis Depay sedang ingin bergerak di area tepi. Tengok saja peta sentuhan Dumfries di tiga laga fase grup ini.

vs Ukraina, vs Austria, vs Makedonia Utara

Dumfries memang bukan seperti wing-back kebanyakan yang pandai mengirim umpan silang. Ia juga tak jago gocek. Namun, kelebihannya adalah soal kecepatan, determinasi, dan eksplosivitas. Tak cuma itu, ia juga punya penempatan posisi yang bagus dan juga terbukti memiliki insting gol tinggi.

Sepanjang perhelatan Piala Eropa 2020, ia mencatatkan rata-rata dua tembakan per laga dengan sebagian besar berada di kotak penalti lawan. Selain itu, meski belum mencatatkan assist, ia punya rata-rata satu umpan kunci per laga. Bukan sesuatu yang buruk, apalagi mengingat torehannya bersama PSV musim lalu yang mencapai enam assist.

Selain jago dalam urusan menyerang, Dumfries juga tak buruk dalam soal bertahan. Sejauh ini ia mencatatkan rerata 1,7 tekel per laga dengan persentase sukses di atas 50%. Posturnya yang tinggi besar juga memudahkannya dalam berduel, entah itu di darat maupun udara. Kecepatannya juga menunjang.

Dengan segala atribut yang dimiliki, wajar jika Dumfries dinobatkan sebagai The Flying Dutchman-nya Belanda di Piala Eropa 2020 ini. Sebab ia memang menakutkan dan siap menghadirkan malapetaka buat lawan-lawannya. Ukraina dan Austria pernah tenggelam akibat kehadiran Dumfries di kotak penalti mereka.

***

Lewat penampilan apik di Piala Eropa 2020 ini, Dumfries kabarnya juga sudah jadi buran tim besar. Bayern Muenchen, Inter, sampai Everton dikabarkan siap meminang jasanya. Dumfries siap melebarkan sayap dan berlayar menuju negara Eropa lain setelah sukses di Belanda dan turnamen kali ini.

La Gazzetta dello Sport bahkan mengibaratkan Dumfries seperti cryptocurrency, dengan slogan: "Pada awalnya tidak ada yang percaya dengannya, tetapi Anda sebaiknya berinvestasi di dalamnya." Dumfries tertawa mendengar slogan itu dan pada wawancaranya ia bilang begini. "Mari kita berharap diriku tidak menurun (seperti Bitcoin)."

Dumfries terbang, berlayar mengejar mimpi-mimpinya dan ia berharap semoga yang terjatuh bukan dirinya, tapi lawan-lawannya di lapangan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.