Tidak Ada Raja di Milan, Hanya Ada Zlatan

Foto: Twitter @acmilan

Jika Zlatan berkata bahwa Milano tidak mempunyai raja, tetapi memiliki Tuhan, apa sebaiknya kita percaya saja?

Bahkan bagi saya yang sangat menggilai Andrea Pirlo, I Am Zlatan terasa lebih hidup daripada I Think Therefore I Play. Menggoblok-goblokkan Pep Guardiola rasanya bakal selalu jadi cara terbaik untuk membuka sebuah otobiografi pesepak bola.

Zlatan enggan menjadi anak baik-baik untuk Guardiola yang kala itu membesut Barcelona. Orang-orang boleh berharap pada Lionel Messi, menghormati Xavi, dan memuja Andres Iniesta. Namun, jika selalu manggut-manggut atas segala sesuatu yang dikatakan Guardiola adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi seperti mereka, Zlatan tak sudi.

Sama seperti buat apa dia mahal-mahal membeli Porsche jika tidak bisa ngebut 325 km/jam di jalan raya--apalagi sampai menggunakan Audi pemberian sponsor klub--buat apa Barcelona bersusah payah membelinya jika ia hanya harus duduk berlama-lama di bangku cadangan?

Bagi Zlatan, Guardiola memang orang baik, tetapi tidak sehebat Jose Mourinho dan Fabio Capello. Guardiola cuma sebatas okay guy, jadi buat apa repot-repot untuk selalu menundukkan kepala?

****

Di sinilah kita sekarang, menyaksikan Zlatan mencetak gol tendangan salto dalam usia 39 tahun. Manuver itu tidak hanya mengantar AC Milan pada kemenangan 2-1 atas Udinese, tetapi juga memaksa kita merumuskan ulang tentang arti relevan terhadap zaman.

Tendangan salto itu mengingatkan kita tentang apa yang dilakukan Zlatan bersama Timnas Swedia saat bertanding melawan Inggris pada 14 November 2012.

Di menit pertama injury time. Ia memutar tubuh sampai 180 derajat secara vertikal, lalu menendang bola. Melintas di atas kepala Joe Hart setelah menempuh jalur parabola sejauh 32 meter, bola itu tak terhentikan. Laga persahabatan itu menjadi abadi karena gol salto Zlatan.

Meski terkagum-kagum, kita tetap bisa mewajarkan Zlatan yang mencetak gol dengan cara tersebut sekitar delapan tahun lalu. Saat itu, usianya masih 30 atau 31 tahun.

Zlatan seorang atlet. Tubuhnya ditempa sejak muda. Jangan lupa bahwa ia memegang sabuk hitam taekwondo. Tak berlebihan jika awal kepala tiga pun, stamina dan tubuhnya masih prima.

Masalahnya, Zlatan tetap mencetak gol dengan cara yang sama saat usianya hampir 40 tahun. Yang menyebalkan, semuanya tetap terlihat mudah begitu saja.

****

Cristiano Ronaldo membuktikan bahwa kedisiplinan menjaga tubuh merupakan komitmen penting supaya karier seorang atlet bisa berumur panjang. Tidak bisa menikmati junk food dan mabuk-mabukan seumur hidup adalah harga yang dibayar Ronaldo dengan senang hati agar performanya tak cepat kandas dimakan usia.

Ryan Giggs, selain mengatur pola makan, rajin berlatih yoga. Dalam wawancara bersama Marcus Christenson untuk The Guardian, Giggs menyebut yoga dan adaptasi sebagai kunci yang membuatnya panjang umur di atas lapangan bola.

“Di usia sekarang, kamu harus mengubah cara berpikir. Saat masih muda dulu, saya ini pemain cepat. Sekarang saya tidak secepat dulu. Namun, di sinilah pentingnya pengalaman dan kecerdasan. Beradaptasilah dengan pertandingan yang kamu hadapi di zaman ini,” papar Giggs.

View this post on Instagram

This animal cannot be tamed

A post shared by Zlatan Ibrahimović (@iamzlatanibrahimovic) on

Giggs kala itu dan Ronaldo yang sekarang tak muda lagi. Mereka bakal cepat habis jika bertanding dengan cara yang sama saat muda dulu. Itulah yang membuat belakangan Ronaldo tak lagi bermain sebagai winger. Ketimbang berlari menyusuri sisi sayap, ia lebih sering beroperasi di area kotak penalti. Dengan cara itu Ronaldo tetap menjadi penyerang tajam yang siap memangsa lawan.

Adaptasi dan komitmen menjaga kondisi tubuh membuat Ronaldo dan Giggs menerima ganjaran yang setimpal. Jika Juventus empot-empotan saat Ronaldo yang kini berusia 35 tahun absen, Giggs baru menutup karier sebagai pemain saat berumur 41 tahun.

Zlatan melakukan hal yang serupa meski saat di Ajax dulu ia sempat hidup dengan pola serampangan. Ketika itu Zlatan masih peduli setan dengan makanan. Semua masuk mulut, apalagi makanan kesukaannya, makaroni dan falukorv.

Zlatan tidak bertransformasi menjadi The Next Le Tissier. Sebagian orang tahu seserius apa Ajax dalam membentuk pemain. Zlatan memulai gaya hidupnya sebagai atlet. Dia memang masih melahap masakan Italia favoritnya, tetapi tidak seperti orang kalap karena harus memperhatikan hitungan kalori dan gizi.

Saat pindah ke Manchester United, ia turut mengangkut fisioterapisnya, Dario Fort. Pria asal Italia itu melatih Zlatan sejak berkostum Milan pertama kali pada 2011 dan ikut menjejak ke PSG pada 2012. Fort pula yang membantu Zlatan melewati proses penyembuhan selama sembilan bulan saat cedera ligamen di United.

View this post on Instagram

1 strong together stronger @acmilan

A post shared by Zlatan Ibrahimović (@iamzlatanibrahimovic) on

Rekam jejak Zlatan sebagai pemain berbeda dengan Ronaldo dan Giggs. Sejak dulu, Zlatan acap diplot sebagai penyerang murni. Di Milan, Inter, PSG, United, dan LA Galaxy, ia bermain sebagai pemain nomor 9. Tugasnya sederhana, berdiri di garis terdepan, menahan bola, dan menyelesaikan peluang.

Perannya mungkin tidak se-catchy striker modern lainnya. Zlatan terbiasa dicemooh para suporter karena dianggap malas-malasan saat bermain. Sebelum menginjak usia sekarang pun ia bukan pemain yang terlibat banyak dalam permainan tim saat tidak memegang bola.

Alih-alih membantah, Zlatan menjelaskan mengapa bermain seperti itu. Katanya, sebagai seorang penyerang murni, ia perlu menyimpan tenaga untuk mencetak gol. Kelelahan bakal membuatnya tak fokus dan tak tajam.

Jika Zlatan berkata demikian, percaya saja. Toh, ketajamanlah yang membuatnya tetap pantas untuk mengganti kata ‘saya’ dengan ‘Zlatan’.

***

Bagian yang paling saya sukai dalam I Am Zlatan adalah cerita tentang keributan keluarganya saat berlibur ke Dubai. Zlatan waktu itu membawa keluarganya dan Helena Seger--istrinya saat ini--terbang dengan menggunakan pesawat kelas bisnis.

Entah bagaimana ceritanya, saudara tiri Zlatan, Keki, memanggil pramugari pada pukul 6 pagi dan meminta wiski. Ibu Zlatan yang ikut dalam perjalanan itu murka. Ibunya memang tidak suka melihat anak-anaknya minum alkohol.

Tanpa babibu, sang ibu melempar sepatu tepat ke kepala Keki. Dasar keluarga aneh, Keki tak terima. Dalam sekejap keributan muncul dari ketinggian 35.000 kaki. Di kelas bisnis. Pukul enam pagi.

“Saya melirik ke arah Helena. Dari raut wajahnya saya paham betul bahwa ia ingin menghilang dari sana saking malunya,” kata Zlatan.

Kehebohan yang senapas dengan perjalanan ke Dubai itu pernah muncul pada 2006, ketika Zlatan berlaga bersama Timnas Swedia di Piala Dunia. Zlatan mesti turun tangan sendiri mengurus tiket, akomodasi, makan, dan tetek-bengek keluarga besarnya di Jerman.

Dalam otobiografinya tadi Zlatan juga menyebut bahwa segala macam keruwetan tersebut sempat mengganggu konsentrasinya. Untunglah Swedia tak gugur di babak grup.

Hal pertama yang saya pertanyakan saat membaca kedua fragmen itu adalah mengapa Zlatan mau repot-repot mengurus semuanya. Lewat satu sambungan telepon, ia bisa mendapatkan asisten yang sanggup mengurus semuanya.

Siapa juga yang tak bakal menurut saat Zlatan meminta? Jangan lupa, keluhan Zlatan-lah yang membuat PSG memecat dua orang koki mereka. Makanan di pusat pelatihan PSG membuatnya bosan karena itu-itu melulu.

Jawabannya mungkin sederhana. Zlatan, anak imigran Bosnia, memiliki ayah seorang pemabuk dan ibu tukang bersih-bersih, tahu bagaimana mempertahankan segala yang ia miliki sejak kanak.

Tingkah keluarga yang banyak maunya saat ia mesti berlaga di Piala Dunia itu memang mengesalkan. Namun, mungkin cuma orang-orang mengesalkan itulah yang dimilikinya sejak ia masih harus menjadi pencuri sepeda untuk bertahan hidup.

Barangkali ibu yang membuat pacarnya ingin menghilang dari ketinggian 35.000 kaki itu adalah ibu yang berteriak garang saat para orang tua rekan setimnya di level junior membuat petisi yang menginginkan Zlatan dikeluarkan dari tim. Mempertahankan apa yang dimiliki sekuat-kuatnya, itu yang membedakan Zlatan dengan pesepak bola lain.

Jika ketajaman dan tubuh yang prima adalah dua hal yang harus ia miliki agar tetap jadi pemain yang dibutuhkan tim, Zlatan akan melakukan berbagai cara untuk mempertahankan keduanya. Jadi, jangan heran kalau ia sanggup menjadi pencetak gol terbanyak sementara Serie A 2020/21 dalam usia 39 tahun.

View this post on Instagram

Milano never had a king, they have a GOD

A post shared by Zlatan Ibrahimović (@iamzlatanibrahimovic) on

Pada suatu waktu, mantan rekan setimnya di United, Ander Herrera, menyebut Zlatan sebagai penuntut kelas kakap. Namun, Zlatan tidak asal menuntut. Ia menuntut apa yang ia perlukan.

Ketidaksukaannya terhadap sistem kepelatihan Guardiola dan kultur Barcelona menandakan ia tidak mendapatkan apa yang dibutuhkan di Camp Nou. Guardiola memang pelatih hebat, Barcelona adalah klub masyhur.

Namun, Zlatan akan bekerja sebaik tim memercayainya dan tumbuh sebesar orang-orang mengakuinya. Barcelona bukan tempat yang memercayai dan mengakui Zlatan. Ia tahu itu. Lalu, buat apa bertahan di sana?

Perjalanan Zlatan adalah perjalanan dengan kepala mendongak. Namun, segala sesuatu yang bisa dikerjakannya di atas lapangan bola hingga sekarang meneguhkan bahwa kata-kata belagu yang acap keluar dari mulutnya bukan bacot kosong. Ia tahu betul bahwa ia sedang mengatakan yang sebenarnya.

Lantas, jika Zlatan berkata bahwa Milano tidak mempunyai raja, tetapi memiliki Tuhan, sebaiknya kita percaya saja.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.