Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Transformasi Napoli

Foto: @officialsscnapoli.

Napoli dan Spalletti berhadapan dengan banyak problem yang membuat mereka mengalami turbulensi dan inkonsistensi. Sekali waktu tampil perkasa, pekan berikutnya malah sengsara. Situasi itu menuntut Napoli untuk bertransformasi.

Napoli dan Luciano Spalletti tidak mendapat "restu" Diego Armando Maradona untuk mengawetkan momentum. Setelah nihil kekalahan dalam delapan laga Serie A terakhir atau sejak 22 Desember 2021, Partenopei keok 0-1 dari AC Milan di Stadion Diego Armando Maradona, Senin (7/3/22) dini hari WIB.

Hasil minor itu memang tidak lekas-lekas memadamkan peluang Napoli duduk di singgasana Italia. Namun, kekalahan tersebut menyulut Spalletti untuk buru-buru menjaga motivasi Partenopei yang kemarin-kemarin sedang meletup-letup.

"Kami kalah," ucap Spalletti kepada DAZN sebagaimana mengutip Football Italia. Eks pelatih Inter Milan itu melanjutkan, meski tekanan sedang berpihak kepada Partenopei, mereka siap mengenyahkannya. "Jika tidak bisa mengatasi tekanan, kamu harus menyingkir."

Napoli-nya Spalletti ngebet merengkuh trofi Serie A musim ini. Mereka ingin mengabadikan namanya di Kota Naples, rumah untuk Napoli. Mirip dengan Maradona yang tidak pernah lenyap di benak dan hati masyarakat Naples.

Spalletti paham betul bahwa kekalahan itu memperlihatkan problem Napoli. Meski begitu, ia mafhum bahwa setiap problem pasti ada solusi. Sama seperti yang sudah-sudah, ia selalu berapi-api membangun solusi untuk mengentaskan masalah.

Spalletti pun mengantongi kredo bahwa sepak bola dan keajaiban merupakan satu kesatuan di Naples. "Ini adalah kota di mana sepak bola dan keajaiban adalah hal yang sama." Pernyataan itu berdentum ketika Spalletti dikenalkan sebagai pelatih anyar Napoli.

Berkat kredo itu, nyali Spalletti tetap membara meski target musim ini menanjak, dari tiket Liga Champions ke scudetto. Misi yang cukup berat karena Napoli tidak merekrut pemain mewah pada jendela transfer musim panas maupun dingin.

Awalnya, penilaian bahwa Napoli-nya Spalletti akan biasa-biasa saja di Serie A berdengung. Telinga pria 62 tahun itu tentu ngilu. Namun, ia tidak mengeluarkan pleidoi dari mulutnya. Yang ia lakukan hanya berusaha membius orang-orang dengan otak cerdiknya.

Hasilnya, Napoli berada di deretan terdepan tim Serie A yang performanya paling menjanjikan sejauh ini. Meski keok dari Milan, sampai pekan ke-28 Serie A, Napoli sudah merangkum 57 poin dan hinggap di posisi tiga klasemen sementara.

Namun, ekspedisi Napoli versi Spalletti tidak mulus-mulus amat. Sama seperti klub-klub lainnya (mungkin), Napoli dan Spalletti berhadapan dengan banyak problem yang membuat mereka mengalami turbulensi dan inkonsistensi. Sekali waktu tampil perkasa, pekan berikutnya malah sengsara.

Salah satu masalah yang sempat hinggap adalah cedera Victor Osimhen. Ketika melawan Inter Milan pada 22 November 2021, tulang wajah Osimhen patah dan harus menjalani operasi setelah tubrukan dengan Milan Skriniar.

Kehilangan Osimhen jelas masalah bagi Spalletti. Pasalnya, Osimhen adalah sumber gol Napoli. Predikat sebagai pencetak gol terbanyak klub ketika itu menjadi bukti sahihnya. Selain gol, Osimhen pun mampu melaksanakan tugas tidak kasat mata, seperti menekan bek lawan dan membuka ruang, dengan oke.

Sebelum Osimhen masuk ruang perawatan, misalnya, Napoli jadi satu-satunya klub yang belum menelan kekalahan sampai pekan ke-12. Aib mereka cuma imbang 0-0 melawan AS Roma dan 1-1 melawan Hellas Verona dalam kurun tersebut.

Sedangkan selama Osimhen menepi, Napoli keok empat kali dalam 11 laga Serie A. Tujuh laga sisanya berakhir dengan lima kemenangan dan dua imbang. Catatan itu tidak jelek-jelek banget memang, tetapi cukup membuat Napoli goyah di papan klasemen. Selain faktor Osimhen, Napoli menghadapi problem lainnya.

Spalletti tidak diam. Ia rutin bereksperimen dan berhasil menemukan solusi-solusi bagi Napoli. Ketika ditanya soal solusi Napoli menuntaskan problem, eks pelatih Inter Milan itu mengaku banyak sumber misterius selama penyusunan solusi.

"Kami memiliki banyak sumber misterius yang dapat memberi kami solusi untuk banyak masalah," kata Spalletti sebagaimana mengutip Football-Italia.

Berkat sumber misterius tersebut, Napoli sedikit mentransformasi permainan sebagai langkah merawat kans meraih scudetto musim ini dengan sekuat-kuatnya, sebaik-baiknya. Salah satunya adalah menurunkan intensitas pressing.

Itu terlihat dari catatan The Analyst. Pada pekan ke-12 Serie A, The Analyst mencatat PPDA atau passes per defensive action berada di angka 10,5 atau terendah keempat di antara konstestan Serie A musim ini. Sedangkan memasuki pekan ke-28, PPDA Napoli menjadi 11 atau terendah keenam.

PPDA sendiri adalah salah satu statistik yang bisa mengukur intensitas pressing sebuah tim. Kita bisa melihat seberapa garang sebuah tim menekan lawannya. PPDA menghitung berapa banyak operan yang dilakukan tim lawan sebelum tim coba merebut bola kembali dengan aksi defensif, baik tekel maupun intersep.

PPDA biasanya menghitung umpan yang terjadi di area pertahanan lawan saja. Karena pressing yang intens sudah dilakukan sejak area pertahanan lawan. Semakin dikit angka PPDA berarti semakin intens pula pressing yang dilakukan tim. Begitu juga sebaliknya.

Penurunan intensitas pressing Napoli disertai dengan modifikasi cara bertahan. Dalam fase defensif, Napoli beralih formasi dari 4-3-3 menjadi 4-4-2. Dalam situasi tersebut, penyerang, gelandang serang, dan gelandang bertahan, mengambil posisi di tengah untuk memotong jalur umpan tengah dan memaksa bola ke arah sayap.

Yang membuat skema ini efektif, empat bek plus berada di kotak penalti. Sedangkan dua winger mereka menutup ruang di tepi lapangan. Jarak antarpemain yang dekat dan rapat menyulitkan lawan melakukan cut inside atau meneror dari jalur tengah atau half-space.

Dengan cara seperti itu, Napoli berupaya memaksa lawan melakukan umpan silang atau melepaskan tembakan dari jarak jauh. Cara itu diharapkan dapat meminimalisir lawan melepaskan bola ke arah gawang.

Semakin paripurna karena kemampuan defensif gelandang Napoli tergolong mumpuni. Selain Fabian Ruiz, ada Andre-Frank Zambo Anguissa yang jago memutus serangan lawan via tekel atau intersep. WhoScored mencatat, rata-rata tekel dan intersep Anguissa berada di angka 2,7 per laga. Tertinggi kedua di antara pemain Napoli.

Jika lawan berhasil melewati gelandang Napoli, mereka akan berhadapan dengan Kalidou Koulibaly. Pemain berkebangsaan Senegal itu tangguh saat berduel. Mengacu FBref, persentase menang duel Koulibaly mencapai 58,5 persen.

Jangan lupakan keberadaan dua bek sayap dalam mengadang serangan lawan. Baik Giovanni Di Lorenzo maupun Mario Rui begitu cekatan dalam meredam daya ledak pemain sayap lawan. Di Lorenzo sendiri menjadi pemain dengan persentase menang duel tertinggi kedua di Napoli, yakni 63,5 persen.

Kemampuan individual itu turut ditopang dengan koordinasi yang baik. Jika Di Lorenzo atau Mario Rui gagal memenangi duel, pemain lain akan cepat mengover. Belum lagi performa kiper David Ospina terbilang oke. Menurut data FBref, Pria berusia 33 tahun itu berhasil menepis 79,5 persen dari total tembakan tepat sasaran.

Melalui skema bertahan itu juga, Napoli menasbihkan diri sebagai tim paling sedikit kebobolan di Serie A. Sampai pekan ke-28, mereka baru kebobolan 20 kali. Di bawahnya, ada Inter yang sudah kegolan 22 kali.

Berbicara cara menyerang, Spalletti sendiri tidak mengubah cara bermain secara keseluruhan. Umpan-umpan pendek dengan pergerakan dinamis sampai memasuki sepertiga akhir pertahanan lawan tetap menjadi andalan dalam membangun serangan. Yang membedakan adalah tugas bek sayap.

Bek sayap diberi kebebasan, mulai dari bergerak lebih dalam sampai menembak bola, saat mendekati kotak penalti lawan. Itu turut ditopang dengan pergerakan dinamis penyerang. Mereka tidak ragu bergerak ke kanan-kiri untuk memberi ruang bagi bek sayap masuk ke kotak penalti lawan.

Selain itu, Napoli-nya Spalletti rutin melepaskan tembakan dari jarak jauh. Beruntung mereka memiliki pemain-pemain yang jago soal tembak-menembak bola dari luar kotak penalti. Ada Ruiz dan Insigne. Kedua pemain itu pun berhasil mencetak gol kemenangan Napoli atas Lazio dari luar kotak 16 pada pekan ke-27 Serie A.

Jika transformasi sudah memperlihatkan hasil yang oke, Spalletti tinggal menyulut motivasi pasukannya dan kembali mencari momentum untuk merebut puncak klasemen. Seperti yang sempat ia katakan bahwa motivasi Napoli jauh meninggalkan kontestan Serie A lainnya.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now