Tut Wuri Handanovic

Samir Handanovic, andalan Inter sejak 2012. (Twitter/@Inter)

Sudah terlalu lama Inter bergantung pada Handanovic. Sudah terlalu lama juga Handanovic memberi dorongan dari lini paling belakang. Sudah saatnya, era "Tut Wuri Handanovic" ini diakhiri dengan baik-baik.

Jika ada satu orang yang paling berhak atas gelar Scudetto musim 2020/21 di kubu Internazionale Milano, dia adalah Samir Handanovic.

Kiper asal Slovenia itu memang bukan pemain Inter yang paling menonjol dalam upaya memburu Scudetto. Predikat itu bisa disematkan pada sosok-sosok seperti Nicolo Barella, Milan Skriniar, Stefan de Vrij, Alessandro Bastoni, atau Romelu Lukaku. Keberadaan Antonio Conte di tepi lapangan sebagai pelatih juga merupakan faktor yang sangat penting, tapi tidak dengan Handanovic.

Handanovic, di usia 36 tahun kala itu, sudah hampir habis. Dia bahkan tercatat sebagai pemain dengan jumlah kesalahan berujung gol yang paling banyak di Serie A pada musim 2020/21. Apa yang terjadi pada Handanovic itu pun tidak dimulai musim lalu. Bahwa Handanovic merupakan seorang kiper yang rentan melakukan kesalahan, itu sudah jadi rahasia umum dalam setidaknya tiga sampai empat musim belakangan.

Musim ini, Handanovic belum juga kunjung berhenti membuat kesalahan. Pada pertandingan giornata ke-2 musim ini melawan Verona, eks penjaga gawang Udinese itu memberikan umpan tanggung kepada Marcelo Brozovic yang bisa dicuri oleh pemain Verona, Ivica Ilic. Ilic kemudian mencungkil bola melewati kepala Handanovic untuk mencetak gol. Namun, Inter memang masih terlalu kuat untuk Gialloblu dan sukses pulang dari Bentegodi dengan kemenangan 3-1.

Tak berhenti di situ, kesalahan kembali dibuat Handanovic pada laga melawan Atalanta di pekan ke-6. Ketika menghalau sepakan jarak jauh Ruslan Malinovskyi, Handanovic justru mengarahkan bola kepada Rafael Toloi yang berdiri bebas di kotak penalti. Atalanta unggul 2-1 berkat kesalahan Handanovic tersebut tetapi, untungnya, Edin Dzeko berhasil menyamakan kedudukan seraya mengamankan satu poin untuk Nerazzurri.

Kekurangan-kekurangan Handanovic itu pun tidak cuma terlihat dari kesalahan yang banal. Di sejumlah kesempatan, refleks Handanovic sangat bisa dipertanyakan karena dia lebih memilih diam daripada melompat untuk menghalau bola yang masuk ke gawangnya. "Aksi diam" Handanovic ini tampak dalam pertandingan pekan ke-3 melawan Sampdoria ketika Inter ditahan imbang 2-2. Di dua gol Sampdoria, Handanovic (nyaris) bergeming.

Pendek kata, Handanovic sudah tak seperti dulu. Namun, sekali lagi, di antara para pemain Inter yang menjuarai Serie A musim 2020/21, Handanovic-lah yang paling berhak mendapatkannya. Mengapa? Karena sebelum jadi Handanovic yang sekarang, dia pernah menjadi Handanovic yang berulang kali menyelamatkan Inter dari hasil memalukan.

Handanovic datang ke Inter di waktu yang salah. Ketika itu, pada tahun 2012, Inter sudah masuk dalam banter era. Sisa-sisa treble winner 2010 sudah tak lagi terlihat sedikit pun. Di musim pertama Handanovic berseragam La Beneamata, mereka cuma finis di posisi sembilan klasemen Serie A.

Pada masa-masa kegelapan tersebut, Handanovic adalah satu dari sedikit pemain yang bisa memberi Inter sedikit martabat. Dia begitu sulit ditaklukkan, bahkan dari titik penalti sekali pun. Sampai kini, dia adalah kiper yang paling banyak menggagalkan penalti di Serie A dengan catatan 26 kali. Handanovic juga menjadi kiper yang paling sering menggagalkan penalti di abad ke-21 ini, mengungguli Gianluigi Buffon.

Soal menggagalkan penalti, Handanovic mungkin masih bisa diandalkan sampai sekarang, karena pada musim lalu dia masih melakukannya. Namun, secara keseluruhan, Handanovic yang berdiri di antara dua mistar gawang Inter sekarang bukanlah Handanovic yang dulu; Handanovic yang membuat Inter di banter era setidaknya bisa sedikir dihormati.

Saat ini, Handanovic telah berada di tahun terakhir kontraknya bersama Inter dan, kemungkinan besar, pada musim depan dia tak lagi menjadi bagian dari mereka. Inter saat ini sudah memiliki kiper kedua penuh potensi dalam diri Ionut Radu. Selain itu, Inter pun santer dikabarkan bakal merekrut Andre Onana secara bebas transfer.

Radu sudah membuktikan kemampuan kala bermain untuk Genoa di musim 2018/19 dan 2019/20. Dalam dua musim itu, kiper Rumania tersebut berhasil mencatatkan rasio penyelamatan masing-masing 71,1% dan 67,4%. Angka ini mungkin tidak tampak terlalu bagus, tetapi perlu diingat bahwa tim yang dibelanya adalah Genoa. Di usia yang sangat muda, Radu bisa menyelamatkan klub tertua Italia tersebut dari degradasi dalam dua musim beruntun.

Sementara itu, kemampuan Onana sebagai penjaga gawang bahkan sudah terlihat sampai pentas tertinggi Eropa. Dia pernah membawa Ajax ke semifinal Liga Champions dan itu membuatnya diminati oleh tim-tim raksasa seperti Barcelona. Selain refleks yang bagus, kiper asal Kamerun itu memiliki kemampuan atletis yang mumpuni serta akurasi umpan di atas rata-rata.

Onana sendiri sudah berbulan-bulan tidak bermain akibat gagal lolos tes doping. Ketajaman permainan dan kebugarannya bisa dipastikan akan terpengaruh. Akan tetapi, kemampuan asli Onana rasanya takkan hilang begitu saja. Dia cuma butuh menit bermain untuk mengembalikan semua itu. Usai masa suspensinya habis November mendatang, eks La Masia itu bakal kembali bisa berlaga.

Mengacu pada laporan teranyar Gianluca Di Marzio, Inter berminat mendatangkan Onana secara bebas transfer pada akhir musim . Meski baru bisa dimainkan pada musim depan, transfer Onana ini sudah bisa diumumkan pada paruh kedua musim 2021/22. Apabila memang kontrak Handanovic tidak diperpanjang dan kedatangan Onana benar-benar diumumkan nanti, itu berarti Inter memang sudah menyiapkan masa depan tanpa sang kiper veteran.

Kedatangan Onana ini bakal menguntungkan nyaris semua pihak. Inter bakal memiliki kiper dengan masa depan cemerlang yang sekaligus mampu menghadirkan kompetisi ketat bagi Radu di posisi penjaga gawang. Tentunya, satu-satunya pihak yang dirugikan dari sini adalah Handanovic yang mesti mencari klub baru.

Namun, bagi Handanovic, mestinya segalanya sudah cukup. Tahun depan, ketika kontraknya habis di musim panas, akan menjadi tahun kesepuluhnya bersama Inter. Tak banyak pemain yang bisa menghabiskan satu dekade penuh bersama Inter sebagai pemain kunci. Dalam kurun waktu itu, dia sudah meraih Scudetto serta menjiadi kapten tim. Namun, di tiap perjumpaan pasti akan ada perpisahan.

Sudah terlalu lama Inter bergantung pada Handanovic. Sudah terlalu lama pula Handanovic memberi dorongan bagi Inter dari lini paling belakang. Demi terjaganya kesakralan masa lalu dan harapan di masa depan, era "Tut Wuri Handanovic" ini memang mesti diakhiri baik-baik. Rasanya, Handanovic sendiri akan memahami itu.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.