Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Ular Tangga Simone Inzaghi

Foto: @Inter

Yang mampu mencapai kotak ke-100 dalam permainan ular tangga adalah mereka yang memiliki keteguhan hati. Bukan begitu, Inzaghi?

Segala kemungkinan bisa terjadi ketika kamu melempar dadu di atas kotak ular tangga. Naik ke kotak selanjutnya atau malah sebaliknya, turun ke posisi yang lebih buruk dari semula.

Konon para filsuf India yang pertama kali mengajarkan permainan ini. Tangga diciptakan untuk mewakili kebajikan sedangkan ular melambangkan segala sifat buruk. Jumlah ular biasanya lebih banyak dari tangga. Ini merepresentasikan situasi dilematis manusia kebanyakan bahwa jalan menuju kebajikan lebih sulit daripada meghindar dari hal-hal buruk.

Yang bisa mencapai kotak ke-100 adalah mereka yang mampu menjaga kesabaran sepanjang permainan. Mereka yang mempunyai keteguhan hati meski berulang kali terlempar ke kotak yang lebih rendah.

Simone Inzaghi merasakannya betul di musim ini. Inter Milan yang dibawanya nangkring sebagai capolista selama sembilan pekan, merosot secara perlahan. Di peringkat ketiga sekarang mereka berada. Inter berjarak 4 poin dari AC Milan sebagai pemuncak klasemen dan terpaut 3 angka dari Napoli si runner-up.

Inkonsistensi itu mulai datang di pertengahan Januari. Inter ditahan imbang Atalanta 0-0 sekaligus menjadi momen pertama mereka gagal mencetak gol di Serie A musim ini. Kemenangan atas Venezia enam hari setelahnya pun Inter petik dengan terengah-engah. Mereka kecolongan gol di menit 19 dan baru mampu mengunci kemenangan via lesakan Edin Dzeko di menit 90.

Benar saja, skor tipis versus Venezia itu menjadi mula petaka. Inter keok dari Milan dan Sassuolo. Melawan Genoa, Torino, dan Fiorentina pun mereka hanya mampu meraih satu angka. Dari delapan pertandingan terakhir, Inter cuma bisa menggamit sepasang kemenangan. Salah satunya atas Juventus pekan lalu.

Ya, Inter memang berhasil menaklukkan “Si Nyonya Tua” yang tak terkalahkan di 16 pertandingan beruntun. Tapi, mereka tak benar-benar menuntaskannya dengan apik. Persentase penguasaan bola Nicolo Barella cs. hanya 46%. Belum lagi dengan jumlah tembakan tepat sasaran mereka yang cuma sebiji. Itu juga dari tendangan penalti. 

Sementara Juventus, sukses melepaskan 5 shot on target dari 22 percobaan. Dari xG pun mereka lebih baik karena mencatatkan 1,9 (Inter 1,05). Secara moral, kemenangan atas Juventus jelas meningkatkan semangat tim yang mulai loyo. Namun, tetap saja Inter harus berbenah untuk mengejar defisit poin dari Milan dan Napoli.

Well, kelemahan Inter yang paling kentara belakangan ini adalah terlalu sering tertinggal duluan. Dari 8 pertandingan terakhir, mereka 4 kali kecolongan. Dari empat-empatnya, tak satupun yang kemudian berhasil mereka menangi. Tiga berujung imbang dan sisanya kalah. Simpelnya, persentase kemungkinan menang Inter menjadi 0% ketika lawan mencetak gol lebih dulu.

Sewaktu berhadapan dengan Napoli misalnya, Inter kebobolan lewat gol cepat Lorenzo Insigne di menit ketujuh. Mereka kemudian baru bisa membalasnya di babak kedua via Dzeko.

Melawan Sassuolo lebih parah lagi. Belum setengah jam laga berjalan, Samir Handanovic sudah dua kali memungut bola dari gawangnya sendiri. Pun ketika bermain seri dengan Torino dan Fiorentina. Beruntung Inter bisa menyamakan skor di dua laga itu.

Lebih spesifiknya, Inter rentan ketika lawan menerapkan pressing tinggi. Saat build-up serangan dari belakang putus di tengah jalan, mereka tak cukup siap untuk menanggulangi serangan balik. Sassuolo memanfaatkan betul metode ini. Sepanjang permainan delapan kali Inter kehilangan peguasaan bola di wilayahnya sendiri.

Terlihat ada enam pemain Sassuolo yang menekan ketika Inter melakukan proses bangun serang. Dua di antaranya mengepung Hakan Calhanoglu. Maka, ketika bola berhasil direbut, mereka unggul jumlah pemain di depan. Itulah yang kemudian menjadi awal dari gol pertama bikinan Giacomo Raspadori.

Foto: Youtube Serie A

Inter memang kehilangan keseimbangan di laga itu. Mereka turun tanpa Marcelo Brozovic yang tersandung akumulasi kartu. Personel Timnas Kroasia tersebut mempunyai peran sentral dalam format tiga bek Inter, sejak era Antonio Conte malah.

Brozovic ini relatif memiliki ketahanan akan pressing lawan. Kemampuan umpannya juga ciamik. Whoscored mencatat rata-rata umpan per laganya di angka 73,4—unggul jauh atas Alessandro Bastoni di peringkat kedua dengan 59,8. Belum lagi dengan persentase kesuksesan yang menyentuh 92,5%.

Apa yang membuat Brozovic spesial adalah kemampuan lainnya soal aksi bertahan. Itu terpapar dengan rerata tekelnya sebanyak 2,3 di tiap pertandingan. Jadi tak salah kalau Inzaghi rutin menggunakannya sebagai pelindung trio belakang. Ketika Brozovic absen, Inter mengalami penurunan kekuatan di sektor pertahanan serta proses bangun serangan.

Hasil imbang versus Torino dan Fiorentina menjadi buktinya. Brozovic absen kemudian Inzaghi menggantinya dengan Matias Vecino serta Arturo Vidal. Keduanya jelas tidak sekomplet Brozovic yang mampu menunjang aksi bertahan dan juga fase ofensif.

[Baca Juga: Mengapa Inter Milan Kudu Mempertahankan Marcelo Brozovic?]

Ketiadaan Brozovic bukan problem tunggal Inter. Seretnya produktivitas menjadi penyebab lain mengapa performa mereka anjlok. Penyelesaian akhir Inter jelek betul.

Dari pekan 28 hingga 29 Inter melepaskan 12 tembakan tepat sasaran dan hanya 2 di antaranya yang berbuah gol. Dua lesakan mereka di duel versus Fiorentina dan Torino itu juga lahir dari wing-back, Denzel Dumfries, dan pemain pengganti, Alexis Sanchez.

Untuk sekarang, sukar berharap Dzeko dan Lautaro Martinez untuk mencetak gol seperti di awal-awal musim. Dzeko misalnya, dari delapan pertandingan liga yang dilakoninya sejak Februari, baru menghasilkan 4 gol. Lautaro lebih parah lagi karena cuma bikin 4 gol di 12 pertandingan terakhirnya. Mengacu Understat, xG Dzeko dan Lautaro sepanjang musim ini minus. Sementara Dzeko mencetak 2 gol lebih sedikit dari yang dirahapkan, Lautaro 3 gol.

Solusinya, ya, dengan memasang Joaquin Correa sebagai tandem reguler Dzeko. Secara permainan, eks Lazio ini setipe dengan Lautaro. Dari segi finshing, Correa juga menjadi yang terbaik di Inter dengan xG surplus 1,88.

Opsi lain adalah dengan mengatrol produktivitas dari lini kedua. Inzaghi bisa memacu kedua wing-back untuk lebih ofensif lagi sehingga tak bertumpu kepada Calhanoglu yang angin-anginan. Toh, torehan gol Dumfries dan Ivan Perisic juga lumayan. Bila ditotal, sudah 9 gol yang mereka cetak di Serie A musim ini.

Memang, segalanya tak mudah buat Inzaghi. Setiap keputusannya bisa melahirkan risiko-risiko baru. Alih-alih kembali menjadi capolista Inter malah justru melorot ke papan tengah. Tapi, bukannya untuk mencapai kotak ke-100, kita memang harus sabar dan yakin dengan jalan yang diambil?

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now