Umur Panjang Gelandang Pengangkut Air

Ilustrasi: Arif Utama.

'Water carrier' adalah mereka yang jauh dari egoisme. Itulah kenapa mereka tak akan pernah mati meski sepak bola terus berevolusi.

Pada abad 17 dan 18, pemerintah Prancis melarang masyarakat Paris mengambil air dari Sungai Seine. Limbah di sana terlalu liar sehingga airnya tak memungkinkan untuk dikonsumsi, bahkan untuk mandi sekalipun.

Mereka mau tak mau kudu beralih ke air mancur umum. Sudah repot mengantre harus pula menggotongnya ke rumah. Ribet betul. Untung ada porteur d’eau (pengangkut air). Seperti namanya, mereka menawarkan jasa ojek air atau bahasa kerennya: Pengantar sumber kehidupan.

Para porteur d’eau ini kebanyakan berasal dari masyarakat kelas bawah dengan fisik yang kuat. Mereka memulai pekerjaannya sejak fajar. Dimulai dari mengisi ember di air mancur umum kemudian menjajakannya ke trayeknya masing-masing.

Beberapa karya seni mengidentifikasi porteur d’eau sebagai seorang pria yang memanggul dua ember dengan kapasitas 12 liter. Salah satu yang terkenal datang dari seniman Prancis abad kedelapan belas, Edme Bouchardon. "Etching of a Porteur d'eau," demikian lukisan itu berjudul.

Foto: Wikimedia Commons

***

"Dia tidak akan pernah lebih dari seorang pembawa air. Kamu bisa menemukan pemain sepertinya di setiap sudut jalan,” kata Eric Cantona jelang duel Manchester United dan Juventus di Liga Champions 1996.

Yang dimaksud Cantona itu Didier Deschamps, gelandang bertahan Juventus sekaligus kompatriotnya di Prancis. Terkadang mulut Cantona memang semenyebalkan itu. Kendati, kalau mau membela, sebenarnya dia punya tiga alasan untuk berkata demikian. 

Pertama, Deschamps adalah pemain tim lawan. Kemudian sentimen pribadi Cantona jadi yang kedua; cekcok keduanya soal skuad Prancis belum habis-habis. Terakhir, ya, karena Deschamps memang bukan gelandang dengan skill spesial. Kemampuannya biasa-biasa saja. 

Deschamps, menurut Cantona, tak ubahnya seperti porteur d'eau yang cuma bermodalkan fisik kuat, berjalan memutari jalan untuk mengantarkan air kepada mereka yang derajatnya berada di atasnya.

Namun, ada satu hal yang luput dari Cantona: Sinkronisasi peran. Pepatah lama mengatakan bahwa hidup adalah soal keselarasan, dan itu didapatkan dari berbagai peran dari setiap insan.

Tanpa porteur d'eau, barangkali air mancur umum yang ada di Paris bakal penuh sesak. Antrean menggumpal dan berpotensi menimbukan kekacauan. Sama halnya dengan Deschamps, jika dia tak ada, siapa pula yang meredam serangan musuh Prancis sekaligus mendistribusikan bola ke Zidane dan Youri Djorkaeff di Piala Dunia 1998?

So, salah besar kalau menyandingkan Deschamps dengan Zidane. Karena mereka punya bakat dan fungsi yang berbeda. Justru Deschamps dilahirkan untuk menyokong para jenius lapangan.

"Saya tidak akan pernah mempunyai bakat seperti Zidane," ujar Deschamps. Dia melanjutkan, “Karena itu saya berusaha memberi kompensasi dengan bekerja keras dan membantu tim sebaik mungkin.”

Water carrier adalah mereka yang jauh dari egoisme. Mereka tidak akan memperumit masalah hanya agar tampil menonjol. Karena pada dasarnya mereka bermain bukan untuk dirinya sendiri, tetapi demi mendukung rekan-rekan setimnya yang memiliki bakat teknis.

Foto: FIFA.com

Selama gelaran Piala Dunia 1998, pelatih Prancis, Aime Jacquet, menyisipkan Deschamps sebagai gelandang bertahan dalam pakem 4-3-2-1. Tugasnya itu tadi, memangkas serangan lawan lalu menyalurkan bola ke gelandang imajinatif Les Bleus: Zidane dan Djorkaeff.

Fakta tak berbohong. Prancis menjadi tim yang paling seimbang, baik saat menyerang ataupun bertahan. Mereka berhasil menyapu bersih laga fase grup dan melenggang ke babak 16 besar. Brasil mereka kalahkan 3-0 di partai puncak.

Piala Eropa 2000 menjadi bukti lainnya. Bertandem dengan Patrick Vieira, Deschamps menjadi penyangga Prancis hingga meraih takhta juara. Kali ini giliran Italia yang menjadi korbannya di babak final. Mulai dari situlah water carrier dikenal. Berawal dari olokan menjadi salah satu peran yang dibutuhkan.

Tak sedikit gelandang pengangkut air yang nongol setelah Deschamps pensiun pada 2001. Tapi kalau boleh memilih, Gennaro Gattuso-lah yang paling mencolok. Dia menjadi salah satu sosok penting dalam rantai generasi water carrier.

Anda tak salah kalau menilai kemampuan olah bola Gattuso lebih rendah dari Andrea Pirlo atau Clarence Seedorf. Tapi soal determinasi dan urusan tekel-menekel, Gattuso juaranya. Saking agresifnya, lebih tepat rasanya menyebut eks AC Milan itu sebagai tukang jagal ketimbang pemain bola.

Well, bila ditarik ke belakang, sebenarnya Gattuso bukan gelandang pengangkut air pertama di Milan. Jauh sebelum itu sudah ada Giovanni Lodetti dan Romeo Benetti. Dulu gelandang semodel ini dikenal dengan sebutan incontrista yang merupakan sub-tipe dari Il mediano.

Foto: UEFA Champions League

Taktik dalam sepak bola terus mengalami evolusi. Tuntutan kepada pemain pun bertambah tinggi. Mereka seyogianya bisa memainkan lebih dari satu peran sekaligus.

Hal ini juga yang memengaruhi eksistensi gelandang pengangkut air. Bisa dibilang jumlahnya menjadi tak sebanyak sebelumnya. Kalau pun masih, ada perkembangan peran di dalamnya. Seperti halnya poacher yang mulai terkikis dengan complete forward dan advance forward.

Sekarang kebanyakan pelatih lebih membutuhkan gelandang bertahan yang mampu menginisiasi serangan, tak sekadar jago aksi defensif. Holding midfielder, begitu sebutannya. Sergio Busquets, Casemiro, Fernandinho, dan Marcelo Brozovic bisa digolongkan dalam daftar ini. 

Bila dibedah lagi, holding midfielder punya anak peran bernama regista. Perlu digarisbawahi, regista adalah peran, bukan posisi. Artinya ia bisa diemban oleh pemain dari posisi manapun.

Holding midfielder dengan peran regista ini rada kompleks karena selain jago bertahan, mereka juga dituntut memiliki kreativitas dan daya jelajah tinggi. Itu membuat mereka tak jarang maju hingga sepertiga area lawan. Andrea Pirlo menjadi salah satu ikon dalam peran ini. 

Kemudian ada istilah “Makelele Role”. Betul, itu adalah penggambaran posisi yang ditempati Claude Makelele. Istilah itu muncul karena eks Real Madrid itu terlalu mewah untuk sekadar disebut gelandang bertahan. Cara main Makelele tergolong revolusioner pada zamannya.

Dalam tulisannya di The Guardian, Jonathan Wilson menyebut Makelele sebagai gelandang bertahan dengan spek komplet. Meliputi stamina, visi dan kemampuan distribusi bola yang mumpuni—di samping spesialisasinya sebagai perusak serangan lawan.

Tongkat estafet Makelele sekarang ada di tangan N’Golo Kante. Eks Leicester City tersebut mewarisi bakat spesial pendahulunya itu. Mulai dari kadar penyaluran bola, atribut bertahan, serta stamina yang seakan tak ada habisnya. Saking seringnya berlari, Claudio Ranieri sampai mencurigai Kante menyimpan baterai cadangan di balik jersinya.

Kante terus berprogres setelah hengkang ke Chelsea di periode 2016/17. Trofi Premier League kembali dia raih, plus titel pemain Terbaik Premier League. Ini sekaligus mengangkat martabat seorang water carrier—bahwa gelandang bertahan juga layak mendapat kredit spesial. 

Rezim pelatih Chelsea terus berganti, tapi Kante tetap favorit. Tak terkecuali buat pelatih The Blues saat ini, Thomas Tuchel.

“Bagiku, dia adalah pemain yang sangat membantu semua orang. Dia memiliki mentalitas water carrier sejati sekaligus pemain kelas dunia yang menjadi kunci kejayaan Prancis di Piala Dunia,” jelas Tuchel.

Mentalitas menjadi pondasi utama seorang water carrier. Itu pula yang membuat Deschamps membawa Kante ke Piala Dunia 2018. Sebagai pelatih dan mantan pemain, dia tahu betul apa yang dibutuhkan oleh timnya. Bukan hanya kreator serangan dan pencetak gol ulung, tetapi juga pemain yang mau dan mampu mengorbankan dirinya demi rekan-rekannya. Seperti Kante ini. 

Dia menjadi penyangga di tengah kemewahan yang ditawarakan Kylian Mbappe, Paul Pogba, dan Antoine Griezmann. Sebelas-dua belas dengan Deschamps di 1998 silam. Semakin sempurna karena Kante juga berhasil membawa Prancis menimang trofi Piala Dunia.

***

Gelandang pengangkut air adalah mereka yang jauh dari egoisme. Mereka tidak akan memperumit masalah hanya agar tampil menonjol. Karena pada dasarnya mereka bermain bukan untuk dirinya sendiri, tetapi demi mendukung rekan-rekan setimnya yang memiliki bakat teknis.

Itulah mengapa, walau sepak bola terus berevolusi, water carrier tak akan pernah mati.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.