Untuk Hendo

Foto: @LFC.

Izinkan saya menulis surat ini, dari sudut pandang fan, untuk Jordan Henderson yang tengah mengalami situasi sulit di Liverpool: Kontraknya terancam tak diperpanjang dan ada opsi klub akan menjual dirinya.

Dear Hendo,

Saya dan fan Liverpool di seluruh penjuru dunia tahu bahwa beberapa minggu belakangan situasi begitu sulit untukmu.

Pertama, tentu saja, karena kau baru gagal di final Piala Eropa 2020. Itu tentu berat. Kau sudah berjuang untuk bisa sembuh dari cedera tepat waktu, agar bisa berlaga di Piala Eropa 2020. Semua demi membawa Inggris menjadi yang terbaik. Sayangnya, di langkah terakhir, kau terjegal.

Sebagai pemain dengan caps terbanyak di tim, kau tentu begitu terpukul. Mungkin kau sedang menyesal mengapa kau tidak memberi semangat lebih kepada Marcus Rashford, Bukayo Saka, dan Jadon Sancho sebelum babak adu penalti berlangsung. Mungkin kau menyesal tak memberi kata-kata pelecut kepada tiga rekan mudamu itu.

Yang kedua adalah soal perpanjangan kontrakmu. Kau mungkin tengah frustrasi karena kau dan manajemen tak kunjung menemui kata sepakat. Kontrakmu tersisa dua tahun lagi dan, sebagaimana yang pernah kau bilang, kau ingin memperpanjangnya karena kau berniat mengakhiri kariermu di Liverpool.

Sayangnya, kami tahu manajemen belum memberikan tawaran yang tepat. Malah sekarang muncul kabar bahwa mereka berniat membukakan pintu keluar untukmu. Manajemen tak ingin kasus Gini Wijnaldum, rekanmu yang pergi secara gratis di pengujung kontraknya, terulang.

Manajemen merasa kau masih punya nilai jual, karenanya membiarkanmu pergi dengan dibeli klub lain lebih masuk akal untuk mereka ketimbang membiarkanmu pergi secara gratis di pengujung kontrak. Kebetulan, berdasar kabar yang beredar, klub yang meminatimu adalah klub kaya: Paris Saint-Germain.

Selain itu, kondisi tim juga memberatkan negosiasi kontrakmu ini. Kau tahu ada pemain-pemain lain yang kontraknya juga akan habis di tahun tahun yang sama denganmu. Ada Fabinho, Mohamed Salah, Sadio Mane, Roberto Firmino, hingga Virgil van Dijk yang kontraknya juga habis di 2023.

Belum lagi ada Naby Keita dan Alex Oxlade-Chamberlain, yang jika bisa menunjukkan perbaikan di musim 2021/22, punya peluang untuk diperpanjang kontraknya. Kau tahu, melihat umur mereka dan itikad dari manajemen, kau bisa jadi yang paling buncit dalam soal prioritas perpanjangan kontrak.

Kau tentu tak mau itu terjadi. Hengkang dari Liverpool mungkin akan jadi pilihan terakhir dalam kariermu. Jika tak ada hal mendesak yang membuatmu jadi pihak yang amat tak diuntungkan, kau pasti akan memilih bertahan di Liverpool. Kami tahu itu.

Namun, kau tentu juga ingat bagaimana sejarah acap tak berpihak pada pemain yang berada di posisimu. Bahkan Steven Gerrard, legenda klub, pernah mengalaminya. Kau tahu bahwa di pengujung kariernya orang yang memberikanmu ban kapten itu pernah meminta perpanjangan kontrak pada klub.

Klub kemudian menjawab dengan menawarkan durasi satu tahun. Namun, yang membuat Gerrard kecewa adalah di dalam kontrak itu tertera pernyataan bahwa gajinya akan dipotong 40%. Tak cuma itu, bonus yang didapat pun hanya berdasar performa saja.

Apesnya, manajer Liverpool saat itu, Brendan Rodgers, sudah memberi tahu bahwa menit bermain sang kapten akan semakin dikurangi. Itu artinya Gerrard akan kesulitan mendapat bonus. Ia pun lebih memilih pergi karena merasa tak dihargai.

Kau mungkin tahu bahwa situasi seperti itu sangat mungkin juga menimpamu. Terlebih ini bukan kali pertama manajemen mencoba membukakan pintu keluar untukmu. Kau tahu betapa menyebalkannya itu. Kami pun.

Kami ingat bagaimana pada 2012 klub mencoba memasukkanmu dalam paket untuk mendapatkan Clint Dempsey dari Fulham. Padahal kala itu kau baru semusim berada di klub. Satu musim yang dijadikan acuan bagi manajemen dan Brendan Rodgers untuk melepasmu.

Kami ingat kau menolak opsi itu. Kami tahu, setelah mendengar kabar itu, kau pulang ke rumah dan menangis sejadi-jadinya. Kau kemudian menyampaikan kepada manajemen bahwa kau akan bertahan dan berjuang untuk mendapatkan tempat utama di tim.

Itu keputusan yang berani, Jordan. Sangat sulit untuk bertahan di linkungan yang dipenuhi oleh orang-orang yang meragukanmu. Namun, kau mampu. Kau mampu membungkam seluruh keraguan itu.

Kau latihan 10 kali lebih keras, kau belajar dari pemain-pemain yang lebih senior, dan kau selalu memberikan lebih dari 100% di atas lapangan. Kami melihat itu. Ketika perlahan-lahan kau mampu jadi pilihan utama Rodgers, kami tahu keputusanmu untuk terus berjuang tidaklah salah.

Kariermu memang tidak langsung menanjak begitu saja. Kami tahu kau mengalami begitu banyak pasang-surut. Kritik sering datang padamu. Seperti misalnya soal kau yang dianggap tak mau melepaskan umpan berisiko dan cuma bisa back pass saja.

Namun, kami tahu kau bukan sosok yang mudah menyerah. Ketika Juergen Klopp memberikanmu tugas untuk menjadi gelandang no.6, kau mengemban tugas itu dengan baik. Kami tahu itu bukan posisi favoritmu, tapi kau berhasil mengerjakan tugas bertahan dengan ciamik dan kau bisa menjadi jembatan antarlini yang efektif.

Ketika kemudian opsi untuk bermain sebagai gelandang no.8 terbuka setelah Fabinho datang, kami tahu bahwa kau menemui Klopp dan menyatakan diri siap membuktikan bahwa kau bisa menjalankan tugas baru. Nyatanya, kami tahu itu berhasil.

Saat Liverpool juara Liga Champions dan Premier League, kami tahu bahwa kau bermain di posisi gelandang tengah kanan: Menjalankan tugas progresif dengan apik dan mengover ruang yang ditinggalkan Trent Alexander-Arnold dengan sempurna. Kami mengapresiasi itu.

Satu atau dua tahun lagi penampilanmu mungkin tak seberapi-api di musim saat kita menjadi juara. Namun, kami yakin bahwa Klopp tetap ingin mempertahankan kau dalam tim. Kau juga tahu itu. Sebab ia tak hanya melihatmu sebagai sosok yang berpengaruh di atas lapangan saja, tapi juga di luar lapangan.

Manajermu itu kagum dengan semangat dan kepemimpinanmu. Bagaimana di atas lapangan kau mengomandoi dan memuji rekan-rekanmu tanpa lelah. Kau berteriak penuh semangat tanpa henti. Bahkan saat Premier League berlangsung tanpa penonton, kami yang menonton dari layar kaca saja bisa mendengar suaramu.

Juga soal kepedulianmu terhadap orang-orang yang ada di tim. Ia tahu bagaimana kau menyelinap ke dapur Liverpool hanya untuk menemui Carol Farrell, seorang pegawai kantin kamp latihan, yang kebetulan tengah tak enak badan. Bagaimana kau kemudian menawarkan bantuan dan terus menjaga hubungan baik dengannya.

Klopp juga jelas tahu bahwa kau yang berinsiatif mengumpulkan rekan-rekanmu ketika isu Super League muncul. Kau juga yang mengajak mereka menyampaikan ketidaksetujuan di media sosial terkait kompetisi tersebut. Kau pula yang kemudian mengajak kapten-kapten klub Premier League lain berdiskusi soal isu itu.

Manajemen juga harusnya tahu. Tahu bahwa kau, sebagaimana mengutip Rory Smith, captain of everything. Bahwa untuk perkara kontrakmu, yang kudu mereka pikirkan bukanlah soal bisnis saja. Ada aspek emosional juga di dalamnya. Ada hal-hal yang bukan perkara materi.

Bahwa yang akan mereka perpanjang kontraknya adalah sosok yang sudah berada satu dekade di tim. Bahwa sosok ini adalah kapten satu-satunya yang berhasil mempersembahkan trofi Liga Champions dan Premier League buat Liverpool. Dan itu adalah Jordan Henderson. Bukan Gerrard, Jamie Carragher, Sami Hyypiä, atau Ian Rush.

Kami, sebagai fans, tentu akan selalu mengingat semua hal itu. Mungkin ada sebagian dari kami yang berpikir sama dengan manajemen, bahwa kau layak dipersilakan pergi. Namun, sebagian besar dari kami pasti ingin kau tinggal. Kami percaya, setidaknya untuk saat ini, kau adalah sosok yang layak jadi kapten Liverpool.

Situasi tentu sulit buatmu. Kau mungkin tengah frustrasi karena musim akan mulai tidak lama lagi. Kau harus fokus untuk menjalaninya, tapi di satu sisi urusan kontrakmu belum juga menemui titik terang. Dan sebagai fans, kami hanya bisa bilang: You'll never walk alone, Hendo.

Orang-orang mungkin akan bilang itu klise, tapi itu adalah satu-satunya yang bisa para fans katakan. Sebab, bola sekarang ada di manajemen. Kita hanya berharap mereka segera sadar dan akan ada keputusan terbaik buat kedua belah pihak.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.