Untung-buntung Transfer Musim Dingin

Twitter @ManUtd

Ada risiko besar buat klub saat melantai di bursa transfer musim dingin. Bisa-bisa mereka merugi jika salah langkah. Bukannya untung malah buntung.

Awal Januari ini gerbang transfer musim dingin mulai dibuka. Saat itu pula klub-klub berbondong-bondong melantai di sana. Faedah transfer musim dingin sama dengan di musim panas: Memperbaiki kondisi klub. Itu bisa soal performa, bisa juga demi finansial.

Kendati begitu, transfer musim dingin tak lebih mudah dibanding transaksi awal musim. Ada risiko besar di baliknya. Sang pemain tak punya waktu banyak untuk berdaptasi dengan tim barunya. Mereka langsung mentas tak lama setelah pindah klub.

Kondisi itu berbeda dengan para pemain yang hengkang di musim panas. Mereka masih bisa berdaptasi lewat laga-laga pramusim sebelum mentas di pertandingan resmi.

Itu belum bicara soal tantangan yang dihadapi klub penjual. Waktu mereka juga terbatas untuk mencari penggantinya. Kalau kedalaman skuat mereka oke, enggak masalah. Lha, kalau enggak?

Chelsea adalah salah satunya yang pernah 'terjebak' di jendela transfer musim dingin. Fernando Torres mereka datangkan dari Liverpool pada edisi 2010/11. Tak tanggung-tanggung, 50 juta poundsterling mereka gelontorkan buat menggaet El Nino, sekaligus jadi rekor transfer di Inggris saat itu.

Hasilnya? Ambyar. Torres cuma bikin sebiji gol dari 14 pertandingan Premier League.

Chelsea tak sendirian. Liverpool dan Manchester United juga pernah ketiban apes. Andy Carroll sang pemain termahal Inggris saat itu, malah gagal bersinar di Anfield.

Kemudian Alexis Sanchez yang kariernya tak semanis perkenalannya (sambil main piano) dengan 'Iblis Merah'. Cuma 2 gol yang dibuat Sanchez pada 2017/18. Short story, United melepasnya ke Inter Milan dengan cuma-cuma tiga tahun berselang.

Salah transfer Januari juga dialami oleh beberapa klub beken Eropa lainnya. Lihat saja Barcelona yang gagal memfungsikan Philippe Coutinho dengan sempurna. Padahal, eks Inter Milan itu merupakan pembelian termahal sepanjang sejarah El Barca.

Real Madrid pernah 'keseleo' pula saat memboyong Antonio Cassano di tengah musim. Setali tiga uang dengan Bayern Muenchen saat meminjam Landon Donovan dan Paris Saint-Germain kala memboyong Yohan Cabaye.

Well, itu membuktikan bahwa nama besar serta performa ciamik tak lantas menjadi garansi pemain bakal moncer saat hijrah di tengah musim.


Tentu saja ada beberapa pemain yang bisa lekas bersinergi meski baru gabung pada Januari. Ada banyak faktor, bisa dari aspek internal dan eksternal. Beberapa di antaranya, ya, faktor bahasa dan kecocokan karakter permainan. Plus, pengaruh dari pelatih dan dukungan rekan-rekan setimnya.

Kepindahan Luis Suarez dan Virgil van Dijk ke Liverpool merupakan sampel bagaimana transfer musim dingin bekerja. Nama yang disebut pertama sukses menyabet titel topskorer Premier League edisi 2013/14. Van Dijk lebih hebat lagi karena jadi salah satu aktor keberhasilan The Reds menggamit titel Premier League pertama mereka.

Marcelo jadi contoh lainnya. Madrid kala itu mendatangkannya dari Fluminense pada Januari 2017. Bisa kita lihat bagaimana Marcelo kemudian membantu Madrid merengkuh La Decima.

Lalu ada Dejan Stankovic yang dibeli Inter dari Lazio, Nemanja Vidic dari Spartak Moskva ke United, Andrea Barzagli yang dibeli Juventus dari Wolfsburg. Kevin De Bruyne juga pernah menjadi bagian penting buat Wolfsburg usai dilepas Chelsea. Dia moncer di Bundesliga sebelum akhirnya 'menggila' bersama Manchester City.

Erling Haaland jadi yang teraktual. Impaknya instan setelah Borussia Dortmund menebusnya dari Red Bull Salzburg pada Januari. Total 16 gol dibuatnya dalam 18 laga di lintas kompetisi.

Sama halnya dengan tokcernya langkah United menggaet Bruno Fernandes. Gelandang Portugal itu langsung nyetel: Bikin 8 gol dan 7 assist dalam 14 laga di Premier League. United yang sebelumnya terseok di papan tengah akhirnya finis di posisi ketiga pada musim 2019/20.


Tinggal hitungan hari untuk menanti dibukanya jendela transfer musim dingin. Perdagangan pemain Premier League akan digelar per 2 Januari 2021, pun dengan Bundesliga dan Ligue 1. Sementara La Liga dan Serie A bakal menggelar pasarnya dua hari berselang.

Seiring itu pula rumor transfer sudah bergejolak. United dikabarkan sudah ancang-ancang menggondol Max Aarons dari Norwich City. Ini langkah logis, mengingat Ole Gunnar Solskjaer cuma punya Aaron Wan-Bissaka sebagai full-back kanan kompeten.

Nah, Aarons diproyeksikan bakal melengkapi agresivitas yang tak dimiliki oleh Wan Bissaka. Pasalnya, penggawa Inggris U-21 itu merupakan tipe full-back yang rajin dalam membantu serangan.

Liverpool sudah semestinya mereka memburu pemain baru. Kita tahu Juergen Klopp lagi dipusingkan dengan badai cedera, tak terkecuali sektor bek sentral. Virgil van Dijk dan Joe Gomez masih tumbang. Joel Matip juga rentan cedera.

Makanya mereka membidik Ozan Kabak dari Schalke. Selain punya kemampuan olah bola ciamik, bek 20 tahun itu juga jago urusan duel udara. Yah, mirip-mirip dengan Van Dijk-lah.

Menyeberang ke Spanyol, ada Barcelona yang mulai meringkih. Mereka cuma ngepos di posisi keenam di klasemen La Liga sejauh ini.

Minimnya goalgetter yang jadi salah satu penyebabnya. Antoine Griezmann baru bikin 3 gol. Sebelas dua belas dengan Martin Braithwaite yang masih menyumbangkan sepasang gol di La Liga. Itu yang menyebabkan Barcelona makin bergantung pada Lionel Messi.

Cara mengatasinya adalah dengan mendatangkan penyerang anyar yang bisa cepat beradaptasi dengan skema Ronanld Koeman. Adalah Memphis Depay yang jadi pilihan meski untuk mendapatkannya Barcelona kudu bersaing dengan PSG, Juventus, dan AC Milan.


Di lain hal, ada beberapa klub yang memutuskan untuk tidak bergerak di bursa transfer tengah musim ini. City merupakan salah satunya. Pep Guardiola memutuskan untuk tidak akan belanja penyerang, padahal mereka butuh tambahan juru gedor baru. Bukannya gimana-gimana, Raheem Sterling cs. baru bikin 21 gol atau peringkat ke-11 dibanding klub-klub Premier League 2020/21.

Langkah serupa juga diambil Dortmund. Sebagaimana yang dinyatakan sang direktur olahraga, Michael Zorc, klubnya tak punya banyak dana untuk belanja pada Januari 2021.

Ini cukup berisiko. Pasalnya, Dortmund terlalu bergantung kepada Erling Haaland. Empat puluh persen dari total gol Dortmund di Bundesliga musim ini lahir via striker 20 tahun itu. Saat Haaland cedera, Dortmund amburadul sampai-sampai memecat Lucien Favre.

***

Transfer musim dingin tak ubahnya dengan musim panas. Periode ini bisa menjadi momentum untuk memperbaiki performa klub, tetapi, ya, ada risiko besar di baliknya. Bila salah langkah bisa-bisa klub yang merugi. Bukannya untung malah buntung.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.