Wajah Baru Filippo Inzaghi

Foto: Instagram @pippoinzaghi.

Dari penyerang mematikan ke pendekatan mental, inilah wajah baru Filippo Inzaghi.

Lewat kepandaian mencari ruang, Filippo “Pippo” Inzaghi menunjukkan jalan pintas untuk menjadi penyerang yang pantas diingat dunia.

Inzaghi lahir di San Nicolo, desa kecil di pinggiran Piacenza yang hanya diisi oleh 9.000-an penduduk. Bersama adiknya yang tiga tahun lebih muda, Simone Inzaghi, ia bermain sepak bola di banyak waktu masa kecilnya.

Banyak waktu yang dihabiskan bersama membuat Simone tahu betul kemampuan kakaknya. Satu yang paling diingat oleh Simone adalah Inzaghi selalu tahu bagaimana caranya mencari ruang di pertahanan lawan.

“Saya tidak percaya bahwa insting dan naluri mencetak gol dilatih oleh pengalaman. Coba lihat permainannya. Ia memiliki dan menunjukkan kemampuan tersebut bahkan saat kami masih bermain bersama,” kenang Simone.

Ucapan Simone diamini orang-orang. Sir Alex Ferguson meledek Inzaghi dengan berkata bahwa ia “lahir dalam kondisi offside”, sementara Johan Cruyff pernah bilang: “Ia tidak bisa bermain bola, ia hanya selalu berada di posisi yang tepat.”

Gennaro Gattuso punya pembenaran atas omongan Ferguson dan Cruyff. Ia setuju bahwa bekal Inzaghi hanya insting. Namun, menurutnya, kemampuan tersebut membutuhkan analisis yang tajam dan pengamatan mendalam.

“Saya pernah memergokinya melihat dan mempelajari video pergerakan dari setiap lawan yang akan dihadapinya. Ia tahu kapan dan ke mana lawan akan bergerak. Ia tahu semua hal tentang pergerakan mereka,” kata Gattuso.

“Orang-orang mungkin bisa berkata bahwa Inzaghi hanya beruntung. Namun kami yakin bahwa keberuntungan bukan modal satu-satunya, sebab insting untuk melakukan itu juga perlu dilatih,” imbuh Gattuso.

***


Clarence Seedorf hanya empat bulan duduk di kursi pelatih AC Milan. Per 9 Juni 2014, ia digantikan oleh Inzaghi. Banyak yang bilang keputusan ini terburu-buru karena pengalaman Inzaghi baru sejauh melatih tim junior.

Seedorf dipecat karena gagal membuat ruang ganti Milan sebagai tempat yang nyaman. Menurut Mattia De Sciglio dan Sulley Muntari, Seedorf selalu menyalahkan pemain dalam setiap kekalahan tanpa pernah berkaca atas keputusan taktikalnya.

Inzaghi tidak butuh waktu lama untuk memperbaiki kondisi tersebut. Belum genap enam bulan sejak memimpin Milan, aura ruang ganti sudah berubah menjadi positif. Menurut Michael Essien, cara Inzaghi menangani setiap permasalahan mengingatkannya pada Carlo Ancelotti.

Inzaghi membuka sesi khusus bagi pemain yang ingin mengeluarkan pendapat dan keresahannya. Ia juga memberi tugas tambahan untuk para pemain senior agar dapat membimbing dan melebur dengan pemain muda.

Setiap keputusan yang dibuat oleh Inzaghi juga tidak luput dari keputusan pemain. Kebijakannya untuk menerapkan diet ketat dan latihan lebih pagi bahkan lebih dulu didiskusikan dengan semua pemain. Pada akhirnya, mereka merasa dilibatkan dan itu membuat senang.

Adriano Galliani senang melihat ruang ganti Milan jadi tempat yang lebih baik. Tidak hanya itu, ia juga puas melihat Inzaghi tidak banyak merepotkannya--ini menjadi faktor penting karena membuat Galliani senang adalah salah satu tugas dari pelatih Milan.

Sebaliknya, penampilan Milan di atas lapangan tergolong mengecewakan. Sejak terlempar dari empat besar pada pekan kesembilan, penampilan Milan terus merosot. Milan mengakhiri musim di urutan ke-10. Ia dipecat setelah satu tahun memimpin.

Kegagalan Inzaghi di Milan banyak disebabkan oleh ketidakmampuannya menerjemahkan taktik yang ia inginkan kepada para pemain. Pemaparannya kadang bertele-tele dan ini membuat pemain-pemain Milan kebingungan.

Pemilihan pemain yang dilakukan oleh Inzaghi juga tidak luput dari kritik. Pada awal musim, ia sempat memberikan banyak menit bermain kepada Daniele Bonera, meski yang bersangkutan kerap melakukan blunder.

Inzaghi membutuhkan satu tahun untuk bangkit dari pemecatan tersebut. Pada 7 Juni 2016, ia ditunjuk untuk menangani Venezia, yang bermain di Lega Pro atau level ketiga kompetisi sepak bola Italia. Saat itu, Venezia baru diambil alih oleh konsorsium baru asal Amerika Serikat.

Pada akhir musim 2016/17, Inzaghi membawa Venezia promosi ke Serie B. Namun demikian, keberhasilannya di sana tidak diakui mengingat skuat mereka diisi oleh pemain-pemain yang pernah merumput di Serie A.

Dua musim di Venezia, Inzaghi ditawari untuk menjadi pelatih Bologna. Posisi pelatih Bologna tengah lowong setelah Roberto Donadoni dipecat pada pengujung musim 2017/18. Tanpa pikir panjang, ia menerima tawaran tersebut.

Jalan Inzaghi lagi-lagi tidak mulus. Cara bermain Bologna yang cenderung defensif tidak disukai oleh sang pemilik, Joey Saputo. Saputo bahkan mengutarakan kekecewaannya pada Inzaghi saat menggunakan pola 8-0-2 ketika menghadapi Empoli.

Metode latihan Inzaghi juga dikritik para pemain Bologna. Salah satunya dari Riccardo Orsolini. Orsolini menilai banyaknya menu latihan yang berfokus pada pertahanan membuat Bologna gagap ketika menyerang.

Inzaghi dipecat Bologna menjelang bursa transfer musim dingin 2018/19 ditutup. Dari 21 pertandingan, tim yang diasuhnya hanya mampu memenangi dua pertandingan dan kebobolan 34 gol.

***

Jika pengalaman Inzaghi di Venezia dikecualikan, maka tak banyak hasil menawan yang bisa ia lakukan di atas lapangan. Ia memang pernah memperbaiki situasi berantakan yang terjadi di Milan, tapi sepak bola adalah juga menilai menang dan kalah.

Adil Rami pernah mengecap Inzaghi sebagai pelatih dengan pemahaman taktikal yang minim. Sementara, mantan anak asuhnya di Bologna, Ibrahima Mbaye, mengatakan bahwa setiap keputusan Inzaghi adalah keputusan yang buruk.

Inzaghi lantas memilih Benevento yang berlaga di Serie B sebagai pelabuhan berikutnya. Saat diperkenalkan sebagai pelatih pada musim panas 2019/20, ia hanya berkata, “Saya ingin membawa tim ini tampil konsisten.”

Benevento lantas terbang. Sejak menempati posisi puncak pada pekan kesembilan, mereka tak pernah merosot. Tiket promosi pada akhirnya mereka dapatkan meski kompetisi masih menyisakan tujuh pertandingan. Mereka menjadi juara dengan selisih 18 angka dari urutan kedua.

Promosi ke Serie A mengharuskan Benevento berbenah. Uang lebih dari 10 juta euro dikeluarkan pada musim panas 2020/21 dan mayoritas pemain yang mereka datangkan berusia di atas 29 tahun.

Inzaghi belajar dari kekurangannya dalam meracik strategi tim dengan kelebihannya, memperbaiki mental tim. Kiper Benevento, Lorenzo Montipo, mengakui bahwa Inzaghi menyuntikkan mental positif ke skuadnya.

“Ia membuat kami tidak pernah berpikir untuk menyerah dalam pertandingan,” kata kiper Montipo. “Ia selalu membuat kami lapar dan berusaha semaksimal mungkin di setiap pertandingan,” ujar Nicolas Viola.

Pendekatan tersebut membuat penampilan Benevento di atas ekspektasi banyak pihak. Meski kini duduk di urutan ke-16, tapi mereka hanya selisih dua angka dari Genoa yang berada di urutan ke-13.

Secara permainan, Benevento tidak punya taktik khusus. Mereka selalu bermain di kedalaman dan membiarkan lawan menguasai permainan. Tak heran, mereka hanya membukukan 44% penguasaan bola per pertandingan.

***

Keputusan terbesar yang dilakukan oleh Inzaghi di Benevento adalah mendatangkan pemain-pemain berpengalaman. Dengan pengalaman yang mereka miliki, Inzaghi tak perlu lagi repot mengurusi banyak hal teknis dan bisa fokus pada satu-satunya yang ia kuasai: Mentalitas tim.

Orang akan selalu mengingat Inzaghi sebagai penyerang dengan pergerakan dan insting mematikan. Namun, melihat ia sekarang, barangkali ia akan diberi stempel berbeda.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.