Waktunya Barcelona Kembali ke La Masia

Foto: @nicogonzalez_8

Dengan kondisi finansial yang amburadul, sudah seyogianya Barcelona kembali ke fitrahnya: Mengorbitkan kembali bintang muda dari La Masia. Siapa saja mereka?

"Orang-orang berbicara tentang akademi, tetapi terkadang mereka lebih suka menghabiskan jutaan euro dan tidak memiliki kesabaran dengan pemain muda. Begitulah adanya."

Omongan Carlez Perez soal mantan klubnya masih relevan. Barcelona perlahan meninggalkan fitrahnya sebagai salah satu produsen pemain terbaik di dunia. Mereka memilih belanja besar-besaran ketimbang mengembangkan pemuda untuk diorbitkan.

Pada musim 2019/20, Perez dipinjamkan ke AS Roma. Ia berada di gerbong yang sama dengan Rafinha, Marc Cucurella, dan Carles Alena yang juga dirental ke klub lain dan tak lagi pulang. Itu baru korban selama satu musim, belum yang lain.

Proyek instanisasi ini tak hanya mengikis eksistensi La Masia, tetapi juga membuat anggaran transfer membengkak. Sebanyak 347 juta euro digelontorkan dalam tiga musim terakhir. Kemudian kita tahu apa yang menimpa Barcelona: Finansial amburadul. Mereka sempat kesulitan meregistrasikan pemain baru kendati sudah memangkas gaji para personel lama. Kepergian Lionel Messi klimaksnya.

Sudah semestinya Barcelona memandang petaka ini dengan ringan kepala. Itu satu-satunya jalan untuk menutup kebodohan mereka di masa lampau. Cara paling efektif, ya, kembali melonggarkan kesempatan untuk para pemain muda. Selain, tentu saja, memaksimalkan para personel anyar agar pembelian mereka tak lagi sia-sia.

[Baca Juga: Pedri dan Ekspektasi Orang-orang Tentangnya]

Sebenarnya, Barcelona tak sepenuhnya melupakan pemain muda. Sejak dua musim ke belakang mereka berhasil mengorbitkan Ansu Fati, Ronald Araujo, Oscar Mingueza, dan Ilaix Moriba, meskipun nama yang disebut terakhir dikabarkan bakal dilepas karena meminta kenaikan gaji terlalu tinggi. Pedri yang digaet dari Las Palmas juga menjadi pemuda Spanyol paling potensial untuk saat ini.

Namun, dengan kondisi yang sekarang, urgensi Barcelona kepada pemain muda makin tinggi lagi. Kami sudah menyiapkan tiga personel yang berpeluang besar mengembalikan nama besar La Masia.

Eric Garcia

Bali deso mbangun desoitulah kesan yang tepat untuk menggambarkan Eric Garcia. Dia pulang ke Catalunya setelah 3 tahun mengembara bersama Manchester City. Yah, mirip-mirip dengan Gerard Pique yang pulang setelah empat musim berseragam Manchester United.

Juni lalu, Garcia resmi kembali ke Barcelona setelah menolak perpanjangan kontrak dari City. Masuk akal, sih, kalau kemudian keduanya saling menginginkan. Garcia ini akamsi dan sudah bergabung dengan Barcelona sejak berusia tujuh tahun. Ia bahkan menjadi kapten di setiap tim muda yang diikutinya meski juga bermain dengan kelompok usia yang lebih tua.

Kariernya bersama tim junior Spanyol juga mengesankan. Garcia turut ambil bagian saat mereka menjadi kampiun Piala Eropa U-17 dan U-19. Sementara semifinal Euro dan medali perak Olimpiade menjadi pencapaiannya bersama timnas senior.

Kemampuan build-up adalah salah satu nilai jual Garcia. Pengalaman main di bawah arahan Pep Guardiola kian mematangkannya.Well, tak lagi rahasia kalau Guardiola mengharuskan beknya untuk mampu menyalurkan bola. Garcia, salah satunya.

Mengutip WhoScored, rata-rata umpan per laga Garcia sejak 2 musim ke belakang tak pernah kurang dari 56. Persentase akurasinya juga selalu 93% ke atas. Catatan akurasinya di Piala Eropa terakhir juga impresif: 95% kesuksesan dari 97 umpan di tiap pertandingan. Tentu, spesialisasi semacam ini menjadi vital untuk skema penguasaan bola yang dianut Ronald Koeman.

Sementara soal aksi bertahan, rasanya tak ada yang begitu perlu dikhawatirkan. Toh, pada laga akhir pekan lalu Garcia sukses mencatatkan 2 tekel, 1 intersep, dan 3 sapuan. Jumlah itu menjadi yang terbanyak di antara back four Barcelona.

Nico Gonzalez

Di antara lima pemain yang promosi ke tim utama, Nico Gonzalez-lah yang paling menjanjikan. Nyatanya Koeman sampai memberikannya debut di pekan pembuka La Liga. "Jika suatu saat kami memiliki masalah di tengah lapangan, kami bisa menggunakannya sebagai poros," ucap Koeman. 

Gonzalez punya gen sepak bola yang kental. Ayahnya, Fran Gonzalez, merupakan salah satu pemain legendaris Deportivo La Coruna. Total 16 caps bersama Timnas Spanyol pernah ia ukir. Sang paman, Jose Ramon, juga pernah menjadi bagian Super Depor sebelum berprofesi sebagai pelatih tim muda di sana.

Nama Gonzalez sendiri cukup beken di La Masia. Sejak bergabung di umur 11 tahun, ia hampir selalu memenangi gelar setiap levelnya. Mulai dari Alevin B, Infantil B, Cadete A, Cadete B, sampai Juvenil A. Manchester City dan Manchester United sempat terbuai oleh performa ciamiknya.

Secara karakterstik, Gonzalez adalah tipe gelandang bertahan modern. Garcia Pimienta rutin memainkannya sebagai jangkar selama di Barcelona B. Kendati pada praktiknya, Gonzalez terkadang berperan sebagai pemain nomor 8. Kemampuan dalam mencari dan menempati ruang, serta distribusi bola ini mengingatkannya kepada sosok Sergio Busquets. Itu menjadi alasan kenapa Barcelona memberikan nomor punggung 28 kepada Gonzalez--angka yang sama saat Busquets pertama kali bergabung dengan tim senior.

Besar kans Gonzalez untuk unjuk gigi di musim ini. Lebih-lebih dengan ketidakjelasan masa depan Miralem Pjanic dan Moriba sekarang. Praktis, Gonzalez menjadi opsi utama buat mengover Busquets dan Frenkie de Jong di area sentral. Dengan intensi Koeman dalam mengembangkan bibit-bibit muda, sudah semestinya Gonzalez bisa ranum lebih cepat.

Gavi

Last but not least, Gavi. Pemain bernama panjang Pablo Martin Paez Gavira ini menarik perhatian setelah tampil di beberapa laga pramusim. Ia baru 17 tahun dan telah diproyeksikan untuk tampil di tim utama. Bila Gonzalez merupakan suksesor Basquets, Gavi adalah titisan Iniesta. Kreativitas serta pergerakan dribelnya yang lembut membuat Gavi digadang-gadang menjadi penerus maestro Barcelona itu.

Di awal-awal kariernya, Gonzalez kerap menjadi mediapunta, pemain sayap atau striker sekunder, tetapi evolusinya dalam beberapa tahun ke belakang mendekatkannya kepada gelandang tengah. Bukan masalah, justru dari sana Gavi bisa menuangkan kreasinya lebih luas lagi.

Bermain sebagai gelandang dalam wadah 4-3-3 bersama Cadete A dua musim lalu, Gavi sukses mencetak lebih dari 10 gol. Well, cukup merepresentasikan ketajamannya sebagai gelandang. Itu juga yang menjadi alasan Barcelona buru-buru mengangkatnya ke tim B dan menjajalnya di tur pramusim.

Memang, kans Gavi untuk tampil secara reguler bersama tim utama di musim ini masih kecil. Tapi setidaknya, peluangnya untuk mencuri perhatian relatif besar. Beberapa media di Barcelona melaporkan bahwa Juan Laporta lebih menyukai Gavi daripada Riqui Puig.

Di sisi lain, seharusnya para pendukung Barcelona bisa tenang kalau melihat regenerasi timnya sekarang. Siapa tahu nantinya Gavi, Gonzalez, ditambah Pedri menjadi penerus Inesta, Busquets, dan Xavi.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.